
Wanita dengan kelainan sex
Part 1
"Duh... Males banget. Sekarang jadwalnya mas Feri pulang. Aku kudu siapin segala sesuatu untuk menyambutnya"bisikku menggerutu bangun dari tidurku dan bersiap mandi. Karna memang tadi sebelum tidur siang aku masak dulu.
"Layani suami, ciuman, pelukan iss jijik. "bisikku menggerutu sembari membasahi tubuhku dengan air. Setelah selesai mandi aku bersolek dan memakai wangi-wangian. Tak lupa sambil manyun dan menggurutu. Aku harus lakukan ini karna pernah pengalaman. Mas Feri marah banget liat aku kucel bauk dan jelek banget karna keringat saat dia datangi. Bukan apa-apa selama yang aku tau tentang sex, aku sama sekali tidak bisa menikmati kebersama'an bersama mas Feri kadang bingung juga pernah cerita sama teman-teman sebaya katanya itu hubungan badan itu enak banget. Bisa-bisa kayak melayang-layang di udara. Tapi sumpah demi apapun aku hanya bisa merasakan jijik dan sakit. Aku tidak mengerti kenapa bisa suamiku menganggap ini penting. Padahal bagiku untuk tidak melakukan itu adalah anugrah. Aku sangattersiksa sekali sungguh. Apa yang harus aku lakukan., bahkan aku pernah terfikir untuk menyuruh mas Feri menikah saja dengan yang lain saking terbebaninya dengan tanggun jawab batin untuk suamiku ini.
Drrrrrt Drrrrt..
Bunyi ponselku berdering reflek aku melirik ponsel disamping lacu itu dan mengangkat panggilan itu.
"Ya mas? "
"Ina, Mas Otw nih. Kamu dah dandan yang cantik belom? Mas kangen. "ucapnya yang membuat aku males.
"Ya udah, "
"Ina, mas Yakin kamu pasti bisa sembuh. Traumamu akan pulih dan kamu gak perlu tersiksa lagi saat berhubungan sama mas. "ujarnya. Aku menghela nafas berat dan berkata.
"Aku harap itu bisa terjadi mas. "Lirihku.
"Baiklah kamu tunggu dirumah. "ujarnya aku mendegup dan kembali meletakkan ponsel seketika aku gemetar membayangkan saat Mas Feri mendatangiku dengan hasratnya entah kenapa itu begitu menyiksa bagiku. Aku bahkan tidak bisa menerima setiap sentuhannya. Yang aku bayangkan hanya sakit.
"Arggghh.. "teriakku pelan menutup telingaku. Desahan dan deru nafas mas Feri saat berhubungan itu terdengar menjijikan. Kenapa ini begitu menyiksa sekali. Aku tidak bisa hidup dengan tenang jika seperti ini.
Dua tahun lamanya kami berumah tangga dan mas Feri mencoba membantu dan meyakinkanku kalau aku berbeda. Semua wanita mengingankan ini. Belaian kasih sayang sentuhan dan yang terpenting keperkasa'an tapi ada apa denganku. Aku bahkan ingin bebas darinya. Andai mas Feri bersedia menceraikanku dan meninggalkanku untuk wanita lain. Aku pasti senang sekali. Karna tak sanggup dengan beban batin yang menyiksa ini. Aku sama sekali tidak menyukai ini. Aku benci sex, aku jijik. Dan ini menyakitkan.
Trakt
Bunyi pintu kamar terbuka tanpa aku sadar ternyata mas Feri sudah sampai di rumah. Aku berdiri dengan mata terbelalak dan coba berdiri bertopang pada meja karna gemetar. Melihat ekpresiku mas Feri reflek mendekat dan memeluk.
"Tidak apa-apa sayang, mas tidak ingin apa-apa sekarang mas. Cuman mau ketemu kamu aja. "bisiknya. Aku coba mengatur nafas dan coba melihat matanya.
"Kamu dah makan? Kita makan dulu yuk?"bisiknya, aku coba beranjak dan menjauh dainya keluar kamar menuju ruang makan. Jikalah dalam Film-film yang sering ku tonton pria seperti mas Feri adalah idola setiap wanita. Tapi kenapa aku tidak bisa dapatkan sensai yang sama seperti wanita pada umumnya. Priaku itu tampan dengan kulit sawo matang dan tubuh kekarnya yang keras dan berotot. Dua bola mata elang dengan Sentuhan alis mata tebal dan bibir sexinya. Wajah persegi ditambah aksen hidung mancung dan lesung di pipinya. Itu sudah kriteria cowo tampan pada umumnya. Tapi sungguh sama sekali aku tidak bisa rasakan. Eksotisnya cinta yang pernah aku lihat bahkan aku baca-baca di kisah cinta romantis sekalipun. Ada apa denganku, apa aku benar-benar kelainan **** permanen. Mas Feri sudah sangat sabar menghadapi tingkahku yang selalu menangis dan beronta saat ia setubuhi. Bahkan dia memilih tak menyentuhku karna takut moodku terganggu.
