
POV INA
Flascback
00:29
Aku mendenngar suara yang menjijikan dari kamar mas Feri dan Rara, telingaku sakit mendengarnya hingga aku sumpal pake bantal, namun suara itu berada dimana-mana hingga aku kesal melempar bantalku dan beranjak keluar kamar untuk menghentikan mereka, kesaal karna merasa ketenanganku terganggu.
Sesampai disana lama aku terdiam dan mondar mandir ragu mau ketuk apa tidak ini pintu tapi, suara desahan Rara semakin jelas terdengar. Aku memilih beranjak dan kembali ke kamar dengan kesal
“Sial!”kesalku menghenyak di pintu, entah kenapa ada rasa sakit di dadaku terasa sesak dan perlahan mataku mengaliiri air hangat, aku merebah sembari merengek meredam suaraku dengan telapak tangan, kesal suara itu selalu menggema di telinga aku menutupnya dengan bantal sembari tetap menangis terisak-isak,
“Aku benci cinta, cinta itu itu menyakitkan!”gerutu sembari tetap mengurutu dadaku, perlahan suara itu menghilang, aku mendegup tangis dan coba duduk, kembali aku bersimpuh memeluk kedua lututku dan merunduk’
“Hiks hiks..’’
Entah bagaimana malam berlalu aku menyambut pagi dengan tangis, melihat mentari tlah terbit aku duduk dan beranjak kekamar mandi, mencuci wajahku yang tampak sembab dan pergi kedapur meyiapkan sarapan untuk mas Feri,
“Mba,” Sapa Rara saat aku duduk di teras samping rumah menghadap ketaman, setelah melepas mas Feri pergi kekantor tadi aku memilih menyendiri menunggu mas Feri kembali menjemputku untuk pergi terapi, tau aku tak merespon Rara kembali memanggil.
“Mba.. Ina?”panggilnya lagi, aku menoleh dengan sedikit menyuggingkan senyum hangatku sedikit terpaksa
“Ya Ra? Ada apa?”sahutku.
“Seharian mbak murung dan duduk disini, Rara bête mba dirumah, Temenin Rara nonton yuk?”ujarnya
“Aku gak suka nonton Ra, kamu sendiri aja ya, maaf.”singkat, maduku itu duduk disampingku dengan manyun,
“Abis kita ngapain mba, mana Rara lapar, mba temenin Rara keluar donk?’pintanya, berdiri beranjak menyeret tanganku aku menarik tanganku dan berkata, gk tau kenapa semenjak kejadian semalam aku bawaannya kesal liat wajah Rara
“Kalo laper makan donk? Emang buat buka lemari makanan aja gak bisa ya?”gerutuku.
“Iiiih mba… , mba Ina’nya masak seafood aku alergi mba. Trus Rara makan apa donk sekarang?”rengeknya aku berdesih dan reflek membentaknya,
“Ya kamu usaha donk! Itu di kulkas ada telur, masak iya buat dadar telur aja gak bisa!”
Seketika mata wanita itu membulat.
“Rara gak bisa mba..”ucapnya pelan, aku berdiri dan berkata dengan kesal.
“Trus kamunya bisa apa sih Ra?!”ucapku tak habis pikir . Rara hanya bisa tertunduk memilih bungkam, aku berdesih sembari beranjak kedapur membuka kulkas
Trakt.
Pintu kulkas sedikit aku banting aku kesal menceplok telur ke wajan dan mengaduknya keras, melihat aku seperti itu Rara mendekat dan berkata.
“Gak usah di lakukan mba, kalo mba gak iklas!’’ujarnya. aku melirik dengan sinis dan meletakkan wajan itu kasar hingga telur itu tumpah. Rara mendegup melihat meja itu berantakan,
“Kalo gak suka sama Rara bilang mba, mba gak usah ngamuk-ngamuk gak jelas gini!”gerutunya aku diam melihat wajah wanita itu yang sudah mulai kesal.
