FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
ALDO


__ADS_3

 Setelah selesai makan malam aku menghampiri mas Feri yang memilih menyendiri di balkon kamar, aku tau banyak sekali hal yang menganggu pikirannya sekarang, dan sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa.


“Sayang?”sapaku menghenyak di sampingnya, Mas Feri tampak beringsut pelan dan berkata.


“Ya sayang..”ucapnya menggapai badanku mendekat.


“Mas kenapa? Tadi dimeja makan mas gak habisin makanannya, sekarang ngelamun disini.’’ujarku mengelus pipinya, Mas Feri memaksa bibirnya untuk tersenyum.


“Bingung aja sayang, gimana ngomongnya sama mama.’’ujarnya, aku sedikit menghela nafas dan berkata.


“Bener cuman itu?”singkatku, mata mas Feri terlihat sayu dan mengangguk,


“Bener..”ujarnya lagi, aku tau dia tidak akan mau terbuka karna mas Feri suka seperti dia akan menyembuyikan dariku, wajah lelah dan gundahnya ini sudah sangat jelas kalau dia sedang banyak pikiran, baiklah aku akan cari tau ini sendiri, mas Feri tampak menghela nafas sedikit berat lalu bersandar, aku memandang wajahnya dalam, melihat aku begitu dia reflek mengalihkan pembicaraan.


“Anak kita bagaimana kabarnya?”tanyanya, aku melirik perutku dan kembali tersenyum padanya,


“Gak apa sayang, mereka baik-baik aja, malah sekarang sering gerak.”ujarku, mata mas Feri sedikit terbuka


“Ah beneran?”tanyanya seolah tak percaya, aku hanya mengangguk dengan senyum, mas Feri coba menempelkan tangannya ke perutkku.


“Sayang… kalian bisa dengar papa?”tanyanya aku terkekeh.


“Mana kok gak ada?’’tanyanya.


“Mungkin anak-anak lagi ngambek mas, habis seharian papanya bête gitu gak nanyain kabar mereka.’’ujarku mas Feri menoleh padaku dan berkata.


“Maaf ya sayang, mas beneran lagi pusing sekarang sampai lupa sama kalian.’’ujarnya aku tersenyum dan berkata.


“Gak apa sayang.”singkatku, mas Feri menyibak belahan rambutnya dan kembali bersandar. Aku tau dengan keresahan hatinya sedikit aku beringsut dan mennciumi bibirnya lembut, mas Feri mencari mataku dengan sedikit senyum hangat.


“Aku gak tau, apa yang menganggu pikiranmu mas, yang jelas kami selalu ada disini buat penguat kamu.’’ujarku sembari mengelus perut, mas Feri tersenyum memegangi tengkukku,


“Justru mas mikirin ini sayang, mas takut masa depan anak-anak kita,’’ujarnya, aku menghela nafas sedikit dan berkata.


“Jangan takut, kita pasti bisa mengahdapi ini bersama.’’ujarku. memijit-mijit pelipisnya lembut mas Feri terkekeh dan berkata,


“Tau aja, mas pusing banget.’’ucapnya aku tersenyum


“Sini tidur di paha Ina biar tak pijitin kepalanya.”ujarku dengan nurut mas Feri tidur di pangkuan.


Cup


Dia mengecup pelan perutku yang sudah mulai membesar itu,


“Semoga aku bisa mengatasi ini sebelum mereka lahir, aku gak mau masalah ini berlarut-larut, kita hampir saja tidak menikmati ketenangan selama kandungan ini, aku ingin kita tenang setelah mereka lahir,”ujarnya, aku mengangguk sembari tetap memijit kepala suamiku itu,


“Iya pasti bisa, aku percaya padamu mas.”harapku, mas Feri tersenyum.


“Iya semoga mas bisa mengendalikan ini semua,”lirihnya, aku tersenyum harap sembari tetap terfikir apa yang tengah tersembunyi, aku harus segara carii tau ini semua.


Keesokan paginya mas Feri bersiap pergi menemui Investor yang sudah ia Dm sebelumny a di email, sedangkan aku tak mau kasih tau pesan Aldo yang masuk kemarin ke ponselnya, setelah mas Feri pergi aku juga siap-siap untuk menemui Aldo di kantornya, dia pasti sudah menunggu dengan tanda tangan pengembalian saham dan anti rugi itu, sesampai disana aku coba mengatur nafas dulu di pintu dan habis itu bulatkan tekad untuk masuk.