"Mas... Mungkin kamu harus cari istri lain."ujarku saat kami menikmati makan malam kami. Seketika mas Feri menghentikan gerak tangannya memegangi sendok.
"Aku tidak bisa... "singkatnya aku mendegup dan berkata.
"Mas, aku terbebani dengan semua ini! Aku tersiksa mas. Aku tidak bisa penuhi tanggung jawabku. Kamu mengerti donk"ujarku. Mas Feri menatapku datar da berkata.
"Kamu pasti sembuh... Jadi jangan bahas ini lagi, kamu sudah terlalu sering minta cerai."gerutunya .
"Tapi ini demi aku mas? Perlukah aku memohon padamu. Kamu tidak rasakan jadi aku makanya kamu gak paham! "bentakku. Mas Feri membanting sendok sedikit pelan dan berkata.
Prang...
"Kamu juga gak paham bagaimana aku Ina? Ini juga gak mudah, bahkan aku yang sangat tersiksa disini. Kamu taukan aku normal? Kamu hanya Trauma sayang. Itu pasti bisa sembuh? "jelasnya aku bungkam dan coba melirik manik matanya.
"Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar mas, bukannya sembuh aku malah makin Trauma. Aku lebih senang dengan kebebasanku sebelum menikah. Tidak ada **** dan tidak ada beban. Aku jauh lebih bahagia mas. "ujarku. Sejenak mas Feri memandangiku dengan miris.
"Aku tidak bisa menduakanmu. "ujarnya. Aku menghela nafas dan coba menegaskan.
"Siap suruh kamu poligami mas. Kamu bisa lepaskan aku? "ucapku dengan binar mata harap.
Prang..
Sendok makan melayang kedinding. Aku sedikit terperanjat melihat mas Feri ngamuk
"Berhenti bicara omong kosong Ina!"bentaknya. Aku meghela nafas dan coba menjahit bibirku untuk tidak bicara lagi.
Dua jam berlalu setelah makan malam, aku berbaring di kasur sedangkan mas Feri membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku deg-degan menunggu dia datang, habis ini dia pasti memintaku untuk melayaninya. Entah kenapa darahku berdesir dan dadaku terasa berkecamuk.
Trakt
Bunyi pintu kamar mandi terbuka, seketika au terperanjat karna memang dari tadi rasa takut menjalar di otakku. Melihat reaksiku itu mas Feri hanya geleng-geleng. Ia mendekat dan menghenyakan badannya di atas kasur tepat disampingku. Aku bungkam sembari gemetar. Dia coba raba tubuhku dengan selembut mungkin yang ada aku hanya risih dan berusaha menepis tangannya.
"Mas... Aku gak bisa! "ujarku. Mas Feri sedikit beringsut dan melihat wajahku dalam-dalam.
"Tidak akan terjadi apa-apa seperti yang sudah-sudah. Tidak ada hal buruk menimpamu? Perlahan kamu pasti bisa hilangkan Traumamu jika kamu berushaa? Jangan menolak. Biarkan waktu mengalir."bisiknya ditelingaku sedikit aku mengeliat karna geli. Reflek aku dorong tubuh kekar itu dan berkata.
"Aku tidak bisa.... "singkatku. Namun mas Feri masih tetap ingin melaampiaskan hasratnya. Aku jadi takut dan beronta. Entah Apa yang ada dalam fikiran pria ini. Mungkin dia berfikir bahwa aku ini istrinya yang memilik hak penuh untuknya. Hingga dia tak pedulikan aku yang beronta dan berteriak karna tak ingin di setubuhi.
__ADS_1
Hingga satu jam berlalu. Aku menangis merintih disudut kamar, setelah semua itu. Aku menangis tersedu-sedu layaknya wanita yang baru saja di setubuhi secara paksa.
"Ina... Sudah sayang sini? "pinta mas Feri berdiri mendekat padaku. Aku kesal dan menangis melempar semua yang ada didekatku.
