FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
TERAKHIR KALI


__ADS_3

POV ALDO.


 Pagi ini aku sangat bersemangat sekali untuk menemui mba Ina, karna setelah ngantor rencananya aku mau ngajak dia ke studio, beruntung sekarang papa lagi keluar negri jadi aku bebas, buat kemana-mana sekarang, dengan semangatnya dan hati yang girang aku menghidupkan klakson mobil. Di depan rumahnya, tak lama setelahnya mba Ina keluar dan aku turun menyambutnya datang,  bisa aku lihat dia belum rapi dengan baju kantor. Baju yang di kenakannya simple tapi masih tetep keliatan manis. Entahlah sepertinya sekarang aku sangat menyukai mba Ina. Apapun dan bagaimanapun keadaanya dia sangat terlihat menarik.


“Mba, kok belum rapi, kita akan kekantor dan sesuai janji. Sore ini kita akan kestudio.”ujarku. mba Ina tampak mendekat dan melirik ke garasi.


“Kamu lihat, mobilnya mas Feri di garasi?’ucapnya pelan, aku menoleh sebentar dan kembali melihat wajahnya, apa mba Ina fikir aku takut dengan suaminya.


“Trus kenapa mba?”tanyaku , mba Ina sedikit bedengus dan berkata.


“Bagaimanapun, dia belum menanda tangani perceraian, aku masih istrinya, tak baik jika aku pergi-pergi bersamamu.”ujarnya sedikit aku menautkan alisku dan berkata.


“Apa ini artinya mba? apa mba Tidak jadi menggugat cerai mas Feri?”tanyaku lirih, mba Ina mendegup dan coba berkata.


“Ini belum waktunya, mas Feri dia lagi sakit.”ujarnya tertunduk, aku masih tak habis pikir.


“Trus kenapa?’’tanyaku lagi,


“Al, dia tidak mau menanda tangani itu, aku gak bisa keluar rumah hari ini, maaf ya. Lain kali kita akan jalan, jujur saja aku lupa. Kalau aku adalah istri orang saat bersamamu.”ujarnya gundah menyibak belaahan rambutnya, rambut hitam panjang yang bergelombang itu membuat wajah cantiknya tampak sempurna,


“Ya sudah, aku akan sering nogkrong sampai papa pulang, kalo ada apa-apa, atau mba butuh Aldo. Mba bisa ke studio aja.’’ujarku dengan bahasa berat, aku sangat kecewa gagal ngajak mba Ina jalan hari ini.


“Baiklah.”singkat mba Ina. Akupun terasa kikuk mau pergi atau gak, terasa berat saja rasanya ninggalinn mba Ina dengan Feri,


 “sialan sekali sih dia, giliran sakit aja ketempat mba Ina.’’gerutuku membatin. Dengan langkah paksa aku kembali ke mobil. Didalam mobil aku menggerutu dan kesal sekali sembari melajukan mobilku, diperjalanan aku coba hubungi asistenku.


Tuuut,, tuuut..


“Hallo tuan muda..’’


“Lu bawa motor gue ke studio, mau nongkrong dulu gua, dan ya, lu jangan bilang ke papa kalau gua bolos masuk kantor ya.’’ujarku.


“Bb-baik tuan,”


“Buruan, awas aja lu pas gue gak sampe disana, motor gua gak ada.”ancamku, terdengar panggilan itu dimatikan, aku fokus meljukan mobilku ke studio band pribadiku dan sesampai disana sudah bisa aku lihat teman-temanku berkumpul dan Duta asistenku baru datang banget bawa motor.


“Lama banget sihh?”kesalku menyambut.


“Ini juga ngebut tuan,”ucapnya turun dari motor, Aku melempar kunci mobil padanya dan berkata.


“Lu bawa mobil kekantor mba Ina. Kalo dia masuk kantor kabari aku ya?”titahku, asistenku itu mengangguk, namun langkahku terhenti saat ia mencegatnya.


“Tuan, hari ini ada pertemuan lain, kok saya perhatikan Tuan hanya mau mengurus satu mitra kita saja?”tanyanya, aku berdesih dan membalik melihatnya dengan kesal.


