
POV FERI
Siang ini aku sangat sibuk di kantor, ada beberapa harus aku handle sebelum nanti aku kasih ke mama karna memang aku harus kembali pulang, Ina akhir-akhir sangat manja sekali, dia bisa-bisa bête dirumah kalo aku telat pulang. Dari luar ruangan asistenku datang membuyarkan fokusku.
“Pak, mohon maaf, di luar ada Direkture Al company.”ujarnya sejenak aku menghentikan aktifitasku dan sedikit buang nafas,
“Apa ada metting?”tanyaku.
“Tidak, dia hanya ingin bertemu.”ujarnya, nafasku tersengal dan coba berkata dengan tegas.,
“Ya sudah, suruh dia masuk.”ujarku. asistenku itu beranjak keluar dan tak lama setelahnya Aldo. Masuk aku memandanginya datar dan berkata.
“Apa ada yang bisa saya bantu pak direkture,’’ujarku tanpa menoleh. Aldo terdengar mangatur nafas.
“Ekhem..”desisny terdengar memperbaiki tenggorokan.
“Kamu mengembalikan setengah dari saham saya, kamu tau. Kita punya project besar, kerja sama dengan amerika, dan saya menungga itu berhasil. “ujarnya, aku menghela nafas sedikit dan coba menoleh padanya.
“Ya, memang. perlahan saya akan kembalikan saham itu.”ujarku, Aldo tampak meghela nafas dan berkata,
“Saya investasikan karna saya ingin keuntungan, sejauh ini saya sangat membantu menjalankan perusahaan ini bahkan merekomendasikannya pada perusahaan luar, tak lucu memang jika saham saya kembali dan saya tidak dapat keuntungan sesuai target.”ujarnya, aku diam coba tak pedulikan dia, tau aku di tunggu untuk bicara akhirnya aku menggetarkan bibir juga.
“Masih setngah kan, semoga saja aku tidak mendapatkan investor lain, unutuk mmbatalkan semuanya.”ujarku, Aldo terdegar berdesih dan berkata.
“Ini project pertama gue, dan gue gak mau bokap gua tau gua gagal.”ujarnya dengan geram, aku hanya diam sembari berdesis pelan.
“Mental anak manja tak seharusnya jadi direkture.’ucapku pelan tetap mengotak-atik laptopku. Dia mendekat menepuk sedikit meja dan menatap mataku tajam. Aku hanya bisa membalas tatapan itu dengan datar.
“Batalkan penginvest itu, dan jalani misi seperti sebelumnya untu project luar negri, maaf Feri aku harus sedikit mengancam.’’ujarnya, akuu tersenyum kecut dan berkata tak habis pikir.
“Apa lo fikir gua takut?”ucapku.
“Tidak, aku tau kamu cukup berani Fer, tapi bagaimana dengan Ini.”ujarnya melihat foto di ponselnya saat bersama Ina di kamar, aku gemetar mengepal jemariku terdiam dengan gigi tergetakkan.
“Bagaimana jika orang-orang tau kalau istrimu main gila denganku?’’ucapnya pelan dengan sedikit berbisik, aku mendegup serek kerongkonganku dan diam tanpa kata.
“Okey.., aku harap kamu mengertikan keinginanku sekarang, batalkan kerja sama dengan penginvestor itu dan stop berusaha, untuk mencari penginvest lain, fokus sama project kita.’’desisnya berlalu aku terdiam kesal dengan mengepal jemariku erat, aku harus bagaimana. Aku tidak ingin bekerja sama lagi dengannya, tapi sepertinya aku harus lakukan ini, demi nama baik istriku
Aku kesal dan sangat kacau, akhirnya aku putuskan untuk kembali pulang,
“Bocah itu paling bisa menggunakan kesempatan ini, dasar sialan.”gerutuku di atas mobil.
Trakt..
Pintu rumah sedikit aku hempas, melihat aku pulang dengan kesal begitu Ina dan mbok Lastri terkejut, gegas aku langkahkan kaki menaiki tangga,
“Mas, kamu kenapa?”tanyanya sembari berusaha mengikuti langkahku kekamar, aku gemetar dan kesal sekali sama pria itu,
__ADS_1
“Sial! Brengsek!”gerutuku berteriak, Ina tampak bingung dan berkata.