"Jangan dekati aku! Aku sudah tak sanggup lagi mas! Aku mau kita cerai. Kamu paham gak sih aku tersiksa. Aku tidak bisa melayanimu. "bentakku mas Feri terdengar diam tak bergeming.
"Aku tak sanggup, tolong kasihani aku. "lirihku dengan tubuh yang gemetar. Mas feri mendekat dan berkata padaku.
"Okey... Aku akan menikah lagi, tapi dengan satu syarat? Aku tidak akan pernah menceraiakanmu? "tegasnya. Seketika nafasku tersengal dan berdiri melihatnya datar. Tubuh indahku masih dibalut seprey putih. Aku berdiri dengan air mata mengucur.
"Apa maksudmu?, jika kamu menikah buat apa lagi aku. Aku bisa kembali pulang"lirihku.
"Itu keputusannya?, tetaplah disini. Atau layani aku selamanya? "ucapnya.
"Gak, aku gak mau hidup seperti neraka selamanya. Baiklah. Aku akan tinggal bersamamu disini bersama istri barumu. Jelaskan padanya tentangku supaya kami bisa akur"tegasku dengan nafas sedikit lega. Mas Feri tampak menghela nafas sesak dengan mengusap wajahnya menghenyak di tepi ranjang...
Seminggu tlah berlalu , semenjak hari itu mas Feri tak mau lagi menyentuh bahkan enggan bicara padaku. Aku merasa begitu lega karna aku tak perlu lagi memikirkan beban batin yang berkecamuk didadaku. Setidaknya sekarang aku bisa menjalani hari-hari dengan tenang tanpa ketakutan,walau sepertinya mas Feri tlah lupakan kesepakatan tentang dia menikah lagi. Aku tidak peduli yang terpenting sekarang mas Feri tidak menuntut hak ranjangnya aku sudah sangat bersyukur sekali
Di sore hari ini saat aku menyiapkan makanan untuk makan malam kami, aku mendengar mobil mas Feri datang, aku menunggu dia didalam sembari tetap fokus pada menu hidangan. Namun sedikit aku teranyuh melihat mas Feri masuk kerumah dengan seorang wanita cantik, sontak aku melihatnya degan seksama dia begitu cantik dan elegant aku memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala dia terlihat sangat sempurna dan tentunya dia normal. Dia pasti bisa menjadi istri yang baik untuk mas Feri, sedikit aku coba melangkah mendekati mereka,
“Sore Ina. Perkenalkan ini Rara, seperti kesepakatan kita sebelumnya. Aku telah menikahinya.”ujarnya sedikit aku naikkan alisku dan berkata
“Selamat datang Rara ..”singkatku mengulurkan jabatan tanganku wanita itu seketika nanar melihat sambutan hangatku, dia terlihat tak percaya dengan mata yang membulat.
“Tenang saja. Aku sama sekali tidak keberatan kamu ada disini, aku harap kita bisa akrab?” ujarku, wanita itu makin terheran perlahan dia coba getarkan bibirnya,
“Aku tidak percaya ada wanita seperti ini. Tadinya aku takut saat mas Feri mengajakku kesini,” aku tersenyum dan reflek terkekeh.
“Jangan takut, anggap saja aku temannya mas Feri. Aku senang kamu ada disini,”ujarku lagi Rara tampak mengangguk dan menoleh pada mas Feri.
“Mas makasih ya udah nikahin aku dan pertemukan aku dengan mba Ina.” Ujarnya mas Feri tersenyum sembari mengacak rambut wanita itu dengan gemes. Aku juga ikut tersenyum dan mengajak mereka ke meja makan.
“Ayo kita makan dulu?” ujarku. Mas Feri tersenyum beranjak sembari menggandeng tangan Rara. Seketika aku bengong, namun aku coba tak peduli dan ikut menghenyak juga di meja makan bersama mereka.
“Silahkan, ini semua adalah masakan aku. Kalian silahkan cicipi?” ujarku.
“Silahkan sayang, Ina dia sangat pintar memasak, kamu pasti suka dengaan masakannya”ucap mas Feri mengulurkan piring untuk Rara. Seketika Rara mencicipi makananku, “Iya mas, enak!”ujarnya mereka tampak bercengkrama tak pedulikan aku disini. Aku bungkam sembari tetap menyendok makananku perlahan mendengar mereka tampak akrab sekali’
“ Rara?” tanyaku memotong pembicara’an mereka seketika dua orang itu menoleh.
