
PLAK…
Tamparan tangan melayang sekeras mungkin ke pipinya, tatapan mataku terasa berkaca-kaca dan sangat kesal sekali padanya, dia menghakimi kami seolah dia yang paling suci saja, mas Feri bungkam melihat wajah kesal yang tertoreh diwajahku.
“Apa hakmu menghakimiku seperti ini?”lirihku dengan air mata merintik. Mas Feri bungkam tampak ada yang sakit dalam kerongkongannya hingga bisa aku lihat, jakunnya mendegup gundah.
“Bukannya seharusnya kamu pergi ya? Kamu masih disini bersama perempuan itu, sekarang mana suratnya? Apa kamu sudah tangan?”tanyaku. Mas Feri mendegup kesal saat melepas tanganku aku berdengus dan kembali beranjak pada Aldo,
“Kamu gak apa kan?, ayo kita pergi.”ujarku membawa Aldo kembali ke mobil.
"Kamu Ikut bersamaku ya?''bisiikk Aldo beranjak masuk kemobil akupun membuntuti dan membuka pintu namun aku tersintak saat mas Feri menghardik.
“Mau kemana kamu!”ucapnya. aku terdiam dan coba menoleh padanya.
“Aku tidak akan masuk kerumah sebelum kalian pergi.”ujarku kesal membuka pintu mobil, Aldo tampak sudah mulai menyalakan mesin mobil, mas Feri menyereetku kasar dan berkata,
“Masuk kerumah!”bentaknya, aku kesal dan gemetar takut, mendengar teriakan mas Feri itu. Melihat itu Aldo kembali turun namun bentakan mas Feri membuat Aldo harus menghentikan langkahnya.
“Berhenti disitu, kamu bisa saya laporkan karna telah berani mengusik rumah tangga saya,”ujarnya Aldo mendegup, mengurung langkahnya untuk mencegatku di seret mas Feri kedalam, akupun bungkam hanya bisa menoleh pada Aldo yang tertunduk disamping mobilnya,
“Mas, lepasin aku, aku gak mau masuk. “ucapku beronta, mas Feri tak peduli dia tetap menyeretku kedalam.
“emang Dasar, kamu dan Rara sudah sama tidak waras, apa yang terjadi dengan kehidupanku sekarang. Kenapa aku harus di tekan oleh parasit seperti kalian,”gerutuku.
“Sekarang masuk!”hardiknya saat kami sudah berada di pintu kamar aku menaatap matanya tajam mas Feri hanya bisa memandangku datar dan berkata lagi menekankan.
“Masuk Ina., mulai sekarang kamu tidak boleh bawa mobil lagi dan aku akan mengantarmu kemanapun kamu pergi.”ujarnya aku menautkan alis dan reflek geleng-geleng.
“Apa kamu fikir, aku patuh dengan aturan konyolmu Ini, aku tidak akan menurutiimu mas.”ujarku lagi mas Feri terdengar berdengus dan menyeretku kedalam,
“Lepasin aku.’’bentakku.
“Hingga detik ini, aku belum tanda tangani surat perceraian Ina, dan sebelum itu terjadi, aku berhak mengatur hidupmu, sekarang tidurlah.”titahnya aku sontak menautkan alis dan tak habis pikir, gegas aku mencari surat itu dan sepertinya tak ada dimanapun,
“dimana suratnya?”tanyaku, mas Feri melihatku datar dan berkata.
“Aku buang, “tandasnya , mataku membulat. Aku menggertakkan gigiku kesal dan menghenyak diatas kasur.
__ADS_1
“Aku benci sama kamu mas, pergilah. aku tidakingin melihat mu disini’’Hardikku. Mas Feri tampak nurut keluar dari kamar tanpa kata sepatah katapun, aku kesal mengusap-ngusap wajahku gusar.
“Aku tinggal serumah dengan suami dan maduku, ini konyol. Mungkin ini hanya berlaku sebelum aku normal dulu, tapi tidak sekrang, aku tidak akan mau di atur-atur oleh mas Feri”gerutuku, namun kekesalan itu hanya bisa aku bawa tidur, berharap esok hari aku akan temukan jalan lain bagaimana caranya menyingkir kan mereka dari sini.
Keesokan paginya aku mendengar mas Feri ribut-ribut didapur memanggil aku dan Rara bergantian aku kesal mendengarnya hingga menyumbat telingaku pake bantal, namun sorakan itu masih terdengar jelas walau sedikit diredam.
“Ina… Rara, bangun! Mas lapaar. Uhh mas punya dua istri masak masih siapin sarapan sendiri sih.”ujarnya sengaja bikin keributan, aku kesal dan coba bodo amat dengan suaranya itu.
