
POV RARA.
“Mas Feri kok lama banget ya,”ujarku coba beranjak dan temui mereka dikamar. Aku terus saja berjalan hingga sampai di depan pintu kamar mba Ina, sontak aku diam mematung saat mendengar mba Ina berkata.
“Sentuh aku mas?”ucapynya, aku langsung kepo dan mengintip pada daun pintu yang masih sedikit terbuka itu. Bisa aku lihat mas Feri mencoba menyentuh lekuk tubuh mba Ina lembut, untuk sejenak ada rasa ingin menghentikan, tapi kembali aku sadar akan posisiku, walau mas Feri telah mengikat aku dengan sebuah ikatan cinta, tapi aku tau cintanya sama Mba Ina begitulah besar, nafasku tersengal dan air mataku merintik saat mas Feri cumbui istrinya aku lebih terkejut lagi reaksi mba Ina tidak ada perlawanan, aku membalik dengan sedikit mengelus dadaku dan terisak. Langkahku gontai kembali kekamar dengan air mata mengucur deras.
“Mas kenapa Ini sakit sekali.”bisikku dengan sedikit mengelus dadaku. Aku meghempaskan badanku kekasur sembari menangis merintih berusaha aku redam tangisku dengan tangan, alhasil hanya ada tubuh lemah gemetar akan menahan sakit di paksa menangis tanpa suara.
Keesokann paginya, aku bangun lebih awal dari mereka karna memang aku tidak tidur semalaman, masih bisa aku bayangkan malam indahku tergaantikan begitu saja dengan mba Ina yang tadinya aku tidak berfikir bahwa tidak akan ada yang menggugat mas Feri dariku soal urusan batinnya, lantas bagaimana ini, Ina sepertinya sudah pulih. Dan aku pasti tak di butuhkan lagi disini,
TRAKT
Pintu kamar terbuka, aku menoleh ke pintu dan melihat siapa yang datang, aku sedikit menarik ujung bibirku untuk tersenyum pada mba Ina. Wajahnya datar saat mendekat padaku, aku tau dia pasti akan membicarakan tentang aku harus segera hengkang dari sini,
“Pp-pagi mba..”sapaaku, mba Ina tersenyum dan coba menghenyak disofa, dia tampak menghela nafas dan melirik kalung di leherku. Aku mendegup gemetar. Mungkin ini adalah akhir dari segalannya. Mba Ina akan membicarakan bahwa ia tak butuh lagi aku.
“Aku sudah pulih,”singkat terdengar terlontar tiba-tiba, aku mendegup dan coba tak bergeming menunggu ungkapanya selanjutnya.
“Kamu benar, ternyata berbagi itu sakit, “lirihnya mengepal jemarinya gundah, aku tertunduk dengan sedikit membuang nafas.
“Hanya wanita yang tidak waras memberikan tugas ranjangnya pada wanita lain.”jelasnya lagi, sedikit aku angkat leherku dan menatap dalam bola matanya.
“Apakah sekarang mba keberatan? Kalau Rara ada disini?’’tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“Aku tidak tau Ra, aku Cuma mau curhat padamu, karna sejauh ini kita sudah akrab. Kamu benar ini tidak mudah”ujarnya, aku geram dan coba berkata dengan tak habis pikir.
“Maksud mba Curhat sama Rara apa mba?”ucapku tertekan lagi berat. Mba Ina hanya bisa menghela nafas berat dan berkata,
“Ya sudah, lupakan saja. Ayo kamu keluar. Kita sarapan dulu.”ujarnya, aku malah berdesih dan menoleh kelain arah sembari mengusap air mataku.
Aku berjalan tertatih keluar, melihat mas Feri didapur dan mbak Ina sibuk dengan alat makan di meja , kebetulan dia sendiri aku menghampirinya,
“Mas, semalam kamu..”bisikku, mas Feri membalik dan coba mengelus pipiku lembut.