“kami menikah seminggu yang lalu, Rara masih gadis saat aku nikahi, dia staf mas di kantor. Sama itu dia orang bandung.” Jelasnya. Aku manggut-manggut dan coba menarik ujung bibirku untuk tersenyum
“Oh, orang bandung syukurlahh.” Bisikku. Kembali mas Feri menoleh pada Rara dn berkata.
“Makan yang banyak ya sayang, gak usah sungkan-sungkan.”ujar mas Feri melihat itu aku sontak mencibir,
“Mungkin besok aku juga dapat temen juga buat bantuin masak, enak saja jika aku yang hidangkan makanan tiap hari,” batinku di hati,
Aku berdiri hendak beranjak kekamar,entah kenapa aku males aja liat kemesraan mereka takut ganggu..
“Kamu mau kemana?” cegat mas Feri
“ Aku mau kekamar, aku dah kenyang kok, lagian tadi aku dah makan jajan juga kalian teruskan, dan ya Rara gak usah sungkan-Sungkan juga beresin dan cuci piringnya ya anggap saja rumah sendiri”ujarku menatap maduku itu pasti, dengan gugup dia coba mengangguk.
“Bb-baik mba..”
“Baiklah aku bisa langsung istirahat sekarang.”ucapku beranjak pergi.
Senja berlalu hingga malam semakin larut ketika sedang terlelap tidur di malam hari aku bisa rasakan mas Feri memeluk, sontak aku tersintak dan reflek duduk.
“Mas, kok kamu ada disini bukannya udah ada Rara ya?”ucapku, mas Feri mengencangkan dekapannya sembari masih menutup mata, aku bahkan tidak tau mas Feri sudah berapa lama disini.
“Mas sana!” bentakku.
“Tidurlah sayang, lagian aku Cuma mau numpang tidur, pelit banget sih berbagi ranjangnya.”gerutunya sembari memejamkan mata. Aku menghela nafas, dan kembali tidur dengan rasa was-was. Tangan kekar mas Feri nengkreng di pinggangku, ku coba mengatur nafasku yang tak beraturan dan coba berusaha untuk kembali tidur.
“Ngapain masih disini ‘kan ada Rara”batinku menggerutu.
Pagi berkunjung aku terbangun di waktu shubuh, bisa aku lihat mas Feri masih tertidur lelap di sampingku, setelah mencuci muka dan menggosok gigi aku beranjak keluar kamar. Bisa aku lihat Rara tampak sibuk di dapur, menyiapkan sesuatu,
“Rara kamu mau apa?”tanyaku.
“Aku mau bikin sarapan mba?”ujarnya’ aku menghela nafas sedikit berat dan berkata.
__ADS_1
“Kamu mau bikin sarapan apa? Mas Feri dia tidak suka cafein. Biasanya aku menyeduhkan the hijau untuknya di pagi hari,”ujarku.
"Mas Feri dia suka sarapan dengan karbohidrat dan Teh hijau. Ujarku melirik cofee yang siseduh oleh Rara.
"Oh, maaf aku gak tau. "ujarnya aku mendekat dan mengambul alih pekerja'annya itu.
"udah kamu gak usah lakuin ini. Ini tugas aku. Tugas kamu di atas ranjang aja. Dan ya. Kenapa bisa mas feri datangi aku semalam. Kamu gak cegat dia apa. "ujarku.
"Maaf mba, mungkin mas Feri belum biasa denganku. Dia nikahi aku begitu mendadak. Dan saat dia bilang kalo ia lakukan semua ini demi mba. Aku paham. Bahwa dia sangat mencintai mba. "ujarnya untuk sesaat aku terdiam.
"Aku bahkan tak tau apa itu cinta.. "bisikku. Rara menghela nafas dan coba menghenyak di meja makan itu.
"Cinta itu, perhatian dan kasih sayang. Yang di miliki mas Feri untuk mba."ujarnya. Aku menoleh dan memandanginya datar.
,"Tapi faktanya, dia menikahimu demi kebutuhannya? Apa itu juga cinta? "ujarku dengan tak habis pikir. Rara terkekeh sembari geleng-geleng yang membuat aku heran.
"Mas Feri pria yang normal mba, itu alamiah."
"Tapi kedengarannya cinta tidak alamiah. "gerutuku. Rara hanya bisa bungkam melihat ekpresiku mengaduk Teh di didalam gelas. Aku melirik pada Rara yang memilih menyibukkan diri dengan piring kotor.
"Oh iya? Statusmu masih gadis kah? Apa keluargamu tau kalau kamu menikah? Dengan pria bersitri? "tanyaku Rara sedikit manyun dan mengangguk.
