
Aldo berdesih tampak sulit untuk menggetarkkan bibirnya hanya ada gundah yang tampak menyelimuti matanya , dia tertunduk dengan mengusap berkali-kali wajah hingga mulutnya , sedikit dia hela nafas dan menjauh dariku. Ia menghenyak di sofa dan kembali menoleh padaku.
“Sekarang apa rencanamu?”tanyanya aku mendegup. Pertanyaan itu terdengar menyudutkan tadinya aku berfikir Aldo akan menerima anak ini dan aku rasa tidak. Walaupun dia inginpun aku juga tak bisa meneruskan hubungan ini.
“Aku tidak bisa meneruskan rencana kita.”ucapku. Aldo mendegup dan berdesih
“Aku tidak bisa, membebankan ini padamu Aldo. Maaf, rencana pernikahan kita lupakan saja.”ujarku. Kembali, pria itu berdesih menyibak belahan rambutnya, dia tampak pusing.
“Tapi Ina, aku udah terlanjur bilang sama papa kalo aku, akan menikah.’ujarnya. aku mendegup dan tertunduk.
“lupakan saja Aldo.”tegasku
“Aku akan menjadi ayahnya.”ucapnya spontan. Mataku membulat, dan reflek menggeleng.
“Gak, aku gak mau. Ini bukan darah dagingmu Aldo. Aku tidak mau membebankan ini padamu. Lagi pula papamu tidak mungkin menyetujui kita.”ujarku. Aldo berdesih.
“Apa kamu ingin menghindar?, aku mencintaimu Ina. Ini tidak mudah, kita terlalu banyak planning kedepannya, dan asal kamu tau aja. Aku butuh kamu buat jalani perusahaan.”ujarnya, aku menghela nafas berat dan berkata.
"Pertama, aku belum bercerai, dan yang kedua. aku mengandung anaknya, dan ya kamu masih terlalu muda Al, dan masih banyak lagi hal yang membuat kita tak bisa bersama, kita jangan terlalu nekat,"
"Aku mencintaimu itu saja!"tegasnya
“Aku tidak yakin, kita akan bahagia, aku tidak mau membawa anak mas Feri dalam rumah tangga kita nanti.”ucapku, kucoba melihat matanya. Aku bahkan tidak tau bagaimana melihat matanya, Aldo apa dia beneran bisa menerima benih ini. Yang ada sekarang hanyalah keraguanku.
“Kamu yang meinginkan Feri kembaali, yak an? jujur saja kalo begitu, semua yang telah kita lewati hanya omong kosong. Jika akhirnya kamu menginginkan suamimu kembali”
“Aku tidak menginginkan dia kembali. Al .”ujarku. Aldo terdiam menatapku lekat.
“Oh begitu, bagus. Aku akan menjadi ayahya”ujarnya aku menggeleng.
__ADS_1
“Lupakan saja Al.”singkatku , Aldo tampak geram berdiri.
“Jadi , setelah semua ini? Lupakan saja katamu? Begitukah?”ucapnya tak habis pikir, aku hanya bungkam tak bisa menyahut dari awal aku memang belum yakin dengan perasaanku, aku terlalu hanyut akan cinta ini, banyak sekali pertimbangan jika aku harus menerima Aldo dengan keadaan hamil anaknya mas Feri.
“Ina.. aku tidak bisa menerima ini. Aku sangat kecewa sekali.”ujarnya. berdiri lalu pergi . aku mengehela nafas berat mengusap wajahku, aku gundah, bagaimanapun perasaan dan cintanya begitu juga dengan hatiku tak mudah begitu saja aku bujuk. Tapi untuk membawa benih ini dalam kehidupan baruku bersama Aldo butuh pertimbangan yang extra.
“Ufffthhh…”desisku bersandar dengan air mata merintik.
POV RARA
Setelah seharian aku pantengi layar hijauku di wahtsapnya mas Feri akhirnya aku melihat di Online juga, nafasku langsung lega dan memencet tombol untuk menghubunginya.
Tuuuuuut Tuuuuut.
“Mas kamu dimana?”tanyaku,
“Kamu dimana? “dia balik bertanya.
“Aku dirumah mama, mas. Kamu kesini ya?”pintaku, dari sana hanya diam, hingga panggilan itu di matikan, namun aku yakin mas Feri pasti akan menghampriku kesini.
