
“Katakan sayang? Apa kamu mencintainya?”
Ina tampak tertunduk dengan meremas tanganku erat,, sedikit aku lirik jari manisnya yang tlah di hiasi cincin mahal berpermatakan berlian itu.
“Aldo sudah melamarmu kah?”tanyaku, Ina mendegup dan coba menghela nafas untuk bicara.
“Aku tidak yakin dengan perasaanku waktu itu, yang jelas, aku nyaman bersamanya, aku berharap itu tidak cinta.”ucapnya, aku menatap lekat wajahnya dengan seksama.
“Benarkah hanya sebatas itu?”tanyaku, Inan menghapus air matanya dan mengangguk pasti. Nafasku tersengal dan coba teringat sesuatu yang mengganjal lagi di hatiku. Karna memaang Aku pernah melihat secara langsung bahwa Ina sangat nyaman di cumbui Aldo. Walau hatiku tersayat, aku kembali tegar dan bertanya.
“Sudah berapa jauh, hubungan itu..”lirihku menatap matanya, mata Ina sayu tak sanggup untuk menatap mataku dia menggeleng pelan, namun aku mengartikan lain dari glegatnya.
“Seberapa jauh?”tanyaku lagi, Ina reflek memelukku dan berkata.
“Tidak ada apa-apa mas, kamu gak usah khawatir tidak ada hal yang buruk.”ujarnya membenamkan wajahnnya didadaku, sedikit aku mengambil nafas lega. Jika memaang itu benar, tapi aku tidak tau kenapa masih ada yang mengganjal di hatiku semoga saja ini hanya ketakutan dan kecemburuanku saja, Ina tak mungkin membohongiku, aku pasti akan sangat kecewa sekali jika dia menutupi sesuatu dariku.
“Aku mencintaimu Ina, sangat mencintaimu”bisikku mengelus rambut hingga pundaknya. Dia hanya diam membenamkan wajahnya didadaku
POV INA.
Setelah melepas mas Feri pergi kerja , aku kembali masuk kekamar, dadaku terasa berat, dan sangat menyiksa sekali akan rasa bersalah yang menggrogoti seisi relungku sekarang, aku kesal dan merasa menjadi pecundang sama halnya sampah busuk. Sama sekali tidak pantas untuk suamiku. Bagaimana bisa aku terbuai dengan pemuda itu tanpa pertimbangan sama sekali, sekarang aku seakan merasa terbakar setiap hari perlahan meleleh sebelum benar-benar lebur, rasa bersalah ini mengusik tenangku aku ingin sekali jujur, tapi aku tidak tega menggoreskan luka di hati mas Feri, yang ada ketulusan dan kasih sayangnya padaku tiba-tiba saja memudar, setelah mengetahui semua ini, aku tidak ingin kehilangan suamiku lagi. Aku ingin memilikinya seutuhnya, begitupun cintanya, aku tidak mau membuat celah hingga dia meragukanku selamanya.
“Tuhan tolong bantu aku, aku sangat bingung sekali.”bisikku beringsut duduk dan beranjak turun sembari menyambar kunci mobil, aku ingin pergi kesuatu tempat melepaskan penat hatiku dadaku terasa sesak sekali.
Sesampai disana, aku berjalan turun menyisir jalanan bertebing itu, dari jarak 2 meter aku melihat Aldo duduk menghadap ke tepi tebing, aku terkejut yang tadinya berfikir tidak ada siapa-siapa disini, tampaknya dia datang bersama motornya yang ia parkirkan di balik pohon, merasa dia tidak melihat aku datang, akupun kembali membalik hendak pulang namun gerakku terhenti
“Jika kamu ingin berteriak, teriak aja.”ujarnya, langkahku terhenti tanpa menoleh padanya.
“Semenjak kamu pergi, aku selalu datangi tempat ini untuk berteriak.”timpalnya lagi, aku menghela nafas tapi masih tak bergeming, dia berdiri dan kembali berkata.
“Apa yang membuatmu kesini? Masalah apa yang menyesakkan dadamu kali ini?’’tanyanya aku membalik dan melihat Aldo berdiri di hadapanku.
“Kamu bingungkah? gak tau lagi cerita pada siapa?, hingga mendatangi tempat ini?”tanyanya lagi, aku bungkam melihat tatapan mata Aldo berkaca-kaca, dia mendekat.
“Keresahan kita sama Ina? Kenapa kita saling menghukum diri seperti ini?”ucapnya terdengar berat, aku menghela nafas, dan coba berkata lirih.
