
"Ngucap gud night padahal siang, sehat gak lu?" tanya Khansa.
"Banyak bacot jones satu ini!" balas Yesha. Khansa tertawa.
"Kadang kesian liat si Echa. Kita pada berpasangan dia solo solo. Gak mau cari selingkuhan ca?" tanya Frans.
"Nggak minat sorry" jawab Yesha santai.
"Minat dong ca, biar sama bang ican apa gak sama si kanso" sahut Nara.
"Ogah gua mah, sama lu aja tuh na si kanso" jawab Yesha.
"Ya toyba, gue sama dia yang ada perang ca" balas Nara.
"Seburuk itu kah gue dimata lu na? Gak pernah gitu sekalipun gua bagus di depan lu? Lu dendam sama gua?" tanya Khansa dengan muka serius.
"Anjirrr napa jadi baperan woi?!" tanya Nara.
"Skip skip.. Khansa baperan" Khansa tertawa.
"Halo" mereka semua melihat ke asal suara.
"Loh?? Radit Radot?" tanya Alika ketika melihat kedua sepupunya itu.
"Salim dulu sini sama yang lebih tua" Radit mengulurkan tangannya.
"Najiss banget astagaa" Radit tertawa.
"Lu bedua kenapa bisa disini?" tanya Alika.
"Gue sama Radot pindah" jawab Radit.
"Oh iya, kenalin ini Frans, pacar gue. Branden pacar Dipa, Khansa jones, itu Echa, Dipa, Nara" Alika menunjuk mereka satu persatu.
"Kalau Echa, Dipa, Nara, gue kenal all!" ujar Radit.
"Ya kali aja lupa" ujar Alika. Radit duduk disebelah kanan Diva, Radot duduk di sebelah kiri Yesha. Diva dan Yesha itu hadap hadapan.
Nara di sebelah kanan Yesha, Branden di sebelah kiri Diva, Frans dan Alika di kursi samping dekat Nara dan Branden.
"Apa kabar?" tanya Radot pada Yesha.
"Baik, lu apa kabar?" tanya Yesha balik.
"Ya baik, tumben aja lu kagak dingin"
"Tergantung mood juga sih"
"Nah terus, lo kenapa sok ramah gitu?" tanya Radit pada Radot.
"Bacot lu" balas Radot.
"Berdosa lo sama abangan"
"Taiii abangan" ledek Alika. Mereka tertawa.
"Mana pacar lu Al? Itu sebelah lu?" tanya Radit. Alika mengangguk. Radit mengelap tangannya lalu mengulurkan ke Frans.
"Radit Alvinanda"
"Eh... Frans Anandika"
"Moga bisa berteman baik ya" mereka berdua sama sama senyum.
"Lu.. Branden pacar diva?" tanya Radit. Branden mengangguk.
"Branden Malik"
"Salam kenal"
"Lu kagak kenalan sama gua dit?" tanya Khansa
"Kagak perlu, gue gak minat" jawab Radit.
"Punya temen gak ada yang beres satupun.. miris saya" Radit cengengesan.
"Udah akrab nampaknya," ujar Alika.
"Ah dia mah temen gua dulu" jawab Radit.
"Oiya lupa, si kanso kan pindahan pas SMA"
"Btw.. Lu jurusan apaan dit?" tanya Nara.
"Pendidikan matematika" jawab Radit.
"Widih, sok bisa mtk ah," ledek Diva.
"Bah sepele, Radit ini bukan kaleng kaleng" ujar Radit.
"Yain aja biar seneng" sahut Alika.
__ADS_1
"Hahaha"
"Terus si Radot?" tanya Diva.
"Dokter" jawab Radot singkat.
"Anjirr bengekkkkk"
"Kenapa anjimm?" tanya Nara.
"Umay amay gue bengekk dong bengekk.. Radot dokter, Radit pendidikan matematika. Bengek gak tu?!"
"Iya juga sih ya,"
"Umay Amay lu kan banyak duit sih ci" ujar Diva.
"Konon" balas Radot.
"Ye kalau kagak banyak lo kagak kuliah Dodot" sahut Yesha.
"Cuma dia nih yang berani ganti nama suci murni tegas berwibawa gue" Radot menunjuk Yesha dengan telunjuknya. Yesha tertawa.
"Kagak usah sok dah suci murni tegas berwibawa taii" ledek Yesha masih sambil tertawa.
"Wah parah parah, gue tampol lu ntar ya"
"Gue juga dari tadi pengennyaa tampol lu dot, cuma gue sayang sama binatang"
"Anjjjjiiing bangett!!!"
"Hahahahaha"
- -
"Na"
"Kenapa mas?" Nara menoleh, melihat Wisnu yang mengendarai mobilnya. Mereka sedang jalan menuju rumah Nara.
