
POV FERI
“Bagaimana dengan putri saya dok?’’tanya mama rania, saat dokter keluar dari ruangan Ina.
“Tidak ada masalah serius, anak ibuk tengah mengandung dan dia hanya sedang kecapeka’an, coba atur lagi jam tidur dengan benar. Darahnya rendah sekali.”ujar dokter, mama Rania tampak terkejut dengana rasa syukur.
“Benarkah Dok, syukurlah.”ucapnya dengan air mata merintik sedikit ia menoleh padaku dan bergegas masuk kedalam ruangan, menemui Ina sedangkan aku memilih beranjak ke taman untuk melepaskan sedikit penat hatiku. Aku teranyuh hebat saat mendengar ungkapan dokter tadi aku menghenyak di kursi taman sembari merintikkan air mata, bukannya bahagia mendengar kabar kehamilan ini aku malah dilema, aku tau betul itu adalah darah dagingku, apakah aku harus lanjutkan pernikahan ini walau ada duri seperti ini, aku tidak mau merasa seperti pecundang selamanya, tapi aku juga tidak boleh egois, ini semua juga tak sepenuhnya salah Ina, sekarang aku harus bagaimana aku sangat mengharapkan anak dalam kandungan itu, kami sudah sangat menunggu lama ini. Dalam lamunanku itu terdengar seseorang datang mendekat, aku menoleh sedikit dan memandangi tanteku itu datar.
“Ina tak henti-hentinya menangis histeris di ruangannya, aku tau mungkin ini sulit bagimu. Tapi sebagai tantemu, aku mohon bantu putriku sekali lagi, dia tidak bisa menerima ini, biarkan dia menjalani masa kandunganya dengan hari-hari baik, setelah itu terserah kamu.’’ujarnnya, aku menghela nafas.
“Aku tau kamu, pasti juga bahagia dengan kabar ini, jangan rusak kebahagiaan ini Fer,”ujarnya aku hanya diam saat tanteku itu beranjak. Aku tertunduk mengusap wajahku dengan membuang nafas beraat.
………
Dengan berat hati aku kembali keruangan itu dengan langkah gontai bisaa aku dengar Ina merintih memeluk mamanya, aku membuka knop pintu dengan lemes, sontak keduanya menoleh.
“Sayang, suamimu disini, Mas Feri gak akan kemana-mana”ujar tante padanya, Ina menoleh padaku dan aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan datar. Dia menelan tangisnya dan berkata lirih padaku,
“Mas, maafin Ina, percayalah sayang, Ina mengandung anakmu mas.”ucapnya sesegukan aku mendegup, dan coba berkata.
“Apa kita bisa kembali sekarang,”ujarku, Ina mengangguk. Mama Rania juga tampak membantu Ina turun dari atas tempat tidur,
Sepanjang jalan aku hanya diam hingga kami sampai juga di kediaman kami, mama masih tetap mengikuti kami hingga kerumah, ini adalah kehamilan kedua untuk Ina, dia sangat ingin menjaganya dengan baik setelah sebelumnya sempet gugur.
“Ayo sayang, turun.”pinta mama pada Ina, aku juga ikut turun dan beranjak kerumah mencoba abaikan dua orang itu, entah kenapa untuk bisa hangat pada Ina seperti biasanya aku jadi enggan, mama tampak susah payah menintin Ina masuk sedangkan aku memilihh beranjak kekamar.
“Kamu tunggu disini ya, mama bikinkan susu dulu.”
Masih terdengar percakapan mereka, dari bawah namun aku masih tak peduli memilih kekamar mandi untuk berbesih masih bisa aku lihat kamar kami masih berantakan karna pertengkaran tadi malam
Hingga malampun datang aku memilih menonton TV di ruang keluarga sedangkan mama dan Ina sibuk didapur menghidangkan makan malam,
“Mas..”panggil Ina, aku menoleh datar sembari memegangi remote TV.
“Ya?’’
“Ayo kita makan malam dulu, mama dah siapin.”ujarnya, aku mengangguk dan berdiri, dia membuntutiku ke meja makan,
Melihat kami diam-diaman berdua,mama jadi buang nafas berat dan menghenyak duduk, sembari mempersilahkan kami duduk.
