
Sinar matahari masuk ke dalam ruangan Crazy Bacot, mengganggu tidur mereka. Mereka pun terpaksa bangun.
"Eungghh" lenguh Diva.
"Kita dimana??" tanya Nara yang terbangun juga.
"Eh?!" dengan cepat Alika melihat ke bajunya.
"Alhamdulillah utuh dan netep" ujar Alika. Yang lain mengikuti Alika.
"Pala gue pusing banget njim" kata Yesha sambil memijat pelipisnya.
"Udah bangun" sapa seseorang dengan nada sinis. Mereka mendongak.
Boy, Frans, Branden, dan Wisnu sedang berdiri di dekat pintu sambil bersidekap dada.
"Koboy?"
"Branden?"
"Frans?"
"Wisnu?"
"Kalian kok disini?" tanya mereka kompak.
"Gak usah nanya kenapa kita disini. Kalian kenapa mabuk-mabukan hah?" tanya Boy.
"Emmm..." mereka gelagapan. Danial masuk melempar empat paper bag.
"Ganti baju, abistu sarapan!" suruh Danial lalu dia keluar.
"Mampuss kita di sidang"
________________
Sarapan pagi yang cukup tenang. Crazy Bacot memakan sarapan paginya cukup hati hati.
Waspada
Siaga 1
"Kalian..."
Satu kata dari Danial yang sukses mengejutkan mereka berempat. Wah benar-benar, situasi macam apa ini?
"Kalian kenapa mabuk-mabukan?!" tanya Danial. Crazy Bacot menghentikan aktivitas dan diam layaknya patung.
"Jawab!" kata Danial tegas.
Benar apa kata Yesha tadi, mereka akan disidang. Keringat bercucuran di pelipis mereka. Mereka tetap diam tak bergerak sedikitpun.
"Mana Crazy Bacot yang blak blakan?" tanya Boy yang kini bersidekap dada.
"Mana Crazy Bacot yang gak bisa diam?" tanya Frans.
"Mana Crazy Bacot yang hobinya ngelawan?" tanya Wisnu.
"Mana Crazy bacot yang suka bikin rusuh?" tanya Branden.
Mereka tetap diam. "Kenapa jadi bisu?" tanya Danial.
"Dahlah, ntaran aja! Lagi makan juga" ujar Ikhsan.
Wolfbr melanjutkan makan.
Crazy Bacot akhirnya bisa bernafas. Mereka berempat akan sangat berterimakasih pada Ikhsan nantinya karena membebaskan dari rasa gugup yang menyelimuti.
Namun mereka belum bisa bernafas lega. Karena, setelah makan sidang sesungguhnya akan dimulai.
Yang ada dipikiran mereka saat ini adalah, “Bagaimana caranya untuk kabur dari amukan para serigala?"
...............................................................
__ADS_1
"Cepat!!" kata Nara berbisik. Mereka mencoba untuk keluar dari jendela dengan bantuan selimut yang dijadikan sebagai tali.
"Sumpah demi apa. Gue makin takut kalau cabut gini. Mending ke atap aja sembunyinyaa" usul Alika.
"Lewat mana cia?!" tanya Yesha.
"Nah itu dia"
"Eh.. ini kan apartemen laki lu. Masa lu kagak tau mau lewat mana ca?" tanya Alika.
"Yee.. mana gue tau. Gue jarang kesini kali" jawab Yesha.
"Jadi dari jendela kagak woi?!" tanya Diva yang sudah stand by.
"Manut" jawab Yesha.
"Pintu udah dikunci kan?" tanya Alika.
Ceklek..
Pintu terbuka tiba tiba. Muncullah Danial dengan seringai serigalanya.
Sepertinya akan susah lepas dari amukan para serigala sekarang, batin mereka.
Mereka hanya cengengesan sambil memegangi tengkuk leher.
"Mau kemana?" tanya Danial.
"Ah itu bang.. ta- tadi liat pemandangan" jawab Alika asal.
"Keluar" suruh Danial dengan nada datar. Dia langsung pergi setelah mengucapkan satu kata itu.
"Sidang pertama sebelum sidang sama bokap nyokap gue" kata Nara sambil berjalan lesu keluar kamar diikuti temannya yang lain.
"Kenapa kalian mabuk-mabukan tadi malam?" tanya Revin.
"Emm.. ngilangin stress" jawab Yesha asal. Satu pertanyaan terjawab dengan cepat.
"Kenapa harus mabuk-mabukan?" tanya Branden. Kali ini jawabannya cukup membingungkan.
"Berapa teguk?" tanya Wisnu.
"Gak ingat" jawab mereka serentak.
"Izin ortu?" tanya Boy.
"Izin" jawab mereka serentak lagi.
"Kecuali Alika" lirih Diva.
"Dipssiii lu jujur bet sii" bisik Alika sambil mencubit Diva. Diva kesakitan tapi menahannya, dia menatap sinis Alika.
"Lu kenapa kagak izin alikaa?!" tanya Frans.