“Sayang ada apa? Kenapa kamu mengumpat begini?”tanyanya, aku mengusap wajahku gusar dan dadaku terasa panas.
“Udah kamu diam!”bentakku pada Ina. Istriku tampak terperanjat mendengarku meneriakinya.
“Mm-aaf.’’lirihnya membalik hendak pergi, aku tersadar kalau aku tak seharusnya membentaknya sigap aku berdiri dan menghentikan langkahnya.
“Sayang, maafin mas.”lirihku, mata Ina berkaca-kaca mendongak melihatku dari dekapan.
“Ada apa mas?”tanyanya, aku menghela nafas sedikit berat, Ina sedang hamil aku gak mau ini akan sangat membebankan pikirannya, sedikit aku tarik nafas dan berkata.
“Penginvest untung ganti saham Aldo membatalkan kerja samanya, sepertinya kita akan tetap bekerja sama denganya hingga selesai.”ujarku, tampak Ina teranyuh.
“Yang sabar ya mas, aku tau ini gak mudah bagi kamu. Maaf Ina yang gak bisa berbuat apa-apa.’’lirihnya, aku mengangguk dan memelukknya.
“Jangan bentak Ina kayak tadi lagi mas, Ina takut.”rengeknya membenamkan wajahnya ke dadaku.
“Oh Tuhan, kapan berakhir semua pelik ini.”batinku di hati. Aku janji kali ini aku tidak akan memberatkan beban ini juga pada Ina. Aku pasti bisa mengatasi ini sendiri
POV ALDO
Aku menghenyak di atas sofa sembari menghela nafas, walau itu hanya sekedar ancaman untuk Feri, tapi aku sangat merasa bersalah pada mba Ina, aku putus asa sekali sekarang selain sangat kecewa akaan keputusannya, ada masalah lain. Papa akan kembali satu minggu lagi jika dia lihat bisnisku tidak ada progress begini dia akan sangat murka, bagaimana tidak jika aku jadikan asset papa seperti mainan gini,aku gak boleh biarkan Feri melepas kontraknya, aku harus dapatkan project perusaahaan luar negri itu.
“Hallo pa?”
“Bagaimana dengan projectmu?”tanyanya to the point, papa tidak tau saja aku tengah pusingkan ini dari tadi.
“Ya pa, semuanya baik-baik saja,’’ucapku pelan
“Baiklah jika memang begitu, papa khawatir dengan tindakanmu yang berisiko ini, jangan bilang kamu tidak bisa menghandlenya Al, dan pertaruhkan saham sebegitu besar, jangan bikin malu papa.”ujarnya, nafaskku tersengal.
“Baik pah.”singkatku, aku hela nafas dan matikan panggilan itu.
“Tuan muda, bagaimana jika bapak Feri mengembalikan saham kita semuanya, berarti setengah dari project tidak jalan setelah beberapa bulan kita berusaha.”ujar asisten aku terdiam sejenak.
“Kamu tenang saja, Feri tidak akan mengembalikan sahamnya.”bisikku, Duta tampak menautkan alisnya.
“Tap setengahnya dia sudah kembalikan Tuan?”ujarnya, aku menghela nafas dan berkata.
“Kamu lihat saja dia akan menarikny kembali.”ujarku, Duta hanya bisa diam sembari memasang wajah heran.
Sore berkunjung, aku merehatkan sejenak pikiranku sembari menunggu kabar dari Feri tentang penarikan saham itu, aku memilih mengunjungi Rara, karna aku memang sering mengunjunginya akhir-akhir ini, bagaimanapun dia wanita yang pernah aku cintai, mungkin aku kecewa mba Ina, memiih kepelukan suaminya, sekarang aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku pada Rara, karna memang semua berawal dariku. Namun seperti biasa dokter Bagas bersamanya.
“Bagaimana kabarmu hari ini Ra?’’tanyaku, mereka berdua menoleh. Rara hanya diam hingga jawabanku itu disahut oleh bagas.
__ADS_1
“Aku rasa cukup baik, dan mungkin mula besok, aku membawa Rara ke klinikku saja,’’ucap Bagas, sedikit aku menautkan alisku dan berkata.
“Harus ya?”tanyaku tak habis pikir, Rara hanya bisa memandangi datar kami berdua.
“Aku rasa, aku bisa menanganinya lebih baik jika d klinikku.”ujarnya, aku mencibir dengan sedikit manggut-manggut, entah kenapa aku merasa ini dokter hanya modus.