“Duduk dulu…, mama mau bicara”ujarnya,
“Mulai sekarang, mama sangat berharap kalian saling melengkapi satu sama lain, ya sudah berlalu biarkanlah, ingat Fer, anak dalam kandungan Ina butuh kasih sayang kedua orang tuanya, bersyukurlah, ada kabar ini membuat kalian tetap menyatu, mama tidak ingin kaliam berpisah, kalian tau kan hanya kalian harta yang mama punya, mama ingin kalian bahagia dengan anak-anak kalian nanti.”ujarnya, aku hanya diam, sedikit aku lirik tangan Ina bertengker di tanganku.
“Mas… kita akan mulai hari baru, kamu maukan lupakan semua yang sudah-sudah.”lirihnya, sedikit aku tarik tanganku yang disentuhnya itu entah kenapa aku merasa jijik di sentuh oleh Ina dan berkata.
“Ya baiklah...”ujarku setengah hati, Ina terdiam sejenak dan kembali menoleh dengan perasaan canggung pada mama.
POV INA.
Hari semakin larut setelah mengobrol banyak sama mama tadi, aku langsung beranjak kekamar tiduur untuk istiraahat, mas Feri tampak sibuk mengotak atik laptopnya, sedangkan kamar, masih berantakan masih sama seperti malam tadi, sigap aku mengambil sapu peralatan lain untuk membersihkannya sesekali, aku melirik mas Feri yang tampak tak peduli dengan keberadaanku, setelah selesai aku melangkah kekamar mandi untuk mengganti pakaiannku, aku terasa sangat lemes sekali karna masih sakit, kepalaku pening dan mencoba berusaha kembali keluar, sedikit aku hela nafas menguaatkann kaki beberapa langkah lagi untuk tempat tidur, aku tau mas Feri takkkan mau membantuku, langkahku oleng berusaha mendarat di atas kasur dengan cepat, dan aku lega juga bisa merebah sebentar menstabilkan kembali kepalaku yang pusing, sedikit aku hela nafas dan menarik selimut, namun karna selimutnya nyangkut di kakinya aku menoleh padanya,
“Minta Ina selimutnya mas.”lirihku, dia berdesih tanpa menoleh, mengangkat sedikit kakinya aku menarik selimut dan coba memunggunginya, entah kenapa aku sedikit gigil. Mugkin karna masih sedikit demam, rasanya badan sangat tidak enak sekali, aku merintikkan air mata coba memejamkan mata, sikap diam mas Feri membuat aku sakit tapi aku harus bersyukur, setidaknya mas Feri tidak benar-benar pergi,
Pagi berkunjung mas Feri bersiap hendak pergi kekantor, aku menyediakan beberapa kemeja dan setelan jasnya tapi diaa tak memakai pakaian yang aku sediakan malah mencari sendiri di lemarii, begitupun dengan teh yang aku bikin dia tidak meminumya,,
“Kamu mau kemana Fer?’’tanya mama saat dia beranjak turun kebawah.
__ADS_1
“Mau kekantor, Feri mendapatkan penginvestor lain untuk menutupi setengah saham Aldo di perusahaan., semoga saja bisa mengembalikan semuanya dengan cepat.”ujarnya, mama tampak manggut-manggut.
“Kamu jangan kait-kaitkan masalah pribadi dengan kantor Fer, Al company,sudah sangat membantu kita lagian ini sebuah kerja sama, kita bukan pengemis. Ya sudah, selama Ina belum kuat, kamu dirumah aja. Biar mama yang handle kantor, kasian istrimu dia lagi lemah-lemahnya sekarang, kamu harus selalu ada buat dia.”ujar mama, aku memperhatiikan mereka dari balkon, mas Feri tampak tak suka jika harus dirumah.
“Ya sudah ya, mama pergi dulu, tolong jaga Ina dengan baik, dia tengah mengandung anakmu Fer,”ujar mama, mas Feri menghenyak di sofa sembari mengusap-usap wajahnya, Setelah itu kembali ke atas, gegaspun aku kembali duduk di atas ranjangnya, meneguk segelas susu, dan suplemen ibu hamil, kanduganku baru berumur satu minggu aku harus jaga dengan baik, aku tidak mau janinku kenapa- kenapa lagi sekarang, aku harus merawatnya untuk mas Feri, hanya anakku satu-satunya harapanku untuk bisa membawa hati mas Feri kembali padaku. Dari pintu mas Feri masuk aku memperhatikan glegatnya yang kembali melepaskan jas kerja dan sepatunya,
“Mas kamu kenapa gak minum tehnya?”ujarku, sejenak dia hentikan geraknya namun kembali fokus membuka sepatu dia mengganti kemejanya jadi kaos santai dan menghenyak di atas kasur, mas Feri menganggap aku tidak ada seperti ini tapi aku
“Mas?”lirihku lagi, dia berdesis dan berkata,
“Apa.”
