
POV INA
Setelah dari kamar Rara tadi aku kembali kekamarku, bisa aku lihat mas Feri berdiri di balkon sembari menatap langit cerah, aku mendekat dan coba menyapanya.
“Mas,” sapaku dia menoleh sebentar dan kembali menatap langit yang sudah mulai berbias jingga itu, dia tampak menggetarkan bibirnya seolah ragu tentang apa yang akan dia katakan.
“Kamu terlalu fokus pada Rara hingga tak pedulikan phobiamu,’’ ujarnya, aku tertunduk dan coba menghela nafas berat.
“Aku sudah menyerah mas, Ina merasa hidup Ina sudah normal. Sudah, kita tak perlu buang-buang waktu. Terima kasih kamu telah membawa Rara kerumah ini.’’ujarnya. mas Feri terdengar berdesih reflek meremas bahuku dan berkata.
“Setelah semua ini, aku bahkan berharap kamu itu normal Ina, kamu tau? Sakit saat aku coba terangkan pada diriku bahwa istriku tidak normal. Tolong buat aku mengerti bahwa istriku baik-baik saja.”ujarnya. aku menatap bulat bolan matanya,
“Ada apa mas, bukankah kita sudah punya solusi akan rumah tangga ini? Jujur aku sakit saat berbagi. Ini semua demi kebaikan kita. Aku peduli padamu mas.”jelasku.
“Tidakkah ada sedikit Irimu pada Rara? atau bahkan cemburu, dia mengambil separuh hidupmu, kamu ingat tidak masa depan dan impian kita adalah menjalani masa depann berdua saja tanpa pihak ketiga?”ujarnya,
“Kamu yang bicara seperti itu mas bukan aku, kita bisa berbuat apa, saat takdir mengharuskan ini. Aku yakin suatu saat nanti kamu bisa mencintai Rara, dan aku akan bahagia dengan kesendirianku, kamu tau kan. Itulah hidupku.”ujarku dengan bola mata berbinar. Mas Feri semakin meremas bahuku erat. Bola matanya menatap dalam manik mataku.
“Itu tidak akan terjadi Na, butuh waktu lama untukku bisa masuk dalam hidupmu. Karna kamu tak bisa terbuka pada orang-orang selain mama Rania?aku tak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku ingin selalu ada dalam cerita hidupmu Ina”ujarnya mengelus kedua pipiku, mas Feri menempelkan dahinya di kepalaku dengan air mata merintik.
“Kamu ingat pepatah, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.”ujarku mas Feri menggeleng dan reflek memelukku.
“Jangan paksa aku untuk meninggalkanmu Ra.’’ujarnya, aku mendegua dan membenamkan wajahku, didada suamiku itu.
“Aku hanya perlu menunggu saat-saat kamu sudah mencintai Rara mas, setelah itu aku bisa tenang dengan kesendirianku”batinku dihati.
Malam berkunjung, setelah selesai makan malam dan bahkan menonton bersama, aku izin untuk pergi pada mas Feri dan Rara.
“Mas, aku izin kekamar dulu.”ucapku terbata, mas Feri yang tengah duduk disampingku tadi mendoongak sedikit melihatku berdiri, sedangkan Rara yang ada dibawah sofa rebahan juga tampak melirik.
“Oh, ya udah. Mas Juga capek,ayo.’’ucapnya. aku menoleh pada Lara yang tampak tak pedulikan kami memegangi remote TV.
“Mas bisa sama Rara aja malam ini, aku mau sendiri.”ujarku. mas Feri tampak bungkam dan coba mengangguk ragu. Sedikit aku hela nafas dan melangkah sembari mengibas senyum pada Rara. Langkahku gontai menaiki tangga masih bisa aku lihat mas Feri dan Rara diam-diaman, aku sempat terfikir apa masalah yang ada diantara mereka, kenapa mas Feri tidak bisa nyaman bersama Rara. Aku terus saja melangkah hingga menutup pintu, aku membaringkan badanku disofa, ada lelah yang teramat sangat menyerubungi tapi bukan pada tubuhku. Terasa kelelahan yang panjang merasuk jiwa. Apa aku akan benar-benar merelakan mas Feri setelah semua ini, selama yang aku tau. Dialah mahkluk tuhan yang membawaku keluar dari keterbelakangan.
