
Mataku terbuka dan membulat saat fikiranku mengartikan sesuatu, bayangan malam-malam dengan mas Feri yang memang terkadang terasa ganjil, mataku lebih membulat hebat, akan susu yang di berikan mas Feri jika kami bersama.
“Kenapa? Haruskah aku mempercayai, apa yang ada dalam fikiranku sekarang.”batinku dihati, air mataku sontak saja merintik.
“Tidak, ini tidak mungkin.”gerutuku bicara dengan nanar. aku menangis dan memilih menunggu mas Feri untuk pulang.
Entah berapa jam aku nanar dirumah ini, berharap mas Feri akan kembali namun sepertinya tidak mataku membulat saat mendengar suara mba Ina di garasi memarkirkan mobilnya aku mendegup dan coba berdiri, bukannya mas Feri dengan mba Ina yang ada hanya Aldo bersamnnya kedua orang itu terheran saat melihatku akupun berdiri. Nafas Aldo tampak tersengal dan berdesih,,
“Kamu masih disiini?”tanyanya, aku mendegup dan melirik wajah Mba Ina yang datar.
“Mana suamimu?”ucapnya dengan suara kesal, aku menghela nafas sedikit berat dan berkata
“Mas Feri dia tidak ada dirumah, dan gak bisa di hubungi,”ucapku terbata.
“Minggat berarti? Kamu juga ngapain masih disini?”tanyanya, akuu menghela nafas dan berkata dengan gemetar.
“Aku menunggu mas Feri kembali dulu,”ucapku.
“Sayang aku tinggal kamu, sama dia atau gimaana?” Tanya Aldo pada mba Ina. Mataku membulat dan sedikit mencibir mendengar Aldo memanggil mba Ina dengan sebutan sayang. Mba mendekat dan berkata,
“Pergi dari rumahku sekarang!”ucapnya, matanya tampak manatap tajam hingga aku tak punya pilihan lain selain pergi, Aldo hanyaa bisa tersenyum kecut saat aku berpapasan dengannya hendak menuju pintu
Sesampai di luar aku bingung, aku harus kemana, namun aku berfikir mas Feri mungkin saja menjeputku lagi ke tempat Bagas, tapi apa dia masih mau peduli padaku, jika anggapanku benar kalau mas Feri tidak pernah menikahiku berarti semua ini hanya sandiwara, tapi apa yang terjadi padanya hingga dia tidak pulang, dan mematikan ponselnya, ini semua terasa menjengkelkan dengan berat hati aku melangkah kembali mencari Taxi.
Ting nong..
Aku memencet bel dikediamannya Bagas, ini sudah cukup larut, tapi aku tidak yakin mas Feri kesini. Tak lama setelahnya pintu rumah itu terbuka.
“Ada apa Rara?”Tanya Bagas saat sudah membuka pintu.
“Mas Feri, dia tidak ada dirumah?’ apa dia kembali kesini untuk menjemputku?”tanyaku Bagas sedikit heran dan menggeleng,
“Belom, dia belum kesini semenjak tadi sore, apa yang terjadi?”tanyanya reflek aku hela nafas dan mengusap wajahku.
“Aku juga tak tau, dia kemana aku sangat bingung sekali sekarang.”rengekku.
‘Ya sudah, masuk dulu. Nanti juga dia pasti mengabari.”ucap Bagas. Aku mengangguk dan masuk. Hatiku cemas, dan selalu melihat layar ponselku berharap mas Feri kembali aktif. Hingga waktu terus saja berlalu , Dokter Bagas kembali turun dari kamarnya melihat aku masih duduk di ruang tamu itu Bagas menghampiri.
“Ini sudah larut, kamu istrihatlah di kamar tamu. Mungkin Feri akan menjemputmu esok hari.”ujarnya aku menghela nafas dan berdiri. Asisten Bagas tampak datang dan berkata.
“Silahkan mba, kamarnya sudah selesai.”ujarnya, aku mengangguk dan beranjak.
“Makasih ya Dok?”ucapku. Bagas hanya mengangguk.
POV FERI.
Aku lelah, aku ingin melepas penat dulu untuk beberapa hari, sepertinya aku sudah benar-benar brakhir sekarang, Ina akan mencampakkanku dan aku akan berakhir konyol dan menyedikan, kenapa sebelumnya aku begitu percaya diri sekali kalau Ina akan tetap mencintaiku walau apapun yang akan terjadi, aku sangat salah. Karna Sekarang ada pria lain yang membuat dia nyaman, rasanya aku tidak bisa merelakan ini, aku hanya ingin Ina bahagiia, atau mungkin ini caranya membuat dia bahagia, segala pengorbananku tidak sia-sia berarti, dia sudah cukup ditempa dengan masalah, dan sekarang dia pasti sudah mampu juga untuk kehilangan aku, tapi baagaimana dengan hatiku aku tidak meinginkan ini sebagai Endingnya, ini tidak lucu, haruskah aku merelakan Ina.
