FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
JANJI


__ADS_3

 


POV FERI


 


“Mas, aku pergi ke tempat mama untuk sementara waktu, mas tolong prioritaskan Rara, seperti aku dia juga butuh kamu mas, hak kami sama. Kita telah menarik Rara masuk kedalam keluarga kita,tolong prilakukan dia dengan baik, dia bukan pelampiasan hasratmu, dia juga pantas di cintai. Jangan cari aku, Ina akan kembali jika Ina ingin kembali, mas tenang saja untuk sekarang beri waktu untu Rara.”tulis Ina Reflek meremas kertas itu dan menghubunginya, aku dapati nomor itu aktif tapi tidak di angkat. Aku makin kesal hingga membuang ponsel dan kertas itu.


Trakt…


Bunyi pintu kamar terbuka Reflek aku menoleh dan melihat Rara di pintu pagi ini dia tampak berbeda dia terlihat pucat, tapi aku tidak peduli


“Mba Ina kemana?, saya tidak melihatnya dari pagi.’’ujarnya. aku berdengus pelan dan berkata.


‘’Dia pulang aku akan menyusul, mungkin rumah ini akan kosong. Kamu bisa pergi. Atau tinggal disini terserah, aku tau kamu sangat keras kepala tentu saja kamu ingin disini.”ujarku dengan sedikit meledek, Rara tak pedulikan ucapanku yang terdengar meledeknya, dia menautkan alis dan kembali menanyakan Ina.


“Tapi kenapa  mba Ina pergi?”tanyanya. aku diam sembari menyambar jasku. Dan mencari kunci mobilku entah keselip dimana, Rara mengusap wajahnya dan tampak gemetar,


“Apa mba Ina tau kalo kita nikah bohongan, dan dia tau aku begitu terobsesi padamu mas?’ucapnya dengan penuh tanda Tanya . aku hanya bisa diam sembari menjangkau kunci mobil yang ternyata aku selip dilemari.  Sedikit aku menghenyak memakai sepatu masih tak peduli padanya. Aku melangkah kearah pintu hingga tanganku dipegangi Rara.


“Mas Rara ikut ya?”pintanya, aku berdengus pelan dan menarik lenganku


.


“Aku mohon hentikan ini Rara, dengan kembali  kamu kesini, kamu sudah memperkeruh suasana, berapa kali aku katakan aku akan akhiri semua ini,”ujarku, untuk sejenak Rara diam menggeleng dengan sedikit tak habis pikir.


“Mas tidak ingin aku disini, tapi mas tidak bisa jujur sama mba Ina, kalo kita cuman nikah boongan? Mas masih ragukan dengan keputusan mas?”ujarnya, aku menautkan alis da sontak meremas bahunya kesal.


“Aku tidak bisa jujur sama Ina karna Mood Ina itu tidak stabil, aku takut dia sulit memahami ini, istriku itu memiliki keterbelakangan mental.!’’ujarku.


“Lantas apa lagi yang kamu tunggu mas, mba Ina tidak akan bisa pullih, dia memberikan kesempatan  padamu untuk bisa hidup dengan normal? Aku disini aku tak menuntut banyak aku hanya minta di nikahi”ujarnya aku sedikit mendorong bahunya dan berkata.


 


“Hanya di nikahi katamu?. Itu bukan sepele.”lirihku tak habis pikir


“Oh, begitu, kamu cumbui aku dan kamu aduk-aduk hatiku dengan semua sikapmu itu, apa itu Cuma sepele?”tanyanya aku bungkam.


“Kamu egois mas.”singkatnya dengan menimpuk sedikit dadaku, wanita itu tampak menangis dengan rapuh, sedikit aku dorong tubuh yang merebah didadaku itu, Rara tampak terhuyung coba berdiri.


“Hiks..”tangisnya terdengar terisak sebelum tergeletak jatuh pingsan, aku menoleh saat mendengar dia terjatuh, mataku membulat mengejar Rara yang terbaring,


“Rara” panggilku. Aku cemas merangkulnya keatas kasur bisa aku rasakan badanya sedikit panas dan pucat.