FlASBACK
“Mundur atau aku bunuh,,”ujarku gemetar saat menghunuskan pisau pada pria paruh baya yang menjadi ayah angkatku, ya nasibku saat sangat malang ayah kandung dan ayah tiriku sama-sama bersikap keji, mereka membuuatku trauma pada pria yang aku temui setelah dewasa, dia terkekeh saat melihat aku begitu seakan dia berfikir aku sedang bergura dan tidak taku mendekat, aku membuang pisau itu dan bergegas hendak menyalamatkan diri.
“Ina sayanng, mamamu sangat pandai mencarikan mainan untukkku,”ucapnya terdengar menjijikan. Dia mengejarku yang tengah berlari hendak keluar. Gadis remaja yang masih berumur belasan tahun itu beronta menangis saat di sekap.
“lepas.. hiks tolonng Ina..’’ Rengekku menangis terisak-isak.
__ADS_1
Prangg…
Bunyi kaca jendela terpecahkan, bisa aku lihat bola bisbol mengerinding masuk kedalam rumah, setelah sebelum kejadian seperti ini pernah terjadi aksi papa tiriku ini terhenti saat ada bunyi bel, hingga mesin mobil menyala, mendapat kesempatan itu, aku kembali lari menyelamatkan diri. Aku berlari kearah belakang membuka pintu rumah dan berlari sejauh mungkin melarikan diri dari ketakutanku. Sampai disebuah rumah kosong aku bersembunyi dari banyaknya orang-orang yang berlalu lalang entah apa yang terjadi pada diriku hingga aku takut menemui orang-orang. Tanpa aku sadari ternyata tadi ada yang mengikutiku dari rumah, dia berjalan masuk perlahan mencari aku dimana. Aku gemetar mbersembunyi disudut rumah yang sudah kosong dan berantakan itu, mataku membulat saat dia menyibak daun pintu yang rapuh.
“Arrrrrggghhh…”Teriakku. Pria itu mendekat dan coba menenangkanku, pria lelaki muda yang tampak sebaya denganku.
“Jangan, jangan! dekati aku.”Teraikku histeris, dia tampak binggung bagaimana caranya membuat aku mengerti bahwa dia tdak berniat jahat,
“Aku Feri, aku keponakannya tante Drista, rumah kita bersebelahan’’ujarnya, tampak susah meyakinkan aku tidak peduli aku tidak mau dengar dia yang ada di fikiranku hanya pria bringas dengan nafsunya, aku menutup telingaku dan berkata dengan serak sembari sesegukan.
“Pergi.. tolong pergi hiks..”tangisku, dia bingung dan diam saja meliihatku menangis, hingga dadaku terasa saakit dan sesak. Aku terasa sangat lemah dan gemetar mataku perlahan gelap hingga aku pingsan dan kembali sadar saat dirumah. Ketika aku bangun suasana tampak sudah ramai, ada beberapa anggota keluarga dan mama yang tampak meenghakimi papa tiriku diantara sibuk-nya orang-orang itu pemuda tadi kembali menghampiriku yang tengah berbaring,
“Kamu tenang aja, pria itu tidak akan mengaggumu lagi”ujarnya terdengar bergemuruh bersama suara desahan teriakan dua pria keji yang berusaha paksa aku untuk melayani mereka itu telingaku sakit mendengarnya kembali aku tutup telingaku dan berteriak.
“Jangan… jangan ganggu aku.”teriakku histeris semua tampak mendekat, dan pemuda itu juga tampak panik, dia coba merangkul hingga aku makin histeris dan membuat takut semuanya,
“Sudah, jangan sentuh dia. Sepertinya Ina mengalami Trauma hebat, tolong jauhi putriku.”ujar ,mama Rania mas Feri tampak menjauh, dan memandangiku dari jauh sembari prihatin.
Hingga hari berlalu. Aku tumbuh menjadi wanita introvert, segala aktiitas aku lakukan didalam rumah, mama membatasi banyaknya pekerja dan orang-orang yang masuk karna aku tidak suka melihat orang baru, semenjak kematian papa tiriku mama berharap aku bisa pulih ternyata tidak, sekarang dunia seakan berputar untuk diriku sendiri tanpa senyuman dan tanpa tawa hanya ada diam beruarai air mata.