“Kenapa? Mba Kesel kah? Mba gak suka ya kalo mas Feri tidur di kamarku semalam? Mba kok aneh, bukannya mba yang nyuruh suami mba nikah lagi? Trus sekarang salahku apa? Apa aku harus menerima perlakuan mba yang gak mengenakkan gini?”gerutunya, aku mendegup dan gemetar ingin menjawanb pertanyaannya namun aku tak bisa. karna di cegat oleh Rara
__ADS_1
“jadi, mulai sekarang nyadar diri aja deh kalo mba itu emang gak bisa jadi istri yang sempurna buat mas Feri,“tandasnya, nafasku tersengal dan coba mengepal jemariku, tiba-tiba mataku terasa basah,
“Kamu sudah merasa paling sempurna begitu?”desisku memandanginya datar.
“Setidaknya aku bisa memenuhi kebutuhannya, lagian mba bukannya pergi aja, dari pada membebani mas Feri gini,”gerutunya aku menghela nafas sesak.
“Apa yang membuatmu sepercaya diri ini?”lirihku menautkan alis, Rara tersenyum kecut dan reflek mendekat’ dia sedikit tertawa renyah dan berkata pasti.
“Pelukan, sentuhan kecupan dan dan perlakuan mas Feri di ranjang, aku bisa rasakan bahwa dia tidak akan pernah melepaskanku, aku melihat dia haus akan sikapku yang agresif, jadi jangan mimpi, kalo mas Feri akan tetap mencintai mba selamanya saat nanti, aku mengandung buah cinta kami”jelasnya, mataku membulat sedikit aku terhuyung dan bertumpu ke meja agar tidak oleng,
“Kenapa? Apa mba sekarang sadar betapa tak bergunanya mba?”ujarnya, aku merintikkan air mata dan menutup telingaku
“Tolong jangan bicara lagi “rengekku merintikkan air mata. Bisa aku lihat Rara berlalu dengan kesal, aku dengar dari kamarnya dia menelpon mas Feri.
“Mas cepet pulang ya, bawakan Rara makanan. Mba Ina ngeselin mas, masa dia marahin Rara”rengeknya, aku tidak tau jawaban mas Feri lewat sambungan telponan itu yang jelas, dia pasti menuruti Rara untuk cepat pulang
Tak butuh waktu lama mas Feri datang, bnar saja dia langsung datangi kamar Rara untuk mengantarkan makanan, setelah itu dia temui aku di kamar,
“Sayang?”tanyanya aku menoleh dengan binar mata berkaca-kaca.
“Ada apa, kok kamu gitu sama Rara?” tanyanya aku menoleh dan menatap mas Feri datar.
“Kenapa? Apa istri mudamu itu ngadu? “singkatku,
“Kamu gak boleh gitu donk sayang? Rara dia baru datang, kamu harus bikin dia nyaman disini”ujarnya aku berdesih dan berkata,
“Emang dia ngadu apa sih sama kamu mas? Aku hanya mengajari dia mandiri, masak bikin dadar telur aja gak bisa, dia itu yang harusnya jaga cara bicaranya masak dia bilang aku tidak berguna dan pergi saja dari sini, emang dia siapa”gerutuku, untuk sejenak mas Feri terdiam
“Ya sudah, kita bahas ini nanti kamu bersiap gih, kamu harus menjalani terapi”titahnya dengan sigap aku berdiri dan menyambar blezerku,
“Aku harus sembuh, dan menyingkirkan wanita sombong itu dari sini,”batinku di hati. Untuk pertama kalinya aku sangat berharap bisa pulih dan normal kembali, aku benci dengan sikap Rara percaya diri sekali dia mengusirku dari sini.
Setelah dari klinik kami kembali pulang namun aku dan mas Feri sama-sama terkejut saat melihat mama Rania sudah ada di rumah,
“Mama”Lirihku datang mendekat sembari memeluknya, aku bisa lihat raut wajah mama yang penuh tanda Tanya melihat Rara ada dirumah itu.
