
POV FERI
Entah bagaimana caranya aku mencoba untuk tidak kebawa perasaan dengan gadis ini. Jujur aku sangat miris sekali dengan keadaannya sekarang, kenapa dia seperti ini, sebegitu parahkah luka dan sayatan yang tergores dihatinya hingga ia menuruti keegoisanya dan menjadi seperti gadis kehilangan akal seperti sekarang.
Aku terpaksa harus bersikap dingin padanya, karna jalan yang terbaik adalah aku harus menjauhinya. Ini memang tidak adil untuk Rara. Atas apa yang telah terjadi di hatinya. Karna memang aku begitu tau dan rasakan juga apa yang ia rasakan, tentunya dia pasti sangat kecewa dan terluka sekali atas hubungan yang baru saja terjalin dan senaknya saja aku gantung, tanpa ada kejelasan lagi.
“Mas, kami semua dah nungguin, Rara mana?’’tanya istriku, aku menoleh ke belakang dan ikut juga. Menghenyak didepan Aldo, dan yang lainnya,
“Bagas, terima kasih juga mau datang, hum, ini patut dirayakan, karna seumur- umur Ina tidak pernah ingin rumah ini didatangi orang lain selain aku. Ini surprisenya sayang, kamu benar-benar sudah bisa menjalani kehidupan dengan normal.,”Jelasku Ina tersenyum saat aku acak-acak sedikit rambutnya,
“Iya Fer, aku juga sangat terkejut sekali. Karna aku tau banget waktu itu. Bagaimana Ina. “timpal bagas. Ina hanya terkekeh dan berkata.
“Udah donk, jangan berlebihan, ya udah kita mulai makan malamnya, aku seneng banget udah bisa sampai dititik dan itu semua, karna mas Feri dan..”ucapanya tampak ragu melirik Rara, namun dengan mantap Ina berkata dan mengenggam tangan Rara.
“Dan kamu Ra, makasih ya?”lirihnya, gadis itu hanya bisa memandanginya datar dan berkata.
“Sama-sama, dan aku harap. Mba tau cara bagaimana berterima kasih.”ujarnya, mendadak Ina kikuk perlahan mengusap tengkuknya. menoleh kelain arah bagas dan Aldo juga tampak terheran akan tingkah Rara.
“Ya udah, ayo silahkan di nikmati.”ujar Ina mempersilahkan mereka makan dan menngalihkan perkataan Rara tadi.
“Aku sudah lama tidak makan malam bareng gini, terima kasih mba Ina, dah beri kesempatan buat makan malam bareng Rara.”ujar Aldo Ina tersenyum dan berkata.
“Aku ingin minta maaf saja akan perlakuanku waktu itu, kamu temennya Rara, berarti teman kami juga.”sahut Ina.
“Mantan lebih tepatnya”ketus Rara melirik Aldo sinis aku hanya manggut-manggut melihat Aldo dan Rara bergantian. Aku sempat heran. Kenapa bisa Rara mengabaikan pria ini, dan lebih memlih terobsesi padaku, Aldo cukup tampan dan tajir juga, sedikit aku berdengus, mungkin itu alasan Ina kenapa dia ajak Aldo kesini semoga saja Rara bisa sadar secepatnya, tanpa kami semua bersusah payah mennjaga sikap hanya demi mood Rara yang belum stabil. Rumit ini benar-benar rumit, bahkan sekarang aku rindu akan situasi rumah seperti dulu , hanya ada aku berdua dengan Ina, tanpa pembantu karna memang Ina istri yang cukup telaten tanpa Rara juga tentunya.Tapi sekarang semua berubah, demi kebaikan Rara Ina harus menghadapi tingkah Rara yang sudah terlanjur terobsesi padaku. Aku Risih tentu saja aku hanya tidak ingin imanku goyah, karna tentu saja aku menyuukai Rara. Dia cantik, tak perlu aku bersikap munafik. Dari awal aku memang terkesima akan sikap dan prilaku yang bertolak belakang dengan Ina. Rara jiwanya ceria dan agresif sedangkan istriku orangnya lebih cendrung pendiam seriusan dan lebih kaku. Tak bisa aku pungkiri juga bahwa bersama Rara, aku temukan yang berbeda, aku tidak tau itu apa. Tapi memang Rara, punya daya tarik tersendiri diamataku Rasa yang perlu aku usahakan untuk membunuh dan menghapusnya.
