
Sudah dua hari mas Feri tidak datangi Rara, Walau bisa aku lihat dia sudah berangsur pulih, tapii tampaknya dia masih ingin istirahat.
“Mas aku harus kekantor, kamu gak apa kan tinggal dirumah, Ina dah masak kalo mas lapar turun aja kebawah.”ujarku, Mas Feri tampak mengangguk. Dia berdiri hendak kekamar mandi
“Mas mau mandi, apa? air hangatnya udah siap?”tanyanya, aku mengangguk
“Udah mas,”
Dan disaat mas Feri di kamar mandi aku mengemasi barang-barangku untuk berangkat, namun gerakku terhenti saat ponsel mas Feri berdering, reflek aku angkat tanpa bicara.
“Mas, ini sudah dua hari, kamu gak pulang kesini. Pulang ya mas, Rara nungguin.”ujar Rara, aku diam tak menyahut kata-katanya
“Mas, kamu denger aku kan? Mba Ina gak akan segampang itu, memberikan bagian kamu mas. Kamu pulang ya. Kita pikirkan cara lain.”ujarnya, aku mendegup dan meremas ponsel itu dengan air mata merintik.
“Mas aku kangen kamu jaawab aku doonk..”rengeknya sontak aku melempar ponsel mas Feri ke atas tempat tidur dan berlalu pergi.
“Seperspun aku tidak akan berikan apapun padamu murahan!”gerutuku beranjak pergi, sesampai di mobil aku mengatur nafas yang terasa sesak, mendengar ucapan wanita itu aku jadi berdesis kesal mengingat malamku yang telah berlalu bersama mas Feri. Kenapa aku bisa sekonyol itu nurut dengan kemauannya.
“Sial..!”geramku kesal menimpuk stir mobil.
“Bodoh Inaa, kamu bodoh.”gerutuku sendiri.
Drrrrrt… Drrrrrrt..
Ponselku berdering, aku menoleh pada tasku dan mengambil ponsel.
“Hallo..”ujarku saat menempelkan ponselku kedalam daun telinga.
“Mba dimana, Aldo udah di kantor.”ujarnya. aku menghela nafas dan coba menghapus air mataku.
“Ya Al, ini mbak juga lagi mau jalan.”ujarku. menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah.
Siang harinya kami kembali istirahat makan siang di kantin setelah sebelumnya ada beberapa metting pagi ini dan tugas lainnya aku dan Aldo sangat sibuk, hingga makan siang agak telat
“Mbak, mungkin habis ini gak ada jadwal apa-apa lagi kita jalan ya?”ujar Aldo, sesaat aku diam memikirkan. Itu pasti seru masalah dengan mas Feri menyiita banyak fikiranku, rasanya aku tidak percaya saja, mas Feri mengincar saham dan propertiku, tapi bisa jadi secara Rara juga tanggung jawabnya sekarang, aku harus bergerak cepat. Aku tidak akan biarkan mereka menang.
“Mba…’sapa Aldo lagi, aku tersadar dari lamunanku dan berkata.
“Mungkin lain kali ya Al, aku lagi gak mood aja .”ujarku, Aldo sedikit mencibir dan berkata
__ADS_1
“Sepertinya mba Nyaman sekali dengan dunianya mas Feri?”ucapnya pelan, aku terdiam sejenak dan berkata.
“Bukan itu. Al ak-“ucapanku terhenti karna dicegat,
“Kebahagiaan itu, tidak akan mba Raih jika mba tidak berusaha mencapainya, tapi memang kalo mbak memilih menderita, bertahanlah dengan rasa sakit itu.”ujarnya, aku terdiam sejenak.
“Ya, aku sangat bodoh,aku seolah terbiasa dengan sakit ini?”lirihku tertunduk.
“Siang ini, aku mau ikut futsal, pengenya sih ditemenin, tapi gak apa sih kalau mbak sangat sibuk.’’ujarnya.
“Bukan sibuk sih, mba lagi gak mood aja ngapa-ngapain sekarang.”ujarku, Aldo tampak manggut-manggut,
“Ya sudah gak apa, “ singkatnya terdengar kecewa.
Setelah makan siang itu kami berdua langsung pulang ketempat masing-masing. Aku memasuki mobil ke garasi, sesampaii dirumahh aku cemas terfikir mas Feri pasti kesulitan sendirian karna dia masih sakit, gegas aku masuk untuk mecek keadaannya, namun mataku membulat saat melihat Rara ada bersama mas Feri di kamarku. Sontak saja aku teranyyuh sakit, mendegup gemetar dan mengepal jemariku.
“Apa yang kalian lakukan disini.”hardikku, Rara terkejut keluar dari pelukan mas Feri dan beringsut melihatku di pintu.
“Aku gak tau sebelumnya mas Feri sakit, fdan saat aku tau aku datang kesini buat rawat dia.”sahut wanita itu, aku mengepal jemari dan berkata.
“Mas, bisa-bisanya kamu berduaan dengan Raraa di kamar kita, Hahh entahlah. Aku yang setres apa kalian berdua yang gila. Aku tidak bisa seperti ini terus.”gerutuku. mas Feri tampak memberi kode pada Rara untuk turun dari ranjang.