"Emm.. maaf ini salah gue. Gue yang ajakin mereka ke club tadi malam. Gue yang lagi stress karena habis tengkar" jawab Alika.
"Ng- nggak. Ini bukan salah Cia. Kita juga lagi pengen minum minum buat ngilangin stress" sahut Nara.
"Tengkar sama siapa?" tanya Danial.
"Elina" jawab Alika.
"Siapa Elina?" tanya Naufal.
"Kakak gue" Frans membeku.
Elina? Elina bukannya wanita yang dibawa abangnya –Fiery– tadi malam? Jadi? Calon kakak iparnya adalah kakak pacarnya? Bagaimana ini bisa terjadi?? 'pikir Frans.
'ah.. tenang Frans. Fiery playboy. Dia pacaran cuma dua hari. Yeah dua hari' batin Frans.
"Kalian ingat apa yang terjadi tadi malam?!" tanya Wisnu. Serentak mereka menggeleng.
"Jangan coba-coba untuk mabuk-mabukan lagi!!" suruh Boy menatap Yesha.
__ADS_1
"Insyaallah" lirih Yesha.
"Apa.. sidang nya udah selesai?" tanya Diva. Branden menghampiri Diva lalu mencubit pipinya.
"Bandelll!!!" ujar Branden setelah mencubit pipi Diva.
"Sakit tau!!!" kata Diva.
"Makanya jangan bandel!!" balas Branden. Diva cemberut memajukan bibirnya.
"Jangan gitu dipaa! Ntar Branden cium lu kayak tadi malam lagi" ceplos Naufal.
"Hah?" tanya Crazy Bacot.
"Naufalll" Naufal cengengesan mengangkat dua jarinya.
"Kelepasan doang itu sayang. Maaf yaa. Lu nya sih ngatain gue penculik" klarifikasi dari Branden.
"Mencari kesempatan dalam kesempitan ya lu!!!" Branden cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh btw, tadi malam kami balik gimana? Kok bisa disini? Bokap nyokap gimana?" tanya Nara beruntutan.
"Gak gimana gimana" jawab Wisnu.
"Kalian harus balik bentar lagi. Izin sama bokap nyokap karena besok kita bakal pergi daki gunung" suruh Ikhsan.
"Sekarang aja" sahut Wisnu.
"Gue anterin Nara balik" Wisnu menarik tangan Nara.
"Gue bawa mobil sendiri" kata Diva ketika Branden ingin berbicara.
"Gue anterin!" mereka berdua juga pergi.
"Ayok" Frans menarik tangan Alika. Tiba tiba dia berhenti di depan pintu.
Frans berfikir, bagaimana jika dirinya bertemu dengan Elina? Ahh.. Frans benar-benar tidak ingin bertemu dengan Elina sekarang!!
"Gue gak bisa anter lu pulang. Gue baru ingat kalau ada urusan" kata Frans menghadap Alika.
"Gue naik ojek aja" jawab Alika lalu pergi.
Lagi lagi Frans bergulat dengan pikirannya. Pria macam apa dia? Kenapa tidak ingin mengantar wanitanya kembali hanya karena tidak ingin bertemu dengan calon kakak ipar?
Frans mengejar Alika lalu mengajak Alika masuk ke mobil. Frans memutuskan untuk mengantar Alika balik kerumah dan juga meminta izin untuk ajak Alika mendaki.
Di apartemen Boy hanya tersisa Boy, Yesha, Danial, Ikhsan, Revin, dan Naufal.
"Gue balik dulu mau siap siap sekalian packing" ujar Naufal, Revin dan Ikhsan mengikuti Naufal.
Kini tersisa mereka bertiga.
"Dapat tambahan waktu berapa lama?" tanya Danial pada Boy.
"Gue minta lima belas hari. Dikasih cuma setengahnya" jawab Boy lesu. Yesha ikutan lesu di meletakkan kepalanya di atas paha Boy.
"Cukup lah itu, lumayan" kata Danial.
"Lo sama Bianca gimana? Bianca apa kabar?" tanya Danial.
"Berkat Caca. Semua balik seperti semula. Bianca juga baik baik aja. Katanya dia mau lanjut di SMA Erdven" Boy menatap Yesha, Yesha juga begitu.
"Baguslah kalau gitu" jawab Danial. Danial melihat Boy dan Yesha tatap-tatapan sambil tersenyum.
Dia senang melihat adiknya tersenyum lebar. Tapi, dia juga khawatir akan hubungan adiknya karena hubungan antara papanya dengan papa Boy.
"Bokap lo tau tentang pacar lo?" tanya Danial. Boy mendongak menatap Danial.
"Beberapa hari yang lalu, bokap sempat nanya karena gue di mata matai.." boy menatap yesha sendu.
"Bokap kasih kesempatan buat kasih tau siapa pacar gue disaat gue harus balik ke New York" lanjut Boy.
"Jadi? Lu bakal bilang kalau orang itu Yesha?" tanya Danial. Boy mengangguk.
__ADS_1
"Gue yang bakal tanggung resikonya"