FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
SAKIT


__ADS_3

Pagi berkunjung shubuh-Shubuh sekali aku datangi kamar Rara sebelum nanti Ina tau kalalu aku tidur di kamar tamu. 


ToK Tok Tok


“Rara “Panggilku dengan sedikit berbisik melirik kamar Ina yang sudah terdengar sibuk dengan kran airnya,


“Ya mas, maaf. Aku masih ngantuk”lirihya membuka pintu


“Kamu ini gimana sih kalau Ina melihat aku dari kamar tamu tadi dia bisa curiga. “gerutuku.


“Ya mas, ayo buruan masuk. Aku mau mandi dulu.”ujarnya aku masuk dan menghenyak di sofa didepan ranjang tidurnya Rara. Bunyi kran air mulai menyala. Aku kembali rebahan karna masih ngantuk, tak butuh waktu lama terdengar pintu kamar mandi terbuka. Aku menoleh pada Rara yang handukan dengan rambut basah, aku mendegup dan coba mengalihkan pandanganku kelain arah, Rara berjalan ke arah lemari dengan sesekali melirikku yang tampak kikuk,


“Maaf mungkin aku bisa keluar sebentar.”ujarku. sejenak Rara menatap dengan wajah heran.


“Gak usah mas, biar aku yang ganti di ruang ganti”ujarnya.


“Oh ya mas, apa kejadian semalam bagian dari tugas aku juga? Bakal sering gak sih? Atau lebih parah dari itu?”ujarnya terdengar sedikit bergurau.


“Kan aku sudah minta maaf, “singkatku.


“Ya tapi kan, jangan keseringan juga mas. Ntar kalo aku suka sama mas gimana?”tanyanya dengan memasang wajah polos mataku sedikit terbuka melihat bola mata gadis itu.


“Ra, aku bayar kamu ya buat pekerjaan ini, jadi tolong bersikaplah professional.”tegasku Rara manyun sembari manggut-manggut berjalan keruang ganti mengambil piyamanya aku mengusap wajahku gusar, masih bisa aku dengar Rara menggerutu,


“Ya baiklah mas, aku pertaruhkan harga diriku demi bersikap profesional, lebih baik kamu nikahi aja aku mas sekalian, aku bisa melayanimu dan kali aja istrimu bisa sembuh karna kebakaran jantung, trus kamu menang banyak deh”cerososnya aku menggeleng-geleng sembari beranjak menunggunya di pintu. Rara terkejut melihat aku berdiri di pintu,


“Mas kamu ngintip?”tanyanya, aku membuang nafas dengan sedikit berdengus.


“Nikahi katamu? Yang ada aku pusing punya istri bawel seperti ini, kamu bisa rem gak itu mulut, nanti Ina dengar?”kesalku. Rara menghela nafas. Sembari mengangguk pasti,


“Bbaik”singkatnya dengan menutup bibirnya dengan jari, mata gadis itu masih melihat raut wajahku yang seolah tak suka padanya, dia menoleh lebih dekat dan coba mengelus pipiku,


“Mas mba Ina itu memang beneran kagak normal, kalo aku punya suami setampan dan sebaik mas, darahku akan mendidih melihat dia mencumbui wanita lain.”ujarnya, aku menghela nafas dan menurunkan tangan Rara yang nempel di pipiku. Gadis itu hanya bisa cengingis.

__ADS_1


“Sepertinya kamu, juga memiliki kelainan “gerutuku, Rara terkekeh.


 


“Gak mas, aku normal. Lagian siapa sih yang gak mabuk dengan sentuhanmu, jangan sering begitu ya, aku jatuh cinta gimana”ucapnya, aku beranjak dan kembali menghenyak di sofa.


“Hari ini kamu panas-panasin Ina, kamu ceritakan banyak hal, aku gak sabar lihat ekpresinya hari ini setelah semalam.’’


“Siap bos”


Tok Tok Tok…


Pintu kamar kami diketuk, mataku sedikit terbuka dan menoleh ke pintu


‘’Rara kamu bukakan pintu ya, aku pura-pura tidur dulu’’titahku bergegas Rara kepintu untuk sejenak senyap, hingga aku bisa denger Ina bertanya.


