FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
MENDADAK


__ADS_3

Dua minggu berlalu mas Feri tampak sangat sibuk sekali akhir-akhir ini. Walau aku selalu cek ponselnya setiap pagi dan malam dan tidak ada hal yang mencurigakan, tapi tetap aja aku tidak tenang, sore ini aku mau susul dia kekantor. Namun ketika aku keluar rumah aku melihat Aldo memasuki perkarangan rumah dengan motor Gpnya.


“Sore mba,”sapanya.


 


“Ya Al? Ada apa?”tanyaku. dia turun dari motor melepaas helmnya dan beranjak mendekat.


“Mba Ina mau kemana?’’Tanyanya.


“Mau kekantor nyusul mas Feri”ucapku.


“Oh dia belum pulang toh. Aku datang mau menemui dia sih. gimana donk? Jadi mba mau kekantor? Nebeng aku aja? Nanti pulangnya barang suami mba aja?’ujarnya, aku berfikir sejenak. dan bener juga sih nanti aku bisa pulang bareng mas Feri.


“Ya udah ayok. Makasih Ya Al sebelumnya.”ucapnya naik keatas motorgp Aldo.


“Hati-hati mba, mba pernah naik motor gak sebelumnya?’’tanyanya aku terkekeh.


“Dulu.. itu dah lama banget.”timpalku.


“Ya udah hati-hati pegangan ya.”ucapnya sebelum tancap gas.


Sesampai disana, aku tak dapati mas Feri berada diruanganya padahal iini sudah sore, aku bingung dan coba menanyakan pada sekretarisnya yang tampak bersiap juga hendak pulang. Sedangka Aldo juga tampaknya menyimak.


“Bambang bapak mana ya?”tanyaku, untuk sejenak terlihat bambang kikuk higga menggaruk tengkuknya melihat itu aku bingung.


“Anu.. pak Feri mungkin keluar sebentar.”jawabnya asal, aku mengerutkan kening,


“Emang tadi disini?’tanyaku datar,


“Ii-iya, udah ya aku buru-buru mau pulang. Ini dah sore.”ujarnya aku mengangguk Ragu. Dan menoleh pada Aldo.

__ADS_1


“Kira-kira kemana dia?’tanyaku, Aldo mencibir dengan sedikit meengangkat bahunya. Aku kesal dan coba hubungi nomornya mas Feri.


 


Tuuuuuut…


Panggilan itu tersambung namun mas Feri enggan mengangkatnya, hingga aku coba berulang kali kudapati nomornya sudah tak aktif. Aku makin panik dan coba mengirimi dia pesan namun gerak jariku terhenti saat aku melihat ada pesan dari mas Feri.


 


“Sayang maaf, mas Gak bisa pulang karna mas tadi jenguk pekerja korban kebakaran itu kekampungnya, mungkin mas akan kembali esok hari.”tulisnya, aku bingung kenapa tiba-tiba mendadak begini.


“Ada apa?’’tanya Aldo ku menoleh padanya dan berkata,


“Mas Feri dia keluar kota mendadak, padahal sebelumnya kita gak bahas ini.”ujarku Aldo tampak mangggut-manggut dan berkata.


“Mungkin dia merasa ini sangat penting, tapi sepenting itukah?"ucap Aldo akupun sependapat dengannya


"Sepertinya kita tidak aakan menemui Feri, bisa kita kembali saja.”ujarnya aku mengangguk lesu dan mengikuti langkah kaki Aldo keluar menuju loby


“Maaf ya Al, aku jadi repotin kamu? Oh iya? Kamu mau ketemu mas Feri ngapain sampai cariin kerumah?”tanyaku.


“Ya gak ada sih cuman bahas pekerjaan aja, diluar jam kantor pasti enakkan gak terlalu formal.”ujarnya aku manggut-manggut.


 


“Mba ini udah sore, gimana kalo kita singgah dulu di café buat makan, ya itung-itunng buat rayain kerja sama kita sih, lagian mba ngapain pulang, kan dirumah gak ada siapa-siapa ujarnya, aku berdesih pelan dan berkata.


“Maaf Al, mba langsung pulang aja. “lirihku.


“Aku kecewa lo mbak. Itung-itung ini balasanku, karna mba Ina pernah ngundang Aldo makan malam waktu itu?’’ujarnya. aku menghela nafas, bagaimanapun Aldo ini orang yang sudah berjasa bagi perusahaan kami, aku segen aja jika harus menolaknya.

__ADS_1


“Sekalian lewat aja kok mampir dulu kita sebentar, “ujarnya.


“Ya udah deh, baiklah.”ujarku, terdengar Aldo terkekeh girang.


“Makasih ya mbak.”


 


Sesampai disana kami berdua duduk berhadapan-hadapan di meja café bundar mengarah langsung pada pemandangan perkotaan di lantai lima itu, bisa aku lihat langit Jakarta sudah mulai gelap berbias jingga yang sejuk di pandang mata. Aku resah dengan kepergian mas Feri yang mendadak ini.. entah kenapa aku sedih, karna tak biasanya dia seperti itu.


“Mba.. mba mau makan apa?’’tanya Aldo.


“Terserah aja Al, kamu samakan aja dengan pesananmu.”ujarku. Aldo mengangguk dengan senyum dan kembali menoleh pada papan menu.


“Kentang bakar keju dan steaknya dua.”ujar Aldo pada pramusaji,


“Baik tuan”


Setengah jam berlalu, merasa cukup lama aku diam, melihat itu Aldo coba menegur dengan berkata.


“Memangnya korban kecelakaan kerja itu, berapa orang? Apa mba udah cek sendiri?’ucapnya, aku berfikir sejenak dan menggeleng.


“Belum sih. Katanyaa ada satu,”singkatku terus saja fokus memotong stik.


 


“Hmm aku rasa coba cari tau deh, mana tau ada sesuatukan yang kitaa tidak tau?”ujar Aldo aku tampak mengangguk pelan.


“Benar juga sih Al? tapi buat apa juga mas Feri sembunyikan orangnya?’tanyaku.


“Gak tau, mungkin, ini ada hubungannya sama ketakutakan dan kecemasan yang ada dalam diri mba Ina selama ini?”jelasnya yang membuat aku bingung.

__ADS_1


“Kecemasanku hanya satu yaitu Rara, tapi apa hubungannya sama Rara?”tanyaku tak habis pikir.


“Coba mba cari tau aja deh? Mana tau kan?”ucapnya sembari menyeruput minumannya, aku mendegup dan gemetar membayangkan tingkah mas Feri yang sudah sangat berbeda jauh akhir-akhir ini.


__ADS_2