
POV INA
Detik jam terus saja berdetik hingga malam semakin larut, aku masih terlungkup bangun dengan memeluk bantal, gundah mengingat sikap mas Feri akhir-akhir ini, apa yang harus aku lakukan supaya dia bisa seperti dulu lagi. Walau aku sebenarnya menolak mas Feri bebankan semua kesalahan ini padaku.
Tapi tak apa saja. Apapun itu aku hanya ingin suamiku disini kembali seperti dulu lagi, ini akan sangat susah karna masalahnya memang terlalu fatal, aku bahkan ingin kembali kedetik itu dan membunuh saja semua keangkuhanku, aku tidak bisa berfikir dengan jernih, hingga aku harus menggadaikan cintaku pada mas Feri, ketulusanku tidak semurni kasih sayang suamiku,
Sekarang bagaimana saat kepercayaan dirinya terinjak-injak seperti ini, aku memang sangat bertanggung jawab akan semua gejolak yang ada dalam hatinya tapi aku bingung, apa yang bisa aku lakukan, perlahan air mataku merintik, mungkin aku juga harus bersikap seperti dia, karna memang dia sudah tak suka lagi melihatku, memaksanya untuk lebih harmonis itu hanya akan membuat dia tersiksa,
Akhirnya aku mencoba melelapkan badanku yang lelah ini berharap mimpi indah dengan cabang bayiku, keesokan harinya aku terabngun agak siang, karna aku tidur begitu larut semalam, aku duduk saat matahari sudah sedikit terik, gegas aku keluar kamar untuk melihat mas Feri di sofa, namun sepertinya dia sudah bangun bahkan sudah pergi.
“Mbok…’’panggilku gegas menuruni tangga, asistenku yang tampak berberes itupun bergegas mendekat
“Ya non?”
“Mas Feri kemana?”tanyaku. mbok lastri tampak bingung dan berkata.
“Gak bilang tu sama mbok,”ujarnya, aku berdesih dan kembali keatas mencari ponselku
Tuuuuuut…. Tuuuuuut,
“Angkat donk mas?”rengekku saat panggilan itu di matikan aku gelisah dan cemas, perlahan aku meghenyak di kasur sembari tetap menghubungi, namun beberapa kali usahaku hanya membuat aku kesal, mas Feri tidak mengangkat, dalam kegundahanku itu aku menghubungi mama.
Tuuuut
“Ya nak?”
“Mah mas Feri dia-“ucapku terdengar berat, aku menghela nafas untuk kembali bicara namun mama coba potong dengan berkata.
“Feri di kantor sayang, maaf ya. Mama tadi kabari dia mendadak pagi-pagi karna ada berkas yang gak mama pahami.”ujarnya nafasku tersengal dan coba kembali berkata dengan gemetar.
“Tapi mah, dia tidak mengangkat panggilan Ina”ucapku lirih.
“Lagi metting nak, kamu tunggu aja ya, nanti pasti dikabari”ujarnya. Aku sedikit bernafas lega.
“Kamu yang tenang dirumah ya,, jangan banyak pikiran gak baik buat kandunganya nak.’’ujar mama, aku mengangguk dan berkata lirih.
__ADS_1
“Baik mah.’’singkatku.
Siang berkunjung mas Feri kembali pulang, mendengar mobilnya datang aku bergegas turun dan menyambutnya di pintu.
“Mas,.”lirihku mendekat menjabat tangannya untuk kucium, sedikit mas Feri tarik tangannya dan beranjak kerumah, aku mengikutinya dengan tertatih karna jalannya begitu cepat.
“Mas, gak biasanya kamu, Pergi gak bilang-bilang sama Ina.”ujarku, dia berdengus dan menghenyak di sofa.
“Aku buru-buru, lagian kamu bukan nguruusin kandungan kamu aja, malah ribetin aku, terserah aku lah mau pergi kemana aja.’’ujarnya, aku mendegup.
“Ya setidaknya, kamu kasih tau mbok, kalo males ngomong sama aku.”gerutuku.
“Tu, kamu tau. kalo aku lagi males ngomong sama kamu? Masih aja nyerocos.”ucapnya sedikit lantang, aku diam melihat manik matanya dan membiarkan dia pergi kekamar.
“Okey, aku tidak akan bicara lagi.”singkatku menghenyak di sofa, mataku terasa basah dan perlahan merintkkan air mata, aku terasa sesak dan sakit sekali, sedikit aku buang nafas berat dan ku hapus air mataku.
POV FERI
Sore hari itu aku turun dari kamar untuk mencari makanan, semenjak siang tadi aku membentak Ina dia tidak datangi aku kekamar, langkahku sedikit pelan melihat dia bersiap hendak pergi dengan pakaian rapi
“Kamu mau kemana?”tanyaku, dia hanya diam seolah tak mendengar perkataanku, sedikit aku berjalan lebih kencang dan memanggilnya ketika di pintu..
“Mau kemana kamu!’hardikku, aku makin kesel tu orang belaga budek, aku kesal mengusap wajahku dan beranjak kedalam mencari mbok Lastri.
“Mbok.. mbok tau itu Ina mau kemana itu? Tanyaku, asistenku itu hanya tampak menggeleng dengan sedikit mencibir, gegas aku menyambar kunci mobil dan berusaha mengikutinya, aku tau dia itu suka gegabah, aku gak mau dia kembali menemui pria itu, bagaimanapun sekarang dia tengah mengandung anakku aku gak mau, dia ada hubungan lagi dengan Aldo. Secepat kilat aku mengikutinya yang sudah mulai menjauh dari rumah.
