FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
FERI


__ADS_3

POV ALDO.


“Tuan buka pintunya ada yang pengen bertemu dengan tuan”ujar Duta dari luar aku berdesih dan coba  berteriak dengan sedikit lantang dari kamar.


“Gua kan sudah bilang, kalo bukan Ina yang kesini lo gak usah panggil gue, suruh aja wartawannya pulang,”ujarku kembali menghempaskan tubuhku di kasur. Namun kembali mataku terbuka saat mendengar suara papa.


“Aldo, buka pintunya!”bentaknya sembari menggedor pintu.


“Yah papa lagi…”bisikku dengan garuk-garuk kepala. Dengan males aku beranjak kepintu untuk membukakan pintu. Terlihat papa geram menatap wajahku,


“Tolong jelaskan kenapa ada berita seperti itu di media, kamu mau jatuhkan pamor perushaan kita.”ujarnya aku hanya diam sembari manyun.


“Tolong jelaskan”teriak papa lagi.


“memang ada yang salah apa dengan berita itu, itu Cuma berita sampah, waartawannya kurang kerjaan, udah deh pa. gak usah ikut campur.”ujarku.


“Oh, gitu? Lantas sekarang kenapaa kamu gak mau ngantor lagi?”tanya papa, aku menggaruk tengkukku dan berkata,


“Ya udah, papa lanjutin aja. Papa liat sendirikan? Aldo gak bisa menghandle perusahaan dengan baik?”gerutuku, papa geram tampak menggepal jemarinya.


“Tadinya papa fikir kamu benar-benar tertarik pada bisnis tapi nyatanya kamu lebih tertarik pada istri orang? Tolonglah jangan liar seperti ini Aldo.”geram papa aku hanya mendegup.


“Sekaarang tolong selesaikan ini, papa gak mau ini berlarut-larut,”ujarnya, aku hanya diam. Melihat papa berlalu, asistenku mendekat dan berbisik.


“Tuan muda, di luar sudah ada beberapa wartawan menanyakan pasal foto mesra tuan itu.”ujarnya, aku berdesih dan mendorong tu orang keluar.


“Lo urus dah, gua gak akan klarifikasi, sebelum Ina duluan yang klarifikasi, lagian siapa yan peduli juga, ini hanya terkenal di kalangan pembisnis aja kan “


“Ya ampun tuan Muda.”gerutunya aku sontak menoleh.


“Kenapa.”


“Berita ini Rame, tuan muda lupa. Tuan besar itu bukan orang sembarangan apalai brerbaur selingkuhan begini pasti jadi perbincangan hangat, gimana sih tuan.”ujarnya sedikit aku hela nafas dan menghenyak di sofa.


“Syukur-syukur itu bukti hanya sekedar kalo video bisa gantung diri itu si bos besar.”ujarnya lagi. Aku menautkan dahiku.


“Apapun itu gua hanya mau Ina nemui gua itu saja.’’lirihku. Duta tampak geleng-geleng.


“Dan mirisnya, orang-orang di luar sana lebih simpati sama Feri, media memang kejam. Bisa-bisa tuan muda di geser.”ujarnya terkekeh aku. Makin tak habis pikir.


“Lah kenapa dia?”


“Yak an dia yang teraniaya disini? Tuan muda lihat deh beritanya, capek aku kalo ngomong.”ujarnya. aku berdesih dan menyambar ponselku di nakas, kembali aku hidupkan ponsel setelah tadi aku matikan, 


Benar saja ini sudah sangat ramai, ini diluar dugaanku, aku rasa aku tidak seterkenal itu hingga harus ramai begini. Aku kembali menoleh ke duta dengan tatapan datar. Asistenku itu tampak menggeleng pelan dan berkata.


“Jangan salahkan aku tuan? Tuan muda sendiri yang suruh?”ucapnya bicara nanar, nafasku tersengal. Dan bergegas berdiri hendak pergi menemui Ina namun langkahku terhenti saat Duta menghentikanku.


“Tuan mau kemana?”tanyanya.


“Mau keluarlah, aku bosan disini. Sykur-syukur bisa menemui Ina.”ujarku.


“Gak bisa tuan? Tuan besar membuat penjagaan buat tuan agar tak pigi-pigi lagi dan diluar sana banyak wartawan,”ujarnya, aku berdesih dan kembali menghenyak di sofa.


“Benarkah segitunya?”

__ADS_1


“Ya memang begitu?”


 


POV INA.


Aku tak henti-hentinya menangis di dalam kamar hingga mas Feri kembali dari kantor tapak kakinya terdengar pelan saat menhampiriku yang menangis bersimpuh di bawah ranjang,


“Sudah sayang sini…”ucapnya pelan, aku yakin mas Feri sudah tau tentang berita ini, aku kembali sesegukan menangis dan berkata dengan lirih.


