FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
ANCAMAN


__ADS_3

“Tolong jangan menangis lagi Ina, mas gak bisa melihat ini.”ucapnya lirih meremas bahuku sedikit aku kibas tangan mas Feri yang bertengker di bahuku kasar. Dia diam aku terus saja menangis.


“Jadi, apa kamu punya solusi. Jujur aku rindu kita yang dulu? Tolong fikirkan ini Ina. Sebelum semua berantakan.”ujarnya aku makin sesegukan menangis dan sepertinya mas Feri harus memilih berlalu. Untuk sejenak aku terdiam dan coba memikirkan lagi, apa yang dikatakan mas Feri barusan.


“Baiklahh aku akan kembalikan Rara ke tempat asalnya,’’bisikkku.


Keesokan harinya. Di pagi hari, aku me cek kamar tamu, namun aku tak dapati mas Feri disana, aku tersintak saat di sapa Aldo yang sudah bersiap hendak pergi dari kamar satu lagi.


“Al, semalam kamu liat mas Feri?’’ tanyaku sembari menunjuk pintu kamar,


“Tidak,”mataku membulat saat teringat sesuatu bergegas aku datangi kamar Rara dan menyelonong masuk.


“Mas.. “panggilku mencari disetiap sudut, bisa aku dengar kran air menyala. Tak butuh waktu lama Rara keluar dari kamar dan berkata.


“Mba cari siapa?”tanyanya,


“Mas Feri kemana dia”tanyaku, matanya membulat sembari sedikit terheran.


“Dia gak ada disini, “singkatnya, dari pintu kamar Aldo berdiri sembari berkata.


 


“Semalam aku mendengar mobil keluar jam tiga dini hari, aku tak bisa hentikan karna memang dia melaju sedikit kencang.”ujarnya, nafasku tersengal dan reflek menyibak belahan rambutku gundah


“Kenapa mas Feri pergi lagi? Apa yang mba katakan padanya? Dia tidak akan lakukan ini, jika dia tidak gundah,”ujar Rara aku geram dan coba berkata.

__ADS_1


“Itu bukan urusanmu! Cepatlah berkemas aku akan mengantarmu,”ujarku gadis itu tampak menautkan alis, begitu juga Aldo yang tampak mencibir seperti bodo amat dengan apa yang dia lihat


“Aku mungkin harus kembali pulang, terima kasih Mba Ina akan tumpangannya,”ujar Aldo aku mengangguk dan berkata.


 


“Ya Al, terima kasih ya atas semuanya?”ujarku, Aldo tersenyum dan beranjak pergi,dan kembali menoleh pada Rara yang memandangi wajahku dengan terheran,


 


“Aku tidak punya banyak waktu Rara, cepatlah kemasi pakaianmu dan ikut denganku,”ujarku lagi, gadis itu mendegup gundah aku meninggalkannnya beranjak keluar sembari berkata.


“Cepatlah aku tunggu di mobil.”ujarku, mulut wanita itu sepertinya tak mampu untuk tergerakkan,


 


Ku coba bunyikan klakson mobil dari teras sembari menunggu wanita itu keluar dia datang  dengan tergesa-gesa dan masuk kedalam mobil.


Trakt.


Bunyi pintu mobil tertutup. Aku menoleh padanya sebentar dan kembali fokus pada mesin mobil.


 


“Mba kita mau cari mas Feri kemana?”tanyanya, aku tidak menjawab lugas aku nyalakan mesin mobil dan tancap gas kencang, wanita itu tampak tersintak dan menoleh tak habis pikir, namun aku coba bodo amat, dan berlalu kencang kerumahnya, setelah beberapa ment dia bingung saat sudah mendekati jalan kerkediamanny akhirnya dia buka mulut juga setelah dari tadi bungkam.

__ADS_1


“Mba maksudmu apa? Bawa aku pulang?’’ujarnya, aku menghela nafas dan coba getarkan bibirku.


“Kamu sudah pulih, Itu terlihat atas tingkahmu akhhir-akhir ini, aku rasa aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi.”desisku, Rara tampak menggeleng dengan pasti dan berkata.


“Gak,, aku gak mau kembali, tolong berbalik mbak, mas Feri pasti marah jika Rara pergi dari rumah.”ujarnya membuat aku kesal meremas stir. dan injak rem dengan kesal


Ciiiiiiittssss…


Bunyi mesin mengerem mendadak. Aku menoleh pada Rara dengan tatapan tajam,


“Asal kamu tau aja. Yang membawamu kerumah itu lagi bukan mas Feri, bodohnya aku sempat peduli dan sayang sekali padamu, aku masih baik Rara. Dengan mengantarmu pulang jadi silahkan turun.”ujarku membukakan pintu mobil dari dalam, dia geram melirikku, yang terus saja memasang mimik wajah memintanya untuk turun.


"Ayo turun!"titahku, dengan ragu dia turun dari mobil dan berdiri menatapku lekat. Aku coba menantang tatapan itu dengan wajah biasa. Bisa aku lihat wanita itu menggetarkan bibirnya sembari berkata.


“Mas Feri, dia sudah terlanjur mencintaiku. Kita lihat saja siapa yang akan dia pilih. ”ucapnya terdengar mengancam, aku menghela nafas sedikit sesak dan berkata.


“Apa itu tantangan? baiklah.. aku tidak takut karna sejauh yang aku tau, kamu masih kalah Rara, oh, iya sekedaar mengingatkan lagi kejutan dipuncak waktu itu hanya ideku, jadi jangan GR”ucapku dengan senyum dan menyalakan mesin mobil, gadis itu menautkan alisnya tak habis pikir dengan tingkahku, walau aku takut dengan ancaman itu  tapi aku harus terlihat tegar, Hanya agar terlihat kuat dan percaya diri.


 


Malam berkunjung tepat di jam sepuluh malam terdengar bunyi mobil memasuki garasi, sedikit aku tersintak dari lamunanku yang tengah berdiri dibalkon kamar menatap langit malam, aku beranjak turun kebawah dan me cek siapa yang datang, sontak saja aku lega dan merasa senang sekali saat melihat suamiku itu turun dari mobil bergegas aku datangi dan sambut dia dengan pelukan, mas Feri diam melirik ke pintu, aku tersenyum dan coba menyeretnya masuk.


“Mas, mulai sekarang, tidak ada siapa-siapa lagi, akan hanya ada kita berdua,”ucapku dengan mata berkaca-kaca tampak mas Feri menyapu setiap ruangan dengan pandangan.


“Kemana semua orang?”tanyanya. aku masuk dalam pelukannya dan berkata

__ADS_1


“Kamu bener mas, sebelum semuanya berantakan lebih baik, aku kembalikan saja Rara kerumahnya, aku tidak ingin dia mengambil satu-satunya yang paling berharga di hidupku,”ujarku lirih membenamkan wajahku didadanya, mas Feri terdengar mengambil nafas lega dan mendekap tubuhku erat.


“Terima kasih sayang..”lirihnya mengecup dahiku lama.. aku mengangguk dengan air mata merintik.


__ADS_2