FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
TAK BISA


__ADS_3

…………..


“Mungkin aku harus temui Rara”bisikku beranjak, aku belum menemuinya semenjak hari itu, bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dari hidupku, aku harus lihat perkembangannya sekarang.


POV INA.


Ting nong.


Bunyi bel bergema  mungkin  mbok Lastri sudah sampai, kuusahakan berjalan keluar untuk membukakan pintu, asisten mama yang sudah tidak muda lagi itu tampak tersenyum.


“Maaf Non, macet. Jadi makin lama deh datang.”ujarnya aku mengangguk dengan lemes dan mempersilahkan.


“Gak apa-apa bik, istirahat bentar, abis itu langsung kedapur ya. Mas Feri belum sarapan.”ujarku.


 


“Baik non”sigapnya, aku menghenyak di sofa denga rasa letih yang teramat sangat. Dalam lelahku merebah itu aku melihat mas Feri menuruni tangga, kucoba berdiri untuk menyambut,


“Mas, kamu turun buat sarapan ya? Maaf mbok Lastri baru datang, aku gak kuat nyium bumbu dapur, jadi gak bisa bikin sarapan.”ujarku, dia melirik sedikit dan beranjak kekulkas,, dia mengambil beberapa buah dan botol minum kembali dan setelah itu kembali lagi keatas, aku hanya bungkam sembari mendegup melihat langkah kakinya beranjak kekamar lagi. kembali aku menghenyak di sofa. Dengan sedikit menghela nafas sesak. aku bingung bagaimana caranya mengembalikan mas Feri seperti dulu lagi, tapi ini resikonya aku tengah menuai hasil hasil yang telah aku tanam sendiri,


“Aku pasti bisa lewatin ini”bisikku sendiri. Sedikit menghela nafas dan kembali merebahkan punggungku di sofa tak lupa mengelus-ngelus perutku perlahan,


Keesokan harinya aku sibuk mengotak atik ponselku, aku searching di goglle bagaimana kiat menjaga kandungan, dan pengetahuan lainya tentang ibu hamil, hatiku hangat melihat beberapa gambar bayi dan kebutuhannya,


“Sebentar lagi aku akan menjadi ibu, hum. Gaka sabar rasanya melihat anaknya mas Feri.’’bisikku sembari senyum-senyum namun aku gagal fokus melihat mas Feri tampak bersiap hendak pergi.


“Mas? Kamu mau kemana?”tanyaku dia menoleh dengan wajah datar dan berkata.


“Bentar, nanti juga balik.”ketusnya kembali melangkah,


“Mas, “cegatku lagi dia mengheentikan langkahnya, dan tampak membalik dengan males.


“Ada apa?”tanyanya.


“Barusan, aku lihat beberapa kebutuhan bayi lucu. Jadi pengen beli.”ucapku, sedikit mas Feri mengangkat alisnya dan berkata.


“Kandunganmu belum cukup sebulan. Kecepetan kalo belanja sekarang.”ujarnya, sedikit aku hela nafas manyun. sembari berkata.


“Tapi pengen liat aja mas, kamu emangnya mau kemana aku ikut biar sekalian kita ke mall.”renngekku. mas Feri tampak berfikir sejenak.


“Ya sudah ayok”ucapnya bersiikap ogahan, aku senyum dan berdiri.


“Mbok.. ambilkan tas sama blezerku di kamar, mau keluar bareng mas Feri”sorakku, trdengar mbok lastri menyahut.


“Baik non.”sahutnya, bergegas datang, setelah mengambil tasku dari mbok lastri aku langsung menyusul mas Feri ke mobil.


Trakt..


Aku masuk dan duduk disamping kemudi dengan senyum aku menoleh padanya,


“Ayok mas?”ucapku, mas Feri  melajukan mobilnya tanpaa bicara sepetah katapun, aku juga tak mau membahas apapun, setelah sepuluh menit melaju,ponnsel mas Feri berdering.  Aku memperhatikan dia yang tampak kesusahan mengambil ponselnya, spontan aku bantu karna ponselnya dekaat dari jangkauanku. Dia menyambar tanpa melirik padaku.


“Ya hallo?”sapanya pada si penelpon. Aku tidak tau apa yang di katakan orang itu namun mas Feri tampk senang sekali.


“Benarkah? Baiklah teriima kasih pak.”ujarnya. aku kepo dan reflek bertanya.


“Mas? Siapa?”tanyaku, mas Feri menoleh seedikit dan berkata.


“Kontraktor,”ujarnya, mataku membulat

__ADS_1


“Buat apa?”tanyaku


“Aku di kontrak untuk menghandle sebuah perushaan, semoga aku bisa menjalaninya syukur-syukur berkembang dan berdiri sendiri,”desisnya,


“Tapi sayang,buat apa? Kita dah punya perusahaan yang cukup besar?”tanyaku mas Feri berdesih dan kembali berkata.