Dua jam berlalu, makan malam itu berakhir, Aldo tampak sudah mulai nyaman dengan kami. Dia bercerita banyak tentang hubungannya dengan, Rara yang telah lalu, walau kami semua begitu tertarik dengan cerita itu tapi sepertinya tidak pada Rara.
“Berarti Rara bucin juga ya,”timpal bagas menghentikan Aldo yang berceloteh.
“Iya, aku nembak dia di bahu jembatan gitu, bayangin tanpa surprise dan moment indah dia menerima aku, aku bersyukur sekali, gadis secantik Rara mau menerimaku dan untungnya saat aku kangen dia, aku kembali kejembatan itu, amit-amit akumelihat dia begitu putus asa, aku mohon sayang jangan lakukan itu lagi.”pinta Aldo menoleh pada Rara, Rara keseal saat Aldo coba mengengam jemarinya,
“Apa sih, dari tadi bekicau aja, sudah pulang sana, ini sudah malam”ketus Rara.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?”tanyaku, Aldo menoleh dan berkata.
“Rara mau loncat dari jembatan, ”ujarnya sontak aku tersintaak, reflek aku menoleh pada Ina yang juga tampak terkejut,
“Ra, apa bener?”Tanya Ina. Rara hanya bisa memasang wajah kesal dan berdiri meninggalkan kami. Ina tertunduk dan meremas jemarinya tertunduk, reflek aku merangkul istriku itu dan berkata.
“Mas, aku takut Rara tidak bisa pulih dan terlalu pendek pikiran dan melakukan hal buruuk, entah kenapa aku jadi taakut dan merasa keputusanku untuk dia bawa kesini, adalah keputusan yang fatal.”jelasnya, Ina menatap kosong sembari gemetar.
“Gak apa sayang, semua akan baik-baik saja. Kita bisa sama liat, dia sudah bisa beraktifitas denngan baik, hanya saja dia belum bisa berfikir dengan jernih.”ujarku, Ina menghela nafas dan melirik pada Bagas.
“Ya, Feri benar. Rara sudah cukup ,membaik. Yang perlu kita lakukan membuat dia menyadari kalo kita sedang tidak membantu dia untuk pulih, semoga lambat laun dia bisa rilex dan nyaman dengan situasi ini. Perlahan dia akan membaaik.”jelasnya, Ina masih tampak cemas.
“Kamu denger tu kata Bagas?”ucapku merangkul bahunya dan menenangkan, sedikit Ina hela nafas dan menganggguk ragu.
“Mungkin saya harus balik dulu,”ujar bagas. Kami semua menoleh dan mengangguk.
“Baiklah, hati-hati kalo kamu punya waktu, ikutlah bersama kami esok hari.”ujarku Bagas tersenyum dan coba menggeleng,
“Baiklah, aku pergi dulu.”ujarnya. melihat Bagas, berlalu, Aldo juga berdiri.
“Aku mungkin akan pulang juga.”singaktnya beranjak. Sepertinya Ina mencemaskan sesuatu hingga dia menghentikan langkah pria itu.
“Al?”lirihnya. Pria itu meenoleh,
“Ya?”
“Kamu biisa menginap disiini. Lagiankan besok kita harus piknik, mana tau Rara butuhin kamu.”ujarnya, sejenak pria itu mendegup dan terdiam.
“Harus ya?”singkatnya.