“Ya ampun Rara..”desisku menggendongnya ke atas tempat tidur, bergegas aku hubungi dokter dan mengambilkan kompres,


Setelah dari dapur aku dapat Rara mengingau, dia tampak gemetar sembari menyebut namaku, aku berdesih dan mendekat.


“Mas.. Mas Feri, “lirihnya, aku mengenggam tangannya dan berkata.


“Aku disini.’’ucapku pelan. Sembari memasangkan kompres di dahinya, bertahanlah sebentar lagi dokter akan datang,”ujarku Rara terdiam sembari merintikkan air mata,


“Maafkan sikapku tadi, aku tidak tau kalau  kamu lagi sakit,”ungkapku menyesal. Rara semakin sesegukan hingga terdengar merintih.


“Tenang saja, aku disini. Aku tidak akan kemana-mana.’’timpalku berusaha membujuknya, Rara berigsut duduk dan reflek memelukku.


“Siang malam aku tidak berhenti memikirkanmu mas, aku bisa mati menahan luka hati ini”rengeknya, aku hanya bungkam mendengar gadis ini merintih. Aku sungguh sangat dilemma. Aku mencintai istriku. Tapi tak bisa aku bohongi juga aku menyukai Rara. Aku benar-benar telah membuat jebakan untuk diriiku sendiri. Sekarang   seakan aku tidak bisa keluar dari perangkapku sendiri.


“Istirahatlah, aku akan buatkan sarapan untukmu,’’ucapku membaringkan dia lagi dia atas ranjang,


Satu jam berlalu setelah selesai di tangani dokter Rara tampak sedikit enakan setalah meminum obat. Aku berankjak keluar untuk mengantar dokter itu kembali.

__ADS_1


“Jaga asupan sama itu mba Rara, hanya terlalu banyak pikiran, setelah beristrirahat dan refreshing dia akan pulih.’’jelas Dokterb aku hanya mengangguk. Dan nanar melihat dokter itu berlalu.


Malam berkunjung, niatku tadi untuk menyusul Ina jadi karna aku harus jagain Rara disini, aku menghela nafas sedikit berat dan beranjak kekamar Rara untuk mengantarkan makan malamnya. Sesampai disana bisa aku lihat Rara tertidur, mungkin obatnya sudah jalan. Dan dia bisa tidur nyenyak sekarang setelah sebelum tadi mengingau. Melihatnya tertidur begitu aku jadi tak tega bangunkan. Aku meletakkan nampan itu pelan di atas nakas dan beranjak pergi,


Pagi berkunjung, aku tidur diatas sofa disamping Rara terbaring, seketika aku tersadar hari sudah pagi, gegas aku cari ponselku dan menghubungi Ina. Aku tidak mau dia lama-lama meninggalkanku begini. Lagi pula aku mencemaskannnya tidak ada kabar dari kemarin namun aku kesal saat nomornya masih tidak aktif,


“Apa kamu benar-benar merelakanku Ina..”bisiku dengan mengusap wajah. Mataku terhenti saat menoleh Rara yang tertidur di atas ranjang wajah cantik polosnya dengan sentuhan kulit putih bening membuat keimananku benar-benar di uji, kembali aku tersadar saat aku teringat akan Ina, tanpa pikir panjang aku keluar kamar itu dan bersiap untuk mandi.


Di jam Sembilan pagi, aku menyeduh teh  sendiri hingga membuat sarapan untuk Rara. Denngan langkah lemes gadis itu tampak melangkah keluar,


“Ra kamu gak usah keluar, di kamar aja. Aku akan antarkan sarapan untukmu,”ujarku Rara tak peduli tetap berjalan dan menghenyak di meja makan.


‘’Aku dah gak apa mas, aku gak mau repotin mas,’ucapnya. Aku mendekat dan membaawakan sarapan itu padanya, Rara manyun dengan melirik dua cangkir teh hijau,


“Kenapa?”tanyaku.


“Rara gak suka teh, Rara sukanya Coffe  “rengeknya.


“Oh maaf, Mas gak tau”ucapku.


“Mas?”Tanya Rara.


“Bukankah, biasanya kamu manggil mas ya?”tanyaku lagi.