“Gak ada sih, itu tehnya kenapa gak diminum.”ujarku, mas Feri sedikit menghela nafas dan berkata.
“Lagi gak pengen aja minum teh.”singkatnya.
“Oh gitu, ya udah Ina bawa turun lagi berarti.”ujarku, melihat dia menyambar laptopnya aku reflek bertanya,
“Mas dapet penginvest dari perusahaan apa? Kenapa mereka tertarik untuk mau bekerja sama dengan kita?”tanyaku lagi. Mas Feri hanya diam. Akupun memilih bungkam dan beranjak turun.
Sesampai di dapur rencananya aku mau memasakan sesuatu untuk mas Feri, namun hidungku tak tahan dengan bumu dapur dan akhirnya mual-mual dan muntah.
“Mas, bantu Ina, bawakan minyak angin,’’teriakku, kucoba berjalan keruang keluarga dan bersandar, air mataku merintik. Mas Feri benar-benar tak peduli lagi padaku, reflek aku ambil ponsel di saku piyamaku dan menelpon Lastri asisten mama, aku butuh asisten sekarang, anakku sangat manja, hingga aku tidak bisa bergeraak banyak, kembali aku senyum mengelus perutku lembut.
“Kamu jangan nakal sayang, papamu lagi ngambek, hanya ada mama sekarang kamu ngertiin mama ya nak, jangan repotin,’’bisikku bicara pada janinku.
Tuuuuuuut..
Terdengar panggilan itu tersambung dan tak butuh waktu lama lastri mengangkat,
“Mbok lastri kesini ya? Ina butuh mbok,”ucapku.
“Iya Non, Otw. Ini juga tadi udah di suruh nyonya Rania, mbok aja yang lama.”ujarnya,
“Baiklah Ina tunggu ya mbok,”ujarku.
“Iya non.”
POV ALDO
Sudah satu minggu aku mengurung diri dirumah tak mau kemana-mana. Aku sangat putus asa sekali menjalanni hidupku, aku kesal kenapa aku tidak bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar bisa aku miliki, dulu aku sangat mencintai Rara aku berfikir dia adalah cinta sejatiku ternyata tidak, kadang aku bingung apa aku sejahat itu aku gak bisa dapatkan kekakasih yang baik yang sesuai keinginaku.
Baik Rara ataupun mba Ina sekarang tak satupun bisa aku milikii, orang-orang beranggapan aku sangat beruntung, tapi bagiku aku tidak seburuntung itu dalam hal cinta,
Flasbback…
“Iiih sayang kamu kok masih bobok sih, bangun. Kamu harus nyelesain skripsinya,”gerutu Rara menganggu tidurku di pagi hari,
“Apa sih yank, aku masih ngantuk semalam Balapan dan nogkrong sampai pagi,”gerutuku memperbaiki selimut, Raara kesal mengibas selimut itu dan berkata,
“Kamu bangun!, gak malu apa, minggu depan aku dah wisuda sayang, masak kamu belum?’ujarnya, dengan males aku duduk, Rara merapikan rambutku yang acak-acakkan sembari tersenyum.
“Sudah mandi sana..”titahnya
__ADS_1
“Ya udah, selamat aja buat kamu yang wisudanya minggu depan, aku mau tidur lagi aja,”ujarku kembali merebah, namun dengan cepat Rara mencegat dengan menarik bahu bidangku.
“Gak boleh! Sana mandi, kita harus kekampus buruan! kamu mau aku wisuda duluan, kerja trus kepincut sama atasan aku dan menikah deh’’tegasnya, aku membuang nafas pelan dan berkata,
“ Ih mana ada begitu, kamu itu direkture dperusahaan aku, biar kamu yang ngurus perushaan, kamu kan pintar tuh, okeh. aku ongkang-ongkang kaki deh dirumah ribet tau gak ngantor,"gerutuku, Rara makin germa dengan sedikit memencet hidungku.
"Kamu juga harus pinter, kalo aku yang ngurus perusahaan kamu, gimana aku ngurus rumah sama anak kamu yang bawelnya juga pasti sama, bikin pusing aja tau gak."timpalnya terkekeh.
