FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
CEMBURU


__ADS_3

Hari berlalu, Aku sekarang lebih banyak luangkan waktu bersama Aldo , dia mengajakku hampir ke setiap aktifitasnya, dari ngeband,  futsal, balapan hingga nemenin dia menyelesaikan skirpsinya yang belum kelar di kampus, sedangkan mas Feri, walau kadang dia menginap dirumah kami tak pernah bicara banyak. Kesibukan kantor dan kebersmaan dengan Aldo selalu mengurung langkahku mengurus perceraian.


Siang Ini di kampus Aldo, aku menemaninya kekampus untuk menemui dosen, dan sembari menunggu itu kami duduk ditaman.


“Mba, gimana? Setelah beberapa hari ini, jadi pengalaman apa yang mba suka?”tanyanya,


“Suka semua sih, hanya saja mungkin kedepannya, kalo balapan mba gak ikut.”ujarku Aldo terkekeh.


“Kenapa, mba Takut ya?”ujarnya.


“Takut dan khawatir juga, dan ya buat kamu Aldo, sebaiknya hobi itu di hapus aja deh, bahaya?”ujarku, Aldo menatap hangat mataku dan berkata.


“Hmm ya deh, buat mba Ina apa sih yang enggak, lagian papa gak setuju juga. Kalo balapan. jadi gak bakalan deh”ujarnya, aku tersenyum dengan sedikit mengacak rambut tu bocah, dari jarak dua meter tampak kami disapa oleh dua mahasiswa lainnya


“Broo,, dah lama banget lu gak kekmpus?’tanyanya. Aldo menunggu sembari meradukan, kepalan tinjunya pada mereka bertiga.


 


“Iya nih, kesambet gua tiba-tiba nyelesaian skripsi, “ujarnya. Ketiga orang itu melirik kearahku.


“Kenalin donk cewe lo, lama gak muncul sekarang selera lu beda ya, lebih berkelas kayaknya,”ujarnya, aku mendadak salah tingkah karna di omongin Aldo mendekat dan berbisik padaku,


“Mba Ina mau Rasain gimana pengalamannya punya cowok berondong?”mataku membulat Aldo terkekeh membawaku kedalam rangkulan dan senyum nyengir pada mereka.


 


“Iri bilang kalian, cewe gua ini direkture perusahaan, dan kami akan segera menikah.”gerutunya, aku hanya bisa mencibir mendengaarnya


“Wiih mantap, paling politik papa lu kan, demi memajukan perusahaan, mba, aku saranin ya, jangan mau sama Aldo. Dia gak ngarti sama sekali dengan bisnis, yang ada bagkrut bareng nanti,”ujarnya, aku hanya bisa membingkai senyum paksa,


“Apa sih lu, gue belajar gak belajar darah nigrat didiri gue masih melekat, jadi dah pasti ahli sendiri nanti,”ujarnya, kembali Aldo merangkulku.

__ADS_1


“Lagian calon istri gue pinter dia pasti akan bisa mengembangkan perushaan itu lebih berkembang lagi ya kan sayang?”ujarnya, mataku sedikit terbuka mendengar kata sayang, aku terkekeh pelan dan mengangguk sembari menyunggingkan senyum pada teman-temannya Aldo.


“Emang dasar ya, lu selalu beruntung Al.”timpal salaah seorangnya,


“Ah sama kali, kalian aja tu yang kurang bersykur.”ujarnya lagi aku tersenyum Dan berkata


“Ya bener semuanya harus di syukuri,” mendengaar suaraku itu mereka serentak bilang.


“B-beeh,,, suaraanyaa,, merdu.”ucapnya dengan reaksi meleleh, aku terheran dn melirik ke aldo dengan tatapan datar.


“Temen-temenku memang sedeng semua, sayang, maaf.”ucapnya, aku kembali menoleh pada ketiga pemuda itu dan terkekeh


 


Malamnya, setelah seharian di kampus menemaninya menyelesaikan skripsi hingga nogkrong bareng temannya Aldo mengantarku pulang, sengaja dia memilih pakai mobil agar lebih aman.


“Al, makasi ya, bersamamu aku jadi bisa lebih bersemangat, tapi apa kamu seperti ini, terlalu banyak aktifitas? setiap hatinya”ujarku mengingat seminggu ini Aldo selalu utamakan aku.


“Hmm.. sebenarnya ini kehidupan lama aku, semenjak papa memintaku jadi direktue aku janji akan ninggalin satu persatu, tapi karna mba Ina ingin dunia yang berbeda, aku mengulangnya Lagi. Jadi mba suka yang mana dengan duniaku?”tanyanya, sontak aku terdiam Aldo menghentikan mobilnya dan menoleh padaku, aku menghela nafas dan berkata dengan lirih,


“Mba.. mau Aldo nyanyiin lagu cinta?”ucapnya, aku terkekeh dan berkata.