“Apa sih yang ada dalam otaknya, kenapa dia bisa seliar ini, bertahun-tahun menyendiri sekali lepas membabi buta, dasar wanita..”gerutuku di atas mobil mengikutiinya kesaal. Semakin jauh aku ikuti, aku makin penasaran sebenarnya dia mau kemana? Atau jangan-jangan sudah janjian.
“Emang dasar ganjen.”bisikku lagi, namun aku mendegup saat Ina, memberhentikan mobilnya di klinik kandungan sedikit aku terhanyuh, karna sudah menuduhnya macem-macem, aku hela nafas dan beranjak turun.
Didalam ruangan dokter itu terdengar percakapan, Ina dan dokter yang aku dengar dari luar.
“Saya mau imunisasi dok, sekaligus cek up kandungan di minggu kedua ini,”ujarnya,
“Baik, sebelumnya maaf buk Ina. Suaminya mana ya? Kenapa selalu cek up sendiri.”ujarnya, sedikit nafas ku tersengal. Ina menjawab dengan gugup.
__ADS_1
“Itu dok, Anu.. suami say-“ucapnya terhenti saat aku masuk.
“Maaf mas telat nyusulnya.’’ujarku mendekat padanya mata Ina membulat.
“Selamat datang bapak, kehadiran bapak sangat penting, makanya saya Tanya tadi sama Ina.’ujarnya kembali kami berdua menoleh pada buk dokter.
“Kandungan buk Ina, bisa saja sangat rentan, karna sama kita tau sebelumnya rahimnya pernah tertusuk hingga harus mengambil janinnya, dan untuk kandungan ini, kita harus menjaga extra, kondisi Rahim yang tidak begitu baik tadi, semoga saja kita bisa menjaganya bersama, selama bapak mau mengikuti protocol dari saya untuk menjaganya semuanya akan baik-baik saja.”ujarnya,
“Baik dok, saya memang sedikit sibuk,”ujarku terbata, melihatku Ina hanya bisa nanar.
“Ayo buk Ina kita periksa dulu,’’ujarnya Ina berdiri masuk kedalam bilik sembari melirikku dengan tak habis pikir, ada rasa bersalah yang terbesit di hatiku bahwa aku lupa. Ada janin yang butuh perhatianku, mungkin aku kesampingkan dulu sedikit egoku, agar semua ini lancar, lagian aku sangat lelah dengan semua perseteruan ini. Aku duduk di samping Ina yang berbaring sembari dokter mecek kandungannya.
“Kita benar-benar harus menjaganya karna janin ini sepertinya kembar.”ujarnya sontak mataku dan Ina membulat,
“kk-kembar?”tanyaku dengan terbata, dokter itu mengangguk dengan senyum reflek aku memeluk Ina karna memang memiliki anak kembar adalah impianku, dan satu hal yang pasti itu adalah darah dagingku karna mamaku punya riwayat kembar,
“Sayang, anak kita kembar?”ujarku mendekapnya, mata Ina berkaca-kaca melihat raut merona di wajahku.
“Mas? Kamu peluk aku barusan?”lirihnya dengan air mata merintik aku tersenyum mengelus wajahnya hingga menciumi keningnya,
“Emangnya belum pernah pelukan ya? Trus kenapa ada anak?”Tanya dokter dengan sedikit meledek aku dan Ina terkekeh.
“Lagi.. konflik dikit buk.”ujarku, Ina makin terheran dengan mata terbuka sedikit lebar.
“Dd-dikit?”lirihnya, aku mengangkat tanganku untuk mengacak rambutnya dengann senyum hangat, setelah mendengar arahan dan protocol kesehatan dari dokter kami beranjak keluar membawa bukti USG. Ina yang memandangiku dengan rasa tak percaya itupun reflek bertanya.
“Sikapmu tadi Cuma didepan dokter kah?”lirihnya menatap mataku dalam aku mendegup dan coba berkata,
“Aku senaang mendengar kabar bahagia ini.’’ucapku terbata, Ina tampak teranyuh dan merintikkan air matanya.
“Kamu dah maafin aku kah mas?’’tanyanya gemetar sedikit aku garuk tengkuk dan menggapai bahunya untuk aku bisa dekap, Ina menangis dalam dekapanku. untuk sejenak kami berpelukan seakan ingin melepaskan beban dan penat hati yang rindu akan pelukan hangat yang menenangkan ini
“Kamu mau kan kita, saling melupakan dan saling membahagiakan kedepannya?’’lirihnya membenamkan wajahnya didadaku dan mendekapku lebih erat, aku menghela nafass sedikit berat dan mengangguk.
“Ya sayang, mas akan berusaha,”ujarku, terasa berat emang, tapi demi cintaku padanya, dan anakku. Aku harus korbakan perasaanku.
“Terima kasih mas, hiks”tangisnya, aku hanya bisa mengelus-ngelus bahunya pelan hingga mengecup dahinya.
__ADS_1
“Kita akan mulai hal baru, kapan perlu kita menjauh dari sini, kita akan mencari tempat baru dimana tidak ada kenangan buruk, yang akan mengusik kebahagiaan kita,”ujarku, Ina terus saja menangis.
“Kemanapun itu, asal bersamamu mas, aku akan ikut.”ujarnya, ssedikit aku tersenyum tipis dan coba meringankan segala beban, walau masih terasa berat aku harus lakukan, sekali lagi aku harus tempuh jalan ini, demi kebaikan semuanya. Misiku belum selesai dalam membahagiakan Ina. Walau kali ini bukan dariku yang merancangnya aku harus tetap tuntaskan berharap ini akan segera berlalu, dan semoga ini ujian untuk terakhir kalinya.