“Aku hanya bisa membuatmu menderita mas. Kini aku toreh aib bukan pada diri kita saja, tapi aku sudah mempermalukanmu dan menginjak-injak harga diri suamiku,’’ujarku merintih. Mas Feri hanya bungkam dan mendekat mengangkat bahuku membawa untuk duduk di atas ranjang, aku menatap matanya dengan air mata mengucur deras.


“Mas wanita sepertiku sama sekali tak pantas untukmu. Aku bisaa mati dengan rasa bersalah ini mas,”ujarku menangis didadanya, mas Feri mengelus bahuku lembut dan berkata.       


                                             


“Sudah, jangan hukum dirimu seperti ini Ina, kamu tidak salah, aku akan membuat perhitungan denganya”ujar mas Feri, aku mendegup tangisku dan berkata.


“Apapun usaha kita sekarang tak ada bedanya mas, kita sudah hancur.”tangisku, mas feri merangkul dan memelukku erat.


“Tidak ada bedanya sayang, cinta kita dan kebahagian kita akan tetap seperti itu.”


“Tapi mas.. hiks.”tangisku kembali pecah.


“Jangan terlalu pikirkan ini, mas gak apa-apa. Kamu benar kita tak bisa lagi menetap di indo, kita akan pergi,’’ujarnya, sedikit aku mendongak melihat mata suamiku itu berkaca-kaca.


“Iya mas, bawa aku pergi jauh dari sini, kemanapun itu asal jangan mas tinggalkan Ina.”ucapku memeluk bahu bidangnya, mas Feri mendegup gundah dan membalas dekapan itu.


 


Keesokan harinya, aku kembali Izin pada Ina untuk ngantor lagi, setelah rutinitas seperti biasanya kami menghabiskan sarapan berdua, Ina melepasku untuk pergi kerja, matanya hangat saat melihat aku hendak naik mobil hingga aku kembali mendekat hanya untuk menghapus air matanya.


“Mas pergi dulu ya, kamu baik-baik dirumah, tenang saja setelah ini kita tidak akan merisaukan apapun lagi, mas akan bawa kamu pergi.”ujarku Ina tersenyum tipis dan sedikit tertunduk.


“Aku tidak tau mas, bagaimana kamu mengahadapi semua orang dengan aib ini, cepatlah selesaikan semuanya, dan kita pergi dari sini.’’ujarnya, Aku membawanya mendekat dan mengecup dahinya 


“Mas pergi dulu hati-hati dirumah, jaga anak kita dengan baik.”bisikku mengelus perutnya Ina mengangguk pelan dengan senyum hangat.


 


Keputusanku sepertinya sudah bulat, aku harus bawa Ina pergi jauh dari sini, tempat ini sudah tak bersahabat lagi untu kami, segalanya sudah berantakan, aku tidak tau siapa yang harus disalahkan cuman aku ingin bertanggung jawab, karna semua kesalahannya datang dariku. 


Ciiiits…


Aku injak Rem saat memasuki parkiran mobil, di area parker kantorku sudah di padati wartawan dan media, sedikit aku berdengus dan coba turun dari mobil.


“Pak, bisa tolong jelaskan apa benar gossip yang beredar itu, dan foto mesra Direkture muda itu istri bapak?”tanya mereka. Aku terus saja berjalan masuk kantor dan berkata menghadap pada mereka semua.


“Saya, tidak tau dari mana sumbernya. Tapi yang jelas foto itu bukan istri saya,”ujarku, mereka tampak antusias mendengar.


“Tapi bapak, tuan Al sendiri yang mengakui.”ujar salah seorang darinya, untuk sejenak saya diam.


“Sayang sekali, dia seorang direkture seharusnya dia tidak perlu berntindak rendahan seperti ini, tapi itu tidak akan menghalangi saya untuk memperkarakan ini karna ini sudah menyangkut nama baik istri saya.”ujarku. semua tampak manggut-manggut. Aku beranjak dari sana dan masuk kedalam seera aku perintah satpam untuk mereka tidak mengikutiku .


Aku deadline mengurus beberapa data yan harus di pindah jika nanti aku menjalankan perusahaan ini dari jauh, mungkin aku akan ketempat bibik untuk sementara waktu, sebelum nanti kami punya rumah disana, seharus ini aku lakukan dari dulu agar semuanya tak berantakan seperti ini, tap ya sudahlah, semua sudah terlaanjur, aku tidak mau berakhir menyedihkan, aku harus ambil tidakan sekarag untuk kedua anak-anakku.

__ADS_1


Malam mini aku keluar kantor selepas magrib, aku tau Ina pasti menungguku dirumah, aku lelah hanya dialah tumpuanku untuk bisa menyandarkan kesahku, dia pasti sudah menungguku dengan senyuman dan masakannya yang lezat, satu cinta yan tak ingin aku gantikan dengan siapapun, hati meman sangat labil tapi logika dan fikiran masih stabil, jangan gadaikan kesetiaan hanya karna ketertarikan sesaat, aku memag sempat menyimpan hati dengan wanita lain, tapi aku sadar Ina lebih berpengaruh hebat disetiap saraf ingatanku, menyakitinya hanya akan menyakitii diriku sendiri.


