
Setelah mama berlaku sejenak kami bertiga terdiam, aku mendekat pada mas Feri dan reflek mengelus pipinya.
“Mas maafkan mama ya?’’lirihku mas Feri mengangguk dan berusaha menyunggingkan senyum hangatnya padaku. Setelah itu kami menoleh kepada Rara yang tampak berdiri mematung.
“Ra tolong ma-“ucapanku terhenti saat Rara membalik dan beranjak kekamar, aku dan mas Feri saling menatap seakan fikiran kami tengah sama, yakni Rara sangat tersinggung dengan perkataan mama tadi.
“Mas, aku temui Rara dulu ya.”lirihku, mas Feri hanya mengangguk, dengan pasti aku melangkahkan kakiku menuju kamar Rara.
Tok Tok ToK
Aku mengetuk pelan pintu kamar Rara , Dia menoleh dan menatap aku datar,
“Boleh aku masuk?’’tanyaku, Rara mengangguk pelan.
“Hari ini terlalu banyak cekcok, jujur aku belum memaafkanmu dengan sikapmu tadi padaku di dapur, tapi sekarang aku minta maaf untuk perlakuan mama,”ujarku, Rara berdiri dan mendekat padaku.
“Aku sudah fikirkan resikonya, hehe tadinya akau fikir lawan terberatku itu maduku, ternyata mama. Ya gak apa sih, ini wajar”ucapnya. Aku menghela nafas dan berkata.
“Okey baiklah, berarti aku tidak perlu merisaukan ini, kamu jangan takut, mamaku sebenernya orang baik. Dia hanya sedang marah sekarang, perlahan dia akan bisa menerimamu.”jelasku, Rara sedikit manyun dan mengangguk. Aku tersenyum dan membalik hendak pergi. Namun langkahku terhenti saat Rara mencegatku.
“Mba?”singkatnya aku menoleh kembali padanya.
“Ya?”
“Maafin sikap Rara tadi ya?”ujarnya perlahan aku menarik ujung bibirku untuk tersenyum dengan sedikit mengangguk aku berlalu pergi,
Malam berkunjung, aku dan mas Feri sibuk mengurus data kantor dan membahas tentang perpindahan jabataku itu demi kebaikan untuk semuanya. Mas Feri sangat mendukung aku untuk menghendle perusahaan.
“Ina pasti bisa sayang, kamukan lulusan terbaik. Mas yakin jika Ina bersungguh-sungguh mama Rania pasti bangga pada Ina.’’ujarnya aku tersenyum manis sembari tetap, mempelajari berkas yang di ajari mas Feri barusan. Aku mengotak atik laptop dengan fokus, tiba-tiba suamiku itu memeluk pinggangku dari belakang, aku sontak menghentika gerakku. Dan terdiam kaku. Perlahan mas Feri mengendus leherku. Aku ingin sekali mengalir bersama desiran itu namun darahku yang berkecamuk akan gejolak jiwa yang mengguncang tak mampu aku redam.
“Mas!”hardikku, seketika mas Feri menghentikan geraknya,
“Ini gg-imana aku gak paham’’ucapku mengalihkan fokusnya dengan gemetar mas Feri sedikit menyibak rambutnya dan coba menjelaskan. walau aku tidak bisa fokus dengan apa yang ia katakan aku beriyak hendak berdiri
__ADS_1
“Oh iya baiklah, Ina dah mengerti”ujarku berdiri sedikit menjauh darinya. Mas Feri menghela nafas sesak dan bersandar di sofa.
Tok ToK Tok
Pintu kamar kami diketuk bisa aku lihat Rara datang dengan senampan makanan di tangannya,
“Boleh saya masuk?”izinya dengan canggung, aku mengangguk sedikit menarik ujung bibirku untuk tersenyum.
“Masuk aja,’’ujarku mas Feri yang tadi bersandar tampak mengangkat badanya melihat Rara datang.
“Ini mbak, mas. Rara bikin roti goreng.’’ujarnya,
“Silahkan di cicipi, itu sudah sekalian sama Tehnya?”ujar Rara. Aku tersenyum melirik makanan di piring dengan dua gelas teh hangat walau roti gorengnya yang tampak tak beraturan bentuknya aku mencoba menghargai usahanya tapi malah makanan itu terlihat sedikit gosong.
“Ra kamu masaknya gak pake api sedang, kok kyak kelewat mateng gini sih?’’ujarku mengangkat piringnya.
“Gak gosong itu kok mbak, cobain deh”pintanya. Aku mengambil satu dan memberikannya pada mas Feri
“Siapa yang bilang gosong, cuman kelewat mateng.”sahutku, aku mengigit sedikit roti itu dan mengunyahnya, seketika lidahku menolak dan menoleh pada mas Feri yang tampak ennek juga. Sontak mas Feri menggetarkan bibirnya untu berkata
“Kamu ini bikin resepnya apa aja sumpah enak banget,”ucapnya nyengir padaku mendengar itu aku terkekeh.
“Iya Ra enak banget”timpalku dengan senyum merekah.
