
"Hati-hati kenapa sih? Ceroboh banget" omel Branden.
"Yee!! Aku gak salah, ikannya aja tuh yang tajam" balas Diva.
"Menjawab teros" Diva cengengesan.
"Ada bawa P3K?" tanya Branden.
"Ini, gendis bawa"
"Loh? Gendis?" tanya Yesha.
"Hehe iya teh"
"Kok bawa P3K?" tanya Yesha.
"Iya teh, tadi gendis sengaja kesini. Mau anter buku resep masak ikan, sama bawa P3K. Gendis mah tau, kalau yang bersihin ikan pasti luka. Durinya kan tajem-tajem. Apalagi ikan keper" jelas Gendis.
"Setajam-tajamnya duri ikan. Lebih tajam gosipnya tetangga" sahut Ikhsan. Mereka melihat ke Ikhsan. Ikhsan mengode, menyuruh mereka liat kearah kanan.
Disana ada ibu pembeli sayur dan kang jual sayur sedang menggosip.
"Udah mau Maghrib pun masi aja ada kang sayur" kata Khansa.
"Emang, kang sayur ada biar ibu-ibu bisa gosip" sahut Nara.
"Gak usah diladeni teh, a'. Ibu-ibu disini emang begitu" kata Gendis.
"Oh iya gendis lupa, tadi a' Guntur tanya. Mau potong ayam kampung nggak?"
"Loh ini ada ikan ngapain potong ayam?" tanya Diva.
"Siapa tau kurang teh, kan ikannya cuma dikit. Kecil-kecil juga" jawab Alika.
"Cukup kok kayaknya, besok aja ayamnya" ujar Danial.
"Ayam siapa mau dipotong?" tanya Boy.
"Ayam yang dirumah a'."
"Nggak usah deh Gendis, merepotkan jadinya. Makan ikan aja cukup kok" jawab Yesha.
"Oke deh teh"
"Gue masih bingung, dia ini warga asli?" tanya Naufal.
"Iya, warga asli sini. Namanya Gendis"
"Dia punya abang namanya Guntur, nanti malam kita tidur dirumah mereka. Nah gendisnya tidur disini"
--
"Akhirnyaaa selesai" Alika bernafas lega. Mereka baru saja selesai membersihkan ikan. Terlalu lama karena tadi mereka harus mandi dan sholat Maghrib terlebih dahulu.
"Mandi lagi sana" Frans menghampiri Alika.
"Ogahh, nanti air abis" jawab Alika santai.
"Yaudah kalau gitu sini deket" suruh Frans.
"Ngapain?" tanya Alika.
"Deket aja" Alika manut dan mendekat ke Frans.
Frans mengambil tissue di dekatnya lalu membersihkan wajah Alika yang terkena sisik ikan.
"Bersihin ikan sampe muka kenanya, gak jelas" Alika cengengesan.
__ADS_1
"Mata gue panas" ujar Ikhsan.
"Kelamaan jomblo sihh" ledek Nara.
"Tandai kapan lu jomblo" balas Ikhsan.
"Emang kenapa kalau dia jomblo? Mau lo embat?" tanya Revin.
"Ya kali gue mau sama makhluk tak kasat mata" jawab Ikhsan.
"Rasanya pengen gue tampol"
"Hahahahah"
"Ikannya mau dimasak apa nih?" tanya Diva.
"Ikan yang besar di panggang aja, yang kecil-kecil di goreng" suruh Danial.
"Iya gitu aja dah sip" jawab Revin.
"Okedeh" balas Diva.
"Lo yang masak?" tanya Alika pada Diva.
"Kerja sama lah" jawab Diva.
"Bagi tugas. Nara, Diva sama Alika bikin bumbu. Terus yang cowok bikin apinya" kata Yesha.
"Lo ngapain?" tanya Khansa.
"Melihat, memandang, mempelajari dan menikmati hasil" jawab Yesha.
"Kamprett"
"Hahahaha"
"Ahh kenyang" ujar Khansa
"Kan belom makan tolollll" balas Nara.
"Bisa saya tebak, Khansa alegri ikan" sahut Diva.
"Alergi sayang, bukan alegri" cela Branden.
"Ooo, udah ganti?"
"Ini anak emang cari ribut, sini baku hantam sini!!" kata Alika ngegas. Mereka tertawa ngakak.
"Udah yok makan" ajak Danial.
"Selamat makan!" ujar Naufal. Mereka mencicipi makanan yang dimasak bersama.
"Emm.. gak sia-sia perjuangan gue banting tulang buat masak. Enak rasanya" ujar Alika.
"Banting tulang la konon, lu sama si echa cuma jadi penonton ya" balas Ikhsan.
"Enak aja!! Gue bantuin ya" kata Yesha.
"Bantuin apa lu? Cuma mondar mandir doang" kata Danial.
"Astaghfirullah jujur banget!"
"Hahaha"
"Dia bantu dikit, dikit banget, dikit gak banyak, dikit. Pokoknya sedikit otaknya" sahut Khansa.
"Khansa gak punya akhlak emang ca, sabar ya" ujar Nara pada Yesha.
__ADS_1
"Yesha di dzolimi"
"Dihdihdih"
"Hahahah"
···
🎶 That you were Romeo, you were throwin' pebbles
🎶 And my daddy said, "Stay away from Juliet"
🎶 And I was cryin' on the staircase
🎶 Beggin' you, "Please don't go, " and I said
🎶 Romeo, take me somewhere we can be alone
🎶 I'll be waiting, all there's left to do is run
🎶 You'll be the prince and I'll be the princess
🎶 It's a love story, baby, just say, "Yes"
Crazy bacot menyanyikannya dengan gitar.
Gitar milik Boy yang memang ada di rumah kontrakan.
"Huh"
"Keluar yok?" Boy mengulurkan tangannya tepat didepan mata Yesha yang sedang menunduk.
Yesha mendongak, "kemana?"
"Keliling"
"Udah sana, lama amat mikirnya" usir Diva.
"Gue juga mau keluar ah, ayo sayang" Frans menarik Alika.
"Cie cieee.. Frans sama Alika emang da gede ya" ledek Nara.
-···
"Dingin gak?" tanya Boy. Yesha menggeleng. Mereka berdua keliling desa sambil jalan kaki.
Branden dan Diva, Frans dan Alika, Wisnu dan Nara juga berkeliling, namun mereka berbeda jalur. Sisanya, diam di rumah kontrakan sambil bermain game.
"Serius gak dingin?" lagi-lagi Yesha menggeleng. Boy melepas jaketnya dan memasangkan ke Yesha.
"Nggak usah, nanti kamu kedinginan" Yesha mengembalikan jaket Boy.
"Pake aja, aku gak kedinginan. Disebelah kamu, aku hangat"
"Bacot bangett!!" Boy tertawa.
"Sisa berapa hari?" tanya Yesha.
"Tiga" jawab Boy pelan. Yesha dengar dan langsung menunduk. Boy berpindah tempat berdiri tepat dihadapan Yesha.
Boy memegang pipi Yesha dengan kedua tangannya.
"Jangan khawatir, aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu, gak mungkin aku berpaling dari kamu. Jangan berfikir aneh-aneh ya?" Yesha mengangguk.
Yesha yang melihat sekelilingnya sepi langsung memeluk Boy.
"Jangan selingkuh" Boy tertawa kecil.
__ADS_1
"Nggak bakal"