__ADS_1
“Kamu ingat? Aku pernah minta kepadamu, sesuatu dan aku ingin dicintai dengan begitu gila, aku ingin melihat sisi lain dalam cinta yang orang-orang tidak bisa memahaminya, cinta yang sangat luar biasa, aku ingin dicintai dengan cara lain bahkan logikapun tak bisa mengartikannya, kasih sayang, ketulusan, kesetiaan, dan cinta yang berlipat ganda, itu hanya ada pada suamiku Al, aku telah menemukannya pada diri mas Feri, bagaimana aku bisa pergi saat semua impianku sudah tercapai…”ucapku llirih sembari menghentikan air mata, Aldo tertunduk mengusap wajahnya gundah dan kembali duduk memandangi pemandagan langit biru disambut hijaunya bukit dan pemukiman yang ramai dibawah sana,
“Aku mecintaimu Ina, saat mimpimu itu berubah menjadi mimpi buruk, kamu tau sendirikan, aku punya banyak cara, membawamu ke mimpi-mimpi yang lebih indah.”ujarnya aku mendegup dan memilih beranjak dari situ,
Diatas mobil aku kacau dan pusing sekali entah apa yang membuat pikiranku jadi runyam begini ,ini benar-benar menyedihkan, apa aku akan hidup dalam rasa bersalah ini selaamanya, bagaimana caranya aku mengusir seluruh keresahan ini, aku bahkan tak punya tempat untuk berkeluh kesah sekarang, dan bahkan tidak bisa manangis dalam pelukan mas Feri atas kesalahanku ini.
“sepertinya aku telah membayar kesalahanku sendiri untuk keputusanku di awal dulu,”bisikku menyibak belahan rambutku gundah sembari menyetir mobil menuju pulang, namun sebelum itu aku singgah dulu di mall untuk membeli beberapa kebutuhan sebelum pulang, aku sangat setres mungkin sedikit belanja bisa menghibur diriku,
Aku masuk kedalam mall dan langsung mencari barang-barang yang aku butuhkan setelah semua selesai aku menjinjing barang belanjaan keluar, melangkah pasti namun aku terkejut di cegat oleh seseorang wanita paruh baya, yang tampak lusuh, wajahya pucat dan keriput, matanya berkaca-kaca saat coba menggapaiku, aku mendegup bahkan orang yang selama ini sudah aku anggap mati, dia masih ada dunia ini, aku hampir saja tak mengenalinya.
“Ina…”lirihnya merintikkan air mata, aku mendegup kesal dan coba berlalu meninggalkan wanita yang sangat aku benci itu dia mengikuti langkahku hingga ke mobil.
“Ina, putriku. Ibu mohon maafkan ibuk nak.’’tangisnya coba memegangi tanganku aku mengibas tangannya dan membuka pintu mobil.
“Nak, tolong maafkan ibuk”tangisnya pecah coba menghentikanku saat aku sudah mulai menyalakan mesin aku berdesih saat dia memukul-mukul kaca jendela sambil menangis.
“Ina kasihanilah ibuk nak”tangisnya aku tak peduli dan tancap gas lebih kencang,
Aku terus saja melaju pulang tanpa terpikir untuk kembali, dulu saat gadis remaja merintih sedih setiap malam berharap ibunya kembali menjemput namun dia tak kunjung datang hingga aku jadi down dan sangat putus asa, miris memang saat aku lihat tadi, wajah ringkih yang pucat tampak lemah itu meminta belas kasihan, maaf hatiku sudah terlanjur sakit. Tidak ada lagi tempat di hatiku untuk ibuk yang telah menelantarkanku seumur hidupnya.
Sesampai dirumah, aku penat dan sangat lelah sekali langsung aku menghenyak di sofa dan melirik keatas, sepertiynya mas Feri sudah pulang moodku sangat terganggu atas kejadian tadi berusaha aku tidak ingin mengingatnya lagi, hanya menambah beban pikiranku.
“Mas, kamu sudah pulang.”teriaku dari bawah terdengar ada sahutan di atas.
“Ya sayang,”sahutnya beranjak keluar kamar dan beranjak turun.
“Kamu abis belanja ya? Kok gak bilang sih biar mas temenin.”ujarnya,
“Iya mas, isi kulkas udah mulai kosong jadi kepikiran buat belanja, kamu dah makan?”tanyaku reflek mas Feri manyun dan menggeleng.
“Humm, maaf ya sayang, Ina masakin bentar.”ujarku, mas Feri tersenyum dan berkata.
