FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
DIAM


__ADS_3

Dibawah langit malam di ibu kota Jakarta motor Aldo melaju pasti kekediamanku, sepanjang jalan aku selalu berfikir, tentang masalah yang begitu mengusik hati dan pikiranku, aku tidak bayangkan jika itu benar, berarti sekarang duniaku tengah tidak baik-baik saja, aku gemetar dan kalud sekali. Hingga tak aku sadari motor Aldo berhenti didepan rumah.


“Kita dah sampai.’’ucap Aldo aku tersintak dan berusaha untuk turun.


“Makasih ya Al, maaf aku gak bisa memintamu untuk masuk karna mas Feri tidak ada dirumah,”ujarku terbata, Aldo mengangguk dan berkata.


“Oh, gak apa mba, Aldo juga mau langsung pulang,”ujarnya Aku diam saat Aldo menyalakan mesin motornya, namun aku kembali menoleh saat motornya tak jalan-jalan jua, sedikit aku menoleh melihat wajahnya. yang dari tadi tertunduk


“Jangan terlalu di fikirkan, Aldo gak mau mba Ina kenapa-napa”ujarnya aku tersenyum dan mengangguk.


“Makasih ya”ujarku Aldo tampak tancap gas dan seketika menghilang, nafasku tersengal melangkah gontai masuk kedalam rumah. Tak sabar menunggu esok hari datang. Agar bisa aku selediki kebenarannya.


 Pagi berkunjung setelah selesai berkemas, aku kembali lagi kekantor untuk mencari tau sesuatu yakni tentang korban kebakaran itu, sesampai disana bisa aku lihat asistennya mas Feri tampak memulai pekerjaannya,


“Asri bisa kita bicara sebentar?”tanyaku. Sigap dia menoleh dan mengangguk.


“Ada apa ya buk.”ujarnya,


“Saya mintak data pekerja yang jadi korban kebakaran.”ujarku, dengan sigap Asri mengambil berkas yang sepertinya sudah disiapkan.


“Ini buk, ada dua orang, satunya parah dan satunya cuman luka ringan”ujarnya aku mendegup dan menyambar berkas itu sembari menatapnya datar, bisa aku lihat Asri salah tingkah. Aku meghela nafas dan menarik berkas itu berdiri dan beranjak keruangan mas Feri.


“Baiklah, saya akan cocokkan data ini dengan daftar pekerja gudang yang saya punya.’’ucapku masuk kedalam ruangan, entah kenapa aku bisa lihat Asri tampak cemas terlihat dia lebih banyak diam dan tertunduk.

__ADS_1


Trakt…


 


Bunyi pintu ruangan aku hempas sedikit kencang, reflek aku sapu semua pandangan dalam ruangan kerja mas Feri dan coba mengacaknya mencari sesuatu.


“Aku tau ini hanya bohongan, pasti ada sesuatu,”ucapku terus saja membuka laci satu persatu, mataku membulat saat melihat tas wanita didalam laci, tas blink-blink berwarna dongker itu, dan itu sudah tak asing lagi bagiku, masih bisa aku ingat waktu itu, tas ini disandang Rara saat terakhir kali aku mengantarnya pulang, gemetar coba aku angkat dan aku rogoh isinya aku kesal membuang isinya satu persatu, aku hanya sakit melihat barang-barang itu makin merujuk miliknya Rara..


Brugh..


“Arrgh..”teriakku menghempas keras tas itu ke dindiing.


“Hiks…”tangisku pecah sembari bersimpuh, aku menangis tersedu-sedu. Hingga Asri menyusul masuk kedalam.


“Beraniny kamu menyembunyikan dariku, berapa mas Feri membayarmu untu berbohong ha?”kesalku degan air mata berurai, Asri tertunduk tak bergeming.


“Mulai hari ini, kamu saya pecat!”hardikku nafas gadis itu tampak tersengal dan mencegatku.


“Tapi buk..”ujarnya coba menarik lenganku, namun aku memlih bergegas pergi mengabaikannya untuk menemui mas Feri kerumah Rara.


 


Sesampai disana, aku dapati rumah itu kosong. Beberapa kali aku gedor namun tak satupun menyahut,

__ADS_1


“Seseorang tolong buka pintunya.’’ujarku, melihat keributan itu salah satu warga yang tengah lewat itupun menegurku.


“Maaf mbak,rumahnya kosong itu. Orangnya sekeluarga pergi. Gak tau kemana,”ucapnya. Aku menghelaa nafas sesak.