“Ih, lu hubungin Dion sana sekretarisku, udah deh jangan ganggu,”geramku beranjak masuk dan asisitenku itu beranjak pergi ke mobil. Dan aku masuk menemui yang lain.


“Katanya hari ini, lu bakal datang sore ama doi lu gimanaa sih?”tannya salah seorang sohib gua yang tak lain  Hadi drummer. Aku menghenyak di sofa didepan alat-alat band itu dan berkata,


“Dia gak bisa datang.’’lirihku.


“Lah., padahal kita dah siap-siap lo ini buat penampilan nar sore,”ujar Edo sang gitaris, aku menghela nafas dan berkata’


“Ya udah, lo semua latihan aja lagi gua bakalan , bareng kalian.”bisikku terasa berat bersandar disofa sembari mengotak atik ponsel


“Emang kenapa dia gak bisa datang?”Tanya mereka lagi, aku mendegup dan berkata.


“Suaminya sakit..”singkatku sontak semua terpernjat dan tertawa serentak.


“Berani bener lu pacaran ama bini orang, gak takut di tonjok apa lu.”timpal salah seorangnya aku melihat ketiga sohibku itu yang tengah tertawa terpingkal-pingkal, dengan wajah datar aku berkata


“Tonjok kata lo? Gua gak takut. Sini kalo berani gua tonjok balik aja tu orang.”ujarku, mereka tampak menelan tawanya masing-masing.

__ADS_1


“Tapi ini benaran Al?”ucap mereka sangat serius. Aku mengangguk pasti.


“Gimana ceritanya lu bisa gebet Istri orang?”Tanya mereka satu persatu mulai mendekat, jiwa kepo-nya tampak berdatangan dan duduk didepanku.


 


“jadi gini..”ucapku pelan, Edo tampak beringsut mendekat ingin mendengarkanku, dan dua lainnya juga tampak seksama memperhatikanku.


“Ya gitu lah.. panjang ceritanya.”tandasku, semua tampak hambyar dan mencibir.


"Is kampret lu."tandas Dika.


“Suaminya tau gak, kalo lo itu berusaha deketin istriny?’timpal Hadi


“Tau.. udah jangan bahas itu, yang jelas gue bukan pebinor, dia duluan yang ngambil cewe gue?’’gerutuku, sontak mereka tampak menautkan alis.


“Maksud lo Rara?”tanyanya


“Iya Rara, dia menikahi suaminya Ina doi gue itu,’’


“Busyet, ribet banget sih ceritanya tapi gak nyangka banget ya Rara jadi pelakor.’’ujar hadi disambut lagi oleh edo sembari berkata.


“Wajah-wajah pelakor sekarang imut-imut ya gemesin deh, mana anaknya polos gitu?’ucapnya, aku menghela nafas dan berkata.


 


“Udah ah, jangan bahas Rara, gak mood gue jadinya, jadi kalian punya Ide gak, gua mau luluhin hatinya mba Ina dan buat dia lupain sakitnya karna kehadiran gua.”ucapku.


“Ngebet banget lu pengen bini orang?’timpal Edo lagi.


“Dia berbeda aja, aku tau bagaimana rasannya jadi mba Ina, gue pengen menghibur dan menyadarkan dia bahwa masih ada orang yang mencintainya dengan tulus, kek gue ini misal.”jelasku teman-temanku tampak teranyuh.


“Gimana kalian punya ide gak?”Tanyaku.


“Doi lu itu, orangnya pendiam, serius dan misterius gitu sama wibawanya elegant.’’Ujar edo tampak bijak.


“ Wih bener semua ni, Trus gue harus ngapain?’’


“Dia bakalan luluh saat ada seseorang, yang wujudkan sesuatu yang paling ingin dia lihat tapi itu sepertinya mustahil”jelasnya mataku sedikit terbuka dan berkata.


 


“Kok lu tau, mba Ina suka menyendiri dan pemimpi, dia selalu berharap segala mimpi-mimpiya terwujud. Dia wanita memiliki keterbelakangan sebelumnya dan diluar itu semua, dia wanita yang sempurna.’’lirihku.


 


“Itu makanya, gue sempet lihat matanya waktu itu, sepertinya dia punya dunia tersendiri, di pemendam tapi juga bukan pendendam.’ujar Edo.


