
Hampir setengah tujuh malam, Alika dan Elina baru tiba di depan rumah.
Mereka pulang mengendarai taksi online yang dipesan Elina. Motor Alika? Elina mendorongnya sampai menemukan bengkel.
"Kemanaa ajaa kaliaaann kenapaaa lama kali hah?!" Fendy langsung marah ketika membukakan pintu rumah untuk kedua anaknya.
"Kamu kenapa?! Alika kenapaa?!" ekspresi Fendy berubah seketika melihat Alika yang dipapah.
"Ish, ayah nanti dulu ya marahnyaa. Nanti El jelasin juga, penting Alika diobatin dulu" ujar Elina.
"Sini Alika sama ayah, kamu langsung cari P3K" suruh Fendy. Elina menyerahkan Alika pada ayahnya, dia langsung nyelonong masuk mencari P3K tanpa lihat kanan dan kiri.
Sedangkan ayahnya Alika langsung memapah Alika dan membawanya keruang tamu.
"Loh? Frans?"
"Kamu kenapaa? Hah? Kenapa? Kok bisaaa ginii?!" Frans panik.
"Ah elah kamu, ayah sama Elina sama aja, lebay!" ujar Alika.
"Lebay apanya?!" ujar Fendy dan Frans barengan. Alika cengengesan.
"Kenapa lama kali pulang? Kenapa kamu luka luka gini?" tanya Fendy.
"Ya karena gituu" jawab Alika.
"Alika" Frans menatap Alika datar. Lagi lagi Alika cengengesan.
"Luka kecil doang kok, gak apa-apa juga" ujar Alika.
"Kecil apanya? Lutut kamu berdarah, sikut, bibir, jidat juga, itu kecil?" tanya Frans. Yaa.. luka Alika bertambah karena jatuh tadi.
"Is ini gak apa-apa kok," jawab Alika.
"Elina mana lagi lama banget?! ELINAA!!" teriak Fendy.
"Iya ayahh sebentarrr" Elina datang tergopoh-gopoh.
"In--" omongan Elina terhenti ketika P3K di rampas Frans.
Bukan karena rampasannya, tapi karena Elina mengenal Frans. Frans.. adik kekasihnyaa!
"Ini kenapa adek kamu?"
"Elina!!"
"Eh iya yah??" tanya Elina tersadar.
"Alika kenapaa?!"
"Tadi ada preman ngehadang jalan pas El sama Al pulang. Terus Alika ngehajar semua premannya"
"Kok sok sok an gitu?" tanya Fendy menatap Alika.
"Bukan sok sok an ayah, kan Alika juga jago beladiri. Toh juga Alika gak luka parah"
"Gak luka parah lagi dibilang?" tanya Frans sinis sambil menghentikan tangannya mengobati Alika.
"Seriuss, pas berantem cuma sudut bibir sama jidat doang"
"Terus ini apa namanya? Bukan luka?" Fendy gantian bertanya.
"Ini gegara Elina peakk aayahh. Dia bawa motor alika, ehh malah masok parettt" ujar Alika. Fendy menatap Elina. Elina cengengesan.
__ADS_1
"Motornya dimana sekarang?" tanya Frans lagi.
"Di bengkel" jawab Elina.
"Btw yah, bunda dimana?"
"Bunda keluar, ayah jemput dulu bentar" Fendy mengambil kunci mobilnya lalu balik ke ruang tamu.
"Frans, jaga Alika sama Elina bentar ya"
"Iya om, santai aja"
"Yaudah om pergi dulu" Fendy menepuk punda Frans.
"Alika, Elina ayah pergi dulu assalamualaikum" mereka pun menjawab serentak.
Frans lanjut mengobati Alika.
"Aiss sayangg, telepon aku makanya. Seneng kali berantem sendiri" omel Frans. Alika cengengesan.
"Kagak usah merepet juga kalii" Frans menghela nafasnya.
"Al ini..... pacar lo?" tanya Elina.
"Yess!!"
"Pacar lo yang dari SMA itu?"
"Iya bambang, kenapa sih? Dari tadi juga lu tiba-tiba berubah pas liat Frans" jawab Alika. Frans melihat ke Elina dari tatapannya menyuruh untuk diam.
"Nggakk"
"Yoda karepp"
"Jadi pergikan?" Frans tampak berfikir.
"Yaudah iyaa"
"Nah gitu dong"
"El, sini bae lu temenin Frans gue mau ganti baju" Alika langsung nyelonong pergi ke kamarnya.
Ruang tamu senyap, tanpa suara sama sekali sampai akhirnya Frans membuka topik pembicaraan.
