
“Hiks mas bangun…”tangisku terus saja merebah dan memeluk dadanya. Dari belakang terdengar tapak kaki yang datang, aku menoleh dengan tangis dan air mata, bisa aku lihat Rara juga nanar berdiri sembari bertanya lirih.
“Mba… apa yang terjadi?”tanyanya merintikkaan air mata, kembali aku memeluk mas Feri dan berkata.
“Mas bangun tolong jangan tinggalkan Ina,’’tangisku Rara mendekat dan juga menangis histeris.
“Mba mas, Feri gak mungkin meninggal. Mas Kamu bangun mas.”ucapnya, aku tidak peduli dengan wanita ini, Bagas yang datang tampak menenangkan Rara yang menangis histeris bersimpuh di atas sofa.
“Bangun sayang…”bisikkku,
“Dok, mas Feri dia..”ucapan Rara terdengar terbata hingga wanita itu jatuh pingsan, Bagas membawannya keluar ruangan, sedangkan aku kembali tertinggal dengan kesedihanku, aku terus saja menangis hingga perawat datang,
“Maaf buk, mari kita urus jenazah suami ibuk.’’ucapnya aku menoleh dengan sedikit menghardik.saat dia berusaha melepasakan alat-alat medis itu.
“Aku mohon pergi sus,, mas Feri akan bangun, jangan katakan apapun suamiku pasti akan bangun.’’ucapku lirih, perawat itu melihatku dengan wajah priihatin.
“Tolong pergi!!”teriakku, dia sedikit menghela nafas dan berlalu keluar ruaangan kembali aku duduk dan mengenggam tanngan mas feri.
“Mas… banguuun sayang,’’lirihku lagi, aku melihat wajahnya yag terdiam dengan memejamkan kedua matanya.
“Ina tau mas, mas juga gak mau ninggalin Ina kan? Bangun sayang Ina disini ”ujarku sembari menangis sesegukan,
"Kamu bisa dengartangis Ina dari kejauahan seperti biasanya kan, kamu dimana mas, kembalilah hiks."tangisku lagi merunduk.
“Ina” panggil mama dari pintu masuk, aku menoleh dan berkata pada mama sembari menangis.
__ADS_1
“Mah, tolong suruh mas Feri bangun, dia becaandain Ina kan mah.”tangisku, mama menangis dan memelukku.
“Ina sayang ikhlaaskan ya nak, biarkan perawat mengurusnya, kita harus bawa Feri pulang untuk di makamkan tangis mama mengelus pipiku aku nanar dengan air mata menghujan sembari berkata.
“Gak.. mas Feri gak mungkin mati, dia udah janji bakal jagain Ina, dia harus bangun mah, anaknya menunggu kehadiran papanya dudunia ini, aku tidak sanggup merawat anak-anaknya seorang diri,’’ucapku dengan nanar,
“Tolong katakana padanya mah!’’bentakku, mama hanya bisa menangis aku kesal sepertinya tak ada seorangpun yang memahamiku, kembali aku menoleh pada mas Feri dan merebah di badanya.
“Sayang kamu dengar aku kan, Bangun!”hardikku menggoyangkan badannya keras, aku sangat putus asa sekali bagaimana caranya membuat mas Feri bicara, hingga aku terkejut melihat tangan mas Feri bergerak, aku kembali melihat denganseksama dan mengenggam tangan itu.
“Mah,,, barusan Ina lihat tangan mas Feri gerak?”ujarku, mama terdengar berdesih dan putus asa,
“Sayang sudah mama mohon tabahlah nak,’’ucapnya, aku tidak peduli dan coba melihat raut wajah mas Feri seksama.
“Gak aku gak salah, aku melihat tangan mas Feri gerak barusan mah.”ujarku, namun saat aku sadar aku hanya berharap aku kembali menangis menempelkan jidatku di telapak tangannya.
“Dokter,,’Teriak mama,
“Ss-syang? Kamu bisa dengar aku?”tanyaku yang hanya di sambut bunyi denting monitor,
Tit Tit Tit..
“Mas itu beneran, detak jantung kamu aktif kembali mas?
" Terima kasih tuhan" rengekku merebah didadanya. entah bagaimana aku bersykur tentang apa yang aku lihat, aku berharap ini tidak mimpi
__ADS_1
“Ina…”lirih mas Feri menggerakkan bibirnya suara itu terdengar pelan dan lembut, reflek aku mengangkat kepalaku dan menoleh pada wajahnya, diwaktu bersamaan mama dan dokter datang.
“Dok, dia memanggilku barusan,’lirihku berdiri mengenggam tangannya,
“Biar saya cek sebentara buk’’,
Aku mundur dan reflek memeluk mama, tampak dokter dn perawat kembali me cek keadaan mas Feri,
“Ini mukjizat, detak jantungnya kembali stabil, ayo segerak kita bantu melewati masa kritisnya, aku dan mama hanya bisa nanar saat dokter menutup tirai dan mengupayakan keselamaatan mas Feri.
“Sayang berdoalah semoga semuanya baik-baik saja. Feri mendengar Ina memanggilnya nak,”ujar mama aku mengangguk dengan air mata mengucur reflek mama kembali memelukku, dan kembali moneleh aku tak lantas langsung bahagia sebelum mas Feri benar-benar melewati masa kritisnya,
Dua jam berlalu, kami sangat cemas menunggu dokter keluar dari ruangan itu, sesaat dokter keluar kami langsung menghampirinya,
“Bagaimana dok?’’tanyaku dan mama.
“Pasien, telah melewati masa kritis. Tapi hingga detik ini dia belum sadar. Bersabar, dan teruslah berdoa yang terbaik.”ujarnya, nafasku tersengal dan merasa sangat lega sekali. Perlahan mama merangkulku untuk masuk kedalam aku duduk dan mengenggam jemari suamiku itu disampingnya.
“Ina tak bisa gambarkan kesusahan hati Ina, saat tau aku harus kehilanganmu mas? Terima kasih telah mendengar panggilan Ina,”ujarku dengan lirih mengecup tangannya, yang perlahan sudah terasa hangat, aku merintikkn air mata melihat mulutnya di pasang oksigen untuk bernafas.
"Terima kasih tuhan, engkau telah titipkan nafas itu lagi untukku"batinku dengan air mata merintik
“sembuhlah sayang, anak kita akan segera lahir,”ujarku mengecup beberapa kali telapak tangannya hingga dahi suamiku itu. aku rindu melihat mata indahnya itu terbuka. aku berdiri dan kembali memeluk mama.
"Tuhan sangat menyayanggi Ina."lirih mama aku mengangguk sembari melirik mas Feri dengan senyum.
__ADS_1
"Ina akan tetap disini sampai mas Feri sadar mah.''ucapku