
Dari luar terdengar mba Ina berpapasan dengan pak Dokter saat di pintu , aku beranjak me ceknya sepertinya mba Ina baru saja datang dari luar sontaak aku heran dan bingung kemana mba Ina barusan, dia tak biasanya seperti ini berani pergi senndiri tanpa mas Feri, apa yang di cari keluar rumah sebegitu pentingkah, secara aku tau bagaimana mba Ina.
“Bagas, bagaimana?”tanyanya pada pak dokter.
“Untuk sekarang, mungkin segitu dulu, besok aku akan kembali lagi. Tidak perlu ada yang di cemaskan Rara tidak depresi yang berlebihan, dia hanya perlu terapi beberapa kali dan akan pulih jadi kamu tenang aja.”ujarnya mendengarnya aku teranyuh dan nafasku tersengal, kenapa bisa orang-orang anggap aku sakit, aku baik-baik aja. Seolah-olah aku ini sakit jiwa saja melihat reaksi mereka. Aku kembali ke kamar dan menghempaskan badanku diatas kasur. Waktu rasanya teramat lamban berlalu. Tak sabar rasanya aku bisa melihat mas Feri dan mengadu padanya dengan semua keluhku.
Sore berkunjung, setelah selesai mandi dan memakai pakaian terbagusku aku berselok di depan cermin secantik mungkin, masih bisa aku rasakan indahnya suatu hariku bersama mas Feri waktu itu, hingga membuat bibirku tak berhenti merekahkan senyum, kusisir helaian rambutku pelan dengan sembari tetap membayangkan malam indah bersamanya namun itu semua harus berantakan karna mba Ina kembali. Ikatan yang sebelumnya terjalin erat terlepas begitu saja. Dalam lamunan itu aku tersintak saat mendengar Mobil mas Feri memasuki garasi. Bergegas aku turun dan membukakan pintu untuknya, mba Ina yang tampak sibuk di dapur itu hanya bisa melihat dengan tatapan datar, saat aku berlari pelan membukakan pintu, dia juga tampak bergegas mencuci tangannya yang tengah menyiapkan makan malam itu, untuk sejenak dia menghampiri mungkin males melihat kebersamaanku, karna aku sudah mengambil alih tugasnya menyambut mas Feri dia kembali ke dapur.
“Mas, kok lama banget sih pulangnya,’ucapku menyambar tas dan membantunya membukakan jas, mba Ina tampak tak pedulikan kami. Mas Feripun tampak enggan menjawab dengan sesekali melirik pada istrinya itu.
“Ih, Mas. Kamu kok gak dengerin aku?”ujarku mas Feri menoleh dan berkata sambil menghenyak di sofa
“Aku sudah lama tak kekantor sebelumya,jadi gitu harus rombak beberapa data di berkas perusahaan"ujarnya, aku manyun dan bersimpuh di kakinya hendak membantunya melepaskan sepatu, melihat reaksiku itu mas Feri bereaksi.
“Rara, Apa yang kamu lakukan, ayo berdiri.”ujarnya, aku terus saja menyentuh kakinya dan membantunya membukakan sepatu. Melihat aku yang ngeyel mas Feri kesal dan membentak
“Rara!”hardiknya, aku terdiam menghela nafas dan menoleh padanya.
“Kenapa mas, Rara hanya pengen lakuin ini, rela, tulus, dan ikhlas Rara sayang banget sama mas, tolong izinkan Rara melakukan apa yang dilakukan mba Ina juga”ucapku dengan mata berkaca-kaca mas Feri mendegup dan berkata.
“Aku bisa sendiri tidak usah, makasih Rara.”ujarnya kesal, melepas sepatunya dengan tergesa-gesa. Dia berdiri meninggalkan aku. Aku termangu dengan air mata merintik dan menoleh pada mba Ina yang tampaknya juga melihat semua kejadian tadi, kucoba getarkan bibirku untuk bicara padanya.
“Mba liat, karna mba hasut mas Feri dia seperti ini? dia b selalu menghindariku seperti itu, aku tidak beruntung seperti mba, aku tidak pernah bahagia mba! Untuk pertama kalinya aku temukan bahagia pada mas Feri, tapi mba berusaha menghancurkan impianku, ingat, aku juga pernah membantumu. Mempunyai keluarga yang berantakan da hidup terlunta-lunta itu bukanlah kebahagiaan! Kenapa tak bisa mba biarkan saja aku bahagia! aku hanya ingin sedikit dari banyaknya kebahagiaanmu mba!"teriakku, aku histeri menangis, entah kenapa dadaku sesak dan aku sangat lega jika bisa mengutarakannya, mba Ina mengerutkan dahinya dengan bibir gemetar, bisa aku lihat dia juga ikut prihatin dengan apa yang aku katakan, dia mendekat sembari berkata.
“Rara,, percayalahh. Aku juga tidak terlalu beruntung, kamu tidak tau kalau-“ucapannya aku cegat.
“Jangan berkata apa-apa lagi. Itu tidak akan merubah segalanya, aku hanya ingin mas Feri sekarang, cintanya, dia mencintaiku mbak! Aku tau itu.”tegasku dan beranjak pergi kekamar sembari sesegukan menangis.