“Mana sih dia. Coba kalian hubungi lagi.”titahnya pada asistennya, mereka tanpa fokus menghubungi hingga mata Aldo membulat melihat aku masuk, reflek dia berikan isyarat untuk semuanya keluar.

__ADS_1


“Tinggalkan kami berdua.”ucapnya pelan, aku menghela nafas untuk bicara padanya.


“Yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga, kamu tau sulit bagiku untuk mengikhlaskan Inaku.’’ujarnya pelan mendekat, aku mendegup dan coba berkata dengan gemetar ia melirik kandunganku dan habiis itu berkata.


“Apa yang membuatmu kesini.’’ujarnya, aku menoleh padanya dan bertanya dengan serius.


“Apa kamu tengah mengancam mas Feri selama ini?”ujarku, Aldo mendegup dengan sedikit mengangguk.


“Aku bingung bagaimana caranya membawamu untuk datang menemuiku, aku tidak bisa Ina, aku sudah berusaha melupakan kamu, cuman gak bisa,”ujarnya santau, aku menautkan alisku dan berkata padanya.


“Aku tengah hamil anaknya mas Feri, kamu dah kehilangan akal. cinta tapi seperti orang bodoh.”gerutuku, wajah Aldo datar menatapku.


“Oh, anak Feri? Itu bisa saja anakku kan?”ucapnya yan reflek aku melayangkan tamparan. Mataku berkaca-kaca sedangkan bocah itu hanya nanar.


“Tolong waraslah Aldo, jangan bicara seperti orang gila.”ujarku kesal, Aldo mendegup dan tampak susah menggetarkan bibirnya.


“Apa yang kamu lakukan pada mas Feri, kenapa dia sangat tertekan sekali.”ujarku sedikit membentak.


“Aku mengancamnya, akan beberkan foto kebersamaan kita di kamar waktu itu.”ujarnya nafasku tersengal dan reflek kembali air mataku menghujan, untuk yang kesekian kalinya, mas Feri selalu berkorban untukku, dia tidak ingin menjatuhkan nama baikku di orang-oranng, melihat air mataku itu Aldo mendekat.


“Percayalah Ina, itu hanya ancaman. Kecuali kamu sendiri menolak untuk kembali.”aku menautkan alisku makin tak habis pikir.


“Tentu saja aku menolak, emag kamu fikir kamu siapa hingga jadi tempatku kembali.’’geramku mengibas tangannya yang bertengker di bahuku, Aldo nanar dan reflek menggeleng, dia menarik tanganku lagi dan berkata.


“Jangan bertindak bodoh Ina, jika kamu pergi hari ini. Kamu akan menyesal.”bisiknya, nafasku tersengal dan sangat miris mendengarnya. Aku menggeleng pelan menarik tanganku yang di cengkramnya dan berlalu pergi


“Ada apa dengannya..”gerutuku tak habis pikir sepanjang jalan, aku harus lakukan sesuatu aku tidak mau semuanya jadi berantakan begini, aku harus hubungi mama.


Panggilan itu tersambung,


“Hallo Ina?”


“Mama dimana? Kita bisa ketemu?”tanyaku.


“Dirumah sayang”ujarnya. 


“Ya udah Ina akan kesana.”timpalku, mama reflek berkata dengan nada cemas.


“Eh jangan kesini, kamu lagi hamil besar, memang ada masalah apa? Nak biar-“ucapan mama aku cegat karna buru-buru mematikannya. Bergegas aku hampiri mama kerumah.


Sesampai disana, aku langsung menceritakan semuanya pada mama, awalnya mama terdengar syock hingga dia terfikir seseorang yang mungkin bisa membantu kami.


“Mama mau nelpon siapa mah?”tanyaku, mama tampak Fokus hingga telpon itu di angkat.


“Halo? Rez?”ujarnya.


“Iya mbak apa?’’


“Saya mau menanyakan perihal perusahaan Resti yang kamu kelola itu?”ucapya terbata, aku menautkan alis coba memahami mama tengah bicara dengan siapa.


