FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
RASA BERSALAH


__ADS_3

“Saya sudah katakan kalo bapak di gudang, namun dia memilih untuk menunggu.”ujarnya aku mengusap wajahku kesal, dan berdesih gundah. Aku memilih beranjak ke perumahan pekerja untuk mengindar setelah satu jam aku disana, aku kembali telfon pengacara.


Tuuuuut…. Tuuut.


“Apa dia sudah pergi?”tanyaku pada sekretaris.


“Sudah pak.”singkatnya nafasku terasa sedikit lega dan beranjak dari pos satpam itu.


“Saya permisi dulu,”ujarku pada satpam yang jaga,


“Baik pak terima kasih sudah berknjung”ujarnya aku hanya mengangguk dan berlalu pergi.


Sesampai di ruanganku aku menghenyak di kursi kerja sembari memijit-mijit kepalaku. Dalam kegundahan itu asisten baruku datang menghmpiri,


“Pak kita ada jadwal metting jam tiga.”ujarnya aku memijit batang hidung karna pusing,


“Kamu urus sendiri ya asri, aku gak bisa ikut pertemuan aku mau segera pulang,”ujarku.


“Baik pak”singkatnya berlalu. Kembali aku menghela nafas sesak dan kembali bersaandar , tak lama setelahnya. Terdengar keributan dari luar, kalo gudang kebakaran. Mendengar itu aku keluar, mereka juga tampak menugguku di pintu buat kasih tau.


“Apa yang terjadi?’’ tanyaku.


“Gudang kebakaran pak.”ujar salah satu dari mereka,, aku kembali hendak menyambar jasku, namun aku dikejutkan melihat tas wanita tergeletak di atas sofa didepan meja kerjaku, fikiranku membayangkan hal buruk. Apa Rara belum kembali dan dia menyusulku ke gudang,


“Oh tuhan, semoga saja tidak.”ujarku bergegas melihat keadaan gudang sesampai disana aku lihat semua orang sudah berkumpul untuk melihat darin jarak aman,bisa aku lihat juga sudah ada pemadam kebakaran. Aku bingung juga harus berbuat apa.


“Ada seseorang didalam terjebak. Seorang wanita, aku juga tidak tau kenapa dia bisa masuk.’’ujar satpam sontak aku menoleh pada pintu gudang yang terbuka.


“Coba lihat dimana dia..”ucapku sembari berdesih menyambar kamer control satpam akan cctv gudang itu. Mataku membulat saat melihat Rara bersimpuh disuatu sudut rauangan yang sudah mulai di jalari api. Tanpa pikir panjang, aku pun menyerobos masuk, taka da yang lain dalam benakku selain ingin menyelamatkannya.


 


“Raraa…”panggillku coba menerobos api. Bisa aku lihat ddibalik kabut dan gumpalan asap yang pekat Rara berdiri karna mendengar suaraku. Segera aku buka jas untuk kugunakan sebagai perlindungan panas menerobos api yang membatasi kami.


“Apa yang kamu lakukan disini!”bentakku kesal. Rara tampak menangis gemetar.


“Mas, aku hanya ingin menemuimu. Seseorang mengatakan kalau kamu lagi di gudang,”tangisnya,


“Sekarang ayo kita keluar dari sini.”ujarku. Rara kembali bersimpuh karna sudah tampak sesak nafas karna dari tadi menghirup asap.


“Ayo Rara.”pintaku.

__ADS_1


“Mas dada Rara terasa sesak.”lirihnya, aku membantunya berdiri dan membopongnya cari jalan keluar.


BRUK…


Barang-brang yang di susun di rak kayu itu berjatuhan hingga menyaalakan kobar api yang besar, mataku membulat. Ku coba melihat sekeliling yang sudah hampIr semua di jalari api aku mendegup gundah, teringat gudang ini punya jalan keluar lain untuk staf aku coba mebawa Rara berbalik dari arah yang berlawan. Melihat itu Rara juga tampak cemas dan sudah pasrah.


“Mas, sepertinya kita akan mati. Itu lebih baik,tidak ada tempat didunia untuk cinta kita.”Lirihnya, aku berdesih dan coba menyelamatkannya yang sudah melemah. Sigap aku tutup badan Rara dengan jasku dan menggendongnya untuk meloncati api untuk bisa temukan pintu belakang. dia hanya bisa berbisik dalam dadaku sembari bergelayut.


"Mas, Rara mencintai mas Feri. jika nanti Rara mati, Rara ingin mas Feri selalu mengingat, bahwa ada seseorang yang mencintai mas Feri begitu besar, aku coba abaikan dengan tetap mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri.


TRAKT..


Suara pintu  terhempas kuat saat aku terjang dengan kakiku sedikit aku bisa bernafas lega dan bergegas keluar. Tampak ada beberapa orang yang sudah menyambut. Dengan tim medisnya aku membaring kan Rara di tempat yang aman sebelum menunggu ambulan.


