
Keesokan harinya...
"Berarti si David sering di sekitar kitaa. Kok dia tau lu dikampus waktu itu?" tanya Nara masih kebingungan dengan suasana semalam.
Tidak ada terjadi, setelah pertanyaan Boy, David tersenyum lalu menggeleng. Setelah itu dia pamit dan pergi meninggalkan yang lain.
Sebisa mungkin Yesha menahan amarah Boy yang sedang meluap, Yesha juga tersadar kalau dia salah semalam. Ntahlah.. tatapan David seakan menghipnotis-nya.
"Nggak tau, nggak penting, nggak perduli, bodo amat"
"Bagoss caaa bagoss, pengen kali ku tepokkan mulut mu" Yesha cengengesan.
"Gue jadi was-was David sama bang Boy berantem beneran" ujar Diva.
"Nah itu dia, gue juga takut nya itu" sahut Alika.
"Dia udah normal belum sih? Terakhir ketemu kan gila" kata Nara.
"Seperempat waras maybe" Yesha tersedak karena ngakak.
"Echa peakk"
"Lah lu gila si bikin gue ngakak, udah tau lagi makan" Alika cengengesan.
"Sampe kapanpun gue ngeship Boy sama Echa. Kawal sampe sah" ujar Diva.
"Dipoo, saranghae" Diva membalasnya dengan finger heart.
"Lu gimana sama Boy?" Yesha menggelengkan kepalanya.
"On tapi gak bales"
"Spamm chat, spamm telpon, gak di respon ngambek balik. Itu rumusnya cewek!"
"Anyinggg rumusnya cewek dongg, hahahah" Nara terkekeh.
"Gue cobak"
Yesha mengambil ponsel nya menyepam Boy terus menerus. Ia juga menelepon Boy, di panggilan ke dua Boy baru mengangkat nya.
📞 "Apa?"
"Astaghfirullah, nyesek sumpah. Udahlah" Yesha langsung mematikan teleponnya.
"Jangan nangis dong caa"
"Gue gak ada nangis ya bangst"
"Itu berkaca-kaca matamu" sahut Alika.
"Kelilipan" Mereka terkekeh.
"Dikata kita semenit dua menit kenal dia" ujar Nara.
Drrtt.. Drttt..
"Angkat ca, Boy tu"
"Bodo amat ga peduli" jawab Yesha sambil menjatuhkan kepalanya ke meja.
"Bucin ya gini" Yesha langsung menatap sinis Alika.
Drrrrttt.. Drtttt..
"Ca angkat woi ah!"
Yesha menghela nafas lalu mengambil ponselnya, "Bang Danial"
"Assalamu'alaikum bang, ada apa?"
📞 "Waalaikumsalam, kamu marah?"
📞 "Jangan tutup teleponnya"
📞 "Ca, kamu dimana? Aku samperin ya? Sharelock gih"
📞 "Ca, jangan diem aja dong. Aku tanya lo ini"
📞 "Yaudah aku susul, Assalamu'alaikum"
Boy langsung mematikan teleponnya.
"Waalaikumsalam" jawab Yesha setelahnya.
"Kenapa ini??? Kusut amat muke lu" ledek Radot. Radit, Radot, Khansa, Frans dan Branden datang.
"Biasa, galau karena dikacangin" jawab Diva.
"Dikacangin sama?" tanya Radit.
"Sama Boy, gegara semalam ketemu David"
"Ha??"
"Oh iya lu gak tau ya? Semalam David tiba-tiba muncul"
"David yang kalian bilang gila itu??" Alika mengangguk.
"Kenapa nongol baru sekarang? Kenapa gak kemaren-kemaren?"
"Au tuh, gitu Boy datang dia muncul" sahut Branden.
__ADS_1
"Kata lain jallangg tapi buat cowok apa?" tanya Diva.
"Nggak ada begoo" jawab Khansa.
"Serius gak ada?"
"Karep lu dip karep" Diva senyum pepsodent.
"Sans aja ca sans, dia tu setia kok. Gue yakin"
"Iyaaa, kalau gak setia dia udah selingkuh di New York"
"Kita disini gak tau apa-apa" jawab Yesha.
"Ah bodo ahh"
"Belum putus kan? Apaan masa iya baru pasang cincin semalam udah putus" ledek Khansa.
"Ini semua gara-gara David!! Pengen tak hiiih"
"Lu nya juga bege sii"
"Gue di hipnotis"
"Alasan"
"Cacaaa"
"Gue cabut"
"Eeeetttss" Boy menarik Yesha lalu memeluknya.
"Aku minta maaf cuekin kamu, aku takut kamu pergi aku gak mau kamu pergi"
Yesha diam, Boy melepas pelukannya. "Sayang.. maaf ya"
Yesha gantian memeluk Boy. "Aku yang minta maaf, semalam aku gak sadar. Udah mabuk keknya"
"Kan kita semalam gak minum bir, dia mabuk darimana?" tanya Khansa.
Yesha cengengesan. "Kamu udah gak marah kan? Aku minta maaf"
Yesha membalasnya dengan senyuman. "Aku juga minta maaf"
"Daripada kebanyakan maap, mending lu bedua duduk. Kesel gue liatnya" ujar Ikhsan.
"Jones jadi penonton aja, oke"
"Bangsatttt"
"Hahaha"
Mereka berdua kembali duduk di kursi kantin.