Kembali terdengar suara ketukan dari jendela kamarku yang mengarah langsung ke taman, untuk yang kesekian kali, aku dapati kado-kado dan karangan bunga alami yang dirangkai begitu indah, namun kali ini berbeda dalam 5 tahun belakangan, dia kirimkan sebotol lalat . bisa aku lihat dia bolongi atas botol dengan jaruum-jarum kecil agar binatang itu bisa hidup didalamnya, aku melihat dan megangkatnya. Namun aku tidak bisa mengerti apa-apa. Reflek aku melihat ada secarik kertas bertuliskan dengan pulpen berwarna cerah itu.
“Jika kamu, butuh teman di malam hari, coba matikan lampunya dan goyangkan botol ini, sejenak akan ada kebahagia.”tulisnya, aku melirik kembali botol yang diterpa cahaya matahari itu, hanya ada beberapa lalat bertebngan didalamnya, hingga akhirnya aku putuskan untuk, meletakkannya di meja dan menunggu malam tiba.
Malam berkunjung tepat di jam delapan malam setelah mama Rania, mengantarkan makan malamku, aku coba mematikan saklar lampu dan duduk di jendela sembari menggoyangkan botol itu, seketika aku teranyuh dan mataku terbuka melihat kopak pada binatang itu bersinar, mulutku sedikit terngaga dan reflek tersenyum tanpa aku sadari dari tadi ada seseorang yang memperhatikan senyumku dibalik tirai jendela.
“Itu namanya kunang-kunang,”bisiknys bertopang dagu melihat senyumku, sontak aku terkejut dan mundur. Aku gemetar bersiap melempar botol itu padanya.
“Maaf aku tidak orang jahat, kita tetangga, ini sudah sekian lama aku tidak berani meihatkan wajahku padamu, jangan takut, aku hanya ingin berteman. jika kamu lempar aku akan jatuh, kamarmu ini tinggi sekali”ujarnya, aku bingung bagaimana dia bisa naik tapi sepertinyadia sudah punya tangga khusus untu datangi kamarku mengantar semua pemberian ini selama ini, aku gemetar dan berteriak.
“Pergi….!”teriakku, pria itu menyibak belahan rambutnya dan terpaksa kembali turun, setelah hari itu aku tidak berhenti memikirkannya, untuk pertama kalinya aku mengukir senyum setelah sekian tahun lamanya, aku serasa ingin tau tentang dia, namun aku merasa canggung karna tiga hari berturut-turut, dia tak kirimi aku lagi sesuatu, hingga aku resah dan coba mencari tau, aku berjalan menuruni tangga mencari mama dibawah, sontak saja mama terharu melihatku bisa juga keluar dari kamar setelah beberapa lama.
“Sayang? Apa yang membuat Ina turun? Apa Ina butuh sesuatu?”tanyanya dengan mata berkaca-kaca mendekat.
“Mama tetangga kita disamping siapa ya ma?”tanyaku terbata, mama mengelus bahuku dan berkata, akhirnya kamu peduli juga pada sesuatu nak, mama kira kamu sudah tidak ingin lagi berbicara dan bersosial, iya sayang, Feri sekeluarga mengalami kecelakaan kedua orang tuannya meninggal, dia seorang diri sekarang, kita harus temui dia’’Jelaasnya tanpa ragupun aku mau ikut dengan mama kerumah sakit, walau hanya mengurung diri di mobil, hingga setelah beberaapa jam sudah cukup lama aku duduk di mobil menunggu tampak mama dari loby berjalan dengan pria itu, dia tampak hancur sekali, aku sangat mengerti perasaannya hingga mama mengajaknya ke mobil.
__ADS_1
Semenjak hari itu aku mulai terbiasa dengan mas Feri, aku sudah tak menganggap lagi dia orang asing bahkan saat dia beranikan diri melamarku, aku sangat senang. Mama juga senang, walau dia ingin aku harus menikah dengan pengusaha, tapi meihat kondisiku yang tidak bisa terbuka pada orang baru itupun membuat mama menyetujuinya
----------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi berkunjung, aku kembali terbangun dengan sejuta asa, perlahan aku berigsut duduk dan berkemas, seperti biasa rutinitasku sekarang menjadi istri yang melayani suami hanya di lahir, dan untuk batinnya aku serahkan pada orang lain, setelah mandi aku turun kebawah, bisa aku lihat mas Feri sudh menyetel acara pagi kesayangannya, ini hari minggu kami sama sekali tak disibukkan dengan urusan kantor, aku fokus membuatkan sarapan sambil melirik pintu kamar Rara yang belum terbuka tampaknya mereka tidak tidur di kamar yang sama semalam,, bisa aku lihat pintu kamar tamu terbuka dan berantakan, aku menghela nafas dan coba mendekat pada mas Feri menyodorkan teh dan sarapanya.