“Aku senang Ina sudah pulih, kamu janjikan sama aku, kamu gak boleh iri padanya?”bisiknya, air mataku merintik dan berkata lagi dengan lirih,
“Mas kalo mba Ina sembuh lalu aku bagaimana mas?, kamu dah janji bakalan nikahin aku?”rengekku coba meremas sedikit kemeja pria itu, mas Feri terdengar berdesih dan berkata.
“Mm-maksudmu, aku sekarang benalu untuk cinta kalian begitu mas?’lirihku dengan air mata berurai. Terasa dadaku memanas dan sesakk. Aku berjalan ke kamar dengan tergesa dan kesal bahkan tak pedulikan Mba Ina yang memanggilku.
“Ra, kamu gak Sara-“ucapan mba Ina terdengar senyap saat bunyi daun pintu aku hempas kuat. Bisa aku dengar dari kamar perbincangan mereka,
“Mas, sepertinya Rara cemburu.”
“Sudah sayang kamu gak usah pikirkan, dia memang terlalu kekanak-kanak, kita teruskan sarapannya, nanti mas akan ngomong sama dia.”ujarnya aku mendegup dan menghempaskan badanku di kasur.
Siang berkujung, aku terkejut saat melihat mas Feri membawakan makan siang untukku, sedikit aku beringsut dari dudukku dan menatapnya pasti.
__ADS_1
“Kamu terlalu berlebihan, menunjukan kemarahanmu pada Ina, hingga dia enggan untuk menemuimu disini, apa perlu aku ingatkan kalo kamu bukan istriku Rara. Kamu tidak perlu seperti tadi didepan Ina. “ujarnya, aku bungkam sembari tertunduk meremas-remas selimut di pahaku.
“Ini makanlah, Istriku memintaku untuk membawakannya padamu. “ujarnya meletakkannya di nakas mas Feri membalik dan sontak aku menghentikan langkahnya,
“Kenpa mas?”cegatku langkahnya terhenti,
“Untuk sejenak, kamu bawa aku melambung tinggi di udara, hingga kembali kamu hempaskan aku kepermukaan yang penuh kerikil seperti ini, aku sakit mas, kamu bahkan dah lupakan janjimu untuk menikahiku?”ujarku terbata dan gemetar, tampak pria itu menghela nafas dan membalik.
“Coba kamu fikirkan lagi Ra, jikapun kita menikah, bukan Ina saja yang terluka, tapi kamu. Kamu taukan betapa aku mencintai istriku, aku tidak akan bisa adil padamu? Aku berani berjanji karna, aku fikir Ina tidak akan sembuh, maaf itu terdengar seperti pelampiasan, tapi memang begitu kenyataannya,”jelasnya, nafasku tersengal dan kembali mengucurkan air mata deras.
“Bagaimanapun aku ikut handil dalam pengobatan istrimu, aku sangat menyayangi kalian berdua. Aku bahkan tulus pada mba Ina demi kamu mas, tapi ini balasanmu padaku? Aku tidak pernah ingin mencintaimu, kamu yang memintaku untuk datang, dan kamu juga yang membolehkan aku masuk ke dalam hatimu, lalu apa ini balasan yang aku dapat, aku hanya ingin dicintai mas”ujarku serak lagi lirih aku tak sanggup menahan beban hati ini. Aku terus saja menangis merintih hingga mas Feri mendekat dan memelukku.
“Tolong maafkan aku, aku berharap kamu juga. bijak seperti Ina, kamu lihat dia. masih memperlakukanmu dengan baik, saat dia sudah pulih, aku tidak suka saja sikapmu tadi. Seolah tidak suka dengan Ina.”jelasnya, aku menangis tersedu-sedu membenamkan wajahku didadanya,
“Maafkan aku mas, aku memang terlalu labil. Aku hanya cemburu itu saja hiks..”tangisku pecah, mas Feri hanya bisa mengelus tengkukku dan berkata pelan.
“Sudah jangan menangis lagi”
__ADS_1