Benar saja tak butuh waktu lama, terdengar mobil mas Feri datang, aku sangat lega dan bersykur sekali, aku menghampirinya keluar rumah dan lagsung masuk kedalam pelukannya.
“Mas, kamu kemana aja sih, aku kangen.”rengekku, sedikit dia elus rambutku dan berkata,
“Mas capek Ra, pengen langsung istirahat,”ujarnya, aku megangguk dan membuntutinya masuk, bisa aku lihat dia sangat gundah dan lelah sekali,
“Mas ada apa? Kenapa kamu menghilang dan tak mau di hubungi.’’tanyaku, mas Feri sedikit ,mengangkat badanya dan menoleh padaku.
“Aku kesal pada Ina..”ujarnya, mendengar itu aku berdengus.
“Mas, mba Ina. Dia sudah mulai bisa menerima ini semua. Sekarang lebih baik fokus padaku aja mas, kamu tau kan aku sangat mencintai kamu.”ujarku, walau fikiranku sekarang masih mengganjal dengan pil tidur yang aku temui waktu itu, aku kesampingkan dulu egoku untuk bertanya, aku tidak mau kehilangan mas Feri, aku ingin memilikinya selamanya, aku tidak akan tenang sebelum dia mencintaiku.
__ADS_1
“Andai aku bisa, aku akan lupakan dia tapi kesalnya, aku tidak bisa!”geram mas Feri. Aku menghela nafas dan mendekat padanya.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Ayok”pintaku membawa mas Feri kekamar, setelah sampai di kamar dia langsung kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan habis itu kembali lagi keluar, aku masih memperhatikan glegatnya dengan kedua bola mataku, benar saja dia kembali dari dapur membawa secangkir susu, aku memandangi datar dan berkata,
“Katanya kamu capek tapi masih sempet-sempetnya bikinin aku susu.”ujarku, mas Feri tampak menyunggiingkan senyum dan berkata,
“Demi kamu, gak apa. Kamu harus minum susu biar sehat.”ujarnya, aku sedikit mencibir dan mengangguk,
“Oh iya, mama mana?”tanyanya,
“Dia lagi ke tempat teman, maklumlah dia baru saja bercerai dan dia sangat butuh teman-temannya sekarang.”ujarku, Mas Feri tampak mengangguk dan berkata.
“Ya udah, kamu minum susunya ya, mas mau nonton TV dulu, ujarnya, aku mengangguk dan tersenyum melihat mas Feri beranjak ke pintu. dan setelah dia dia luar bergegas aku membuang susu itu keluar jendela
POV FERI.
Aku sangat galau sekali, ingin sekali aku pulang ketempatnya Ina tapi aku takut patah hati jika aku harus di suguhkan surat cerai atau diusirnya lagi, tadinya aku berfikir Rara depresi dan histeris jika aku menghilang ternyata tidak begitu parah, aku lelah. Permaianan ini sudah terlanjur jika berhentipun aku tetap kalah dan jika aku terus lanjut aku juga tetap kalah, entahlah mungkin aku ikutan saja kemana aku mangalir sekarang,
walau cinta dan kasih sayangku pada Ina masih begitu besar, mau bagaimana lagi Istriku sudah terlanjur nyaman dengan orang lain, aku hanya menunggu bom waktu, kapan dia akan menghanncurkanku sekarang. Setelah lama duduk didepan Tv ini aku mau memastikan Rara tertidur sebelum nanti aku pergi pulang.
Trakt…
Pintu kamar itu terbuka aku terkejut saat melihat Rara berdiri dengan senyum, sedikit aku terheran dan melihat susu yang ada dalam gelasnya sudah habis, aku kembali bernafas dengan lega.
“Kamu tidur gih, ini sudah malam.”ujarku, Rara tersenyum bergelayut dibahuku dan berkata.
“Maunya di peluk…”ujarnya, aku menghela nafas sedikit dan berkata.
“Ya udah ayok tidur ini sudah malam.”ujarku merangkulnya keatas kasur wanita itu bergelayut manja dengan sentuhannya, sedangkan aku harus siapkan pertahanan lagi, agar aku tetap sadar kalau dia bukan istriku.
Author mau bablasin aaja ya, gimana menurut readers?🙄😌👉👈
,
__ADS_1