"Pengen, punya anak dengan aku ya?"guyonku menarik pinggangnya, Rara terkekeh dan mendorongku pelan,
"Ya gak sekarang juga.."renngeknya
:"Baiklah sayangku…., tapi aku gak janji bakal kelarin skripsi, bête duluan sama wajah dosennya"
“Ya udah, temenin aku kekampus, aku gak mau sendiri.”rengeknya, aku gemes liat wajahny yang manyun.
“Ih sayang, bilang aja kamu itu, minta di anterin ya kan?”ujarku, Rara terkekeh.
“Ya iyalah sayang, aku gak mau kekampus sendirian, kalo aku di godain gimana?”tanyanya.
“Siapa yang godain pacar aku, nanti tak gorok.”gerutuku berdiri,
“Ih serem amat.”singkat Rara. Aku mendekat padanya yang tengah duduk diatas ranjangku sembari berkata.
“Ya udaah kamu tunggu ya, aku mandi dulu cup.”bisikku mengecup bibirnya dia tersenyum sembari mengangguk, aku mengacak sedikit rambutnya dan beranjak kekamar. Dari kamar mandi terdengar ponselku berdering dan bisa aku dengar Rara yang mengangkat telfon masuk itu, selang beberapa menit aku keluar namun bisa aku lihat wajah Rara berubah sembari memegangi ponselku,
“Sayaang ada apa?”
“Ada hubungan apa kamu sama selly?”tanyanya, aku mendegup dan garuk tengkuk.
“Sayang, dia cuman jalang dia murahan udah ya, gak usah cemburu ama dia, gak pantes. Masih bagusan kamu kemana-mana.”ucapku Rara manyun melempar ponselku keatas kasur,
“Kok chatan kamu sama dia sangean sih, bikin jijik!”teriakkya,
“Ya akan udah aku bilang sayang, dia itu cewe stress yang tergila-gila sama aku, udah ya gak usah bahas-bahas ini lagi”ujarku, mendadak wajah Rara bête. Aku mendekat dan memeluknya,
“Kamu itu segalanya, gak usah cemburu sama Selly”ucapku. Rara tampak luluh dengan kecupan manisku di pipi,, dia menatap wajahku lekat.
“Awas aja ya, kalo kamu ada hubungann apa-apa sama Selly?”ujarnya.
“Gak akan sayang, janji.”ucapku, Rara masuk kedadaku dan mendekapnya erat.
“Gak bisa bayangkan jika kamu benar-benar mengkianati aku,”ujarnya aku mengelus dan mengecup keningnya,
“Kamu gak usah takut, itu gak akan terjadii,”lirihku, walau di dadaku tengah berkecamuk. Selly selalu ada di area balapan setiap malam bersamaku, dan sialnya aku terlanjur ada hubugan karna sikap agresif dan tubuhnya yang sexi, bersamanya jiwa liarku keluarm seakan memberi sensasi tersendirii bersamanya, tapi aku akui aku tidak mencintainya melainkan hanya hiburan,
Hingga di suatu malam saat aku lagi asyik-asyiknya berduaan di bar bersama Selly, Rara memergoki berselingkuh tentu saja aku terperanjat hebat, secara yang aku fikir dia masih kerja dan akan aku jemput satu jam lagi di toko, keistemewaan dua orang ini baik Ina atau Rara mereka tidak tertarik dengan kekayaanku, aku pernah saranin padannya berhenti saja bekerja di alfamart itu, dan aku akan cukupi tapi Rara gak mau, dan itu adalah satu alasan pasti, yang membuat aku ingin mempertahankannya, namun dia sudah terlanjur kecewa melihatku bermesraan dengan Selly di bilik-bilik bar itu.
“Mulai hari ini kita putus Al!”teriaknya dengan air mata mengucur. Rara berlalu pergi aku beringsut duduk dan mengusap wajahku,
“Kenapa Rara bisa tau kita ada disini? Apa kamu yang kasih tau?”tanyaku padanya. Jalang itu hanya tersenyum kecut.
‘Syits… sialan..’’kesalku bergegas mengejar Rara. Sesampai di luar aku tak lihat Rara lagi dimanapun, mungkin dia sudah pergi naik taxi.
“Sial!”geramku menyibak belahan rambutku, Rara pasti sangat kecewa sekali.
“Aldo..... lo itu memang bener-bener brengsek, mampus aja lo”lirihku kesal menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
............