“Makasih ya, mas juga baru datang, gak apa. Kamu istirahat dulu aja, kan baru datang.’timpalnya aku mengangguk dan mengelus pipinya,
__ADS_1
“Makasih ya mas,, punya suami perhatian kayak kamu itu sesuatu banget tau gak sih,”gemesku mencubit hidungnya, mas Feri terkekeh,.
“Gimana kalau kita makan di luar aja?”Tanya mas Feri. Aku tersenyum dan menggeleng,
“Gak, aku capek. Kamu tunggu aja biar aku masakin ya, masakan aku itu lebih enak dari pada masakan restoran.”ujarku, mas Feri sedikit mencibir dan berkata.
“Ya deh, bilangin aja kamu pelit,”sungutnya.
“Ya iya donk, jika masih bisa berhe-“aku menghentikan kataku yang di imaki mas Feri dengan nada meledek, aku terdiam, melihat dia menyelesaikan kata-kataku itu.
“Hemat , kan mayan ngurangi buat pengeluaran”gerutunya, aku terkekeh mendenngar mas Feri tidak lupa dengan jargoun ku satu itu.
“Seneng ya, bisa ledek aku?’’ucapku datar, mas Feri terkekeh dan merangkul bahuku.
“Siapa yang ledek, mas hanya hapal aja sih karna sering dengar”ucapnya, aku manyun sembari memainkan belah rambutnya.
“Emang dasar ya kamu, ya udah aku masak dulu.’’gemeskku. coba berdiri namun cengkraman mas Feri Tak bisa membuatku berdiri.
“Ni mau masak? Apa kamu dah kenyang aja? peluk-pelukkan gini?”ujarku, mas Feri menarik pinggangku lebih dekat dan mencium bibirku sedikit lama.
“Dah.. gini aja mas dah kenyang kok.”lirihnya sedikit menggigit hidungku aku terkekeh mundurkan leher dan berkata,
“Mending aku masak, dari pada wajahku habis nanti di makan.”gerutuku mencandainya mas Feri terkekeh melepasku kedapur,
“Buruan sayang mas dah laper, dan kepengen juga..”ucapnya sedikit lantang saat aku membawa barang belanjaan kedapur aku hanya geleng-geleng sambil tertawa.
“Jangan ganggu makanya, kalo mas masih usil gak dapet dua-duanya.”sahutku,
“Hummm, baiklah.’’timpalnya. terdengar Tv di hidupkan aku hanya bisa tersenyum riang memulai pekerjaanku.
Hingga dua jam berlalu aku sudah siap dengan menu di meja, setelah tertata rapi aku berberes merapikan diriku kekemar mandi dan habis itu menemui mas Feri di ruang keluarga. Hatiku hangat saat melihat mas Feri tertidur di sofa, aku melangkah mendekat dan duduk disampingnya, hatiku teranyuh melihat wajah teduhnya yang tampak sangat manis sekali kala tidur, entah kenapa mataku terasa basah dengan sedikit mengelus setiap sisi wajahnya lembut,
“Mas, maafkan Ina yang menodai kesucian cinta kita.”batinku di hati dengan air mata merintik, perlahan aku kecup keningnya dengan hati yang berat, untuk sekarang entah kenapa, aku sangat merasa tidak pantas bisa bersanding dengannya, kekuatan cintaku yang besar belum apa-apa dengan cintanya yang teguh bersemayam dalam relung hati suamiku ini, sanubarinya hanya ada kata setia untuk Ina, hingga wanita lainpun harus kehilangan akalnya untuk bisa menaklukkan dinding hati mas Feri yang begitu tebal, berkali-kali usahanya selalu berujung dengan penolakan bahkan setiap detik ia haus akan sentuhan dan belaian cinta suamiku tapi cintaku tidak peduli dengan semua itu, hasratnyan hanya untuk Ina, sedangkan aku tak bisa rasakan hanya bisa berfikir dengan fikiran kalud hanya ada satu kata yakni dendam, tak mudah memang menjadi mas Feri sungguh cintaku hanya secuil debu yang bertebangan, dibandingkan dengan itu semua, ku cobaa menelan tangisku air mataku berderai dan merebah didadanya,
“I love you mas, aku mungkin tidak wanita yang pantas lagi untukmu, tapi aku tidak akan melepaskan anugrah cinta yang ada pada dirimu mas, aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi, kamu adalah anugrah terindah yang pernah aku miliki’’bisikku mengelus-ngelus pipi hingga wajah suamiku itu lembut. tak bisa aku menghentikan air mataku mengucur tuhan baik padaku, memberikan belahan jiwa sesmpurna ini.
Huuuuuuummmm
__ADS_1