“Ina mas, masukuin tepungnya berapa ini?”teriaknya lagi, sontak aku membuka mata membayangkan dapurku bisa-bisa berantakan jika mas Feri yang obrak abrik, aku beringsut duduk dan beranjak kebawah dengan geram.
“Mas, istrimu itu, bisanya ngapain aja sih, jam segini belum bangun. Udah sana. Aku gak mau mas nambahin kerjaanku nanti beresin dapur yang berantakan.”gerutuku kesal mas Feri tampak tersenyum dan duduk menunggu di meja makan, aku menghela nafas dan coba mengerjakan semuanya terpaksa memanaskan air untuk Teh, dan menyiapkan sarapan untuknya. Sesekali aku melirik pintu kamar Rara yang belum ada tanda-tanda aktifitas,
“Mau jadi apa, jam segini belum bangun. jadi parasit aja selamanya”ucapku membatin. Setelah semua siap aku beranjak mengantarnya pada mas Feri yang duduk di meja makan.
“Ini mas, sarapanya,”singkatku beranjak pergi. Langkahku terhenti saat mas Feri mencengkram lenganku.
“Kamu mau kemana? Temenin mas Sarapan.”ujarnya. aku diam menatap wajahnya datar.
“Aku gak bisa,”Singkatku kembali membalik namun langkahku kembali terhenti saat mas Feri berkata.
“Rendah katamu mas? Bahkan aku dan Aldo belum punya hubungan yang seperti ikatanmu dengan Rara. Ayolah kamu gak usah egois gini. Rendah mana sama kamu yang gak tau malu. Masih berani tinggal disini.”ujarku, mas Feri mendegup dan kembali ,menoleh pada sarapanya.
“Temani aku menghabiskan sarapannya.”ujarnya, aku menghela nafas sesak melirik keatas dan menghenyak dengan malas.
“Ina tau kan, mas gak pernah terbiasa dengan makanan lain selain masakan Ina. Jadi mas gak bisa pergi dari sini.’’ujarnya, aku menautkan alisku heran saat melihat mas Feri menyuap makanannya sangat lahap dengan wajah yang santai seakan tak ada dosa saja.
“Oh, begitu? Aku bukan budakmu mas. Istrimu itu kenapa, enak banget ya hidupnya? Bisanya cuman tidur” ketusku. Mas Feri tampak mengalihkan pembicaraan dengan membahas hal lain.
“Bersiaplah, kita akan kekantor.”titahnya, aku mencibir sedikit dan kembali memperhatikan wajahnya yang kesel.
Dalam suasana itu, Rara datang dari kamarnya dan berkata lirih dengan langkah gontai mendekat lemes dengan sesekali menguap seperti belum bangun sepenuhnyaa,
“Mas…”rengeknya, bergelayut di bahu bidang suamiku itu dari belakang.
“Mas, kamu kok gak bangunin aku sih, bisa-bisanya Rara tertidur dan gak ingat malam indah kita.”ujarnya aku mengepal kesal jemariku mendengarnya, mas feri menoleh pada wajah Rara yang bertengker dibahunya wanita itu memanyunkan bibrnya, dengan wjah yang masih sanga mengantuk.
“Ra, sana kamu mandi dulu. Dan tidur lagi aja, masih ngantuk banget gitu. Aku dan Ina aakan pergi kekantor.''
"Humm lama gak sayang?"rengek Rara lagi.
__ADS_1
"Gak lama palingan sore" Ujar mas Feri lagi. Aku mencibir mendengar percakapan mereka yang terdengar sangat menjijikan itu.
“Ayo sayang kamu bersiap gih?ucapnya menoleh padaku. Nafasku tersengal berdiri meninggalkan mereka, semalam mas Feri bersama Rara dan melakukan banyak hal, tapi kenpa dia marah-marah gak jelas padaku saat lihat aku dekat dengan Aldo. Aku kesal sekali dengan keadaan ini. Aku bersiap kekantor dengan wajah yang manyun, hharuskah aku tetap manut dengan segala tingkah mas Feri Ini, jelas-jelas sangat tidak adil padaku, dan ya. Meraka berdua hanya bisa membuat aku sakit hati. Ini tidak pantas, masak aku di robotisasi dirumahku sendiri.
Setelah dua puluh menit berlalu, aku turun dengan pakaian kantorku nan rapi, bisa aku lihat mas Feri berpamitan pada Rara dengan sekali bermanjaan. Aku coba menghela nafas dan coba tegar, berjalan keluar melampui mereka berdua. Aku menghenyak duduk diatas mobil, tak butuh waktu lama mas Feri juga masuk. Aku cemberut sembari tetap melihat kedepan coba abaikan dia yang sudah duduk di kursi kemudi.