 


“Wiiih… bisa aja lo, Emang bener sih dia itu suka memendam perasaan dan ragu gitu buat cerita dan lucunya dia tidak mudah membenci seseorang walaupun tlah disakiti, dan aku bersyukur banget, dia sudah mulai terbuka padaku akhir-akhir ini tapi  sialnya. Suaminya, tidak mau menanda tangani perceraian.”gerutuku.


 


“Caranya cuman itu, lu coba ulik, apa yang ingin dia lihat dan yang paling membahagiakan di hidupnya. Jika memungkinkan bagi lo untuk mewujudkannya Why not?”timpal Edo lagi aku manggut-manggut,  Dika dan hadi tampak mengangguk pasti.


“Tapi men, masak istri orang? Lu gak pengen yang perawan apa?”timpal Hadi. Aku melirik sembari menepuk jidatnya.


“Yang gadis juga kadang casing doank, mending mba Ina yang jelas hatinya dah kayak malaikat,”ujarku, kesel Hadi hanya bisa nyengir.


"Kek gak tau Aldo aja lu, secarakan dia itu Brengsek, udah rasain lah.."timpal Edo. aku mendegup dan menepuk kepalanya.

__ADS_1


"Sok tau banget sih lu."ketusku


“Tapi beneran lu serius sama dia?’’


“Seriuslah.”


Sorenya aku melajukan motorku kerumah mba Ina, kedatanganku bukan untuk menemuinya tapi aku pengen memantau keadaan apa mereka aman-aman saja atau Rara juga ikut kesini, secarakan tu orang bucin banget, tau mas Feri sakit pasti dia samperin dari balik gerbang aku lihat ada dokter keluar dari rumah itu bersama mba Ina. Samar-samar bisa aku dengar dokter itu berkata.


 


“Dia hanya terlalu banyak fikiran, dengan meminum obat dan istirahat yang cukup. Pak Feri akan pulih kembali.”ujarnya.


“Makasih dok, kira-kiraa kenapa ya dia bisa stress gitu?”Tanya mba Ina.


“Banyak hal, kadang terlalu lelah berfikir dan kecapekan bisa juga menyerang system imun kita, jadi mudah terserang penyakit, mba tenang saja, ini tidak serius’’


“Baik dok”


“Banyak fikiran? Bukan setres mba Ina, gak waras kali.’’bisikku mencibir, kembali mba Ina masuk dan menutup pintu saat pak dokter beranjak.


 


“Mungkin aku akan temui mba Ina di kantor aja besok, moga aja tu bekicot besok sembuh.”gerutuku.


 


POV INA


Aku kembali ke kamar setelah mengantar dokter tadi pergi keluar, bisa aku lihat mas Feri tertidur dengan wajah yang sedikit pucat dan lemes, ku lirik makanan yang aku tarok tadi belum dimakan aku berfikir untuk membangunnkannya, namun aku kasian juga. Mas Feri tampak lelah sekali, reflek kakiku terhayun mendekat dan menghenyak duduk diisampingnya sedikit aku elus dahinya yang terasa panas itu. Air matku reflek merintik .


“Andai semua ini hanya mimpi buruk mas,’bisikku mengusap lembut kedua alis lebatnya yang tersusun rapi, mata indah suamiku itu terkatup. Namun mampu menyentuh hatiku dengan kepolosan matanya bibirnyaa tampak bergetar mengingau lirih memanggil nama Ina.


“Ina..”singkatnya hatiku teranyuh dan reflek merintikkan air mata,


“Ina diisini mas,”lirihku, mencoba mengenggam tangannya dengan ragu, aku terkejut melihat luka di telapak tangannya yang lumayan besar. Kembali aku menoleh pada wajahnya yang mengigau menyebut-nyebut namaku.


“Tanganya mas Feri kenapa bisa luka begini? Apa yang terjadi.”bisikku.


“Ina…”panggilnya Lagi aku tersintak dan coba berkata padanya.