“Mas minum dulu,’’ujarku, mas Feri tampak menoleh dengan senyum hangat dan merangkul pinggangku,
“Sini sayang,,”bisiknya membawaku menghenyak di pahanya.
“Makasih ya sayang’’ujarnya. Aku mengelus wajahnya dan melihat rautt wajah lelah itu.
“Mas gak tidur ya semalaman?”tanyaku. mas Feri tampak sedikit tersenyum dan mengangguk.
“Habis kamu abaikan mas..”rengeknya,
“Mas, jangan sampai Rara membenci hanya karna kamu selalu terkesan menolaknya, dia sudah sangat baik membantu kita?’’bisikku, mas Feri tersenyum kecut dan berkata, tapi aku menyayangimu Na, aku tidak sanggup membagi cinta kita,’’jelasnya lagi. Aku berdiri dan menghenyak di sofa.
“Kamu harus bisa cintai Rara juga, kamu harus adil mas, Rara kita bawa kerumah ini untuk jadi istrimu, aku mohon tolong berikan hak yang sama.”ujarku lagi, mas Feri terdengar berdengus, sejenak aku terfikir sesuatu mungkin aku harus menjauh dari mereka untuk sementara waktu, agar mas Feri bisa lebih dekat dengan Rara.
Sore berkunjung tanpa memberi tau mereka berdua aku pulang ke tempat mama Rania dan tak lupa meninggalkan pesan dan mematikan ponselku, rencananya aku mau menginap beberapa hari agar mereka punya waktu berduaan. Sesampai dirumah mama sangat terkejut akan kedatanganku,
“Ada apa Ina kenapa kamu pulang?”tanyanya, aku tersenyum dan reflek memeluk mama,
“Mama tolong dukung Ina untuk kali ini, Ina tidak sempurna mah, Ina hanya ingin mas Feri bahagia dengan yang lain.”pintaku hanya terisak saat meraskan apa yang juga aku rasakan
Hingga keesokan paginya, aku coba membereskan taman dan gudang yang sudah tak terawatt dirumah mama, namun aku gagal fokus sama kotak kayu yang bertuliskan nama mas Feri, aku bisa lihat ada beberapa bola bisboll, linggis kecil dan beberapa mainan cowok lainnya, sontak aku tersenyum hingga aku ingat sesuatu saat kejadian buruk yang sebenarnya hatiku menolak untu ingat, aku bisa lihat bola bisbol yang mengerinding ini sama persi dengan waktu itu
“Bola ini?,,”ujarku. Dalam kebingunganku mama datang,
“Kamu sedang apa Na?”Tanya mama aku menoleh ke mama dan berkata,
“Mama ini gunanya untuk apa?”tanyaku mengangkat linggis yang terbuat dari besi itu.
“Oh, itu mungkin buat membuka pintu mobil kalo seandainya kuncinya hilang, gak pernah digunakan sih, di ambil Feri buat mainan, hingga tak jarang juga mobil mama adi korban”ujarnya aku teringat sesuatu, saat aku di lecehkan papa, Feri selalu mengalihkan dengan membunyikan klakson dan menghidupkan mesin mobil, sontak saja air mataku mengucur, aku tidak menyangka selama ini yang menjadi pahlawanku itu mas Feri, dia hindari aku dari kejadian yang lebih buruk lagi, aku mendegup dan coba mengatur nafasku yang terasa sesak, rasanya aku ingin secepatnya memeluknya. Aku bergegas ke kamar hendak kembali pulang, namun dalam kesibukanku, ponselku berdering.
Drrrrrt Drrrrrrt Drrrrt
Alisku menaut melihat Dokter terapi menelponku,
“Ya ibuk Hana?’jawabku,
“Hari ini ibuk Ina libur lagi?, padahal saya lihat, perubahan ibuk cukup baik akhir-akhir ini,”jelasnya sedikit aku teranyuh, mungkin aku harus ikuti terapi ini dulu, karna faktanya ada yang ringan duhatiku setelah mengetahui kenyataan tadi, bahkan sekarang aku ingin memeluk dan mencium mas Feri.
__ADS_1
"Baik buk saya akan datang"