FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
HATI RARA


__ADS_3

POV RARA


“Tolong, jaga sikapmu, kamu tau siapa dia yang kamu ganggu?’’ucapnya lirih dengan gigi tergetakkan, aku coba menyimak dengan rasa cemas bahwa mba Ina bisa saja bertindak lebih,


“Mba ini siapa?, saya hanya mencoba membujuk pacar saya.’’ujar Aldo, Mba Ina tampak menoleh ke lain arah, dan berkata.


“Pacar katamu, dia itu sud-‘’ ucapan mba Ina aku cegat dan tergesa aku mengenggam lengannya.


“Mba kita pulang aja ya, males juga ladeni dia”ujarku melirik Aldo.


‘’Tapi Ra, kita harus bicara.”ucapnya berusaha mencengkram lenganku namun melihat tatapan sinis mba Ina pada tangan Aldo membuat dia harus melepaskann pegangannya perlahan, merasakan Aldo tak mengenggamku lagi aku menyeret mba Ina dan  menjauh.


Sesampai di mobil, aku bungkam tak tau harus berkata apa pada mba Ina, dia menghidupkan mesin mobil dan menggerutu,


“Banyak sekali orang yang tidak waras didunia ini”gerutunya, aku menghela nafas dan berkata.


“Mba, tadi mba berlebihan, aku rasa mba gak perlu menamparnya.’ucapku, mba Ina menoleh dengan wajah tak habis pikir.


“Berlebihan katamu?”jelas-jelas dia dah lecehin kamu tadi, atau jangan-jangan kamu suka ya sama perlakuannya itu?’tanyanya, aku diam sejenak dan berkata.


“Aku mencintainya mbak.”singkatku, dahi mba Ina berkerut dan berkata,


“Kamu sudah menikah dengan mas Feri?’’ tanyanya. Tak habis pikir.


“Aku prustasi waktu itu dan menerima ajakan suami mbak menikah”ujarku datar, Mba Ina berdesih dan berkata.


“Tadinya aku fikir kamu mencintai mas Feri juga?’’ lirihnya terbata. Aku tertunduk dan menghela nafas.


“Aku memang mulai menyukainnya, tapi aku sadar dia tidak akan mencintaiku seperti dia mencintai mba, sejauh yang aku tau, hanyaa Aldo yang mencintaiku dengan gila.”jelasku, untuk sejenak mba Ina menatap intens bola mataku.


“Apa kamu terbebani dengan ini semua?”tanyanya, kutarik ujung bibirku untuk tersenyum dan berkata.


“Tidak mba, itu masa lalu. Jujur aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang, mas Feri dan mba memberi warna baru dalam hidup Rara.’’ujarku, mba Ina tampak teranyuh dan menggapai badanku untuk berpelukaan.


“Makasih ya Ra, sungguh aku akan merasa bersalah sekali jika kamu terbebani dengan semua ini?”bisiiknya mengelus-ngelus pundakku. Aku tersenyum menempelkan daguku dibahunya.


“Bahkan, aku berharap ini beneran terjadi mba, aku pasti bahagia sekali menjadi madumu.”batinku dihati.

__ADS_1


Sesampai di rumah hari sudahh gelap, kami berdua turun dari mobil yang mbs Ina letakkan di garasi, dia tampak bergegas masuk, berharap mas Feri sudah kembali,


“Mas.. kamu sudah pulang kah?”panggilnya saat di pintu melihat itu akupun membuntuti mba Ina kerumah, dia tampak mencari mas Feri diamana-mana setalah lelah mencari dia kembali ke ruang utama.


“Mas Feri belum pulang.”ujarnya pelan lagi lirih, aku menengok lagi ke garasi dan berkata.


“Seharusnya kita bisa liat mobilnya diluar mba kalo dia kembali?”tanyaku, seketika mba Ina memegangi lututnya, dan bersimpuh.


“Hiks,, bahkan aku tidak bisa berpikir dengan jernih.”rintihnya aku mendekat dan membantunya berdiri,


“Sudah mba, kita istirahat aja ya. Semoga aja secepatnya mas Feri kabari mba.”ujarku, mba Ina tampak nurut berdiri dan menghapus air matanya.


 Pagi berkunjung, setelah semalaman aku tidak bisa tidur karna sama seperti mba Ina aku juga merindukan mas Feri, aku membuka mata dengan sedikit membuang nafas, terasa sedikit canggung biasanya pagi-pagi begini mas Feri mengetuk pintu kamarku, sedih aja karna setidaknya pagiku disambut dengan kehadirannya.


Drrrrrrt Drrrrt Drrrrrt..


Ponselku berdering, segera aku beringsut dan menyambar ponselku betapa leganya aku saat mas Feri menghubungiku,


“Hallo sayang”lontarku spontan mataku membulat saat tersadar apa yang barusan aku katakan, dari sana terdengar diam,


“Mm-mas maksudku”ujarku lagi,


“Baik mas, hanya saja dia selalu mencemaskanmu,”jelasku.


