Four Crazy Girls

Four Crazy Girls
Focragi • 81 Maknae bedosa!!


__ADS_3

Keesokan paginya..


"Good morning baby" bisik Branden. Mereka berdua tidur dalam posisi berpelukan.


Oh iya, mereka berdua tidak melakukan apapun tadi malam.


"Aaaa" Diva mendorong Branden sampai hampir terjatuh.


"Apaan teriak-teriak. Dikira orang kita olahraga pagi!" ujar Branden.


"Ya betingkah banget. Ngapain kamu disini"


"Pikun ni pikun"


Diva baru ingat kalau dirinya sudah menikah.


"Oiya lupa" Diva cengengesan.


"Heran, kenapa bisa kamu?" tanya Diva.


"Jadi kamu gak bersyukur?" Tanya Branden.


"Ya bersyukurlah. Banget malah"


"Aku juga" Branden mengelus rambut Diva.


"Gak peka ya?"


"Apa? Aku salah?" Tanya Branden.


"Ya cerita dong, kenapa bisa kamu!" jawab Diva.


"Kamu gak kuliah?"


"Jam delapan"


"Kamu?"


"Aku ke kantor dulu nanti"


"Kantor?" Branden mengangguk.


"Emang punya??"


"Kalau gak punya aku nafkahi kamu pake apa??" Diva mengangkat bahunya sedetik.


"Sepele sih. Suami kamu ini udah ganteng, berbakat tau"


"Dih pede banget pak" Branden cengengesan.


"Jadi ceritanya?" tanya Diva.


"Gini.. kemaren waktu aku balik ke RS sepulang dari kafe, aku ketemu nenek yang abis di tabrak orang tapi orang yang tabrak itu yang marah"


"Aku samperin, aku belain nenek. Masalah selesai ketika mau dibawa ke jalur hukum tapi gajadii. Penabrak itu pergi"


"Nenek bilang terimakasih sama aku terus ngajakin ke taman"


"Dia cerita kalau dia punya cucu cantik. Dan alasan dia masih mau hidup sampe sekarang itu karena pengen liat cucunya pake gaun pengantin dan denger kata SAH setelah ijab kabul"


"Aku dengerin apapun yang dia bilang, sampe akhirnya dia lelah. Aku bantu dia balik ke kamarnya"


"Baru tu dia bilang, dia pengen aku jadi suami cucunya"


"Saat itu aku ngeblank banget. Sama kayak kamu, aku juga terus kepikiran kamu dan bakal ngerasa bersalah sama kamu kalau sampe nikah sama itu orang"


"Aku jawab nenek cuma pake senyuman"


"Pas aku mau keluar kamar nenek. Papa mama datang. Papa mama bilang, nenek orang baik yang pernah nolongin papa mama waktu hampir kecelakaan"


"Nenek minta ke papa mama biar aku bisa dinikahin sama kamu karena takutnya nenek gak sempat untuk liat kamu pake gaun pengantin, gak sempat lihat kamu tukar cincin dan lain sebagainya."


"Aku setujui permintaan nenek walau terpaksa. Dan sangat sangat berat hati untuk ngeiyain permintaan nenek kemaren"


"Malemnya, papi datang kerumah. Aku juga terkejut kenapa papi tau rumah mama papa"


"Papi maksud kamu??" Tanya Diva.


"Ya yang buat kamu lah" jawab Branden.


"Ini otaknya kenapa gini amat sih?" Branden cengengesan.


"Lanjut gak ni??" Diva mengangguk.


"Buruan, aku belum bikin sarapan"


"Emang bisa??" tanya Branden.


"Sepele bangett!! Ya bisalahh" jawab Diva.


"Gak yakin" Diva menatapnya datar.


Cup~


"Ssst.. jangan galak sama suami. Berdosa!" ujar Branden sambil cengengesan.


"Aku lanjutin"

__ADS_1


"Papi datang kerumah. Aku tanya kenapa papi disini, dan papa aku jawab kalau dia calon mertua"


"Disitu aku mikir, anak papi cuma kamu. Berarti, yang mau nikah sama aku itu kamu. Aku pastiin dan ternyata bener kamu. Kamu tau aku bahagia banget karena orang itu kamu"


"Aku denger percakapan mereka. Dan denger dengan jelas nenek sendiri yang mau jemput kamu biar kamu gak dendam sama papi mami"


"Dan semua itu terjadi semalam. Sampai akhirnya, kita berdua seranjang sekarang"


"Branden plisss!" Branden cengengesan.


"Berarti papa tau dong kalau aku mau dinikahin?"


"Ya jelas tau. Tapi kalau mami, keknya emang gak tau"


"Intinya sekarang, kamu istri aku sampai kapanpun. Oke"


Diva hanya menatap suaminya.


"Aku tau aku ganteng"


"Dih narsis. Dah ah" Diva bangkit namun tertarik lagi.


Diva jatuh di atas tubuh Branden. "Ngebet kamu??"


"Isss kenapa mesum kali!!!!"


- ∞ -


Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya.. menahan rasa ingin jumpa aaaa~


Percayalah padaku, akupun rindu kamu. Aku akan pulang melepas semua kerinduan yang terpendam~


Yesha dikantin sendirian sekarang. Dia ada kelas pukul 07.00 namun dia tiba di kampus pukul 07.39


Yesha telat dan memilih ke kantin sendirian. Saat ini Yesha mendengarkan lagu yang di cover Boy.


Itu dikirim Boy tiga hari yang lalu. Setelah nya, Boy tanpa kabar.


Yesha positif thinking, Boy pasti lagi sibuk suatu hal.


Dor!!


"Anjyyngh" Nara tertawa. Nara datang bersama dengan Alika, Khansa, dan Frans.