“Ya mas, Ina disini, mas bangun kita makan dulu”ujarku, sedikit menepuk dan mengelus pipinya, mas Feri terbangun aku membantunya untuk duduk dan menyandarkannya


“Mas makan dulu ya, habis itu minum obatnya.”ujarku, mas Feri mengangguk. Aku menyendokkan makanan ke mulut, perlahan dia coba gerakkan bibirnya untuk melahap makanan. Dia mengunyah nasi itu sembari tetap melihat wajahku, ku coba fokus memotong makanan dengan senyuum tanpa pedulikan wajahnya yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum itu aku coba sanggah dengan mengatakan,


“kenapa mas ngigaunya nyebut nama Ina, mas mimpi apa?”tanyaku, lagi menyendokkan nasi kemulutnnya.


“Kamu pergi jauh, meninggalkan mas.’’lirihnya, aku mendegup dan coba tegar agar tidak terbawa perasaan.


“Kita akan berakhir mengenaskan mas, cinta dan pertahanan kita itu semua sudah runtuh, tak ada lagi yang tersisa.”ucapku sembari tetap menyuapi mas Feri makan, dia tampak menelan serek kerongkngannya hingga aku ambilkan minum.


“Pesan Ina hanya satu, mas jangan terlalu manjakan Rara. Dia seorang istri dia harus melayani suaminya dengan baik, Ina gak mau mas jatuh sakit lagi. “lirihku dengan air mata merintik, mas Feri melihat nanar air mataku itu.


“Ini prinsip mas, Ina tidak bisa dimadu. Suka atau tidak ina akan pergi.”lirihku lagi, perlahan mas Feri mengangkat tangannya untuk mengusap pipiku.


“Sebelumnya kamu bisa menerima Rara dengan baik? Lantas kenapa sekarang tidak, mas tidak bisa menjalani hidup tanpa kamu Ina, kita telah melalui banyak hal, tak mudah bagi mas untuk lupakan semua itu,”ujarnya, aku tertunduk menyembunyikan air mataku.


“Apa mas memintaku untuk menerima Rara? Dulu memang aku meminta Rara untuk datang, agar aku tidak kehilangan kamu mas, tapi kehadiran Rara sekarang berbeda aku akan kehilangan kamu dan perlahan nama Ina akan terhapuskan di hati mas Feri, dan sebelum itu semua terjadi, Ina aka pergi duluan.”jelasku, mas Feri mendegup. Aku mengambil obat dan membberikan padanya..


“Minum obatnya.’’titahku, mas Feri nurut mendegup pil itu dengan air, aku berdiri hendak meletakan nampan makanan itu kedapur, namun tanganku di cengkram mas Feri, matanya berkaca-kaca tanpa menoleh padaku, sedikit ia melirikku. dan coba lihat manik matanya dalam, aku bungkam seolah aku sangat mengerti dengan arti binar matanya. Perlahan dia gapai pinggangku dan meletakkan nampan itu lagi ke nakas. Aku nurut mendekat saat tangannya menuntunku, Darahku serasa mengalir lebih kencang saat wajah kami sudah dekat, manik mata mas Feri seperti menginginkan aku. Sedikit aku bergerak hendak pergi namun cengkramannya sedikit kuat hingga aku kembali diam, entah kenapa aku tidak bisa lagi menerima ini, bukannya aku tidak normal, rasanya jika harus lebih intim dengan mas Feri aku tak bisa, sakit saat aku terbayang wanita itu juga merasakan sentuhan yang sama, hasrat yang sama dan itu terasa menjijikan sekali. Tapi tak bisa pungkri juga aku memang merindukan mas Feri, aku tidak tau ini maksudnya apa. apakah ini hubungan untuk yang terakhir kalinya, mengingat percakapan kami sebelumya membahas perpisahan, jika benar begitu baiklah. Untuk yang terakhir kalinya. Aku akan merasakan sentuhan ini, semoga saja aku tidak merindukannya nanti, Aku diam saat mas Feri ******* bibir mungilku, hingga mendatagi setiap tubuhku dengan kecupan aku diam dan aku pasrah, ia dekap dan rangkul aku dalam pelukan entah kenapa aku merasa suamiku baru saja melampiaskan hasratnya setelah waktu yang cukup lama, seolah gelora itu baru bisa terlepaskan hari ini, apa yang ada dalam otakku kenapa aku begitu naïf, karna memang beginilah birahi, mereka akan sangat terlihat rakus walau telah menyicipinya berkali-kali.


LAH?

__ADS_1


__ADS_2