Dengan males banget aku coba kembali menghidupkan ponselku, ini sudah jam 3 pagi mataku enggan saja terkatup, sesaat ponselku hidup, aku menerima banyak pesan dari Rara, aku berdesih, karna satupun tak ada kabar dar Ina, kembali aku merebahkan badanku di atas kasuur hotel itu untuk melepaskan penatku,
Pagipun datang, di jam tujuh pagi terdengar bunyi ponselku berdering, tanganku coba mencari ponsel di tas kasur dan mengangkat panggilan itu, aku duduk sembbari mengucek mataku dan berkata.
“Ya hallo?”tanyaku.
“Mas kamu dimana sih? Mas kamu temui aku di tempat Bagas, kita harus bicara mas?”ucap Rara aku sedikit berdengus dan berkata.
“Ra, aku ada urusan, untuk beberapa hari, kamu pulang tempat mamamu dulu ya. Aku akan temuimu nanti,”ujarku, dari sana diam aku lagi males bicara banyak dan bersandiwara lagi dan emilih mematikan ponselnya, kepalaku terasa pusing, sedikit aku beringsut dan turun dari tempat tidur bersiap untuk kekamar mandi.
__ADS_1
POV INA.
Pagi bersinar sangat cerah, untuk pertama kalinya pagiku diawali dengan senyuman, aku seperti mempunyai harapan baru pada Aldo, faktanya pemuda itu sekarang tlah merajai seisi hatiku, aku percaya dan dengannya aku temukan warna lain dalam duniaku, ketakutan dan segala resahku hilang dia kenalkan aku akan pengalaman-pengalaman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, perlahan aku harus mencintainya, karna memang setiap hari dia selalu berusaha membuat aku jatuh cinta padanya,
Drrrrt…
Bunyi ponselku berdering segera aku membalik dari rebahanku untuk bisa menjangkau ponselku di laci, senyumku merekah saat nama Aldo tertera di layar ponsel itu.
“Hallo?”
“Hallo sayang? Mau mendengar kabar baik hari ini?”ucapnya.
“Kabar baik? Apa itu.”
“Ina production akan Go internasional.”ucapnya, sontak aku duduk dengan mata membulat,
“Apa? Kamu serius?”ucapku terbata,
“Serius sayang, perusahaan barang brandid di amerika meminta kontrak dengan perusahaan Ina, dan asal kamu tau aja, mereka juga bekerja sama dengan perusahan modeling ternama di sana dan akan bekerja sama dengan kita juga untuk mempromosikan Ina shoes’s”ucapnya mataku membulat, rasanya aku sangat riang.
“Beneran gak sih?, benar sayang? Hum, maaf aku gak cerita ini sebelumnya, aku tau perusahaan kamu itu brilian jadi aku rekomnedasikan produk kamu ke mereka.
“Ya ampun Al, terima kasih ya, kamu memang luar biasa.”ucapku dengan lirih, rasanya aku ingin menangis karna haru.
“Iya sayang? Dan gimana? Apa kita akan rayakan ini?’’tanyanya, aku mengangguk pasti,
“Tentu donk, ini benar-benar, berita terbaik yang pernah ada,”ucapku. Terdengar Aldo juga terkekeh.
“Baiklah, kamu bersiap ya, aku kan jemput”
Sesampai dibawah aku membuka pintu, Aldo datang menyambutku spontan merangkul dan memelukku, aku tersenyum dalam pelukannya dan berkata.
“Jujur aku masih belum percaya Al , karna sejauh ini, pencapaian ini yang terbaik selama masa perusahaan ini berjalan.”ujarku, Aldo tersenyum.
“Percayalah, kamu pasti bisa mengembangkannya lebih pesat lagi nanti , jadi semangat selalu ya.”
“Kita. sayang, kita pasti bisa mengembangkannya bersama.”ujarku Aldo tersenyum dan mengecup pipiku lembut.
“Kita bisa jalan sekarang.”ujarnya aku tersenyum dan mengangguk
---------------------------------------------------------------------------------------
Kau begitu sempurna..
Di mataku kau begitu indah..
Kau mampu membuatku ‘kan selalu memujamu..
Di setiap langkahku kuingin selalu mendampingi dirimu,
Tak bisaku bayangkan hidupku tanpa cintamu..
Petikan dawai gitar dan alunan suara merdu Aldo membuat hatiku terasa hangat dan berbunga-bunga, dia selalu menyunggingkan senyumnya pada setiap yang ia senandungkan, tentu saja aku merasa orang paling bahagia di dunia saat ini.
