
POV INA.
TRAKT..
Bunyi hempasan pintu terdengar sangat keras aku terkejut dan sontak memanggil suamiku,
“Mas kamu dari mana, di tengah hujan badai begini?”tanyaku, mas Feri tampak menelan serek kerongkongannya, dia mendekat dan menatap mataku tajam sembari berdesis gundah,
“Aku, belum benar-benar kehilanganmu 'kan Ina?”tanyanya pelan dan datar, aku mendegup mencoba melihat manik matanya. Masih bisa aku ingat ucapanku saat aku mengetahui waktu itu mas Feri menikahi Rara.
“Mas, maksud kam-“ucapanku terhenti.
“Mana?, mana Ina yang katanya, sangat mencintai mas Feri begitu besar?.’’ujarnya, nafasku tersengal dan tertunduk, aku menyimpulkan mas Feri telah mengetahui semuanya, melihat reaksiku tertunduk begitu mas Feri mencengkram dan meremas bahuku erat.
“Apa yang sudah terjadi!”
“Katakan Ina!”bentaknya, aku bungkam tak mampu menggetarkan bibirku, susah aku mencari satu kata yang mampu meredam amarahnya tapi aku tidak temukan apa-apa, alhasil aku hanya bisa merintikkan air mata sembari diam,
“Tatap mata mas, dan katakan sesuatu,”bentaknya keras namun terdengar sedikit merintih, aku gemetar merasakan mas Feri meremas dan mengguncangkan tubuhku kasar, aku hanya bisa menangis sembari berkata.
“Mas, lepaskan sakit..”lirihku coba menggerakkan bahuku, dengan kasar mas Feri mendorongku hingga aku terhuyung, aku mendegup dan coba melihat matanya dengan air mata mengucur.
“Katakan Ina, apa kamu dan Aldo?-“ucapan mas Feri terhenti, dia tertunduk mengusap wajah hingga sudut matanya, bisa aku lihat dia menangis dan mengatur nafas yang tampak berat
“Ma-s..”lirihku mendekat menangis sesegukan. dia mundur dan hanya tampak menunggu jawaabanku namun hatiku sangat berat hingga tak mampu berucap.
Dia kesal melihat aku bungkam, sepertinya dia tak bisa bersabar lagi hingga ia berteriak membabi buta menghancurkan semua yang ada,
Trang...
Prang....
__ADS_1
Duar..
“Jawab aku Ina! Tolong jangan biarkan aku berfikir bahwa istriku adalah jalang!”teriaknya, aku gemetar menutup telingaku akan pecahan Gucci dan barang lainnnya di hempas mas Feri kuat.
“Hiks,,,”tangisku bersimpuh merintih menutup wajahku aku menangis histeris tersedu-sedu, melihat reaksiku itu mas Feri gemetar mengepal jemarinya dan sontak menghunus tinju ke kaca hias yang ada di belakangnya, sontak kaca itu retak dan pecah, mataku membulat melihat tangannya terluka dan mengalirkan darah segar di kaca yang retak parah itu, aku berdiri dan mendekat karna cemas.
“Mas tangan kamu terluk-“ucapanku terhenti senada dengan tamparan hebat melayang ke pipiku, aku teranyuh dan tertunduk mengusap pipiku.
“Aku pernah melukai tanganku sendiri, saat aku menamparmu waktu itu Ina, dan sekarang kalo bisa aku akan membuang tangan ini, karna telah menyentuhmu”geramnya, nafasku tersengal menatap nanar lantai kamar. Mas Feri beranjak pergi dengan menghempas pintu kamar kuat, dan tak lama setelahnya, aku mendengar mobilnya melaju kencang, aku masih nanar sembari mengelus pipiku yang masih terasa ngilu.
Tak ada kata sepatahpun, hanya ada rasa sakit, yang teramat sangat. apa itu salahku? mas Feri sangat tidak bisa menerima ini, aku terjebak dalam permainannya, aku merasa bersalah pada diriku sendiri, andai dia tau setiap detik aku mengutuk diriku sendiri untuk ini, pernahkah mas Feri berfikir ini tidak mudah bagiku, aku akui aku memang sempat terbuai, Tapi ini tidak sepenuhnya salahku, entahlah. Yang jelas sekarang aku hanyalah wanita sampah yang tidak pantas untuk siapapun lagi. bahkan mas Feri sudah jijik melihatku bahkan menyentuhku, kenapa ada rasa sakit sesakit ini, rasanya aku lebih baik mati saja, dari pada aku melihat kebencian yang ada dalam mata mas Feri untukku, dia duniaku, hidup dan matiku,
“Hiks,,,”rintihku bersimpuh sembari melirik seisi kamar yang tlah hancur dan berantakan,
“Mas Feri…”lirihku menangis tersedu-sedu, dadaku terasa sangat padat sekali, bahkan tangis dan teriakan tak mampu melegakannya aku tertunduk menutup kelopak mataku sembari air mata mengucur hebat.
“Kehidupanku sudah benar-benar berakhir.’’rintihku terbata, menangis histeris di tengah malam berbadai itu.
POV INA.