"Bengong mulu lo. Ada masalah?" tanya Nara.


"Nggak" jawab Yesha.


"Gak usah di tutup-tutupi" sahut Alika.


"Tapi keliatannya lo gak baik-baik aja deh ca. Kenapa sih? Bang Boy gak ada kabar?" tanya Frans.


"Hm"


"Hah serius??" tanya Nara.


"Hm"


"Ca yang bener? Mau gue labrak tu anak"


"Dih kuker" Alika menatapnya sinis.


"Dahlah, dia sibuk.. mungkin"


"Dia sibuk nyelsein kuliahnya biar cepet ketemu lo" ujar Frans.


"I know"


"Oiya.. Busu Dipsi mana?" tanya Nara.


"Noh" Khansa menunjuk mereka berdua yang baru datang sambil pegangan tangan.


"Morning guys" sapa keduanya.


"Ini aneh" mereka berdua cengengesan lalu duduk.


"Lu bedua udah kawin kan?" tanya Frans.


"Hah?"


"Cincin itu bukan cincin biasa. Gue ngerti begituan, jujur deh. Kapan? Dimana?" tanya Frans sambil menunjuk cincin di masing-masing jari manis mereka.


"Wagilasi lu bedua. Kejam banget gak ngundang!" cibir Khansa.


"Taiiii, dengerin dulu. Nyocot bae lu bedua. Acaranya juga belum dipestakan" protes Branden.


"Yoda ceritaa CEPATT" suruh Alika.


"Dalah lama kali" protes Khansa dan Frans barengan ketika Branden baru membuka mulut untuk cerita.


"*** tenan"


Khansa dan Frans tertawa. Branden pun menceritakan semua kejadiannya secara rinci.


"Terus tadi malem lu bedua gituan?" tanya Khansa. Branden menggeleng.


Pletak!

__ADS_1


Kepalanya di samplok Nara.


"Ntah apa pertanyaannya. Heran kali" Khansa tertawa.


"Sss.. kalian berdua juga deket banget. Abis jadian kan?" tanya Yesha.


"Kagak!" jawab keduanya kompak.


"Yain yain"


"Eh, kalau dipikir-pikir Dipa maknae bedosa ya!" ujar Yesha.


"Bedosa apa pulak?" tanya Diva.


"Ye bedosa ngedahuluin para eonni eonninya" jawab Yesha.


"Bener tuh. Mana gak di undang lagi" balas Alika.


"Kan belum pesta bambang" ujar Diva.


"Alah, gak mo tau pokoknya makan makan" sahut Nara.


"Iya!!" Kata Yesha dan Alika kompak.


"Oke finee.."


"Sayang kamu yang bayar" ujar Diva pada Branden.


"Aku?" Diva mengangguk.


"Yaudah iya" jawab Branden.


"OKE PERHATIAN SEMUA MAKANAN KALIAN HARI INI GRATIS KARENA SEMUA DIBAYARI BRANDEN" teriak Alika sambil berdiri.


"Alika akhlakless" Alika tertawa.


"Mampusss gue jatuh misqueenn"


"Hahahahaha"


.


"Oh iya na, Lu sama Wisnu gimana?" tanya Branden.


"Udah putus" jawab Nara santai.


"Terus kontes musik kampus? Lo kan berdua katanya" tanya Alika.


"Gue udah chat dia bilang kalau gue maunya solo-solo" jawab Nara.


"Sama gue aja" tawar Khansa.


"Dihhhh, suara lo fales!! Bisa modar orang dengernya" sahut Alika. Khansa menatapnya datar. Alika tertawa.


"Kan bisa aja cuma dampingin. Ngegitar misalnya" kata Branden.


"Nah iya. Cocok tuh. Nana nyanyi Khansa ngegitar" balas Diva.


"Kalau itu gue setuju na, tapi kalau dia yang nyanyi. Gue balik deh" ujar Alika.


"Ni anak dendam sama gue kayaknya" Khansa menatap sinis Alika. Alika tertawa lagi.


"Lu bisa nggak?" tanya Nara.


"Bisalah, santai aja" jawab Khansa.


"Kontesnya kapan?" tanya Frans.


"Hari sabtu di minggu ini"


"Hm"


"Udah mupon belum na?" tanya Branden.


"Lu nanya gak ngira ngira" Diva memukul lengan Branden pelan.


"Nanya doang, kalau belum gue ajakin ke club" jawab Branden.


"Minta di tokok kepalanya" cibir Yesha. Branden tertawa.


"Masih sakit ya na?" tanya Alika.


"Ya lo pada bayangin aja dua tahun barengan kesana kemari sama, ketawa ketiwi sama, dan kenangan-kenangan lainnya masih terasa, eehh sekarang malah.."


"Melupakan orang yang dicintai itu memang susah na, butuh perjuangan yang besar. Tapi kita yakin kok, lu pasti bisa lewatin semuanya. Karena kita disini ada buat lo" ujar Yesha.


"Gue tau rasanya sakit. Buat bangkit itu susah, dan cukup berat. Gue ngerti. Gue juga ngalamin hal yang sama dua tahun yang lalu. Tapi lo harus bisa, demi masa depan" lanjut Yesha.


"Inilah momen ketika dua sadgirl bertemu" ujar Branden. Yesha menatap Branden datar.


Diva mencubit lengannya sangat kuat. Branden meringis. "Tunggu hukuman di apartemen ya. Awas aja" bisik Branden.


"Lu bedua tau tempat kek. Mentang-mentang udah sah" cibir Frans.


"Iri yaa???? Makanyaaa cepet halalin si Alika tuh" ledek Branden.


"Bacot dah lu samsudin!"

__ADS_1


__ADS_2