
"Ha-harusnya lu minta ganti doangg bukan ngerusak mobil gue gantian!!!"
"Minta ganti? Pake duit haram? Mending gue di marahin bokap daripada pake duit haram lo!!!"
Thalia emosi, tangannya mengepal. Dia mendekat ke mobil Yesha memecahkan kaca dengan tas nya lalu menggores mobil Yesha dengan kaca itu.
"Mau apa lu hah?! Gantian lah!! Impas!!"
Mereka menatap Yesha. "Ya Allah sabarkan hamba-Mu yang cangtip ini"
Yesha menghirup udara dalam-dalam, melepasnya pelan-pelan. Boy sudah mewanti-wanti apa yang akan terjadi berikutnya.
Dengan tanpa aba-aba Yesha berlari menuju Thalia dan menendangnya. Thalia terjatuh.
"Gila Echa gila, ganas banget anjirr parah"
Yesha menghela nafasnya sambil membenahi rambutnya. "Lu tadi godain laki gue sekarang lu gores bodi mobil gue, lu pecahin kaca mobil gue, lu kira gue bakal diam aja???"
Yesha mendekat ke mobil Thalia, ia gantian memecahkan kacanya dengan tangan. "YA NGGAK LAH!!" Yesha gantian menggores mobil Thalia.
Yesha mengode Alika untuk maju, Alika yang paham langsung maju diikuti yang lain. Mereka merusak mobil Thalia.
Alika menjebolkan kaca depan, Nara kaca belakang, Diva kaca samping. Mereka menggunakan sepatu untuk memecahkannya, bukan seperti Yesha tadi, dengan tangan kosong.
Thalia hanya diam meratapi mobilnya, tak lama dia bangkit ia menuju mobil Alika. Yesha langsung menjegalnya hingga Thalia terjatuh lagi.
Mereka jadi bahan tontonan seluruh warga kampus sekarang.
"Gue minta maaf"
"Gue minta maafff" Alika terhenti, dia mendekat ke arah Thalia.
"Ulang"
"Gue minta maaf"
Alika memijak kaki Thalia, "Ulangi lebih keras"
"G-guee minta maaf!!"
"Gue minta maaf, plis jangan rusakin mobil gue lagi"
Alika menarik kakinya, "Makanya jangan cari masalah! Lu kira gampang berurusan sama gue, sama temen temen gue?!"
"Halah, kami cuma ngalah karena kalian di bela cowok" Mereka menoleh, itu Lisa.
Diva memutar kepalanya, Nara mempersiapkan diri untuk menyerang. "Ayokk"
"Ettsss udah udahh ya, udah oke udah?? Preman banget bini gue, ampun liatnyaa" Branden menarik Diva ke pelukannya.
Diva langsung memberontak. "Apaan sih lo?!"
"Berenti ato ntar malem gue minta hak" Diva terdiam.
Sontak Yesha, Alika dan Nara tertawa karena itu. Bukan hanya mereka bertiga, para cowok juga tertawa melihatnya.
Fokus mereka pada musuh teralihkan, Enjel dengan lancangnya mendekat perlahan. Tangannya menggenggam kaca pecahan mobil.
Enjel mendekat ke Alika, "Alika awasss"
Jlebbb...
Pecahan kaca tertusuk ke pundak belakang Yesha. "Cacaa!!!" Boy langsung berlari mendekat ke Yesha.
Yesha terdiam menahan sakit, ia meraba pundaknya melepaskan kaca itu.
"Caa, astaghfirullah" Boy menggendong Yesha lalu membawanya ke mobil. Boy langsung mengantar Yesha ke rumah sakit.
Alika shock dengan yang terjadi barusan, Frans menarik Alika menuju mobilnya, mereka juga pergi meninggalkan kampus.
Tersisa Nara dan Diva, Diva melepas pelukan Branden. Dia menelepon polisi, mengadukan Enjel atas kasus percobaan pembunuhan.
Setelah itu mereka pergi bersama pasangan masing-masing.
Enjel terpaku di parkiran, dia melihat tangannya. "Gue gak bakal mau bebasin lu. Jadi, cari pembelaan sendiri" bisik Thalia.
"BANGSATTTT LU BUSUK BANGET THALIA, GUE SUMPAHIN LU MATI NANTI!!!"
☃☃☃
Di rumah sakit..
"Echaaa, hiks hikss"
"Caa, lu udah dua kali nahan sakit demi gue"
"Yang pas dulu tu nahan sakit lu gara gara nolongin gue yang hampir bunuh diri gara-gara Ajef. Sekarang, lu nolongin gue lagi dari Thalia. Gue utang budi bangett sama luu caa"
Yesha tertawa. "Lebay banget si ajggg geli la liatnyaaa"
"Astaga, gue lagi merasa gak enak lu malah ngakak. Minta di tabookkk" keluh Alika kesal.
