
POV FERI
Sial, kenapa aku bisa kebablasan begitu tadi sama Rara, ini sangat meresahkan sekali sepertinya setelah sekian lama bersabar aku tidak biisa mengontrol syahwatku lagi. Dan kesalnya kenapa Rara malah nurut dan diam saja, lebih mengejutkan lagi dia malah minta nikahin, aku harus bagaimana. Aku mencintai Ina. Rasanya aku tidak sanggup jika harus mengkhianati janji pernikahan kami. Karna memang dari awal aku sudah fikirkan resiko ini,
“Tuhan beri aku kesabaran supaya aku tidak salah melangkah,”bisikku gundah. Sembari mengusap wajahku, malam sudah semakin larut otakku tak bisa berpikir dengan baik, tadinya aku fikir ini akan berhasil, karna kata psikolognya, tanamkan rasa ingin tau tentang indahnya bercinta pada Ina, tapi sama sekali dia tidak peduli, yang ada aku sendiri yang terjerat disini, aku sadar aku juga salah pada Rara, aku telah mengaduk-aduk perasaan gadis itu, wajar memang dia menyimpan perasaan untukku. Aku egois jika aku berfikir dia harus professional dengan pekerjaan ini, faktanya dia juga wanita biasa yang lemah,
“Tuhaan apa yang harus aku lakukan.”
TRAKT
Bunyi pintu kamar terbuaka , aku tetap gundah memikirkan ini yang terfikir sekarang mungkin aku harus menyendiri dulu tak banyak yang dapat aku lakukan karna memang tugas kantor sekarang di alihkan pada Ina.
“Mas, “lirih Rara. Aku menghela nafas dan tak bergeming menyahutnya
“Aku tau, aku memang lancang minta nikah, tapi apa aku harus melayanimu. Itu bukan lagi professional kerja mas, melainkan jual diri.”jelasnya terbata lagi gugup. Nafasku tersengal dan kembali mengusap wajahku hingga tengkuk
“Tolong tinggalkan aku sendiri Ra,”lirihku terdengar serak, Lara hanya bisa diam berdiri mematung aku berdiri dengan pasti setelah memikirkan sesuatu yang ada dalam fikiranku, mungkin lebih baik aku pergi dulu untuk sementara waktu. Biarakan Ina menikmati kesendiriannya dan aku juga bisa berjauhan dengan Rara karna jujur, keindahan sikap dan kecantikan Rara juga kadang membuatku lemah iman. Reflek aku menyambar tas dan pakaianku di lemari tamu itu, aku punya simpanan baju-baju lama disini, aku gak mau balik lagi kekamar kami yang di atas, mungkin aku tidak usah saja melihatkan wajah pada Ina biar dia tenang.
“Mas kamu mau ngapain?”tanyanya.
“Mungkin aku harus menyendiri dulu Ra, Ina butuh ruang untuk bisa pulih, dan aku mungkin perlu waktu agar bisa mengontrol birahiku, maaf akan sikapku yang lancang,”jelasku sembari tetap mengemasi barag-barang,
“Mas aku gak marah, kalo kamu gak suka aku mintai nikah, ya udah lupakan aja, aku gak mau membebankan fikiranmu tentang ini, aku memang terlalu lancang meminta kamu untuk menikahiku mas?”ujarnya, aku berdesih dan berkata.
“Aku yang salah Rara maaf.’’singkatku menyandang tas dan mengambil kunci mobil
.
__ADS_1
“Tapi kamu mau kemana mas?” mba Ina dia pasti nanyain kamu? Aku jawab apa”ujarnya, aku mendegup dan melirik pintu kamar yang diatas.
“Pinter-pinter kamu deh ngomong apa, yang jelas sekarang aku mau menyendiri dulu,”tegasku,dan berlalu pergi, Rara hanya bisa diam dan tak berusaha mencegatku lagi.