Dibawah langit bertabur bintang itu aku melajukan mobilku kencang menuju kekediaman kami, istana tempat kami memadu kasih, entah kenapa aku sangat ingin cepat pulang. Entah kenapa rasanya aku tidak banyak waktu untuk bisa menghabiskan kebahagiaanku bersama Ina diistana kami itu, aku ingin cepat-cepat pulan itu saja aku ingin memeluk dan mendekap istriku, seakan tak ada lagi hari esok aku sangat merindukannya


Tut


Tut..


Bunyi klakson mobil tengker menggema, dan aku sangat terketejut saat aku tidak bisa menghindar dari benturan keras, yang mampu melesatkan mobil kencang dan terpental bisa aku rasakan seluruh tubuhku remuk, aku menagis dalam posisi terbalikn melepaskan stir mobil, apa ini sudah berakhir, aku akan pergi? Meninggalkan Ina sendiri, apakah segala ujian yang aku torehkan sudah benar-benar bisa menempanya? Akankah dia kuat?. Sayup-sayup mataku sayu aku tak bisa rasakan apa selain sakiit, berusaha aku membuka mata dan bergerak untuk pulang Ina pasti menungguku tapi aku tak berdaya.


“Sayang, semoga kamu kuat..”bisikku sebelum semua terasa gelap.


POV INA.


Ada semilir angin di cuaca yang cerah bertabur bintang, entah kenapa dadaku ras bergemuruh, serasa ada yang memporak porandakan tapi aku tidak tau itu apa.


Drrrrrt Drrrrrrrrt..


Ponselku berdering, bisa aku liha ada nomor baru yang masuk reflek aku mengangkat dan menyapa orang itu.


"Ya hallo?"lirihku,


"Ini dengan istrinya bapak Feri?"tanyanya, aku menangguk dan berkata dengan suara serak.


"Ya?"lirihku


"Kami dari kepolisian, suami ibuk, menglami kecelakaan di jalan(..),"mendengar itu aku gemetar.


"Gak..."lirihku merintih.


"Sekaran beliau kritis dan di bawa kerumah sakit (..)"ucapnnya, nafasku tersengal dan terasa sesak eas aku berjalan keluar mencari kunci mobil dan menuju garasi menghidupakan mesin mobil.


"Non. non mau kemana malam-malam begini?"tanya Lastri aku menghela nafaas saat dalam mobil.


"Mbok tolong katakan pada Mana, susul aku kerumah sakit,"ucapku dengan air mata mengucur dan gemetar. gegas aku melajukan motor kegerbang, disaat di gerbang aku berpapasan dengan mobil Bagas yang datang bersama Rara. Namun aku hanya bisa tancap gas tak pedulikan mereka, mbok lastri pasti akan menyambut mereka.


Sesampai disana, langkahku gontai mendatangi tubuh suamiku yang tampak terbujur kaku dengan bersimbah darah itu, aku mendegup gemetar coba menyiapkan semua dayaku untuk melangkah mendekat, Dokter tampak sibuk menanganinya,


"Coba ulangi lagi.."titah dokter, pada perawat memasangkan alat kejut jantung, namun mas Feri tak bergeming, setelah sekian kali Dokter tampak menyerah.


"Catat waktu kematian.."lirih dokter, kembali air mataku menghujan, aku mendegup pahit tangis ini.


"Kita kehilangan dia, ibuk yang sabar ya.."lirih dokter padaku, aku hanya bisa nanar memandangi wajahh suamiku yang tampak sangat tenang, kuusahakan melangkahkan kaki beberapa langkah lagi,


"Kamu sudah tenangkah mas?''lirihku.


"Kamu bilang, kita akan hidup tenang setelah ini? kamu ingin tenang sendirian hiks"tangisku merintih


"Kamu pergi gak ngajak Ina?"lirihku lagi dengan air mata mengucur, aku merebah di badannya dan memarahinya tanpa ampun.


"Mas bangun! ini gak lucu, kamu becandakan?, bagaimana anak kita mas? kamu tidak ingin melihatnya? apa yang harus katakan pada merekaa? mas jawab aku? katanya kamu bakal bawa aku pergi? kenapa kamu pergi sendiri hiks, mas aku mohon banguuun,, bawa Ina bersamamu mas, Ina gak bisa sendirian di dunia ini..."tangisku merintih di badannya,, namun mas Feri hanya diam. aku makin histeris akan bungkamnya wajah kaku itu.


"Mas jawab!"hardikku menimpuk dadanya keras


"Gak... ini gak mungkin, mas Banguuun...!"aku merebah dibadanya dan memeluknya erat, air mataku mengucur hebat dan menagis sesegukan untuk pertama kalinya mas Feri tidak menghapus air mataku. aku semakin menangis histeris, seakan tidak percaya dengan mimpi buruk ini.

__ADS_1


"Mas, Ina menangis ini mas, cintamu. apa kamu tidak ingin menghapus air mata Ina."


__ADS_2