“I love you”bisikku pelan sembari tetap tersenyum padanya, pemuda ini benar-benar membuat aku gila. Dia seperti punya daya tarik yang luar biasa yang membuat aku, begitu yakin dengan hatinya, dia berbeda semoga saja dia akan seperti ini selamanya. Aku duduk didepan performa mereka yang tampil hanya untuk menghiburku didalam studio ini setelah menyelesaikan lagunya Aldo mendekat.
__ADS_1
“Bagaimana dengan lagunya kamu suka?”tanyanya, aku tersenyum dan mengangguk.
“Sangat suka, suaramu sangat merdu.”ujarku, Aldo tersenyum,
“Malam ini aku punya kejutan buatmu, kita akan dinner, kamu mau kan?”ujarnya, aku sedikit mencibir dan berkata.
“Seru gak?”
“Ya serulah,”
“Baiklah.. “
Malampun datang, aku kini tengah didalam salon setelah tadi kami belanja gaun bagus, dan sekarang Aldo malah ninggalin aku disalon ‘ dandan secantik mungkin sayang aku ingin malam indah kita berkesan’ ucapnya satu jam yang lalu. Dan sekarang Aku masih tak habis pikir kenapa musti dandan segala,
“Masih lama gak?”tanyaku pada pekerja salon itu menata rambutku yang sudah di bentuk,
“Tunggu sedikit lagi, akan sangat sempurna.”ujarnya aku tersenyum melihat cerminan diriku yang sangat terlihat berbeda setelah tadi membalutkan gaun hitam yang cukup sexi di tubuhku, penampilanku terlihat sangat glamour dan elegan dengan make up matte yang di poles.
“Sempurna… kami terlihat sangat cantik sekali.”ujarnya dengan sentuhan akhir, aku tersenyum saat berdiri.
“Terima kasih.”singkatku, dari jarak satu meter terdengar Aldo menimpal juga yang baru saja datang,
“Perfect, kamu sangat terlihat cantik sekali,”ujarnya, aku menoleh dan menyunggingkan senyum hangat.
“Kamu kemana aja sih lama banget?”ujarku Aldo mendekat,
“Menyiapkan sesuatu,, ayo kita pergi.”ujarnya, aku tersenyum dan kembali menoleh pada cermin, moodku berubah saat melihat kalung pernikahanku tersemat di leher. Perlahan aku menyentuhnya dengan tatapan mata berkaca-kaca. Tapa pikir panjangpun aku lepas dan menarohnya di dompet.
“Ayo Al..”singkatku mengajaknya pergi
Sesampai disana kami berdua masuk kedalam restoran bintang lima itu yang berada di lantai lima. Ruangan itu sudah ditata rapi dengan meja dinner dan beberapa aksen lilin di atasnya. Tak ada satupun orang selain pramusaji berdiri di setiap sudut dan orchestra tak jauh dari meja indah itu di letakkan,
“Al, kemana semua orang?’’tanyaku menyapu pandangan disetiap ruangan.
“Tidak ada pengunjung, hanya ada kita berdua.’’ucapnya, aku tersenyum. Saat Aldo mengulurkan tangannya, aku terkekeh dengan aksinya itu dan menyambut tangannya dia mengenggam dan menintinku mendekat pada meja Dinner dengan hidangan lezatnya, meja itu mengarah langsung ke pemandangan kota Jakarta nan indah di luar sana lewat jendela kaca yang besar, disambut dengan indahnya langit malam yang bertabur bintang, Aldo menoleh padaku dengan senyum dan merangkul pinggangku.
“Sayang, hari ini aku mau katakana sesuatu.”ujarnya.
“Ya..?’’singkatku, Aldo mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan berkata saat membukanya di depanku.
“You will marry me.”lirihnya, aku mendegup dan mataku terasa basah, aku tidak percaya akan di lamar secepat itu, secara aku belum sah berpisah dengan mas Feri, aku menutup mulut sangat terkejut melihat cincin bermatakan berlian itu.
“Al, ini terlalu buru-buru.”singkatku.
“Esok ataupun nati bukannya sama saja ya?”tanyanya, hatiku teranyuh dan berkata.
“Ya tapi kan?”
“Jawab saja sayang.”ucapnya, aku menghela nafas dan mengangguk dengan ragu.
“Maukah kamu menikah denganku?”tanyanya lagi.
“Ya..”singkatku Aldo tersenyum bahagia dan reflek memelukku erat.
“Terima kasih ya,”lirihnya mengkecup pucuk kepala hingga keningku berkali-kali.
..................................................
__ADS_1