“Kira-kira mereka kemana?”tanyaku.


“Gak tau mba, pkoknya kemarin mereka berangkat.’’ujarnya aku mendegup dan kembali pulang dengan kesal. Entah bagaimana aku meluapkan kekesalan dan sakit hatiku sepanjang jalan hingga rumah aku terasa lemah, aku hanya bisa menangis histeris, berapa kali aku menimpuk bantal bahkan melempar hingga memcahkan apa saja yang ada, aku sangat hancur dan rapuh sekali. Mirisnya aku tidak bisa luapkan kekesalnku pada mas Feri karna nomornya tidak aktif,


Hingga malam berkunjung keadaanku masih sama. Dengan keadaan kamar yang berantakan, aku nanar melihat langit malam dengan air mata merintik bahkan aku tidak sanggup untuk menyalakan lampu kamarku, cahaya rembulan hanya membuatku semakin miris seakan dia tengah mencemo’ohkanku. sekarang


Pluk…


Aku terkejut saat lampu kamar menyala, aku menoleh ke pintu dengan wajah datar dan mata sembab karna menangis sebegitu kalud hingga aku tidak dengar mobil mas Feri datang, bisa aku lihat mas Feri berdiri dengan wajah yang penuh dengan tanda Tanya, mungkin dia terkejut, melihat di pulang dengan lampu rumah ini padam dan kamarku yang berantakan ada beling dan benda berserakan dimana-mana. Dia mendekat dengan tatapan mata berkaca-kaca. Aku menghela nafas berusaha untuk berdiri dan berkata gemetar.


“Mas, kamu disini? Tolong jelaskan, kebenarannya ini tidak benarkan? Aku tidak kehilangan suamikukan? hiks”tangisku merintih, mas Feri bungkam sembari memelukku erat, aku beronta dari pelukannya dan berkata.


“Tolong jawab aku mas, jangan diam saja. Kamu mencuri waktu untuk bisa bersama Rara? Kamu mengkhianatiku, itu tidak mungkin kan mas?”rengekku membenamkan wajahku didadanya, tak ada yang terlontar dari mulutnya selain tangannya lebih erat mendekapku. Aku kesal dan coba melihat wajahnya yang juga tampak merintikkan air mata. Aku gemetar dan coba menimpuk dadanya berkali-kali.


“Tolong jawab aku mas, jangan diam saja. Dan kenapa kamu menangis ha.. apa kamu sudah menikahinya”gerutuku dengan air mata menghujan mas Feri diam tak bergeming. Dia tahan timpukan lenganku yang cukup keras itu berkali-kali tanpa kata sepatah katapun,


“Jawab aku mas… hiks.”tangisku, aku bersimpuh. Aku lelah, aku benar-benar terasa rapuh. Melihat mas Feri diam begitu serasa duniaku hancur sekejap ini saja, aku mengartikan diamnya itu adalah kebenaran, bahwa ia telah membagi cinta dan mengkhianati janji suci pernikahan kami. suamiku yang aku sangat percayai bahwa dia sangat mencintai dan setia padaku, aku sangat yakin bahwa ia tidak akan pernah mau membagi cintanya untuk siapapun,, tapi sekarang aku disadarkan dengan kenyataannya yang membuat aku terhempas terpuruk dan nyaris hancur, dari diamnya sudah menjawab segala pertanyaan yang aku lontarkan tadi. aku sudah benar-benar kehilangan mas Feri, ada sesuatu yang memadati hatiku hingga aku merasa sesak dan hanya bisa merintih. berharap mas Feri katakan sesuatu, tapi tidak. Harapanku pupus, dia diam dengan kebenaran bahwa ya, dia sudah menikahi Rara, sekaligus menjelaskan bahwa Rara adalah segalanya baginya, bahkan air mataku pun tak aada artinya lagi bagi suamiku, dia tega melihat aku merintih sakit dengan memilih tak bergeming sedikitpun, aku benci melihat air matanya, itu percuma saj. jika balasanya untukku ialah air mata darah. tega sekali mas Feri torehkan luka sedalam ini, untuk wanita yang katanya selalu dia cintai ini. untuk istri yang akan dia pilih hanya satu untuk selamaya, hanya ada Ina dan tetap bersama Ina selamanya mana buktinya itu semua kini hanyalah omong kosong belaka.


“Hiks.. duniaku sudah hancur”riintihku sembaari gemetar mengepal sakit yang terhujam legam

__ADS_1


 


__ADS_2