“Tadi mas, pusing minta Rara. Untuk pijitin kebetulan dia datang.’ujarnyya aku kesal beranjak ke laci mengambil berkas perceraian waktu itu, dan melemparnya kedepan mereka.
“ Aku gak mau tau. Aku tidak bisa lama-lama disini. Aku mau saat aku kembali kalian tinggalkan kamarku, dan berkas itu sudah di tanda tangani..”ujarku geram berdesih dan pergi menjauh, dadaku berkecamuk dan memanas melihat kebersamaan mereka di atas ranjang, sulit bagaiku untuk tidak merintikkn air mata, apalah daya air bening itu hanya bisa berderai, seiring langkahku menjauh, mantap aku lajukan mobilku menuju ke tempat futsal yang waktuu itu pernah aku datangi bersama Aldo, dia sekarang lagi disana, aku gundah dan ingin sekali bercerita banyak padanya,
Sesampainya disana, aku mencari-cari Aldo diantara ramainya pemuda-pemuda yang memakai seragam futsal yang sama, ada banyak kebisingan dan keramiaan yang membuat aku tidak biasa,
“Aldo mana ya.”bisikku, coba melangkah dan duduk di kursi penonton, sembari tetap melihat-lihatnya aku mengeluarkan ponsel untuk menelponnya, namun aku terperanjat saat di kejutkan dari belakang.
“Mba Ina..”teriaknya meremas bahuku reflek aku menoleh ke belakang, Aldo girang tersenyum dengan seragam futsal dan sepatu bolanya.
“Ih, Aldo, kamu mengejutkan mba aja,’ujarku dia terkekeh dan loncat untuk bisa duduk disampingku,
“Mba kesini, buat nemenin Al kan?’tanyanya, aku tersenyum dan mengangguk.
“Kamu bener, aku harus pergi dari penderitaan itu.”ujarku Aldo tersenyum hangat memandang wajahku.
“Akan ada bnyak kebahagiaan disini, Aldo janji mba gak akan bosan bareng Aldo,”ujarnya aku terkekeh dan mengangguk dengan sedikit mengacak rambutnya,
“Gak tau sama kamu mba nyaman aja, mungkin karna memang dari dulu mba itu sangat menginginkan saudara laki-laki.”ujarnya, Aldo tersenyuum simpul dan berkata.
“Saudara?”ucapnya tersenyum tipis, aku memainkan wajah heran melihat raut wajahnya dengan mengangguk ragu.
__ADS_1
“Iya, saudara!”
“Bagaimana, kalau Al, kasih pengalaman yang lebih menantang lagi buat mbak? Mbak mau?”tanyanya aku terdiam sejenak.
“Yang bisa menghilangkan keresahan dan kegundahku ini?”tanyaku, Aldo mengangguk.
“Apa itu?”
“Selingkuhlah denganku.”ujarnya, sedikit mataku membulat dan mulutku terbuka
“Dengan begitu mba akan merasa puas, karna udah membalas mas Feri.”ujarnya dengan sedikit memainkan wajahnya hingga menaikkan aalisnya dengan senyum, aku masih tak habis pikir.
"Kedengrannya modus."ucapku Aldo terkekeh
“Gimana mau gak jadi pacar aku?”tanyanya lagi, aku tak habis pikir dengan apa yang aku denger.
“Ini gak lucu.”singkatku, wajah Aldo tampak berubah serius dan mengenggam tanganku erat.
“Aku berharap mba bisa bahagia, dan jika nantinya mba tidak bisa bahagia denganku aku tidak akan memaksa mba untuk bertahan.”ujarnya, aku mendegup dengan tersenyum simpul,
"Aldo ayolah, mba gak suka becandanya kelewatan."
"Anggap saja ini misi kita?"ujarnya memainkan alis dengan senyum-senyum.
“Okey,, baiklah. Awas saja kamu tidak bisa membahagiakan mbak ya?”ujarku, terdengar seperti meledek karna aku juga belum yakin Aldo akan serius dengan kata-katanya, tapi jujur aku senang melihat usahanya untuk membuatku nyaman.
Cup..
Kecupan mendarat di pipiku sontak saja mataku membulat,
“Aku masuk kelapangan dulu ya, jangan lupa semangatin aku agar kita bisa menang”ujarnya aku nanar melihat wajah bocah itu. Mataku tak berkedip melihat dia berani menciumku dikeramaian begini.
“Kita kan dah pacaran barusan? dan bagaimana rasanya dicium ditempat ramai begini, pengalaman yang luar biasa bukan?”ujarnya menyunggingkan senyum, aku menghela nafas dan berkata dengan lirih sembari pipiku memerah karna malu.
“Ya udah sana, mulai,”ujarku Aldo meletakkan tasnya padaku.
“Ini sayang, handukku air minum sama cemilan aku. Ntar Al akan ambil lagi kesini kalo break, bye cinta...”ucapnya mengelus pipiku, sedangkan aku hanya bisa nanar melihat tingkah Aldo yang perlakukan aku seperti pacarnya.
"Bye,, semangat," singkatku lirih melepasnya masuk kelapangan,
__ADS_1