“Mama kok gak bilang Ina dulu, kalo berkunjung”ujarku mama tersenyum mengelus wajahku.
“Mama kangen kamu sayang,”ujarnya dia melirik pada mas Feri yang tampak kikuk.
“Fer,semua baik-baik aja kan? Siapa wanita yang didalam rumah kalian itu”ujar mama menoleh pada Rara yang berdiri di ruang keluarga. Aku mendegup dan coba menyeret mama masuk.
“Mama kita masuk dulu ya”pintaku menyeret mama, mas Feri tampak menyeret Rara masuk kekamarnya mama makin bingung melihat glegat dua orang itu.
“Sayang apa yang terjadi?’tanya mama dengan nanar. Sesampai dibalkon kamaar aku memeluk mama dengan menangis histeris.
“Ada apa nak?”Tanya mama mengelus kedua pipiku.
“Ma aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk mas Feri, jadi aku menyuruh suamiku menikah lagi”ucapku lirih seketika mata mama membulat
__ADS_1
“Maksudmu apa? kamu suruh Feri menikah lagi?”ucapnya terbata dengan tak habis, pikir aku diam sembari tertunduk. Reflek mama meremas bahuku dan mencengkramnya kuat.
“kamu sudah gila apa? Kamu tau, mama datang kesini mau denger kabar bahagia dari kamu tapi malah ini yang mama denger, kok bisa Ina, apa yang terjadi?”Tanyanya tak habis pikir . aku mengangkat sedikit leherku untuk bisa menatap manik mata mama,
“Mama tau kan aku memiliki keterbalakangan, aku baru mengetahui kebenarannya sekarang bahwa aku tidak benar-benar sembuh ma. Trauma yang sebenarnya adalah, aku tidak bisa menjadi istri yang baik?”rengekku mama menatap lekat manik mataku, seolah ia ingin tau kejelasan dari apa yang telah aku ucapkan barusan.
“Ya Mah, Ina tidak bisa melayani mas Feri dengan baik,”lirihku tertunduk untuk sejenak mama terdiam.
“Lantas apa saja usaha Feri setelah selama ini, dia berusaha menyembuhkanmu apa aja? Nurut aja gitu nikah lagi’’tanya mama tak habis pikir . aku mendegup dan mengenggam tangan mama.
“Ma percayalah, mas Feri sudah sangat sabar selama ini mah, ini semua permintaan Ina.”ujarku meyakinkan mama.
“Ina, mama pengen kamu segera hamil nak, kamu kan tau, kita tidak punya pewaris untuk perusahaan mama, dan sekarang kamu malah menyuruh Feri menikah lagi, mama gak mau Feri memanfatkan ini dan mengahancurkan perusahaan mama hanya karna wanita itu,’’ ujarnya aku sedikit menghela nafas dan berkata,
“Mama, aku tau banget bagaimana, dia gak akan memanfaatkan mama. Jadi mama tenang aja ya?”bujukku mama menghela nafas dan beranjak sembari menggurutu,
“Gak bisa wanita itu harus segera pergi dari rumah ini”gerutunya mencari Feri dan Rara aku cemas membuntuti mama ke bawah sembari berusaha mencegat .
“Ma percaya sama Ina, Mas Feri gak akan macam-macam’’ bisikku, mama makin greget saat sudah berada diantara mereka.
“Feri?” panggil mama dengan serntak melayangkan tamparan mataku membulat sambil menutup mulutku dengan tangan, mas Feri tampak tertunduk sembari mengelus pipinya karn tamparan mama yang cukup keras,
“Keterlaluan ya kamu? Anakku, dia butuh obat, tapi kamu malah menambah- nambah deritanya, kemana akal sehatmu ha, kamu wanita laim ini kerumah ini? Aku tidak bisa terima ini Fer, usir dia dari sini,”geram mama dengan gemetar, nafasku tak beraturan melihat kemarahan mama.
