
POV ALDO.
Mendengar itu aku langsung menuju alamat yang seperti Feri katakan tadi, sebelumnya aku memang sempat menghalangi Rara untuk menemui Feri, sebisa mungkin aku cegah dia karna memang Rara tidak benar dengan selalu meinginkan suami orang, aku peduli dan sangat miris sekali melihat keadaannya akhir-akhir ini yang begitu terobsesi pada Feri, Sesampai disana aku langsung temui Rara di UGD. Namun aku tak dapati feri lagi disana, aku dapati Rara tengah menangis tersedu-sedu melepas oksigennya.
“Mas Feri hiks…”tangisnya merintih, aku mendekat dan coba menenangkannya.
“Ra aku disini. Kamu jangan takut lagi ya?”ucapku dia menoleh padaku dengan tatapan mata berkaca-kaca.
“Al, mas Feri dia tadi bersamaku, dia datang menyelamatkan aku didalam kobaran api. Aku tidak mimpi kan Al? sekarang dimana dia?”ujarnya, sejenak aku bungkam.
“Hiks… tolong jawab aku Al. benarkan tadi dia disini, aku masih rindu kenapa dia tidak menunggu Rara sadar dulu,’’rintihnya, hatiku miris dan reflek merangkulnya.
“Sudah kamu tenang, bersyukur kamu masih selamat Rara fokus untuk kesembuhanmu ya.”ucapku.
“Gak Al, aku harus ketemu mas Feri dulu.”tangisnya lagi, dia semakin histeris menangis hingga aku bingung. Mendengar keributan itu perawat datang,
“Sus tolong dibantu, pasien dia tengah depresi aku takut inseden membuat dia trauma.”ujarku tampak pasien itu mengangguk dan menyuntikkan obat penenang tak butuh waktu lama Rara tenang, dan kembali tertidur.
Keesokan harinya Rara sudah mulai tenang, namun dia tidak mau membuka mulutnya walau hanya sepatah kata, kembali keadaannya sama saat sebelum Feri dan Ina membawa kerumah mereka waktu itu, aku enggan untuk mendekat padanya aku benar-benar kehabisan akal begaimana caranya membuat dia seperti dulu lagi.
__ADS_1
“Apa yang harus kita lakukan?”Tanya mama Rara saat aku membalik hendak pergi yang dari tadi berdiri di pintu kamar Rara, aku sedikit berdengus dan berkata.
“Aku juga tidak tau tante, dia terlihat sehat sekali saat dirumah Ina, tapi saat dia disini dia kembali seperti itu.”ucapku berjalan pelan menuju sofa,
“Al, kamu harus nikahin dia,’’ucap mamanya, sontak saja mataku membulat. Mendengar ucapan itu, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan pernikahan dan lagi pula Rara sedang tidak stabil mentalnya, mungkin mama Rara sudah sangat putus asa makanya bicara seperti itu.
“Tante, aku ,memang akan menikahi Rara. Tapi tidak sekarang.”ucapku pelan.Mama Rara tertunduk dan menangis,
“Saya tidak pernah bayangkan Rara seperti itu, dia putriku yang tegar dan periang, kenapa dia begitu patah semangat sekali hanya karna pria bernama Feri. Dan kita tidak bisa berbuat banyak karna aku juga gak mau mengusik ketenangan rumah tangga mereka, haruskah aku memohon pada Ina kalau aku ingin dia jadikan Rara menjadi adik madunya, bukankah itu permintaan paling gila.’’jelasnya panjang kali lebar sembari merintih, aku menghela nafas sesak, terlepas ini semua akun juga gundah, perlahan cintaku untuknya terkikis, sebegitu hebatkah perasaaannya dan perlakuan Feri hingga dia melupakanku begitu saja. Aku juga tidak paham kenapa bisa aku masih peduli padanya, mungkin aku tertarik dengan jalan cerita ini, karna tidak sengaja aku masuk didalamnya walau tidak diikutsertakan,
Tok tok tok
“Nak Feri?”lirih mama Rara mendekat, Feri tampak kikuk melihat aku disitu yang memandangnya dengan tatapan sinis.
“Saya datang untuk menjenguk Rara.”ujarnya, aku berdesih dan coba memperhatikan geraknya saat diantar ibunyab Rara kekamar, bisa aku lihat dari tempatku berdiri sekarang Rara memeluk dan merangkul Rara tentu saja gadis itu menangis histeris. Males lihat drama itu aku pergi meninggalkan mereka. Aku memilih untuk jalan keluar dengan motor untuk mengusir sakit hatiku, karna melihat adegan dimana Rara yang tengah kehilangan akalnya dan si raja PHP Feri.
Sore berkunjung, seteelah penat berkeliling hingga nongkrong tak sengaja melewati gang rumah Ina dan Feri, aku berpapasan dengan mba Ina di persimpangan, dia melambai dan memintakun untuk berhenti,
“Aldo..”
__ADS_1
Sontak aku injak Rem dan turun dari motorku.
“Ya mba?”singkatku. mba Ina keluar dari mobil dan mendekat
“Kamu dari mana? Waktu itu mba belum sempat kasih kamu sesuatu. “ujarnya merogoh tasnya dan mengeluarkan dompet.
“Gak ada sih mba. Cuman jalan-jalan aja, abis nogkrong jugab tadi dekat sini.”ucapku. mba Ina mengulurkan sesuatu.
“Ini apa, mba?’
“Kamu ambil aja, buat tambah jajan buat nongkrong.”ujarnya aku terkekeh,
“Sebenernya gak usah mba, tapi gak apa. Itung-itungkan kapan lagi dapat tips dari mba Ina.”ujarku., istri Feri tampak tersenyum hangat, melihat wajah polosnya aku langsung kasian mengingat Feri tadi datangi Rara kerumahnya, apa mba Ina tau? Aku jadi kepo ingin ngulik sedikit masalah ini.
“Mas Feri dimana? Kok mbak sendiri?’tanyaku, mba Ina kembali tersenyum dan berkata,
“Dia keluar kota untuk beberapa hari. Kami baru saja mendapatkan musibah diperushaan dan mas Feri mengurus sesuatu untuk investor yang mau membantu kami,”ujarnya aku manggut-manggut.
“Oh keluar kota?”ucapku datar membyangkan sekarang dia dirumah Rara, mba Ina mengangguk pasti
“Ya udah Al, aku pulang dulu ya, dah sore,”tutupnya, aku menarik ujung bibirku untuk tersenyum dan melambai seiring bunyi klakson mba Ina sebelum melaju,
__ADS_1
“Oh, begitu. Sekarang Feri dah berani bermain api besar gak takut kebakar apa? parah”ucapku berbisik sembari melihat ekor mobil mba Ina menuju keediamannya, sungguh aku tak habis pikir bisa-bisanya wanita baik dan setulus mba Ina di sakiti.
AYO ALDO TIKUNG INANYA WKWKWKWK