Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 105 Gagall


__ADS_3

"Franssss!!"


"Aya naonnn, sayangg?"


"Inii.. anu.."


"Apaan anu ini, ini anu?"


"Anu.. itu.."


"Apaa sayanggg?"


"Gaada, gajadi."


"Lah? Mau apaa? Bilang cepetan."


Alika tidak memperdulikan Frans lalu masuk ke kamar.


"Ra ceto tenann bini kuu." Frans membiarkan Alika, ia lanjut menonton balap.


Tiba-tiba, bantal dari kamar melayang, mengenai kepala Frans.


"Emejingg."


"Ya Allah, kamu kenapa sayang?"


"Gak tauu juga kenapa. Kesel aja liat kamu!" Frans mengelus dada, bininya emang serandom itu kokk:v


Tok tok..


"Pakeettt!!"


"Asyappp!" Alika langsung berlari menuju pintu.


"Makasihh, maass."


"Sama sama, mbakk. Mbaknya sendirian?" Alika menggeleng sambil cengengesan.


Frans yang tadinya nonton balap jadi tidak tenang karena Alika terlalu lama di depan pintu. Frans menyusulnya.


"Kenapa lama kali ngambil paket? Pdkt dulu?!"


"Apasiii ngacok!" Alika menatap Frans sekilas kemudian menoleh kearah mas kurir, "yaudahh makasih ya mass."


"Sama sama, mbakk." Kurir tampan itu tersenyum lalu pergi. Alika juga ikutan masuk meninggalkan Frans sendirian.


Frans kesal.


Frans cemburu.


"Paket pakeettt."


Frans melihat Alika yang berjalan santai ke kamarnya. Secepat kilat, Frans mengejar Alika. Begitu dekat, Frans langsung menggendong Alika dan membawanya masuk ke kamar.


Frans meletakkan paketnya diatas meja rias Alika lalu menghampiri Alika. "K-kamu kenapa?"


"Ngasih hukuman!"


"Aaaaa ampun ampunn. Jangan gituuu," rengek Alika.


"Gitu gimana? Kamunya nyari problemm."


"Yeehhh, kamunya yang ngeselin."


"Gak gak gak. Hukuman tetap berjalan."


"Aaa hahaha hahaha.. geliii woilahhh!"


Frans berhenti sejenak.


"Request berapa jam?"


"Astaghfirullahalazim, manaa kuat aku digelitikin berjam-jaammm!"


◒◒◒


"Papiii, liatin ujulnya dulu napaaa."


"Ini kan diliatin, sayangg. Kamu fikir aku ngapain? Yasinan?" Diva yang berada di dapur tertawa mendengarnya.


"Kamu masak apaan sih?"


"Ngga tau jugaaa."


"Gini amatt binii kuuu," Diva cengengesan.


"Mii miii."


"Kenapa, sayangg? Sama papi dulu, yaa."


"Suu.. mik suu."


"Translate nya, sayang?" Tanya Branden keheranan.


"Ujul mau susuu. Bentar yaa." Diva pun membuatkan susu formula untuk Fauzul, setelahnya memberikan pada Fauzul.


Fauzul minum sambil bersandar dengan papinya, terlihat sangat manja.


"Kita ke party jam berapa?"


"Party di tundaa karena Alika gak bisa datang. Makanya aku masak tadii," Branden berohria.


"Frans lagi main tu pasti."


"Heh, tau darimana??"


"Curhat dia abis liat bok–"


"Mulutnyaaa!" Branden nyengir.


"Tapi beneran tau, Frans abis liat."


"Kamu tau darimana?"


"Nebak ajaa."


"Perasaan tadi kamu bilangnya Frans curhat, kenapa jadi jawab nebak aja?"


"Yaaa gak tauu, nebak ajaa."

__ADS_1


Diva menatapnya kesal, "rasa ingin menampollll!!" Branden tertawa.


Mereka kembali memperhatikan Fauzul yang asik tidur dengan bersandar di dada papinya.