“Ya sudah Ra, saya pergi dulu ya, sampai ketemu besok. Kita akan bercerita banyak lagi.’’ujarnya, Rara tampak mengangguk tanpa kata sepatahpun, melihatnya aku duduk disamping dia berbaring dan berkata.
“Kamu aja sma Dokter?”tanyaku. Rara sedikit manyun dan berkata.
“Banyak, pak dokter cerita tentang mba Ina.’’singkatnya, sedikit mataku terbuka.
“Mba Ina?”tanyaku.
“Iya..”ucapnya mengangguk
“Tentang apa?”tanyaku lagi mata Rara tampak berkaca-kaca.
“Tentang penderitaan, yang harus membuat dia membatasi dunianya dengan orang-orang kecuali mas Feri.’’ucapnya perlahan, aku sedikit menyimak karna.
“Tapi malah sekarang mereka penyebab aku membatasi duniaku pada orang-orang, mba Ina tidak biarkan aku jadi bagian dari mereka,”ujarnya, aku sedikit menggaruk batang hidungku dan berkata.
“Apa hanya itu, kebahaagiaan yang kamu inginkan? Apa sempurnya Feri?”tanyaku, Rara sedikit menghela nafas dan tersenyum tipis,
“Sederhana saja, dia tulus. Pria seperti mas Feri sukar di temui, aku ingin dicintai juga, seperti dia mencintai mba Ina. Tapi aku malah di anggap gila dengan cinta ini.”ujarnya, aku diam. Hingga terdengar Rara merintih,
“Aku telah membunuh buah cinta mereka, aku menyakiti mba Ina karna sakit hati karna cintaku tak kunjung terbalas. Padahal mba Ina tidak pernah jahat padaku hiks”tangisnya, aku hanya diam. Aku akui Ina juga wanita yang luar biasa, mereka pasangan yang serasi dan sangat cocok tapi entah bagaimana dengan rumah tangga mereka sekarang apakah mereka masih bahagia seperti sedia kala aku tidak tau. Andai itu bisa aku juga ingin memilki keindahan seperti yang ada pada diri mba Ina, dia seseuatu yang menakjubkan yang pernah aku punya.
POV INA.
Empat bulan berlalu, kandungan diperut semakin hari membesar, mas Feri dan aku sangat bahagia melihat perkembangan bayiku ini, dia tidak pernah lupa jadwal check up ke dokter setiap minggunya, kebahagian kami semakin melimpah ruah saat di USG, bayinya laki-laki dan perempuan tak terbayang bagaimana wajah bahagianya suamiku, saat impian kami berdua tercapai, aku sangat mengidamkan anak laki-laki sedangkan mas Feri perempuan. Namun hanya satu sekarang yang terkadang mengusik kebahagiaan kami, selama project dengan Aldo belum selesai, aku belum bisa tenang, terlebih aku sering melihat mas Feri seperti tertekan beban pikirran yang aku tidak tau itu apa. Apakah karna kesalahanku itu aku tidak tau, yang jelas aku selalu takut jika di hati mas Feri tersimpan keresahan akan wanita sepertiku ini
“Semoga semuanya baik-baik saja.”bisikku mengelus perutku yang sudah mulai membesar itu, tiba-tiba mas Feri datang menghenyak di sampingku yang sedang bersandardi sofa itu, reflek dia ciumi dan menyapa calon bayinya di perut,
“Ada apa mama kalian termenung, kalian nakal ya didalam”ucapnya, aku ternsenyum sedikit mengelus tengkuk mas Feri dia menoleh karna melihat air mataku merintik.
“Ada apa lagi, “singkatnya.
“Aku sangat beruntung mas, lelaki mana yang masih mau menjaga dan mencintaiku saat-“ucapanku terhenti karna disanggah oleh mas Feri.
“Kamu sudah terlalu sering membahas ini, Ina. Jangan ingatkan lagi. Aku tidak suka kamu hidup dengan rasa bersalah seperti ini.”ujarnya, aku mendengup dan meremas telapak tangannya.
“Terima kasih akan cinta yang luar biasa ini mas, aku bahagia memppunyai anak dari pria sepertimu, dan semoga tidak ada hal buruk lagi kedepannya’’pintaku,
“Amiinn sayang…’’
__ADS_1