__ADS_1
“Please..”rengek Ina, Aldo tampak memainkan bibirnya dan berkata.
“Baikah, “Singkatnya. Ina tampak lega, ia menoleh padaku dan reflek memelukku.
“Apa yang bisa Aldo bantu jika dia disini?”tanyaku.
“Setidaknya Rara, bisa terbiasa dengan Aldo saat mereka sering bertemu.”jelasnya,
“Ya udah terserah kamu aja,”lirihku. Ina kembali menoleh pada Aldo dan berkata,
“Sebentar ya aku suruh mbok Lastri siapkan kamar tamu dulu.”ujarnya berdiri, Ina beranjak dan pergi menemui Lastri, aku kembali menoleh pada Aldo. Dia sedikit menyunggingkan senyum datar dan berkata.
“Apa kamu terancam dengan keberadaanku disini?”ucapnya dengan sedikit meledek. Aku berdengus dan berkata,
“Kenapa harus terancam, kamu mau bawa pergi Rara'kan bukan Ina?”tanyaku.
“Oh iya, aku yang terancam akan keradaanmu, Kamu pria gagah yang tampan hingga membuat Rara kehilangan akal sehatnya, hebat sekali. Aku bahkan ingin sekali sepertimu.”ujarnya
“Kamu terdengar tidak percaya diri sekali, jujur aku bahkan mengutuk sekali ketampananku, “ucapku dengan nada bercanda Aldo sedikit mencibir dan terkekeh.
“Bukan begitu, aku juga tampan tuan Feri. Huuh hanya saja aku tidak paham jurus-jurus buaya. Bisa bagi pengalaman, mana tau aku bisa luluhkan Rara”ledeknya lagi, sejenak nafasku tersengaal dan coba manggut-manggut.
“Sama seperti Ina aku sangat mengharapkanmu disini, jadi jangan berfikir aku terancam dan tidak suka melihatmmu mengambil hati Rara kembali. Jujur aku lelah, andai kamu bisa saja bawa Rara pergi secepatnya disini, aku pasti lega sekali sekarang,”sedikit pria itu mencibir dan berkata.
“Kamu jadi cowo, munafik banget sih, hum okeey. Aku akan bawa Rara, itu pasti, selama kamu konsisten dengan prinsipmu sekarang, semoga saja”ucapnya pelan dan berlalu. Sedikit aku buang nafas dan mengusap wajahku.
“Konsisten,, tentu saja.”lirihku. sedikit mengepal jemariku ada sedikit kesal, au tidak tau itu apa, mungkin kekesalanku, pada pria muda yang tidak sopan itu dengan nada bicaranya padaku.
Malam semakin larut, aku terbangun dari tidurku dimalam hari. Sedikit aku lirik jam di dinding sudah menunjukan pukul dua dini hari. Aku merasa haus dan ingin mengambil minum kebawah melihat istriku tertidur dengan lelap. Aku jadi tidak tega membangunkannya. Segera aku turun dari tempat tidurku dan beranjak lugas menuruni tangga, saat dipertengahan tangga aku tersintak melihat lampu dikamar Rara masih menyala. Dengan sedikit rasa kepo. Aku mengintip kamar Aldo pria itu tampak tertidur nyenyak juga, seketika aku terfikir kenapa dia masih terbangun selarut ini. Kembali aku berjalan kedapur untuk mengambil minum, namun mataku membulat saat aku mendegup air putih, tiba-tiba saja lampu dapur padam, ku letakkan gelas itu pelan dan membalik. Sedikit aku terperanjat melihat gadis itu masuk kedalam pelukanku, rembulan di balik kaca jendela bersinar terang hingga aku bisa melihat senyumnya,
“Mas tolong jangan hindari Rara lagi..”ucapnya pelan dengan mata berkaca-kaca mengelus pipiku lembut. Aku mendegup dan untuk sejenak tak tau berkata apa.
__ADS_1