Nara dan Wisnu pulang duluan karena tidak ada mata kuliah lagi. Awalnya mau nunggu yang lain di kantin seperti biasa, tapi Nara dipanggil kerumah karena disuruh jagain Nanda yang sakit demam tinggi.
"Kamu....."
"Gak jadi deh"
"Apaan sih kenapa?" Nara penasaran.
"Nggak"
"Em.. Khansa? Khansa itu baik, ganteng juga lumayan, blangsak, lasak, dan gak berakhlak. Kenapa emang?" tanya Nara balik.
"Nggak"
"Nggak nggak mulu, rahasiain apaan sih?" tanya Nara curiga.
"Emm.. enggak"
"Boong pastii!" Nara melihat Wisnu sambil menyipitkan matanya.
"Nggak" jawab Wisnu.
"Boong"
"Nggak"
"Boong boong boong"
"Nggak nggak nggak"
"Boong"
"Nggak!"
"Nggak"
"Boong"
"Nah kan boong!!" Nara mengalihkan pandangannya.
"Hey.. mas gak boong sayang" sambil mengemudi, Wisnu memegang pipi Nara.
"Jadi? Dari tadi kenapa? Aneh tau nggak"
"Em... mas mau ngomong serius nanti malam sama kamu, kamu ada waktu?"
"Ada banyak kalau untuk mas mah" jawab Nara.
"Serius? Ntar Nanda?"
"Ada Nessie kok mas" jawab Nara sambil senyum.
"Emang bicara apa sih? Kok kayaknya serius banget gitu?"
__ADS_1
"Emm.. nanti kamu tau deh" Wisnu mengelus rambut Nara.
"Jangan bilang.."
"Nggak kok"
"Apa emang yang dipikiran Nara?" Tanya Nara.
"Kamu mikirnya mas minta putus?" Nara menggeleng.
"Bukan"
"Jadi?" tanya Wisnu.
"Emm.. mas dijodohin?" tanya Nara. Wisnu terdiam.
"Nggak kok"
"Jadi apaaaa?!" Wisnu mengambil satu tangan Nara lalu mengecup nya.
"Nanti datang aja ya, kamu bakal tau nanti"
+ -
Disisi lain
"Nana balik deluan kan?" tanya Diva.
"Hooh, muk jagain Nanda yang sakit katanya" jawab Alika.
"Terus bang Febri, bang Ican, bang Repin kemana?" tanya Diva.
"Bang Danial udah balik duluan, disuruh bokap ke perusahaan. Kalau bang Ican sama bang Repin masih ada kelas" jelas Yesha.
"Yaudah yok balik" ajak Frans menarik Alika. Alika diem di tempat. Frans melihat Alika, Alika menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Mau main duluu" jawab Alika.
"Main kemana? Lo juga ikut?" Branden tanya ke Diva.
"Yaiya donggggg" jawab Diva.
"Terus gak ada izin ke aku?"
"Random banget, tadi lo gue sekarang aku kamu" cibir Yesha.
"Jones diem" sahut Branden.
"Jones matamui" balas Yesha Branden dan yang lain tertawa.
"Mau main kemana?" tanya Khansa.
"Kee.."
"Ntar malem aja ke pasar malem, gue ikut" Radit tiba tiba muncul.
"Setan tiba tiba muncul" cibir Diva.
"Pengen ku ngap kau!!" Radit menunjukkan taring serta kukunya yang pendek siap untuk mencakar. Mereka pun tertawa.
"Lo dari mana lama amat keluarnya?" tanya Alika.
"Kek gak tau Radit aja Al, dia tu abis nganu dikamar mandi. Nyolo karena liat cewek seksi body aduhai" jawab Radot.
"Astaghfirullah Radit berdosa banget!!!!" sahut Diva.
"Suudzon sekali kalian ini!!" balas Radit. Mereka tertawa lagi.
"Mana mungkin ustadz Radit melakukan hal hal seperti itu! Astaghfirullah" Radit sok sok alim sekarang.
"Apa cuma gue yang jijik liat dia begitu?" tanya Alika.
"Lu gak sendiri kok Al" sahut Diva.
"Parah lu bedua!!!" Diva dan Alika cengengesan.
"Jadi ntar malem? Ya kalo diizinin gue. Kalau nggak?" tanya Alika.
"Ntar aku jemput sayang, aku yang minta izin. Udah ah ayok balik istirahat" Frans menarik pelan tangan Alika. Alika tertarik, ketika menemukan tiang, Alika memeluk tiang. Tarikan Frans terlepas.
Frans berbalik. "Apalagi?"
"Males balikkk" rengek Alika.
"Ke apartemen aku mau?"
"Woi mau ngapain lu bedua? Astaghfirullah!!!" Radit bersuara.
"Isss akhlakless emang Radit bengek ini!!!"
__ADS_1
"Baru tau? hahahahahahahah!!"