"Aku bawa Fau ke kamar, yaa?" Tanya Branden.


"Sini ajaa, masih jam berapa ini."


"Nanti terjun payung dari atas sofa. Bawa ke kamar aja, kan bisa makan juga di kamarr."


"Yaudahh, ntar aku nyusul sambil bawa makan malam." Branden mengangguk lalu menggendong Fauzul ke kamar.


Diva sendiri mengambil dua piring nasi beserta lauk kemudian membawanya ke kamar. Untuk minum, di kamar mereka ada kulkas kecil spesialis tempat minuman.


Diva mengintip, Branden sedang mengelus lembut pipi Fauzul, sesekali mengecupnya.


"Ehm.." Branden menoleh sambil tersenyum.


"Kenapa senyum senyum?"


"Gapapaa, seneng ajaa sekarang karena punya kamu sama Ujul."


"Heleh gayanyaaa. Makan dulu ni!" Branden menghampiri Diva yang duduk disofa tepat depan kasur.


Branden terus menatap Diva dengan senyumannya yang membuat kaum hawa ngefly.


"Apaan senyum senyum? Kamu mau apaa?"


"Su'udzon banget sayanngg. Gak mau apa apa aku mah, cuma maunya kamuu."


"Mau aku dalam artian apani?"


"Apa yaa?"


Diva menyipitkan mata lalu mendorong muka Branden, "ngga usah mengmoduss."


Branden cengengesan, ia pun mulai memakan. Diva mengambil remot di sebelah nya dan memutar drama Korea.


"Drakor terosss."


"Masa aku nonton pornoo."


"Ya ngga itu jugaa, yangg."


"Jadi apa?"


"Nonton aku ajaa."


"Apa yang mau ditontoninn? Kamu kan gak main filmm."


"Au ah, yang." Diva nyengir tanpa rasa bersalah.


"Kenapa bisaa kamu jadi istriku?"


"Kenapa bisaa kamu jadi ayah dari anakku?" Tanya Diva balik dengan nada yang sama.


"Because takdir."


"Sepertinya begitu."


"Padahal dulu tu aku sukanya bukan sama kamu." Ujar Diva.


"Samaa.. Bang Revin."


"Yang beenerrr?"


"Ya nggaklahh. Suka sama salah satu temennya David. Tapi aku lupa namanyaa."


"Gantengan aku juga daripada temen temennya Davidd."


"Iyaa sayang iyaa, gantengan kamu kokk." Branden tersipu malu.


Mereka pun selesai makan.


"Aku dulu.."


"Apa?"


"Aku dulu gak pernah ganti gantii, sukanya kamu muluuu."


"Masa iyaa?" Branden berdehem.


"Kenapaa?"


"Karena.. kamuu Diva."


"Nggak ada yang bilang aku Jubaedah." Branden tertawa.


"Aku juga bingung kenapaa, tapi ya emang sukanya cuma sama kamuu."


"Dari sekian banyaknya cewek?"


"Iyaa, cuma kamuu."


Diva menyipitkan matanya lagi, "ngardus mulu malam ini. Mau apaa? Jujurrrr!"


"Nggak mau apa apaa, seriuss."


"Yakinn?" Branden mengangguk.


"Ay, waktu dulu sama Ajef tu gimana sebenarnya? Pengen denger dari kamuu."


"Aku juga bingung sebenernya. Ajef tuu cuma ngajak ngobrol biasa terus ngga tau kenapa tiba-tiba Cia jadi emosi gitu. Aku juga salah sih waktu ituu, udah tau Ajef deket sama Cia tapi malah ku respon."


"Makanyaa jangan macarin pakboii."


"Gak ada yang macarin pakboiii, jangan mengadi-ngadi kamuuu!" Branden cengengesan, ia menarik kepala Diva untuk bersandar di bahunya.


"Ntaran duluu, aku mo naro piring terus ganti bajuu." Diva pergi dari kamar.


Beberapa menit kemudian Diva kembali dengan dasternya. "Mamud pake dasterr." Ledek Branden sambil tertawa.