POV INA
Pagi berkunjung, entah bagaimana aku mengahabiskan waktu semalaman disini aku hanya bisa terrdiam kaku menatap langit malam berbaur hingga membentuk fajar datang. bayangan malam panjang mas Feri membuat mataku enggan terlelap. Mereka bercumbu dengan penuh cinta dan bergelayut damai seperti haus sentuhan satu sama lain, wanita itu melayani suamiku dengan baik, hingga tubuh kekar mas Feri menggendongnya kekamar, untuk sejenak aku terfikir itu pasti membahagiakan sekali, aku memang sudah tidak waras hanya pecundang yang membiarkan suaminya mendatangi wanita lain dengan hasrat dan aku disini hanya bisa diam mematung dengan air mata berurai, perlahan
aku turun kebawah saat mendengar Rara sibuk di dapur. Semalam aku mendengar mobil mas Feri menyala mungkin aku fikir mereka keluar buat nyari angin.
“Pagi Ina”sapaku, wanita itu menoleh saat menyeduh coffe. Aku melirik coffe yang ia aduk dan menghenyak di kursi mejam makan
“Itu coffe buat siapa?'"
“Oh, ya udah aku akan bikinkan Teh dulu untuk mas Feri.”sigapku berdiri dan menyambar gelas di lemari. Rara tampak nanar mengaduk-ngaduk coffee seperti ada yang menganggu pikirannya. Melihat ekpresinya aku reflek bertanya tentang apa yang terjadi semalam
“Ra, maap semalam aku melihat kalian bercumbu?”ucapku pelan lagi terbata, reflek Rara menoleh dan menatap dalam manik mataku. Aku mendegup dan kembali getarkan bibirku untuk berucap.
“Apa yang membuatmu begitu nyaman dan menikmati itu?’’tanyaku Rara masih diam diam.
“Aku rasa itu alami mbak, siapapun pasti terbuai dengan kelembutan mas Feri”Lirihnya, aku tertunduk dan menghela nafas,
“Benarkah? Aku benar-benar ingin sekali menjadi normal, bisa aku lihat mas Feri menatap dalam dan hangat saat menggendongmu kedalam kamar, itu pasti membahagiakan sekali”ucapku pelan sembari tetap fokus menyendok teh dan menyeduhnya. Rara menghentikan adukan sendoknya pada coffe dan menoleh padaku
“Mba melihat semuanya?”Tanya Rara, aku tersenyum simpul dan berkata
__ADS_1
“Maaf, aku tak sengaja liat, lagian kalian bercumbunya di ruang tamu”Bisikku dengan sedikit memainkan wajahku. Sedikit aku hela nafas agar aku tak merintikkan air mata. bagaimanapun aku tetaap sakit saat aku sendiri tak bisa seperti dengan mas Feri
”‘Mba tidak cemburu?”tanyanya tak habis pikir aku terdiam sembari menggeleng, dan mengangkat nampan di tanganku
“Aku antarkan ini dulu sama mas Feri ya?”timpalku mengalihkan pembicaraan aku berjalan karah kamar Rara sembari membawa Teh hijau untukk mas Feri namun langkahku terhenti saat Rara mencegatku.
“Tapi mbak? Mas Feri.”ucapnya lirih dan bingung mau lanjutkan untuk sejenak aku menatap raut wajahnya.
“Ya ada apa dengan mas Feri.”tanyaku menautkan alisku.
“Mas Feri pergi mbak”tegasnya dengan nafas tersengal untuk sesaat aku bungkam
“Maksudmu apa per?.’’ Rara berdengus dan berkata.
“Mas Feri, dia tidak bahagia bersamaku mbak, dia ingin sekali memadu kasih dengan mba Ina dan mempunyai anak dengan mba itu harapannya mba, “jelasku.
“Lalu dengan pergi dia bisa wujudkan itu” ucapku nanar.
“Mas Feri putus asa mba, dia ingin menyendiri’ujarnya lagi, aku menautkan alis dan berkata.
“Kenapa kamu tidak mencegatnya, semalam aku fkir kalian keluar buat nyari angin’’timpalku mulai panik Rara hanya bisa diam.
“Lagian’kan ada kamu, kamu pasti bisa membuat dia nyaman,”ucapku berat.
“Dia berharap mba Ina bisa pulih, dan bisa melayani suami sepertiku atau seperti wanita pada umumnya”Jelasnya, air mataku merintik dan gemetar memegangi nampan, aku tidak sanggup jika mas Feri pergi dari sini bergegas aku ambil ponsel dan menghubungi suamiku itu'
“Angkat donk mas?’reengekku mencoba menelponnya berkali-kali, aku kembali menangis terisak saat nomor itu tak aktif lagi.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMENT YA.