TRAKT..
Bunyi hempasan pintu terdengar sangat keras aku terkejut dan sontak memanggil suamiku,
“Mas kamu dari mana, di tengah hujan badai begini?”tanyaku, mas Feri tampak menelan serek kerongkongannya, dia mendekat dan menatap mataku tajam sembari berdesis gundah,
“Aku, belum benar-benar kehilanganmu 'kan Ina?”tanyanya pelan dan datar, aku mendegup mencoba melihat manik matanya. Masih bisa aku ingat ucapanku saat aku mengetahui waktu itu mas Feri menikahi Rara.
“Mas, maksud kam-“ucapanku terhenti.
“Mana?, mana Ina yang katanya, sangat mencintai mas Feri begitu besar?.’’ujarnya, nafasku tersengal dan tertunduk, aku menyimpulkan mas Feri telah mengetahui semuanya, melihat reaksiku tertunduk begitu mas Feri mencengkram dan meremas bahuku erat.
“Apa yang sudah terjadi!”
__ADS_1
“Katakan Ina!”bentaknya, aku bungkam tak mampu menggetarkan bibirku, susah aku mencari satu kata yang mampu meredam amarahnya tapi aku tidak temukan apa-apa, alhasil aku hanya bisa merintikkan air mata sembari diam,
“Tatap mata mas, dan katakan sesuatu,”bentaknya keras namun terdengar sedikit merintih, aku gemetar merasakan mas Feri meremas dan mengguncangkan tubuhku kasar, aku hanya bisa menangis sembari berkata.
“Mas, lepaskan sakit..”lirihku coba menggerakkan bahuku, dengan kasar mas Feri mendorongku hingga aku terhuyung, aku mendegup dan coba melihat matanya dengan air mata mengucur.
“Katakan Ina, apa kamu dan Aldo?-“ucapan mas Feri terhenti, dia tertunduk mengusap wajah hingga sudut matanya, bisa aku lihat dia menangis dan mengatur nafas yang tampak berat
“Ma-s..”lirihku mendekat menangis sesegukan. dia mundur dan hanya tampak menunggu jawaabanku namun hatiku sangat berat hingga tak mampu berucap.
Dia kesal melihat aku bungkam, sepertinya dia tak bisa bersabar lagi hingga ia berteriak membabi buta menghancurkan semua yang ada,
Trang...
Prang....
Duar..
“Jawab aku Ina! Tolong jangan biarkan aku berfikir bahwa istriku adalah jalang!”teriaknya, aku gemetar menutup telingaku akan pecahan Gucci dan barang lainnnya di hempas mas Feri kuat.
“Hiks,,,”tangisku bersimpuh merintih menutup wajahku aku menangis histeris tersedu-sedu, melihat reaksiku itu mas Feri gemetar mengepal jemarinya dan sontak menghunus tinju ke kaca hias yang ada di belakangnya, sontak kaca itu retak dan pecah, mataku membulat melihat tangannya terluka dan mengalirkan darah segar di kaca yang retak parah itu, aku berdiri dan mendekat karna cemas.
“Mas tangan kamu terluk-“ucapanku terhenti senada dengan tamparan hebat melayang ke pipiku, aku teranyuh dan tertunduk mengusap pipiku.
“Aku pernah melukai tanganku sendiri, saat aku menamparmu waktu itu Ina, dan sekarang kalo bisa aku akan membuang tangan ini, karna telah menyentuhmu”geramnya, nafasku tersengal menatap nanar lantai kamar. Mas Feri beranjak pergi dengan menghempas pintu kamar kuat, dan tak lama setelahnya, aku mendengar mobilnya melaju kencang, aku masih nanar sembari mengelus pipiku yang masih terasa ngilu.
Tak ada kata sepatahpun, hanya ada rasa sakit, yang teramat sangat. apa itu salahku? mas Feri sangat tidak bisa menerima ini, aku terjebak dalam permainannya, aku merasa bersalah pada diriku sendiri, andai dia tau setiap detik aku mengutuk diriku sendiri untuk ini, pernahkah mas Feri berfikir ini tidak mudah bagiku, aku akui aku memang sempat terbuai, Tapi ini tidak sepenuhnya salahku, entahlah. Yang jelas sekarang aku hanyalah wanita sampah yang tidak pantas untuk siapapun lagi. bahkan mas Feri sudah jijik melihatku bahkan menyentuhku, kenapa ada rasa sakit sesakit ini, rasanya aku lebih baik mati saja, dari pada aku melihat kebencian yang ada dalam mata mas Feri untukku, dia duniaku, hidup dan matiku,
“Hiks,,,”rintihku bersimpuh sembari melirik seisi kamar yang tlah hancur dan berantakan,
“Mas Feri…”lirihku menangis tersedu-sedu, dadaku terasa sangat padat sekali, bahkan tangis dan teriakan tak mampu melegakannya aku tertunduk menutup kelopak mataku sembari air mata mengucur hebat.
__ADS_1
“Kehidupanku sudah benar-benar berakhir.’’rintihku terbata, menangis histeris di tengah malam berbadai itu.
.............