"Ihs, kenapa ketawa??"


"Kamu tu agak gimana gitu pake dasterr, tapi tetep aja sih. Cantiknya kelewatan." Diva mengibaskan rambut.


"Mengkeceee."


Branden mendekat dan membawanya ke tempat tidur. Dengan liciknya Branden mengambil remot dan mengganti ke saluran berita.

__ADS_1


📣 "Breaking newss, anak dua tahun di culik orang tak dikenal."


Diva dan Branden saling tatap.


"Kita butuh bodyguard. Aku gak mau kalau ntar kalian berdua kenapa kenapa." Diva mengangguk setuju.


"Butuh pembantu gak sih, sayangg?" Diva menggeleng kali ini.


"Aku masih bisa handle, ngapain pake pembantu."


"Yaudah, terserah kamuu. Jangan sampe kecapekan!"


Diva mengangguk lagi.


Cup!!


"Sayang papi Ujul banyak banyakkkk!!"


◒◒◒


"Sedih kali yang gak jadi partyy." Ledek Khansa, Nara langsung menatapnya sinis.


"Mingdep aja partynyaa."


"Tapi kelamaannn."


"Ya masa besokk, besokkan kita ke luar kota."


"Ish, si Cia pun tahapa batalinn!" Nara kesal.


Khansa tertawa melihatnya, ia mengelus lembut kepala Nara. "Mungkin Alika ada urusan penting yang gak bisa ditunda. Sabarin ajaa, jangan kesel gituu."


"Heem. Kita keluar kota berapa hari?"


"Seminggu, bisa kurang. Kalau kamu gak mau ikut gapapa si."


"Ngaco banget. Aku ikutt!!"


"Kenapa mau ikutt?"


"Ya karena mau ikutlah! Lu gak ngizinin ikut?"


"Lu luu. Berdosa banget, parahh!" Nara cengengesan.


"Bukan nggak ngizinin ikut, tapii mastiin ikut atau ngga."


"Halahh, bongak." Ledek Nara.


"Astaghfirullah, ayy. Masak indomie gih buru, aku laper."


"Laper muluuu padahal baru makann. Mau jadi gendutt?"


"Mau mau ajaa sii."


Nara tertawa, "jadi gemoy pasti."


"Gak usah dibayangin, Maemunah!!"


"Udah terbayang-bayanggg."


"Astaghfirullahalazim~ yauda buruan masak miee." Nara pun bergerak menuju dapur.


"Sayangg, gak ada indomiee."


"Kemaren beli sedusss, masa iya abisss?"


"Iyaa. Kan buat makanan kudanil juga."


Khansa menghampirinya, "kudanil darimana, sayangg. Yang benerr, kemanaa semua indomiee?"


"Bentar ku ingett."


Lima menit kemudian...


"Aaaaa~~"


"Kemana?"


"Dibuang karena kadaluarsa."


"Lah seriuss? Kan baru belii."


Khansa keheranan.


"Loh ya gak tauu. Bukannya kamu yang buang?" Tanya Nara.


"Bukann, sayangg. Kamu gak yang buang?"


Nara menggelengkan kepala, "bukan akuu."


"Jadi siapaa?"


Nara menggelengkan kepalanya lagi, ia benar-benar tidak tau.


"Yaudah masak yang lain aja yaa?"


"Apa yang ada di kulkass?"


"Pasta, mauu?"


Khansa mengangguk, "apa aja terserah. Yang penting kamu juru masaknya."


"Yainnn!" Nara pun menyiapkan pasta untuk Khansa.


"Kemanaa perginya tu indomiee? Gaib kalii."


"Yakali dusnya jalan sendiri kan?"


"Atau jangan jangan..."


Nara langsung menutup mulut Khansa, "jangan bicara yang tidak tidak wahai manusia."


Ctek!


Tiba-tiba mati lampu.


"Kannnn!" Nara menatap kesal Khansa.


"Hehe, ya maapp. Hantunya baperann sihh!"

__ADS_1


__ADS_2