“Kamu terlihat segar sekali Rara dengan rambut basah”ujarnya, aku tersenyum mendengar itu sepertinya Ina cemburu,


“He he iya mbak, aku emang kramas setiap pagi kali mbak?’’ timpal Rara.


“Oh iya silahkan mba, mas Ferinya belum bangun.”sahut Rara. Ina mendekat dan menghenyak di samping ranjang, aku masih diam menunggu dia memanggil. Terdengar Ina berdesih dan berkata dengan lirih.


“Mas, biasanya mas terbangun mencium aroma roti bakar Ina?”


Sontak aku tersadar saking seriusnya pura-pura lupa kebiasanku setiap pagi, namun aku memilih diam.


“Rara, gak apa biar mas Feri tidur, mungkin dia capek banget. Nanti kalo dia bangun kamu kasih sarapannya ya”ujarnya,


“Bb-aik mbak, ia capek banget mas Ferinya”ujarnya cengingisan sembari mengibas-ngibas rambutnya yang basah.


“Aku permisi dulu”singkatnya beranjak pergi.


 

__ADS_1


Trakt


Pintu kamar itu terbuka aku reflek duduk dan mengusap wajahku gundah,


“Kenpa dia bisa begitu, kemarin aja dia marah-marah dan gak suka sama kamu Ra. “tuturku, Rara juga tampak bingung.


“Ya udah mas, kamu serahin aja sama aku, kamu tau semalam aku hidupkan itu audio pornonya. Aku bisa lihat mba Ina resah mondar mandir di pintu kamar, karna aku keluar nyari makanan laper, dia tampak enggan mengetuk gitu? Sykurlah dia gak mengetuk karna didalam kamar gak ada siapa-siapa”jelas Rara panjang kali lebar.


“Benarkah?”tanyaku Rara hanya mengangguk pasti, aku bersiap kekamar mandi  dan  setelah itu memakan sarapannya,


“Aku harus temui Ina dulu, makasih ya Ra”singkatku beranjak, Rara hanya bisa terseyum hangat sembari mengangguk.


 Aku melangkah pasti menuju kamar kami, bisa aku lihat Ina nanar menatap cerminan dirinya sembari menyisir hingga dia tidak menyadari aku berdiri di belakang . aku mendekat sembari mengelus bahu dan menciumi pipinya, seketika Ina menggeliat dan menoleh padaku.


“Makasih sayang, sarapanya?”lirihku bicara begitu dekat dengan wajahnya . dia tertunduk dengan mengangguk. Aku mengelus pelupuk mata hingga dahinya. Wajah cantik yang setiap detik membuat aku jatuh dalam binar mata indah ini, hanyut dalam tangis dan tawanya dan ikut juga dalam rasa sakit yang menyerubngi jiwa belahan jiwaku ini, setiap har aku berusaha memupuk rasa ini agar tetap indah, semoga istri bisa menjalani hidupnya dengan normal.


“Bagaimana perasaanmu pagi ini?”tanyaku. Ina mendegup dan tertunduk sedikit aku sibak rambut panjangnya yang terurai membawa wajahnya dalam mataku bibirnya gemetar dan matanya tampak berkaca-kaca.


“Ada apa?”singkatku mengelus pipinya dengan kedua telapak tanganku.


“Mas… aku,-“ujarnya terdengar sesak, bisa aku lihat Ina sangat sulit mengatur nafasnya


.


“Ya sayang?”ucapku pelan aku menunggu kata-kata yag terlontar.


“Hiks…, kenapa ini rasanya sakit sekali mas?”rengeknya dengan naafas tersekat, nafaku dan mendongak kelangit-Langit kamar menyembunyikan tangisku, raflek aku memeluk tubuh istriku itu yang menangis terisak-isak. Aku mengecup berkali-kali pucuk kepalanya.


“Maafkan mas sayang?”lirihku, aku sangat merasa bersalah sekali tlah mencumbui Rara di depan Ina semalam tapi aku senang dengan reaksi Ina hari ini. Setidaknya dia merasa sangat ingim mempertahanka aku.


“Mas, Ina pengen sembuh hiks,”rintihnya, aku mengangguk sembari mengelus bahu hingga kepalanya,


“Iya sayang Ina pasti sembuh, terima kasih kamu sudah semangat lagi.”ucapku mengecup dahinya.

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2