"Saya sudah menjahitnya, tangannya tadi juga sudah saya perban" kata dokter yang mengobati Yesha.
"Dalem gak, dok, bekas tusukan kacanya??" Dokter itu mengangguk.
"Lumayan dalem, anda bisa melepasnya minggu depan. Dan ini harus tetap di sterilkan tiap hari"
"Okee dok" jawab Yesha santai.
"Ya sudah kalau gitu saya permisi" Dokter pun pergi.
"Gue mau balikk"
"Gue bayar administrasi dulu" Boy langsung pergi.
"Ca, marah noh??"
"Gak tauu, mungkin iya. Dari tadi diem gak ada ngomong sikit pun"
"Gara-gara g--"
"Ayok keluar gue gak suka disini" Yesha menarik tangan Alika keluar ruangan.
__ADS_1
"Ca, lu mau apa? Gue turutin"
"Kagak mau apa apa"
"Lu jangan gini dong, gue beneran gaenak jadinya"
"Ci, kita udah sahabatan berapa lama si?? Sahabat itu saling menjaga saling melindungi, jadi gak perlu ngerasa gak enak ataupun ngerasa bersalah. Rasanya gue orang asing kalau lu bilang kea gitu" Alika terdiam.
"Maaf"
"Maaf lagi, pengen gue getok palelu?"
"Kagak hehe"
Kriukk kriuk...
"Skuy makan, gue yang bayar" ajak Alika.
"Eh btw, lu gapapakan?? Dipoyy sama si Nana gapapa kann??"
"Gapapa, mereka baik-baik aja. Eh itu Nara"
"Echaaaa, Ciaaaa" Mereka berpelukan.
"Lu bedua gapapakan??"
"Gapapa"
"Lu betiga kek gak jumpa lima abad, liat jadi bahan tontonan" cibir Khansa. Nara cengengesan memasang wajah sok tak berdosa.
"Dipaah mana dipahh? Jadi mintak hak si Branden?" tanya Alika.
"Mungkin" jawab Nara sambil tertawa.
"Kalian mau kemana?" tanya Khansa.
"Makann, gue yang bayar"
"Yakin mau makan? Gak mau pulang aja lu?? Mobil lu tadi di bawa pergi sama Elina"
"Elina?? Tau darimana diaaa??"
"Tadi kan pas gue sama Khansa mau pigi, Elina datang naik ojol. Dia bilang taunya karena ada video masuk snapgram temennya si kak El"
"Mati gue mampussss, caa next time yaa??" Yesha mengangguk santai.
"Ayy anterinn" rengek Alika.
"Tadi aja di kacangin, sekarang..."
"Lah dendamm gitu?"
"Nggak kok sayang, ayo deh ayoo" Frans menggandeng tangan Alika lalu pergi menuju mobilnya.
Tersisa Khansa, Nara dan Yesha. "Boy mana ca?"
"Bayar administrasi kat--"
Perkataan Yesha terhenti karena telepon masuk ke ponsel Nara. "Siapa??"
"Yowasap, assalamu'alaikum. Kenapaahh?"
📞 "Bisa bantu kagaak? Mobilnya Branden abis minyak hehe"
"Bengekkk, mobil mahal tapi bensinnya kagak adaaa"
📞 "Gue gak liat tadii, buruan kesini lah" itu suara Branden.
"Iyaiyaa"
Nara mematikan panggilannya.
"Kenapa?" tanya Khansa.
"Mobil mereka abis bensin"
"Sana kalian samperin, ntar kelamaan nunggu mereka"
"Duluan gapapakan??"
"Gapapa"
"Kalau gitu kami duluan ya" Yesha mengangguk.
"Gue duluan bang"
Yesha berbalik, Boy di belakangnya dengan aura aura yang cukup menyeramkan. Boy hanya mengangguk, Nara dan Khansa pergi.
"Bang, abang ngambek??" Boy diam, dia jalan duluan menunu parkiran.
"Dikacangin, fiks dia ngambek" Yesha mengikuti Boy di belakang.
Tiba-tiba Boy berenti, Yesha langsung mengerem kakinya. Boy berbalik lalu menggendong Yesha menuju mobilnya.
"Apaan si turunninnn, malu diliatinn"
"Diem" Dari nada bicaranya saja Yesha tau kalau Boy sedang marah.
Yesha memilih diam.
Boy melajukan mobilnya, suasana tetap hening. "Abang marah??"
"Menurut kamu?"
"Ih kenapa sii? Gak buat salah juga"
"Nggak buat salah, buat khawatir iya!! Ngapain coba mecahin kaca pake tangan kosong? Luka tu tangan!"
"Kelamaan kalo buka sepat--"
"Ngapain juga ngerelain bahu kamu kena tusuk hm??"