Cup…
Kecupan mendarat pipiku, sedikit aku lirik mas Feri dengan sinis sekejap dan kembali memandang kedepan sembari berdesih. Mas Feri mengacak sedikit rambutku dan setelah itu menyalakan mesin mobil.
Dua hari berelalu aku sangat dikekang dirumah ini, bisa stress rasanya jika setiap hari tanpa ponse dan hiburan hanya ada rasa sakit hati saat melihat kebersamaann mereka. Sikap manja Rara pada mas Feri membuat aku makan hati, entah kenapa aku sangat merindukan Aldo pemuda dengan sikap periang dan manjanya kepadaku, aku sangat ingin mengulang lagi semua waktu bersamanya yan sangat berkesan, malam ini mas Feri datangi kamarku sudah cukup larut, lucunya hanya untuk mendatangiku dia harus menunggu wanita itu tidur dulu.
“Kamu belum tidur”tanyanya, aku menelan serek kerongkongan dan tak bisa menyahut ucapannya itu.
“Besok mas, akan mengontrol Rara kerumah sakit, kamu ikut ya?”ucapnya , aku menautkan alis dan menoleh padanya.
“Buat apa aku ikut mas? Untuk menonton semua drama kalian begitu?”tanyaku, MaS Feri sedikit mengambil nafas pelan dan berkata.
“Aku gak mau nanti, saat aku gak ada dirumah kamu jalan sama Aldo.”ujarnya reflek aku tersenyum simpul dan berkata,
“Lantas apa Urusanmu mas?”desisku terasa tak habis pikir.
“Ini keputusan Final, kamu harus ikut kami kerumah sakit,”ujarnya, aku geram menggertakkan rahangku dan kembali membuang muka darinya.
Keesokan harinya, kami bertiga mellaju kerumah sakit, diatas mobil aku sudah seperti pecundang yang harus menyaksikan sikap Rara yang begitu menjijikaann. Sesampai disana, saat mas Feri mengurus sesuuatu dengan teller rumah sakit tu Rara mendekatiku yang dari tadi enggan untuk melihat wajahnya
“Mba Ina Tau kenapa, mas Feri antar Rara kerumah sakit’’ujarnya aku menatap tajam sejenak wajahnya yang ngeselin itu.
“Mungkin untuk cuci otak kamu biar sehat.”ujarku. Rara tampak tersenyum simpul.
“Aku hamil, mas Feri sangat berbahagia sekali hingga tak sabar menunggu lain waktu untuk periksa,”ucapnya dengan hati yang tampak hangat. Nafasku tersengal. Aku mendegup sakit, perlahan air mataku merintik, Rara tampak memperhatikan wajahku seksama dan berkata dengan datar.
“ Rara hamil? Mba gak ngucapin selamat buat Rara?”ujarnya lagi, aku memejamkan mata dengan air mata mengucur deras, aku sakit dan memilih pergi dari sana. Melihat aku berlalu dengan tangis terisak mas Feri tampak mengejar, tapi aku berusaha mencegat taxi yang kebetulan lewat dan segera meninggalkannya aku menangis saat mas Feri berteriak, coba menghentikan mobil itu namun aku tak bergeming sembari tetap berkata.
“Pak jalan lebih kenceng lagi.”ujarku pada supir taxi. Hatiku sangat hancur dan sangat tersayat sekali, dan saat ini aku ingin berkeluh kesah pada seseorang yang belakangan ini membuat aku nyaman yang memenuhi seisi memori diotakko. pak berhenti di jalan (...) "ucapku aku rasa sekarang Aldo tengah berada di studionya dan ya Firasatku benar Aldo tengah berada di studionya, bisa aku lihat motornya yang terparkir aku turun dari taxi dengan wajah kacau sembab karna menagis , Aldo yang baru saja tampak mau keluar dan bubar dari tongkrongannya itu melihatku berjalan mendekat, dia menghampiriku dengan wajah cemas.
“Sayang kamu kenapa, aku sangat mengkhawatirkanmu kenapa kamu tak bisa di dihubungi?”tanyanya aku ssegukan menangis dan bergelayut di pundak pemuda itu.
“Bawa aku pergi Al, aku bahagia bersamamu. Aku lelah, jauhkan aku dari penderitaan ini. Bawa aku pergi hiks.”tangisku terisak membenamkan wajahku didadanya, Aldo mendekapku lebih erat,
__ADS_1
“Baik. Al bakal bawa mba Ina jauh dari sini, tolong jangan menangis lagi aku gak bisa dengar mba Ina menangis,’’bisiknya....
.......