“Aku gak mau jadi bawahannya Aldo.”ketusnya, aku tertunduk dan diam tak mau bahas apapunn lagi.


Tak lama berselang mas Feri mengehntikan mobilnya di sebuah Caffe, dia menggapai ransel yang dibelakang kursi kemudi dan mengambilnya.


“Kamu tunggu disini. Mas harus ketemu seseorng”ujarnya mengambil laptop dan membuka pintu mobil


“Mas mau apa?”tanyaku, dia fokus sejenak mecek laptopnya sembari berkata.


“Metting, pokonya kamu tunggu aja.”ujarnya mengaatup laptop dan beranjak keluar. Di sebrang jalan aku melihat gerobak ice cream dengan varian rasa, sontak saja aku menghentikan mas Feri yang hendak masuk caffe.


“Mas?”rengekku, dia menoleh dengan wajah males banget.


“Apa lagi Ina?”ucapnya. aku manyun melirik kesebrang jalan.


“Aku mau ice cream.”rengekku, mas Feri tampak berdengus dan putar baalik ke sebrang jalan tentu saja aku sangat girang.


 


“Silahkan mas, mau rasa apa?’’tanyanya abang Ice cream, samar-samar bisa aku dengar,


“Rasa machha Vanilla bang satu ya.’’ujarnya, aku seneng karna mas Feri gak lupa Ice cream kesukaanku, sigap abang itu ambilkan dan reflek nanya.


“Cowo sukanya yang moka vanilla bang, pecinta teh hijau ya?’’tanyanya.


“Iya saya suka teh hijau,  tapi ini bukan untuk saya, untuk istri.”ujarnya, sontak saja hatiku terasa berbunga-bunga, mendegar mas Feri masih mengakui aku istrinya, haru dan bahagia banget rasanya, aku tau dia masih menyayangi aku sama seperti sebelumnya.


“Ni..’singkatnya, aku tersenyum hangat melihat wajahnya, pengen cium tapi ya mau gimana orangnya lagi ngambek.


“Kenapa wajahnya gitu?”ucapnya aku nyengir sembari menggeleng.


“Gak ada mas, seneng aja Ina dapat ice cream.”ucapku dengan hati riang, sedikit ia menaaikkan alis dan berkata.


“Ya udah tunggu sini,”singkatnya beranjak masuk, aku tersenyum melihat langkahnya.


“Love you sayang.”bisikku, aku menghela nafas bersandar sembari menikmati ice cream kesukaanku itu


Setelah mas Feri menemui rekan-rekannya di café itu, kami langsung melajukan mobil ke mall. Di atas mobil mas Feri menggetarkan bibirnya juga saat lama sebelumnya kami diam-diaman.


“Kamu mau ngapain ke mall, pamali juga belanja buat bayinya sekarang.”ujarnya, aku menoleh senang saat mas Feri bicara,


“Ya pengen liat –liat aja sih mas, siapa bilang? kamu itu primitive banget sih. lagian Ina  mau beli yang lainnya juga, kayak susu dan buah buat bikin salad,”ujarku, mas Feri kembali diam. Aku menghela nafas lega akhirnya kami berinteraksi juga.


Sesampai disana, kami langsung melihat-lihat perlengkapan baby, aku sangat  suka sekali dengan perlengkapan bayinya pengen borong semua, tapi bener juga kan babynya juga belum ketahuan cowok apa cewe.


“Ayo kamu mau yang mana?”Tanya mas Feri aku sedikit manyun dan dan bingung juga, semuanya keeliatan gemesin.


“Mas pengennya yang cowo apa cewe?’’tanyaku. mas Feri sedikit mencibir dan berkata


“Apanya?”


“Perlengkapannya mas?”ucapku, dia menggeleng,


“Ina, anaknya juga belum ketauan.”ujarnya aku manyun dan kembali berjalan melihat-lihat kasur dan ranjang tidur baby.

__ADS_1


“Mungkin aku beli tempat tidurnya aja dulu,”ujarku, aku menoleh kebelakang melihat mas Feri tertinggal di tempat tasi dia tengah memandangi baju bayi perempuan dengan sesekali memilih dan memegangnya, aku tersenyum dan mendekat.


“Mas?”sapaku dia terkejut dan kembali meletakkan.


“Bagaimana? Udahkah? Ayok kita pulang.”ujarnya aku tersenyum menyambar gaun mungil itu.


“Aku mau beli ini.”ujarku, mas Feri sedikit memainkan wajahnya.


“Oh okey,”


“Kamu maunya bayi kita perempuan ya?”ujarku dengan senyum hangat, mas Feri tampak kikuk dan berkata.


“Ya terserah sih.’’singkatnhya beranjak kekasir sembari berkata.


 


“Ayo buruan, aku masih banyak urusan’titahnya, aku tersenyum, memilih belanjaan yang lain haabis itu membayarnya di kasir


“Mas.. bantuin.”pintaku saat berjalan keluar, mas Feri tampak berdengus dan menggeleng.