"Ya kali aku biarin Alika kena tusukkk"
__ADS_1
"Kamu bisa tendang Enjel sebagai gantinya!! Kan gak ada yang kena tusuk"
"Kamu telat kasih saran"
"Menjawab aja terus!!" Yesha diam.
"Yaudah maaf deh"
"Yaa.. maaf ya sayangg"
"Sayangg, maaaf.. yaa??" Boy menghela nafas panjang.
Satu tangannya mengambil tangan Yesha, Boy mengecupnya. "Jangan di ulang lagi, aku gak mau kamu kenapa-kenapa"
"Iya iyaa, gak marah lagi kan??"
Boy berdehem. "Imut bangett kamu kalau marah"
"Gak usah bujuk, gak mempan"
"Bujuk apaan, katanya udah gak marah"
"Sssstt!" Yesha menutup rapat mulutnya. "Kamu lapar??"
Yesha diam, "Caca!"
"Iya bang iya ampun deh ampun" Boy menghela nafas lagi.
"Laper gak??"
"Laper hehe" Boy langsung memutar balikkan mobilnya dan berbelok ke restoran.
"Gercep banget pak" Boy tidak menjawab, dia keluar dari mobil membukakan pintu Yesha.
Boy memasangkan jaketnya ke pundak Yesha. "Aku gak mau kamu kelaperan, ayok makan"
Yesha turun dari mobil, Boy pun menggandeng tangannya mereka pun masuk ke restoran.
Siapa sangka di dalam sana ada mama papa Yesha, Boy dan Yesha langsung menghampirinya.
"Mama papa kok disini???"
"Loh kalian bedua?? Kok bisa disini juga"
"Tadi lewat jadi sekalian mampir tante" jawab Boy.
"Ooo, mau gabung?? Ayok gabung, om yang bayarin" sahut Deokhwa.
"Boy aja yang bayarin om, tante"
"Iya ma, pa. Biar Boy ajanii, duitnya gak abis abis soalnya"
Papa mama nya terkekeh, "Kamu jangan suka morotin anak orang ya, fia!"
"Astaghfirullah ma, Fiana mana pernah morotin anak orang. Gak percaya tanya Boy ni, gak pernah kann?" tanya Yesha pada Boy.
"Sering"
"Ehhh ngada-ngada!!" Boy terkekeh.
"Gak pernah kok om, tante. Caca anak baik, hehe"
"Tunggu, apa kamu bilang tadi? Caca?" Boy tersadar.
Satu-satunya orang yang sering memanggil Yesha Caca hanya dia, Boy yakin papa Yesha tidak asing dengan panggilan ini.
"Biasa pa, dia kesoran manggil Caca biar ga ribet" sahut Yesha menetralkan situasi.
"Loh Boy kamu disini??" Suara seorang pria terdengar. Mereka membalikkan badan.
"Deokhwa??"
"Bastiann?"
"Jadi selama ini.. dugaan papa bener Boy?? Yesha pacar kamu anaknya Deokhwa?? Rivalnya papa??"
Boy menunduk, begitupun dengan Yesha. Deokhwa berdiri. "Jadi Boy ini anak nya Bastian, fi??"
"Kenapa diemm??"
"Lebih baik kalian putus sekarang!!"
"Tapi pa, Fia--"
"Gak ada tapi-tapi! Ayok pulang!!"
"Pa, pa..."
"Boy juga ayok pulang!!!"
"Nggakk!! Saya mau sama Yesha"
"Saya gak izinkan kamu dekat sama anak saya!" jawab Deokhwa.
Sakit..
Itu yang Boy dan Yesha rasakan. Mereka berhenti disini? Berhenti hari ini??
"Saya juga TIDAK mengizinkan anak kamu jadi menantu saya, ingat itu!!"
"Oke! Saya juga tidak ingin jadikan Boy sebagai menantu saya!"
"Papa jangan egoisss dong, Fia butuh kebahagiaan sendirii, dan bahagianya Fiana sama Boy!"
"Kebahagiaan Boy cuma di Caca, kalau papa mama gak izinin Boy sama Yesha berarti papa mama gak izinin Boy bahagia"
Boy pergi meninggalkan mereka, "Boy tunggu" Yesha mengejarnya.
"YESHA!!"
"BALIK KAMU ATAU NAMA KAMU KELUAR DARI KARTU KELUARGA" Yesha berhenti di tempat, begitupun dengan Boy.
Boy memeluk Yesha. "Kita bisa lewatin ini, kita pasti bisa. Untuk sekarang, kamu turutin papa kamu dulu ya, kita sama sama yakinin mereka, oke??"
__ADS_1
Yesha mengangguk, air mata nya menetes. "Jangan nangis, aku gak suka kamu nangis"