"Lantas apa kata keluargamu? "
"Tak ada, mereka semua mendukung. Apalagi saat aku cerita pada Mak bapak kalo aku dinikahi oleh atasanku di kantor. Mereka malah seneng? Dan mereka bakal adain resepsi."ucapnya dengan terkekeh.
"Kapan? "
"Satu minggu lagi, mba datang ya? Biar bapak sama makku di kampung bisa lega melepasku disini dengan keluarga ini mereka sangt khawtir kalo mba menentang pernikahan ini. "ujarnya. Aku sedikit menggaruk dahiku.
"Aku gak bisa datang, kamu tenang aja. Aku benar-benar berterima kasih padamu jadi jangan risau. "jelasku dengan santai. Rara mendekap dan tertawa riang aku hanya bisa membulatkan mataku melihat tu anak bergelayut dipundakku.
"Makasih ya mba zeyeng, mba kok bisa sih gak tertarik sama mas Feri. Dia itu pria tampan dan sexi. Aneh deh mba Ina? "ujarnya. Aku sedikit menggeliat melepaskan tangannya berteopang di pundakku.
"Kalo kamu seneng ya udah. Silahkan, tapi jangan dikte aku begini. Aku gak suka di tanya-tanya"ketusku mengangkat nampan dengan segelas teh itu dan beranjak menemui mas Feri di kamar. Rara hanua bisa cengigisan melihat aku berlalu.
"Ngatain orang aneh. Jelas-jelas dia sendiri yang aneh cengigisan gak jelas. Apa enaknya coba bercinta. "gerutuku.
Trakt
Aku meletakkan nampan Teh dan sarapan Mas Feri di samping ranjang kami.
"Humm sayang, Teh hijau dengan Roti bakar berbeque"lirihnya sembari tetap memejamkam mata.
"Bangun gih mas. Mandi abis itu sarapan. "ujarku kembali berdiri.
"Baik sayang,"ujarnya melihat tingkah mas Feri aku jadi bingung sama sekali sikapnya tak berubah padaku. Seakan tidak ada perubahan dalam rumah ini. Padahal sudah jelas-jelas dia telah membawa wanita lain kerumah ini. Yang baru saja ia nikahi. Bahkan semalam dia tidam tidur bersama Rara. Tapi bisa saja mereka melakukannya di luar rumah. Karnakan selama seminggu kemaren mas Feri sangat sibuk di luar rumah karna mengurus pernikahannya. Sebentar lagi. Wanita itu akan hamil dan kebahagiaan mas Feri lengkap sudah. Dan au akan tetap dengan Phobia dan Trauma yag aku punya.
"Dasar wanita malang"Bisikku.
Trakt.
Pintu kamar mandi terbuka. Mas Feri datang mendekat sembari mengambil segelas teh hahat yang ada didepanku.
"Ina.. Baju kantor mas Mana? "Tanyanya, reflek aku tersintak dari lamunanku dan bergegas mengambilkannya di lemari.
"Mas, mungkin aku harus kembali pulang? "ucapku Lirih untuk sejanak mas Feri menatapku datar sembari menyambat kemeja di tanganku.
"Kamu mau apa pulang? Yang ada kamu akan semkin trauma, "ujarnya. Aku mendegup dan berkata
"Aku gak mau ada diantara kalian lebih baik aku kembali saja kepada orang tuaku. "ujarku.
"Gak.. Kamu gak boleh pulang. Kamu fikirkan gak sih bagaimana tanggapan keluarga saat aku menikah lagi."kesalnya
, aku terdiam seaat.
"aku akan jelaskan pada mereka? "ujarku mas Feri tampak berdesih.
"Tidak ada Ina, kamu harus tetap disini. Lagian ngapain kamu risih. Bukankah ini keinginan kamu? Apa kamu cemburu? Tapi setau aku kau gak normalkan Seperti yang selalu kamu katakan."Ujarnya datar. Aku mendegup serek kerongkongan Melihat binar matanya.
"Jadi gak usah terbebani dengan kehadiran Rara.. "ucapbya lagu berlalu meninggalkanku sendiri. Aku menghela mafas sedikit sesak.
"Aku tidak cemburu, tapi aku tidak tau rasa apa yang berkecamuk didalam dadaku. "lirihku dengan mengelus dadaku. Tak terasa air mataku merintik. Ada rasa sakit yang tak bisa aku utarakan dan aku jelaskan bagaimana wujudnya.
__ADS_1
Bersambung.