"Gue tau lu kenal sama gue. Gue juga tau, lu masih berhubungan sama Fiery. Gue gak tau lu pake pelet apa sampe Fiery betah sama lu. Gue cuma mau lu gak bilang ke Alika tentang itu. Dan.. jangan sok kenal sama gue"
"Tap---"
"Ayok sayang" Alika muncul menghentikan pembicaraan Elina.
"Ayah belum balik, udah mau pergi?" tanya Elina.
"Oh iya tunggu ayah dulu deh"
"Aku dah izin sama ayah kamu kok. Ayok berangkat" Frans berdiri lalu menarik Alika.
"Gue pergi dulu" Alika dan Frans pun keluar meninggalkan Elina yang terdiam di ruangan itu.
Ketika tiba diluar, ternyata ayah dan bunda Alika baru saja tiba. "Alika gak apapa kamu nak?" tanya bundanya panik.
"Gak apa apa bunda, udah diobatin Frans juga. Alika sama Frans pergi dulu yaa ayah bunda" Alika menyalami tangan ayah dan bundanya diikuti Frans.
"Hati hati" mereka berdua mengangguk. Saat ingin masuk ke mobil, Frans merogoh kantongnya.
__ADS_1
"Kunci ketinggalan di dalam" Frans masuk lagi mengambil kunci mobilnya. Dia masih melihat Elina disana.
"Frans..."
"Kalau bisa, lo sama Fiery ngalah" Frans langsung pergi. Elina? Lagi lagi dia hanya diam ditempat.
"Udah ayok" Frans sudah di luar.
"Assalamualaikum ayahh, bundaa" Alika melambaikan tangannya dari dalam mobil.
- - - ~
Di satu sisi, Nara sudah menunggu Wisnu di kafe yang sudah di pilih Wisnu.
"Maaf aku telat" Wisnu datang langsung mengecup kening Nara. Setelahnya dia duduk di depan Nara.
"Kamu makan apa? Udah pesan?"
"Belum" Nara tersenyum paksa. Firasat dan moodnya benar-benar tidak enak sekarang.
Wisnu melambaikan tangannya memanggil pelayan. Mereka sama sama memesan makanan dan minuman.
"Jadi? Mas mau bilang apa?" tanya Nara. Wisnu menatap Nara lekat, lalu menghela nafas.
"Kenapaa loh?!" Wisnu menarik tangan Nara pelan.
"Jangan marah marah.. pada liatin tuh"
"Ya makanyaa bilangg mass" Nara berbisik. Wisnu diam menatap tangan Nara yang di pegangnya sambil di elus.
"Tebakan kamu bener. Mas dijodohin" Nara kaget setengah hidup, eh setengah mati.
Spontan dia menarik tangannya dari pegangan Wisnu. "Dengerin dulu sampai selesai" ujar Wisnu.
Nara diam di tempat, matanya sedikit berkaca-kaca. "Mas bisa tolak perjodohan kalau ada satu cewek yang bisa mas bawa kerumah. Mas mau bawa kamu kerumah. Mas mau ngenalin kamu ke mama papa"
"Tapi mas, Nara masih mau kuliah. Mas juga kan masih kuliah" ujar Nara.
"Mas gak bakal larang kamu kerja ataupun mau kuliah. Dan soal mas yang masih kuliah, kuliah cuma sampingan mas biar bisa deket sama kamu. Mas udah pegang satu perusahaan untuk biaya hidup" jelas Wisnu.
"Ini terlalu cepat" Nara menunduk. Wisnu memajukan badannya mengangkat wajah Nara, Wisnu mengecup kening Nara lagi.
"Mas tau ini kecepatan, tapi mau gimana lagi? Mama papa pengen punya cucu. Mas gak mau di jodohin, mas cuma sayang sama kamu, mas cinta sama kamu"
"Tap---"
"Baru ketemu sayang, nggak langsung nikah juga. Setidaknya bisa kita tunda satu atau dua tahun nikahnya"
"Tapi mas bilang ortu mas ngebet punya cucu, berarti gak bisa di tunda dong" Wisnu diam seribu bahasa.
"Nara pikir-pikir dulu mas" Nara beranjak pergi.
"Kenapa harus pergi?"
"Nara butuh waktu" Nara melepas pelan tangan Wisnu lalu pergi dari kafe.
Di dalam mobilnya, Nara menelepon Yesha.
📞 "Hoo? Nape bro?"
"Lu pada dimana?"
📞 "Lu udah siap?" Nara hanya berdehem.
__ADS_1
📞 "Gue sharelock aja" Yesha mematikan teleponnya lalu mengirim alamat dimana mereka berada.
Setelah mendapatkannya, Nara langsung meluncur untuk curhat pada sahabatnya itu.