__ADS_1
Dua hari berlalu, aku mengurung diri dikamar dan enggan mau bicara pada dua orang sejoli yang memuakkan itu,aku kembali down mengurung diri pada siapapun,
“Makan dulu non Rara sarapannya”pinta Lastri, aku melirik sedikit makanan itu dan berdesih.
“Mas Feri kemana?”tanyaku lirih,
“Tuan, dia keluar kota bersama nyonya Rania, “mataku sedikit membulat dan menoleh padanya.
“Lalu mba Ina?”tanyaku Lastri menoleh keatas dan berkata,
“Itu di kamarnya.”singkatnya, kembali aku mengmbil nafas lega. Setidaknya aku tidak perlu panas dingin membayangkan kebersamaan mereka, aku beranjak keluar dan melihat mba Ina yang tengah santai didepan TV. Tiba- tiba santainya terganggu karna ponselnya bergetar.
“Ya Hallo?”tanyanya, entah apa jawaban dari sana tampak mba Ina tersintak memperbaiki posisi duduknya,
“Okey aku menunggumu, terima kasih banyak”ucapnya aku manyun dan kembali kekamar. Sejenak terfikir ingin menelpon mas Feri, bergegas aku mengotak atik ponselku namun aku mendadak patah hati duluan menginngat sambutan mas Feri, aku bingung akhir-akhir ini mas Feri begitu dingin padaku.
Di sore harinya, mas Feri pulang, aku mengintip dia dari balik gorden jendela, bisa aku lihat dia menciumi dan memeluk mba Ina yang datang menyambut. Sontak dadaku terasa terbakar, aku kembali menghenyak diatas ranjang dan merintikkan air mata, kesal rasanya mas Feri sudah benar-benar menganggapku tak ada lagi disini,
“Hiks.. aku gak bisa terus-terusan begiini”suara lirih karna dadaku terasa sesak. Diwaktu yang bersamaan bisa aku dengar bunyi motor Aldo, kembali aku tersadar dan berdiri lagi dekat jendala, serasa tak percaya rasanya, aku melihat Aldo berani datang kemari. Siapa yang memintanya untuk datang aku kesal dan coba menemui merekaa semua diluar.
‘’Ini mas, kenalin Aldo, dia temennya Rara aku mau ngajak dia makam malam disini sama piknik kita besok, Rara mungkin bisa sedikit rilex jika kembali ke puncak.’’ujarnya aku manyun melirik pada Aldo.
“Oh, terima kasih Aldo sudah mau datang, ini kejuta, biasanya istriku tidak suka acara seperti ini, terima kasih sayang, sepertinya kamu sudah banya kemajuan sekarang”ujar mas Feri merangkul mba Ina, aku menarik nafas dan mendekat,
__ADS_1
“Rara, aku senang kamu keliatan jauh lebih baik disini”sapa Aldo aku hanya manyun melirik pada mas Feri dan mba Ina yang tampak bahagia berbincang berdua masuk kerumah.
“Al. pergi apa yang kamu lakukan disini,”geramku. Sedikit ia menaikkan bahu dan berkata.
“Mba Ina, dia merasa bersalah akan tamparannya waktu, sebagai permintaan maafnya, dia mengajakku makan malam disini, kukira pasti seru karn ada kamu, dan besok pasti lebih menyenangkan sekali ”jelasnya beranjak kedalam aku keesal mengepal jemariku dan ikut juga masuk kedalam.
Malam berkunjung hidangan makan malam itu terjamu sudah, mba Ina dan Lastri tampak sibuk didapur. Aku enggan untuk keluar kamar, sesekali aku memantau yang di luar dan mencari mas Feri dimana, bola mataku terhenti saat di ruang keluarga bisa aku lihat dia tampak sibuk dengan laptopnya sebelum gabung dengan mereka yang di meja makan, aku beranjak keluar dan menghampirinya,
“Mas,,”sapaku, sedikit ia menoleh dan kembali fokus pada laptopnya,
“Ya, Ra, kamu duluan gih, sepertinya Ina dan yang lain sudah menunggu di meja makan.’’ujarnya. aku menghela nafas dan menghenyak duduk disampingnya.
“Mas, akhir-akhir ini mas kenapa sih sama Rara. Rara mohon jangan seperti ini. “rengekku sejenak dia menoleh padaku dan berkata,
“Kenapa? Mas sibuk Ra, kamu liatkan.”ucapnya pelan.
“Mas, maksudnya mba Ina apa sih bawa Aldo kesini. Aku menunggu janjimu mas, jika tidak ingin menikaahi Rara, lalu kenapa mas bawa Rara lagi kerumah ini?”tanyaku. mas Feri bungkam menyelesaikan tugasnya dan mengatup laptop.
“Sudah, ayo kita temui mereka sekarang, lagian ini waktu gak tepat untuk ngomongin itu, mas lagi sibuk-sibuknya sekarang, dan kamu masih sakitkan? Ya udah berobat dulu aja.”ujarnya, aku menghela nafas melihat mas Feri berlalu, sedikit aku bisa lega setidaknya mas Feri ada niatan buat nikahin aku.
__ADS_1