“Mama tolong dengerin Ina mah, mas Fer-“ucapanku terhenti saat mama membentak.
“Diamlah Ina!”
Dada mama kembang kempis menahan amarah yang tersulut didadanya,
“Tante tolong maafka-“ucapam mas Feri dipotong oleh mama.
“Waktu itu saya kurang setuju saat kamu melamar Ina namun saya coba pikir-pikir lagi, karna memang saya fikir tidak ada salahnya jika saya menyetujui hubungan ini, kamu tau kan, putri saya pewaris satu-satunya perusahaan, saya merasa bersalah pada kedua almarhum orang tuamu jika saya terlantarkan kamu,, demi Ina dan mengingat ayahmu adalah sepupu saya, saya menyutujui hubungan kalian hingga saya alihkan semua tanggung jawab perusahaan padamu, tapi apa yang saya dengar hari ini, kamu tidak tau balas budi Feri, tega kamu menyakiti putriku,”jelas mama, aku sedih melihat wajah mas Feri tertunduk didepan mama, aku tidak suka jika harga diri suamiku bisa tertindas begini, bergegas aku hapus air mata dan mendekat pada mama
“Mah, percayalah mas Feri tidak salah, Ina yang mintak mas Feri menikah lagi”lirihku bicara pelan pada mama. Mama menatap mataku yang basah karna berurai air mata, mama mengertakkan rahangnya dan merintikkan air mata kesal, seketika ia hela nafas dan menoleh pada wanita itu.
“Dan kamu murahan! Beruntung sekali ya menjadi dirimu, apa kamu tidak punya urat malu”celetuk mama lagi aku mengenggam lengan mama dan tampak memelas agar menghentikan sikapnya, mendengar itu Rara juga ikut bungkam tertunduk. Mama kembali menoleh padaku dan berkata,
“Apa maumu Ina? Apa kamu mau mama menuruti permainan ini apa?”tanyanya tak habis pikir, aku tertunduk dengan air mata deras,
“Tante, terlepas dari semua ini saya menyayangi Ina saya tidak mau di pisahkan dari dia” ucap mas Feri, mama terdengar berdesih, aku mengenggam kedua telapak tangan mama dan meminta
“Mah, untuk kali Ini biar Ina yang menjalani kehidupan yang Ina pilih sendiri, ,mama percayalah, akan ada jalan yang terbaik buat Ina”Lirihku,mama berdesih menarik tangannya.
“Okey, jalani kehidupanmu, dan untuk perusahaan, mohon maaf, saya tidak bisa percayakan Feri lagi,”ujarnya aku mendegup dan menoleh pada mas Feri dengan mata membulat,
“Tapi mah, Ina butuh terapi dan biaya lainnya”ucapku terbata.
“Ya itu mulai sekarang, kamu direktur perusahaan, saya akan berikan surat resign untuk Feri lebih baik mama bertindak sekarang, dari pada putri mama rugi bnyak nanti”ucapnya pelan melirik pada Rara. Aku menghela nafas lega,tadinya aku fikir mama akan membuangku dan mengingatkan aku tentang siapa aku sebenarnya tapi demi tuhan dia orang tua yang paling sempurna di dunia ini, mama menatap sinis mas Feri. dan berkata
“Selamat bertemu di ruangan direkture besok di kantor Feri, saya berharap saya tidak menemukan keganjilan di berkas keuangan kantor besok”ujarnya pada suamiku mas Feri tampak menggangguk,
“Dan kamu jalang!, Jangan senang dulu karna putriku mendukung penuh hubungan kalian, aku ada disini, ibunya masih hidup, jangan pernah berani macem-macem sama putriku,”ujar mama beranjak pergi, mama berdengus kesal saat melihatku dan berlalu pergi. aku hanya bisa buang nafas berat melihat tatapn kesal mama padaku.
__ADS_1