FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
BENIH


__ADS_3

Dua hari berlalu, tak bisa aku pungkiri jauh dalam lubuk hatiku aku sangat mengkhawatirkan mas Feri yang tidak ada kabar, tapi saat aku mengingat Rara mengatakan kalau dia hamil hatiku terasa hancur berkeping-keping, 


Tak mau selalu dalam rasa penasaran ini akhirnya aku putuskan untuk cari tau, terakhir kali mas Feri sedang tidak sehat, jika dia tidak bersama Rara lalu dia kemana, aku coba menghubunginya namun kudapati nomornya tidak aktif, tanpa pikir panjagpun aku berdiri mengambil tas dan kunci mobil. Namun aku tersintak saat mendengar ponselku berdering reflek aku menyambar dan mengangkatnya.


“Ya mas? Kamu dimana?”ucapku saat menempelkan ponsel didaun telingaku.


“Mas?”tanyanya, reflek aku menoleh ke laayar ponsel dan aku terkejut melihat Aldo yang telpon,


“Maaf Al, aku fikir mas Feri.”ucapku terbata,


“Kenapa, apa penting ya kalau ada telfon dari Feri,” aku menggigit bibir bawah dan bingung mau bilaang apa.


“Gak sayang, maksudnya. Mas Feri dia gak ada kabar, aku mau berikan gugatannya.”ucapku lega saat aku bisa mendapatkan alasan.


“Oh, iya Sayang, hari ini aku gak bisa nemenin kamu, papa baru datang dari luar negri. Jadi hari ini aku agak sibuk dirumah.”ucapnya, aku mengangguk.


“Gak apa-apa. Aku juga mau istirahat.”singkatku.


“Baiklah, besok saat aku sudah bisa bicara sama papa, aku akan kenalkan kamu padanya,”ujarnya, aku mendegup walau kedengarannya itu tidak mudah, karna aku tidak yakin orang tua Aldo akan menyetujui hubungan ini,


“Ya sayang,”singkatku sembari menghela nafas gundahh mematikan ponsel itu.


Tanpa pikir panjang aku langsung melajukan mobilku kekediaman Rara, aku memilih memantau tempat itu dari jauh namun aku tidak lihat mobil mas Feri disana, aku menunggu beberapa saat untuk memastikan Rara,, apa  ada disana juga atau bagaimana. Dan aku beruntung, aku melihat dia keluar dengan cemas mengotak atik ponselnya sepertinya dia juga tidak tau mas Feri dimana, merasa sudah menemukan jawabannya aku kembali pulang, sepanjang jalan aku kalud mas Feri memilih menyendiri saat dia benar-benar terasa kacau dan gundah, apa yang membbuat dia merasa seperti itu jika dia mendapatkan kabar bahagia dari Rara.


“Wanita itu sudah hamil… trus apa lagi yang membuat dia kacau”gerutuku tak habis pikir, aku kembali pulang dan ikutaan kesal karna dari tadi aku tidak bisa hentikan pikiranku untuk tidak mencemaskannya. Kembali aku mengotak atik ponsel dan menghubunginya, tapi aku harus berdesih kesal karna nomornya masih tidak atktif.

__ADS_1


Malam harinya saat aku duduk di balkon kamar, aku mendengar suara ketukan pintu dan teriakan Rara memanggil mas Feri, aku berdesih dan coba beranjak turun membukakan pintu, mataku tajam memandanginya kesal saat membuka pintu, wanita itu terlihat sangat kacau dengan mata sembab,


“Mba Ina, mas Feri kemana? Kenapa dia tidak mengaktifkan ponselnyaa.”ucapnya merengek. Aku menautkan alisku dan berkata.


“Ya mana aku tau,”ucapku, Rara mengusap wajahnya dan menyelonong masuk.


“Katanya dia ingin menenangkan diiri, tapi kenapa dia mematikan ponselnya, aku yakin dia disini kan?”ujarnya mencari mas Feri dimana-mana. Aku hanya bisa diam melihat glegatnya.