"Gue echa sama cia kena pehapeannya dosen" jawab Diva.
"Terus si Nara?"
"Bolosss" jawab Khansa. Nara cengengesan.
"Ngulang semester mampuss lu" ledek Radit. Nara langsung menatap kesal Radit.
"Permisi" Serentak mereka menoleh.
"Lu lagi, lu lagi"
"Vid, pergi lah ah" keluh Danial. David senyum pepsodent lalu duduk diantara mereka.
"Lu ngapain sih disini?" tanya Ikhsan.
"Gak usah hiraukan gue, gue cuma pengen liat Echa. Gue rindu Echa" ujar nya sambil menatap Yesha.
Yesha sedari tadi menundukkan pandangan nya, takut terhipnotis lagi.
"Jaga ucapan lu, jaga mata lu. Echa calon bini gue!"
"Kalau di restui" jawab David spontan.
"Jangan pancing amarah saya, tuan Albertdrik"
"Saya menunggu amarah anda, tuan Narendra" balas David sambil tersenyum smirk.
"Rasa ingin mati menjadi tinggi" lirih Yesha.
"Vid, lu waras gak sih?" tanya Nara.
"Waras"
"Lu tau kan kalau Echa punya Boy, kenapa harus lu usik sih? Lu gak laku?" tanya Alika.
David menunjuk ke belakang. Banyak wanita disana yang menyerukan namanya. "Gue pemilih, dan pilihan gue Echa"
"Lu keliatan gila kalau kayak gini"
"Gue gila karena cinta sama Echa"
"Bangsattt geli dengernya" ujar Ikhsan.
"Kenapaaa sih? KENAPA LU MUNCULNYA SEKARANG?!" bentak Yesha.
"Jadi gue harus muncul sebelum Boy datang?"
__ADS_1
"Gue berharap lu gak pernah muncul!"
"Gue yakin hati lu berkata lain"
Hening....
"Gue ga bisaa napas" keluh Diva.
"Hawanya mencekam," sahut Nara.
"Ayok pergi" ajak Alika.
"Ayokk, gue bayarin kita ke..."
"Kee?"
"Ntar gue kasih tau" jawab Yesha.
Serentak, mereka pergi meninggalkan para pria disana.
Boy dan David saling bertatap-tatapan sinis. "Kenapa lu harus muncul sih, bajingann?"
"Kenapa lu harus sewot sih, bajingan?" balas David.
Danial menghela nafas panjang, "Ada baiknya adek gue gak milih salah satu diantara kalian bedua" Danial pergi meninggalkan tempat.
"Waktu dan tempat saya persilahkan untuk baku hantam" ujar Ikhsan, ia pergi mengikuti Danial dan Revin.
"Jangan cari masalah sama gue, jangan pancing amarah gue"
"Udah gue bilang tadi, gue nunggu lu marah"
Boy tersenyum smirk, "Apa mau lu?!"
"Lepasin echa, buat gue"
"Buat lu? Gue kasih bidadari gue buat orang gila kayak lu?"
David tersenyum miring, dia mendekat pada Boy lalu mencengkram bajunya. "Lu banyak bacot"
David melepas cengkraman, "Gue kesini bukan untuk buang tenaga berantem sama lu, gue kesini mau ketemu echa. Echa udah pergi, gue pergi"
"Inget perkataan gue, gue bakal terus berjuang buat Yesha" David pergi meninggalkan kantin.
▪▪
"Lu pilih siapa, ca?" tanya Nara.
"Ntahlah, gue pusing mikirnya"
"Jadi, maksud lu bisa aja lu pilih David?" tanya Alika.
"Gue gak bilang gitu tadi"
"Assshh, gak jelass" protes Diva.
"Gue ngeship lu sama David sih sebenernya" ujar Nara, mereka langsung menatap Nara.
"Gausah caa, Boy aja. Boy lebih tua, kan lebih tua lebih dewasa. Gue suka lu sama Boy!" kata Alika.
"David sama Boy seangkatan begoo" jawab Nara.
"Tapi David ga dewasa, buktinya tadi kea bocil"
"Gue tim oleng aja la. Gue bingung mau pilih David atau Boy" ujar Diva.
"Tadi lu bilang ngeship Boy sana Echa, gimana sih?!!"
"Gue oleng gue oleng. Gak liat tadi David suda stylish bangett, gantengnya nambah"
"Tapi di satu sisi, gue lebih suka liat Boy"
"Ahh sudahlah, gue pilih Branden" celoteh Diva.
"Rasa ingin membacok Dipsi lebih tinggi!" Diva tertawa.
"Ini mau kemana?" tanya Alika.
"Bioskop"
"Oke ayok, gue semangattt empat lima!" sahut Nara.
"Btw..." Yesha berhenti, mereka sudah di dekat parkiran.
"Cii, lu bawa mobil ndiri?" Alika mengangguk.
"Putihh?" Alika mengangguk lagi.
"Tadi Frans kesiangan jadi gue di suruh duluan, kenapa?"
Yesha menunjuk satu mobil di parkiran. Mobil Alika, mobil Alika penuh coretan dan goresan.
Alika lemes seketika. "Putihkuuu"
"SIAPA YANG BERANI-BERANINYA RUSAKIN MOBIL GUAAA?!"
Nara tersenyum smirk, "Keknya gue tau"
"Siapa?!"
"Thalia"
__ADS_1
"Ahhhhh, bisa stress gue kalau gini!"