“Kebiasaan borong banyak-banyak ya gini. mubazir tau”ujarnya menyambar semua dan bergegas ke mobil aku lemes dan gak bisa lanjutin jalan, merasa aku tidak menyusul, mas Feri kembali lagi padaku.


“Kamu kenapa?”tanyanya sedikit aku hapus air keringat yang terasa mengucur, dan berkata gemetar.


“Aku pusing mas, gak kuat jalan.”ujarku menggapai badannya, mas Feri tampak diam dan berdesih.


“Ayok sini..”ujarnya menggendong badanku, aku menatap matanya yang sedang bergelayut di pundak suamiku itu, mataku berkaca-kaca dan haru sekali, aku tau dia peduli tapii karna satu hal, aku kehilangan kehangatan cintaku seperti dulu.


“Makanya kalo belum fit itu, gak usah kemana-mana dulu, kan repotin.”ketusannya, aku tiidak peduli mau di judesin, yang penting dia dah peduli dan mau menggendongku ke mobil ini dah sesuatu benget.


“Abis anak kamu, juga repotin aku mas.”rengekku, mas Feri hanya diam hingga kami sampai juga di mobil dan beranjak pulang.


 


Malam berkunjung setelah melewati hari yang melelahkan ini , aku hanya bisa rebahan di atas kasur sembari memakan buah, sedikit aku lirik jam didinding sudah menunjukan pukul 22;32, aku ngantuk tapi mas Feri belum juga naik keattas, segera aku beringsut hendak menyusulnya kebawah, namun aku lega saat melihat dia masuk kekamar, aku memperhatikan glegatnya dengan seksama yang masih kelihatan acuh itu.


“Kamu belum tidur?”ucapnya menoleh aku membulatkan mata dan reflek menggeleng.


“Belum, “ujarku. Mas Feri sedikit menguap dan naik ke atas tempat tidur menarik selimut, aku diam sembari memperhatikannya yang merebah, sigap ia letakkan ponselnya di nakas dan habis itu memperbaiki posisi tidurnya. Aku masih duduk bersanndar sembari sesekali melirik mas Feri.


“Kamu tidur gih, gak baik juga begadang kamu lagi hamil.”ujarnya, aku beringsut untuk merebah di sampingnya, ingin bicara sesuatu pada matanya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku tak punya topik yang menarik untuk di ceritakan. Aku takut mood mas Feri jadi gak bagus, alhasil aku hanya bisa memandangi wajahnya seperti ini.


“Tidur…!”titahnya menatap dalam manik mataku.


“Okey baiklah.”ujarku memejamkan mata, mas Feri memilih memunggunngi. Namun  sekejap aku kembali membuka mata. Aku tidak bisa tidur, sikap cuek mas Feri membuat aku jadi uring-uringan sendiri, bagaimanapun aku gak biasa kalo tidur gak di peluk, apalagi sekarang bawaannya pengen sama dia aja. Aku beringsut dan memeluknya dari belakang merasakan itu mas Feri membalik.


“Kamu ngapain? sana.. gak usah ganggu.”ujarnya, aku menatap matanya dengan sedikit mengelus pipinya.


“Aku gak bisa tidur mas kalo gak di peluk.”ucapku manyun. Mas Feri tampak menghela nafas. Dan merangkulku, aku tersenyum.


“Ya udah tidur,”ujarnya, aku membenamkan wajahku didadanya dengan mencoba memejamkan mata dengan tenang, namun aku merasakan mas Feri mengelus pipiku lembut kembali aku menengadahkan wajahku melihat wajahnya,


“Mas aku sayang sama kamu.”ujarku, mas Feri diam. Sedikit aku mainkan jemariku mengelus bibirnya yang seksi itu. Matanya sayu mendekatkan bibirnya kewajahku, tentu saja aku senang, mataku berkaca-kaca menunggu hasrat itu datang menghampiri sedikit ia ***** dan sentuh aku dengan sentuhan hangat, hingga tak lama setelahnya aku di dorong pelan dan dia duduk dengan kesal, berkali ia mengusap wajah hingga rambutnya ia tampak gundah. Aku hanya diam


“Sial..!’lirihnya, aku mendegup dengan mata berkaca-kaca.


“Mas..”lirihku menggapai bahunya namun aku terkejut saat mas Feri mengibas tanganku. Dia berdiri dan mengambil bantal selimut, beranjak keluar aku hanya diam tak mau menghentikannya, aku tau dengan perasaannya saat ini, dia tak mungkin bisa menikmati kebersamaan kami saat memmbayangkan pria lain tlah menjamahi tubuhku, aku tertunduk menangis di atas tempat tidur itu.


“Aku sampah…, aku tidak pantas untuk siapapun”bisikku menangis histeris

__ADS_1


..................................................


__ADS_2