“Lagu apa aja, suara kamu enak.”ucapnnya.


“Okey,, bos besok setelah ngantor kita akan ke studio.”ujarnya, aku tersenyum


“Tapi bukan beraarti aku gak boleh ngerjaian aktifitas lain ya, mba Ina harus tetep nemanin aku futsal, bantu aku nyelsaikan skripsi sama itu_”ucapanya aku cegat.


“Balapan ya Al, kalo kamu tetap mau. Jangan ajak mbak,’’


“Oh iya baik. Demi mba Ina, aku gak akan balapan lagi”ujarnya, aku tersenyum. Aldo kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju pulang, sesampai di gerbang Aldo turun dan membukakan pintu mobil untukku, bisa aku lihat dari balkon kamar mas Feri melihat kami datang.

__ADS_1


“Sampai bertemu besok.”singkatku melambaikan tangan pada Aldo. Aku melirik keatas dan beranjak masuk. Sesampai didalam aku disambut mas Feri yang turun dari tangga rumah itu,


“Dari mana aja kamu?”tanyanya aku tidak menjawab Dan terus saja berjalan kekamar, sigap mas Feri mencengkram lenganku dan berkata.


“Jawab aku Ina.”desisnya, aku memandangi wajahnya datar dan berkata.


“Kamu juga terlalu sibuk lo mas, akhir-akhir ini, dan aku gak pernah mau tau tentang urusanmu”lirihku bicara dengan gigi tergetakkan,


“Ada hubungan apa kamu dengan Aldo?.”tanyanya, aku mendegup dan memandanginya dengan tak habis pikir.


“Apa itu urusanmu mas?, aku mau pergi kemana aja, dan mau berteman dengan siapa aja. Itu bukan urusan kamu. “jawabku kesal, mas feri menarik bahuku dan coba melihat mataku dalam.


“Katakan saja, ada apa dengan kalian, apa kamu mencintainya?”lirihnya dengan sorotan tajam aku nanar melihat manik mata yang seolah cemburu itu.


“Kalo iya kenapa?”singkatku, terasa mas Feri mendorong bahuku pelan dan mengusap wajahnya, bisa aku lihat matanya berkaca-kaca, kembali aku getarkan bibirku ingin melihat seperti apa reaksinya saat aku mengatakan.


“Ya, aku mencintainya mas, dari Aldo aku mengenal banyak hal. Dia tidak munafik dan tidak rumit juga, hatinya jujur, darinya aku tau banyak hal.”ujarku, mas Feri menoleh sedikit menghela nafasnya.


“Kamu baru mengenal dia beberpa hari, seolah dia yang paling sempurna sekarang.”ujarnya, aku manggut-manggut sembari menghela nafas.


“Kamu lupa mas, aku sudah pulih dan normal,aku juga butuh sentuhan, karna sekarang kamu sangat disibukkan dengan istrimu itukan, dan ya jujur Aldo dia jauh lebih menggair-“ucapanku terhenti saat layangan tamparan tangan mas Feri melaayang di pipiku


Plak


 Air mataku merintik mengelus pipi yang terasa ngilu,nafasku tersengal dan melirik wajahnya yang tampak kesal, amarah bercampur dengan kecewa, sulit baginya untuk mengatakan sesuatu, namun masih bisa terdengar.


“Mur-ahan..”lirihya berat dengan air mata merintik, aku mendegup dan coba mengangkat leherku menatap matanya.


“Sakitkah mas? Sakit kamu membayangkan aku bercinta dan menikmati hasrat pria lain? Lalu bagaimana denganku yang menyaksikan kau cumbui dan peluk dia didepan mataku, apa kamu tidak byangkan bagaimana rasanya jadi aku, saat tau, suamiku membagi ranjangnya dengan wanita lain!”teriakku gemetar sembari merinttikkan air mata. Mas Feri tampak mengusap wajahnya dan mendekat dengan air mata merintik, dia coba elus pipiku pada tamparan yang ia daratkan tadi. Namun aku kibaas kasar lengannya,


“Ini untuk pertama kalinya kamu menamparku mas. Hiks.”lirihku dengan sesegukan menangis.

__ADS_1


“Kita sudah tidak bisa saling membahagiakan lagi, pergilah, tidak ada artinya kamu disini, kita hanya akan saling menyakiti. “lirihku beranjak lugas menaiki tangga, mas Feri tertunduk tak mau berkata apapun ataupun menyusulku.


 


__ADS_2