“Masak iya mbak, enak?, sini Rara cobain.”ucapnya menjangkau satu roti aku mencegat dengan menarik piringnya,
“Eh, kamu bikin lagi aja. Ini buat mba, abis enak banget, mba kebetulan laper,”Timpalku Rara tampak riang,
“ Makasih ya mbak, setelah tadi kita ribut di dapur aku kefikiran buat belajar masak, tu kan buktinya aku bisa,’’ucapnya dengan bangga aku dan mas Feri hanya bisa mengangguk paksa dan berusaha menarik senyum.
“Ya udah, aku mau balik kekamar ya, kalian teruskan dikusinya,’’ujarnya melirik laptop dan berkas-berkas yang ada di meja.
“Udah selesai kok, mas kamu bisa ikut Rara kekamar”Ucapku menoleh pada mas Feri. Reflek mas Feri tampak Kikuk dan coba membalik-balik berkas itu lagi.
“Belum atu sayang, ini masih banyak?”ujarnya aku melirik Raut wajah Rara yang tampak berubah.
__ADS_1
‘’Ya udah mba, gak apa. Mas Feri sini aja,”singkatnya beranjak pergi. Sejenak kami diam-diaman’
“Ayo Ina pelajari lagi?’’ titah mas Feri menyodorkan kontrak kerja sama dengan perusahaan lain.
“Udah mas, kita lanjutin ini besok aja ya, aku capek mau tidur. Kamu susul Rara gih’’ ucapku. Mas Feri berdiri dan menghempaskan badanya kekasur,
“Aku mau tidur disini, semalamkan sama Rara udah tuh, malam ini sama kamu,”ucapnya dengan santai menahan kepalanya dengan lengan yang ia jadikan bantal. Aku melangkah ragu duduk ditepi ranjang dan menarik selimut, mas Feri duduk dan coba melihat aku yang tengah berbaring, aku risih diliatin begitu.
“Setelah terapi tadi? Apa ada perubahan?’tanyanya, aku reflek menggeleng, gak ada mas. Aku seperti biasa aja,”ujarku. Suamiku tampak tersenyum dan berbaring disampingku, aku menoleh padanya yang tampak mengatur posisi tidurnya sembari memandangi wajahku,
“Mas, apa mas gak bosen, sama Ina?”tanyaku, sedikit mas Feri manyun dan berkata,
“Bisa aja sih, kalo terus-terusan begini?”ujarnya, aku menghela nafas berat dan berkata.
“Lantas kenapa tidak mas biarkan saja Ina pergi?”ujarku,
“Emang kamu bisa tanpa mas? Wanita introvert yang memiliki keterbelakangan mental Phobia pada kermaian, selama yang aku tau, teman kamu itu Cuma aku Ina, sadar gak sih. Lantas kenapa masih takut padaku?”jelasnya untuk sejenak aku diam,
“Ina tidak takut mas, tapi aku tidak sanggup. Takut dan sanggup sepertinya dua kata itu sangat jauh berbeda bagi Ina, Ina bingung bagaimana membedakannya. Jujur Ina pengen normal tanpa rasa takut dan penolakan berlebihan di relung Ina, Ina juga pengen menikmati kebersamaan kita tanpa rasa anrh itu, mas bisa gak ya Ina normal seperti wanita lainnya, maaf maas Ina boleh tau, bagaimana perasaan mas sama Rara saat kalian berhubungan”tanyaku dengan mata berkaca-kaca menoleh padanya, namun aku teranyuh melihat mas Feri tertidur. Aku tersenyum melihat wajah polosnya, perlahan aku angkat jemariku untuk mengelus wajah tampan itu, setiap sisi wajah mas Feri hanya melukiskan keindahan tak bosan aku pandangi wajah tampan nan teduh itu, sedikit aku coba kibas belahan rambutnya yang hitam legam lagi wangi itu yng menutupi sedikit dahinya reflek aku tergerak ingin mengecup dahi suamiku itu
PLAK…. Duarrr,,
Bayangan suram ayah menerjang pintu kamar dan menyiksa ibu sembari melampiaskan nafsunya kembali terbayang, masih bisa aku rasakan gadis mungil merintih disudut kamar ketakutan melihat penyiksaan itu, aku kembali telentang sembari mengatur nafasku yang tiba-tiba terasa sesak. Aku kesal mengepal jemariku. Kenapa sulit bagiku melupakan bayangan keji dimasa lalu itu. Air mataku merintik saat melihat wajah mas Feri,
“Hiks.. Hiks.. suamiku tidak orang jahat”rintihku coba menutup telinga dari suara desahan dan teriakan ibuk yang menggemaa di telingaku. Aku terus saja menangis dengan menutup telingaku hingga mas Feri kembali terbangun.
“Sayang ada apa?”tanyanya panik.
“Mas tolong usir suara-suara itu. Aku kesal mendengarnya”ujarku mas Feri tampak nanar dan coba berkata,
“Gak ada apa-apa sayanng”singkatnya, aku gemetar.
“Mas harus bantu kamu gimana? Apa mas bisa peluk kamu?”tanyanya tampak bingung dan cemas aku tak bisa menjawab selain hanya menangis, spontan mas Feri memelukku erat, aku menghela nafas dalam saat merasakan kehangatan tubuhnya entah kenap perlahan aku merasa damai.
“Tenang sayang mas disini, Ina gak usah takut?”lirihnya mengelus rambutku hingga menciumi keningku,”perlahan bayangan buruk itu menghilang, dan jiwaku serasa tenang.
__ADS_1
Bersambung...