“Cemas?’’


“Cemas, Rindu, dia tidak bisa tenang dan sangat resah. Mas buruan balik deh.”pintaku. sejenak mas Feri terdiam lalu berkata,


“Biarlah, lagian dia tak bisa dekat-dekat denganku, kamu tolong jaga dia ya?”pintanya aku diam sembari mengangguk.


“Kamu denger aku kan?’’tanyanya lagi.


“Iya mas.’’


“Baiklah aku tutup dulu”ujarnya, merasa panggilan itu akan dimatikan aku coba mencegat.


“Eh mas tunggu, kamu sekarang dimana, dan kapan kembali?’’ tanyaku.

__ADS_1


“Aku tidak bisa kasih tau, dan ya aku akan kembali jadi tenang saja.”ujarnya, sedikit aku hela nafas dan berkata.


“Jangan lama-lama ya mas. Rara kangen”ujarku, dari sana terdengar senyap.aku coba meralat kembali ungkapanku.


“Mm-maksud Rara rumah ini, sepi aja gitu gak ada mas,’’ujarku. Sejenak dari sana senyap aku menunggu mas Feri bicara, namun sepertinya tidak,  terdengar panggilan itu di matikan tiba-tiba, aku mendegup dengan mata berkaca-kaca.


Hingga dua hari berlalu, aku sudah tak tau bagaimana menenangkan mba Ina karna dia begitu mencemaskan mas Feri, aku binggung dan coba menelponnya berkali-kali. Namun tak diangkat,


“Udah mba jangan begini, Rara bingung apa yang harus Rara lakukan,’’ujarku. Namun tak lama sesudahnya terdengar bel bergema aku meninggalkan mba Ina yang tengah menangis melingkar di sofa. Aku beranjak ke pintu dan membukakan pintu, sontak darahku berdesir dan mataku membulat melihat mas Feri. Niat hati ingin rasanya memeluk karna aku rasa riinduku padanya bahkan melebihi apa yang mba Ina rasakan, dia tak pedulikan aku dan tetap berjalan menghampiri Ina yang diatas sofa. Melihat mas Feri datang, mba Ina berdiri dan langsung memeluk mas Feri.


“Mas, kamu kemana aja. Aku mencemaskanmu?’’rintihnya merengek dalam dada pria itu, aku diam mematung melihat drama itu, rasanya aku juga ingin masuk kedalam pelukan itu dan mengatakan aku rindu,


“Mas sudah disini, jadi jangan cemas lagi,”ujarnya mengelus-ngelus rambut mba Ina.


“Maafkan aku mas, aku tidak bisa jadi istri yang baik untuk mas.’’ujarnya.


“Tidak apa-apa sayang.’’ujarnya.


 


Malama berkunjung, semenjak kedatangan mas Feri pagi ini aku belum bisa bicara berdua dengan mas Feri, keadaan ini membuatku sadar, bahwa aku sama sekali tak dianggap. Kami bertiga hanya sempat bercengkarama satu jam tadi disore hari hingga sekarang mas Feri berduaan dengan mba Ina di kamar, walau aku tau mereka tak bisa lebih intim tapi aku iri saja kenapa mas Feri begitu mencintai istrinya yang terbilang cacat batin itu.


TRAKT.


 


Pintu kamarku terbuka, aku menoleh ke pintu dan melirik ke jam dinding jam sudah menunjukan pukul 00:35. Aku beringsut duduk dari tidurku dan berdiri menghampirinya,


“Ada apa mas?’’tanyaku. mas Feri tetap diam sembari mendekat.


“Mas membiarkan mba Ina tidur dulu baru menghampirku ada apa?”tanyaku tak habis pikir.


“Besok, aku akan berikan gajimu. Dan mulai besok juga, kamu tak perlu bekerja lagi denganku, sepertinya ideku salah jika aku membawa wanita lain untuk kesembuhan istriku, terima kasih atas kerja samanya selama ini.’’ujarnya, aku sedikit terhuyung dan gemetar mendengarnya,


“Aku…”nafasku terasa tersekat dan melemah menghenyak di kasur.


“Aku tidak bisa mengkhianati istriku Rara, tolong mengertilah. Aku tau kamu gadis yang baik. Kamu tidak pantas untuk pelampiasan, aku memang sangat lancang padamu. Aku akan akhiri ini, berharap aku bisa meyakinkan Ina nanti, jadi pergilah, misi ini tidak berhasil”jelasnya, aku tertunduk dengan air mata merintik. Aku menghela nafas dan berkata dengan lirih.

__ADS_1


“Tapi mas, aku mencin-taimu..”ucapku terbata lagi berat, suami mba Ina itu memilih bungkam tanpa kata. Aku merintikkan air mata dan mengusap wajahku.


“Aku mencintaimu mas Hiks… aku bahkan juga sakit saat kamu tidak ada disini rasanya aku tidak sanggup pergi, aku mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan,”rengekku menangis sesegukan, sejauh itu mas Feri masih bungkam seribu bahasa.


__ADS_2