“Ya, emang tapi gak pernah sehalus ini’’lirihnya, aku berdesih dan coba alihkan pembicaraan,


“Hari ini, kamu dah fit kah? Angin segar puncak mungkin akan membuatmu sedikit rilex.”ujarnya, seketika mata gadis itu membulat.


“Kk-ke puncak?”tanyanya gugup, aku mengangguk dengan senyum, Rara berdiri seperti tak habis pikir melihat wajahku lebih dekat.


“Kita berdua saja? Atau jemput mba Ina dulu?’tanyanya, spontan aku bilang.


“Bb-beneran mas?’


“Bener”


Sesampai disana kami menikmati alam yang indah sembari bersantai, Rara yang masih lesu karna masih sakit itu berbaring di pahaku kami duduk diatas tikar berwarna coklat itu, gadis itu tak henti-hentinya tersenyum melihat wajahku,


“Mas, saat melihat kemesraan mba Ina dan mas disini waktu itu, aku juga sangat berharap bisa seperti itu berduan saja, ternyata hari ini terwujud”ujarnya aku coba menarik ujung bibirku dan tersenyum dan mengelus pucuk kepalanya.


“Aku mencintainya, tapi jujur, aku juga tidak bisa mengabaikanmu, aku hanya tak ingin Ina tersakiti itu saja,’’Singkatku, Rara sedikit membalik dan mengangkat kepalanya sembari telungkup.


“Mba Ina, tampak enjoy dia sama sekali tidak apa-apa.”ujarnya, aku mendegup dan berkata.


“Aku tau Ina, berjuta rasa dia mampu sembunyikan dengan diam, aku tau dia sakit sekarang cuman dia tegar, aku bahkan tidak mengerti bagaimana menyikapi masalah ini.”ujarku terdengar berat.


“Aku tidak akan menyakiti mba Ina, jujur aku menyanyangi mba Ina mas, jadi jangan khawatir kita akan sama-sama jaga perasaannya. Karna aku rasa mba Ina sudah terlalu putus asa, makanya dia memilih keputusan terakhir seperti ini,”jelasnya, sejenak aku diam melihat wajah cantik itu,


“Kamu janji bakalan mencintai Ina seperti aku mencintainya juga?”tanyaku, gadis itu tersenyum manis sembari mengangguk.


“Seberapa kamu mencintainya?’’tanyaku sedikit Rara membenahi duduknya dan coba berpikir.


“Sama masnya?, apa sama mba Ina?”tanyanya lagi.


“Keduanya?’’ujarku.


‘’Aku bahkan mencintai kalian lebih dari diriku sendiri.’’ujarnya sontak aku terkekeh dan berkata.


“Itu berlebihan,”


“Beneran mas.’’rengeknya. Aku mengelus pipi gadis itu dan mendekatkan bibirku, karna memang dari tadi sikapnya membuat darahku mendidih, perlahan aku elus tengkuknya dan membawa wajahnya mendekat, namun gerakku terhenti saat Rara sedikit mundur.

__ADS_1


“Berarti kita jadian?’’tanyanya, aku mengangguk sembari menatap sayu bibir mungilnya yang sexi, kembali aku coba dekatkan, namun kembali terhennti saat Rara menahan dadaku.


“Apalagi?’’


“Kamu akan nikahin aku?” rengeknya. Aku mengibaskan senyum hangat, dan mengangguk pasti. Rara tersenyum Riang dan mengecup bibirku duluan, sungguh sensasi yang luar biasa dan pengalaman yang pertama sebelumnya aku belum pernah bercinta dengan wanita yang agresif, aku makin terbuai dengan gadis ini. Aku seakan-akan menemukan suatu hal yang memang aku cari-cari selama ini.


Kami bahagia menikmati hari hingga kami kembali sudah malam, menjalani hari dengan Rara sungguh bermakna tentu saja sangat bertolak belakang dengan Ina yang dingin. Kami berdua seakan dimabuk cinta, lepas dari sentuhan Rara saja aku terasa canggung.