“Mas,, mas Feri kamu dimana?”pangginya beranjak ke atas.


“Dia tidak ada disini Rara, bukannya dia sangat menyayangimu ya? Dia pasti akan mengabarimu,”ujarku Rara pank menyibak rambutnya sembari air matanya mengucur.


“Aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini hiks…”tangisnya aku menautkan alis dan geleng-geleng tak habis pikir.


“Kamu memang keliatan sudah seperti orang tidak waras.”ucapku pelan. Rara menoleh dan berkata.


“O,”Singkatku, Rara berdesih melihat wajahku datar yang membuat dia jengkel dan kembali keluar rumah bergegas, aku membalik dan menoleh melihat langkah Rara yang tampak gontai. Aku mendegup bagaimanapun aku juga sangat cemas, dan sangat ingin tau kabar mas Feri secepatnya tapi, aku pilih bodoh amat, karna jika dia disinipun dia lebih mengutamakan Rara.


 


Keesokan paginya, aku terbangun dengan suhu badan yang terasa panas, aku tak bersemangat untuk bangun, aku pusing dan sedikit terasa mual, ku usahakan beringsut dan duduk namun aku makin pusing hingga mual seperti ingin memuntahkan semua isi perutku, gegas aku berlari kekamar mandi dan memuntahkan yang begitu ennek di teggorokanku.


“Uwweks… kenapa dengan perutku..” bisiku sambil berkumur-kumur, gegas aku menghubungi dokter dan kembali berbaring di atas tempat tidur menunggu dokter datang.


 Satu jam berlalu aku selesai di periksa,

__ADS_1


“Ada apa denganku dok, kenapa aku bisa deman pusing, dan muntah-muntah seperti itu.”ujarku, dokter itu hanya tersenyum dan berkata.


“Taka da apa-apa, buk Ina hanya sedang hamil, jadi selamat ya.”ucapnya senyum mataku membulat dan mulutku sedikit ternganga.


“Hamm-il?”lirihku, Dokter itu megangguk.


“Selamat ya, saya akan berikan obat anti mual dan vitamin, jadi banyak beristirahat saja.”ujarnya, aku mendegup dan mengangguk ragu, aku hanya bisa nanar saat dokter memberikan obatnya hingga berlalu pergi. Air mataku sontak saja merintik.


“Hamil?”ucapku masih tak habis pikir, aku bingung apa aku harus berbahagia atau bersedih dengan berita ini. Tapi  entah kenapa aku miris saat mas Feri sekarang pasti lebih meinginkan anaknya Rara.


 


Siangnya, aku sudah di kantor, aku harus datang karna ada hal yang penting, setelah memakan obat mual dan vitamin itu aku sedikit pulih dan usahakan untuk kekantor didepan meja kerjaku aku nanar dan bingung sekali dengan keadaan ini.  Entah berapa lama aku duduk didepan meja kerjaku sembari melamun hingga.


Cup…


Kecupan lembut mendarat di pipiku, aku menoleh melihat wajah Aldo tersenyum manis, aku memandanginya datar kok bisanya aku bengong hingga aku tidak tau dia masuk dan aku mencari manik mata pria itu seksama. sempat terfikir bahwa aku tidak bisa lanjutkan hubungan ini, aku mengandung benih pria lain, tapi aku sedih melihat wajah Aldo yang sangat tulus menyayangiku Ini.


“Kenapa bengong? Kangen aku ya?”rengeknya, aku menghela nafas dan coba menggetarkan bibirku padanya,


“Al.. aku hamil.”singkatku, mendadak raut wajah Aldo berubah, aku coba menatap bola matanya dan berkata kembali.


“Aku hamil anaknya mas Feri..”lirihku, dengan air mata merintik, Aldo memilih menjahit bibirnya melihat-lihat setiap sisi wajahku, sepertinya dia berharap kalau aku sekarang tengah mencandainya.


"Gak lucu!"singkatnya terkekeh mencubit pipiku

__ADS_1


"Benar Aldo, aku hamil."tegasku lagi,untuk sejenak Aldo memilih diam.


__ADS_2