“Rara”panggilku menepuk-nepuk pipinya lembut namun sepertinya dia sudah terlalu banyak menghirup asap pekat tadi aku panic dan coba merangkulnya.


“Ra, kamu denger mas kan.”lirihku. aku menoleh pada semua orang dan berteriak aku sangat panik sekali fikiran buruk sudah menjalar di pikiranku.


“Seseorang tolong gegas ambulannya, Rara harus segera ditangani”ucapku sedikit lantang. Tak butuh waktu lama ambulaan datang, bergegas aku bopong Rara menggendongnya ke ambulan. Aku panik sepanjang jalan karena Rara tidak bergeming jua. Masih bisa aku dengar ucapan tadi saat kami dalam kobaran api.


.


Entah kenapa air mataku merintik, yang harus disalahkan akan semua pelik ini adalah diriku sendiri, aku yang tak bisa tegas akan hatiku, membiarkan semuanya berantakan bahkan menggantung harapan dhati gadis ini. Penderitaan Rara baik Ina itu sama. Bahkan aku ingin meminta, aku saja yang pergi hancur dan melebur dengan semua prinsipku, bahkan aku tidak tau harus berbuat apa. Mungkinkah aku harus memilih Rara dan melepaskan kekasih ku Ina demi kebaikan semuanya, apakah harus aku fikirkan juga perasaan gadis ini dan bertindak adil atas hatinya yang terluka.


 


Sesampai dirumah sakit, Rara langsung dimasukkan ke UGD aku cemas menunggunya di luar, dalam kegundahan itu ponselku bordering.


Drrrrrt Drrrrrrt


“Ya hallo sayang?”ucapku pada Ina


“Mas, kamu dimana. Aku dengar kalo gudang kebakaran? Kok bisa mas? Kamu gak apa kan?”ujarnya.


“Gak apa-apa, semoga pemadam kebakaran bisa mengatasinya dengan baaik. Maaf sepertinya kita akan rugi banyak.”ujarku.


“Gak apa mas, namanya juga musibah, aku hanya mengkhawtirkanmu, makanya aku telpon.”ujarku.


“Baik mas, kamu kapan pulang. Aku susul kamu kekantor boleh?”tanyanya sontak aku mendegup.


“Jangan, mas akan pulang. Jadi kamu tunggu saja ya. Mas Tidak di kantor, ada pekerja yang dilarikan kerumah sakit. Mas mau urus ini dulu,”jelasku.

__ADS_1


“Baik mas.”


 


Dua jam berlalu, Rara telah melewati masa kritisnya, karna insedin tadi dia mengalami gangguan di saluran pernafasannya. Aku tidak sabar menunggu dia sadar.


Trakt…


Ruangan Pintu UGD terbuka, gegas aku menghampiri dokter, dan menanyakan perkembangan Rara.


‘’Bagaimana dok?”tanyaku mendekat.


“Pasien sudah melewati masa kritis, semoga akan segera pulih, bersyukur dia bisa diselamat diwaktu yang tepat.”ujarnya, aku sedikit bernafas lega, dokter itu berlalu meninggalkan aku.


“Saya permisi dulu pak, “


“Baik dok”singkatku, dan beranjak masuk kedalam untuk melihat keadaan Rara.


Tit Tit Tit..


Bunyi alat medis berdenting dalam ruangan itu, bisa aku lihat Rara masih terbaring lemah dengan oksigen dipasangkan disaluran pernafasannya, aku menghenyak duduk disampinngnya dan reflek mengenggam tangan gadis itu,


“Ra… kamu bisa dengar mas kan?, jujur mas gak suka liat sikapmu begini. Kenapa kamu begitu bodoh,mas sama sekali tak pantas dicintai Ra, mas brengsek. Tolong buka matamu, mas cemas sekali”bisikku pelan tertekan. Bisa aku rasakan tangan begerak reflek aku menoleh ke wajahnnya,


“Ra..?”


“Mas..”lirihnya terdengar berbisik, namun Rara terlihat tidak bisa sadar, hanya separuh mengingau. Lalu kembali diam.  Berharap semoga dia akan segera membaik. Dalam kegundahan itu, Ponsel dalam saku blezernya bordering, reflek aku mencari asal suara itu. Mataku terbuka saat yang menghubunginya Aldo.


“Hallo?’’


“Ini siapa? Rara mana?”tanyanya,


“Ini saya Feri, kamu datanglah kerumah sakit (…) Rara butuh kamu, dia terjebak dalam api sebelumnya.”ujarku,


“Apa? Maksudmu apa? Kenapa bisa? “ucapnya terdengar tak habis pikir.


“Datanglah, aku harus segera pergi. Dia sudah melewati masa kritisnya, dan semoga dia kan segera membaik”ujarku. Aldo terdengar mematikan ponsel itu aku kembali meletakkan ponsel Rara.


“Maaf, aku harus pergi Rara, semoga kamu baik-baik aja.”


BERI TEPUK TANGAN DULU MAK, UNTUK AKSI HEROIK FERI......🙄👏👏👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2