“Mas aku capek, mau digendong kekamar.’’rengeknya saat kami telah sampai dirumah. Aku menggendong Rara bak pelayan mematuhi majikannya sentuhan daan kecupannya membuat aku selalu ingin berada di posisi itu. Aku temukan nyaman saat bersamanya, sedikit aku hempaskan badan Rara kekasur dan melucuti pakaiannya satu-satu, hingga tak sadar tindakan itu sudah semakin nekat, tidak ada yang mampu menghentikan kami, kecuali bunyi ponsel bordering.


Drrrrrrt….


Segera aku menjatuhkan badanku kesamping tubuh Rara yang sexi itu dan melihat siapa yang nelpon, aku terperanjat saat melihat Ina yang nelpon, melihat ekpresiku, sontak Rara bertanya,


“Siapa mas?’’ tanyanya.


“Ina..”lirihku menempelkan ponsel ke telinga,


“Ya s-sayang?”ucapku ragu,


“Mas, kamu bisa jemput aku gak?. Aku dah di jalan pulang. Gak tau kenapa mesin mobilnya mati mendadak. “ujarnya,


“Oh iya, kamu dimana, biar mas jemput,”ujarku, mendengar itu Rara duduk dan kembali memakai kembali pakaiannya.


“Di jalan..{…} gak jau kok mas dari rumah,”


“Baik sayang.” Aku menghela nafas dan menyambar pakaianku,


“Aku pergi dulu ya?’’izinku pada Rara sembari mengecup bibirnya. Dia mengangguk dan berkata,


“Cepatlah kembali.”


 


Sesampai dirumah, aku langsung mengantar Ina kekamar.


“Kamu istirahatlah, mas mau temui Rara dulu,”ujarku. Aku melangkah keluar namun langkahku dihentikan oleh istriku itu.


“Mas tunggu?”cegatnya, aku membalik sembari menyunggingkan senyum hangat,


“Ya sayang?’’


“Kenapa setiap tragedy itu, kamu selalu ada diwaktu yang tepat?”tanyanya, aku reflek menautkan alisku.


“Mm-maksudnya?’


“Bola bisbol dan linggis kecil?”ucapnya dengan nada bertanya, aku reflek teringat sesuatu, dan terkekeh.


“Ya. Karna aku selalu mengawasimu 24 jam. Hanya begitu caraku menjagamu diumur yang segitu.’’ucapku dengan senyum. Ina mendekat dengan senyum manis dan berkata.


'' Tak tau kenapa setelah mengetahui Ini beban hatiku ringan. Dua hari aku lakukan terapi ternyata kecemburuan dan melihatmu bersama Rara membuat aku tersadar betapa berharganya dirimu mas, dan sekarang aku ingin melihat hasilnya,’’jelasnya sontak aku nanar memandang wajah Ina yang memandangiku lekat, aku masih tak mengerti.


“Mm-aksudmu apa Ina? mas, tidak meng-“ucapanku terhenti karna Ina menempel bibirnnya di bibirku, aku mendegup dengan wajah tak habis pikir, kembali ia mundurkan lehernya dan menatap mataku dengan air mata merintik.’’


“Ss-ayang? Ini artinya?”lirihku, Ina gemetar coba membuka kancing bajuku satu persatu. Aku menunggu-nunggu reaksi yang seperti biasanya, namun tidak ada, aku mendegup saat pipinya menempel didada hangatku. Sedikit aku hela nafas dan gelengkan kepalaku berharap ini tidak mimpi.


 


“Sentuh aku mas?”bisiknya terdengar serak. Perlahan tanganku terangkat dan meraba lengannya, Ina coba memejamkan mata, seperti ingin mengalir dengan rasa itu, aku masih tak percaya dan mencoba mengelus leher hingga mengecupnya. Dia tak bereaksi berlebihan seperti biasanya, nafasku tersengal dan sedikit lega, akhirnya yang aku tunggu datang juga, Ina membuka mata saat merasakan sentuhanku terhennti, kucuba ******* bibir kekasih halalku itu, benar saja tidak beraksi. Ada rasa syukur yang mendalam setiap detik indah itu berlalu, setiap hentakan jarum jam membingkai gairah indah yang sudah sangat dinantikan, tapi ada masalah lain yang merusak keindahan itu, yakni. Aku telah berjanji pada Rara bahwa aku akan menikahinya.


DUH BAGAIMANA INI....?

__ADS_1


__ADS_2