“Ya, kenapa?”


“Sekaraang, Feri tengah mandek perusahaan terancam bangkrut, kamu bisa membantu dia butuh investor.”ucap mama lagi dari sana terdengar terkekeh.

__ADS_1


“Tentu saja aku bisa bantu, perusahaan ini juga berdiri berkat keluarganya,”ujarnya mendenngar itu aku lega, mama juga tampak lega


“Ya ampun Rez terima kasih ya, aku bingung makanya aku hubungi kamu.”


“Ya gak apa, memang sudah lama aku sangat ingin memindahkan perusahaan ini ke indo, cuman belum sempat karna aku juga sudah punya keluarga disini, salam saja buat adik kakakku itu ya, katakan jangan takut disini masih ada bibiknya.”jelasnya, mendengar itu aku lega, mama kembali menoleh padaku dan berkata.


“Bagaiamana jika kalian menyembunyikan Ini lebih lama dari mama. bisa saja terlanjur berantakan Feri memang kebiasaan gitu, suka menyimpan tindakannya sendiri”geruutu mama, aku memeluk mama dan berkata.


“Yang penting sekarang kita sudah bisa kendalikan semuannya mah.”ujarku, mama tersenyum dan memelukku erat.


“Sudah sana.. hubungi suamimu, kasian dia. Dia bisa saja setres karna banyak pikiran.”


“Baik mah..”sigapku coba mengotak-atik ponsel untu menghubungi mas Feri namun sepertinya dia sangat sibuk hingga aku putuskan untuk menunggunya saja dirumah.


 


Sorepun datang aku mendegar mobil mas Feri datang memasuki garasi, bisa aku lihat dia begitu lelah dan lesu, perlahan aku menghampirinya dan menariknya duduk disofa.


“Sayang kamu capek banget ya?’’ucapku mengelus dahinya sedikit dengan senyum mas Feri tampak heran meliht wajahku seperti itu.


“Ina.. sekarang gak waktunya bercanda, mas beneran pusing.’’ucapnya, aku terkekeh dan berkata gemes sedikit memencet hidungnya.


“Siapa yang bercanda, ini ya aku kasih tau sama kamu. gak perlu mikirin ini lagi mas . Kita dah ketemu solusinya”ucapku mas Feri tampak menautkan alisnya dengan tatapan heran.


“Maksudnya?”


“Iya sayang, jadi kamu kembalikan saja itu sahamnya dan berikan ganti ruginya sama Aldo, gak usah takut lagi dengan nama baik istrimu ini, setelah itu kita bisa terbebas dari Al company.”jelasku, Mas Feri tampak memandangku datar.


“Apa kesepakatanmu dengan Aldo? Apa kamu menemuinya,?’’tanyanya dengan wajah dengan tanda tanya.


“Bukan dengan Aldo. Terserah dia mau ngapain aja, kita selesai semua denganya dan mulai semuanya dari nol lagi.”ujarku, Mas Feri masih bingung.


“Emang kamu dapet investornya.”


“Dapet sayang, kamu pernah cerita punya bibik di luar negrikan? Perusahaan papa dan mama kamu yang dikelolanya sekarang sudah berkambang, dan kamu berhak setengahnya dari perusahaan itu,’’ujarku, mas Feri gemetar coba mengingat.


“Bibik Rezna?”tanyanya, aku mengangguk dengan senyum, nafas mas Feri tampak lega sekali dan reflek memelukku.


“Terima kasih sayang, kamu memang selalu jadi penolongku, aku bersykur punya istri sepertimu Ina..”ucapnya, aku tersenyum.


“Cepat, kamu selesaikan semuanya dengan Aldo, agar kita bisa hidup lagi dengan tenang”ujarku.


“Tentu saja, aku akan menyelesaikannnya secepatnya”ucapnya. Aku lega dan sangat senang sekali melihat wajah mas Feri kembali lega, yang sebelumnyaa gundah dan resah.


Tiga hari berlalu, kehidupan kami kembali normal dan bahagia, aku bisa tenang menyambut hari lahiranku jika semuanya sudah beres begini, tidak ada lagi yang perlu aku cemaskan, mas Feri tak perlu berhadapan dengan Aldo lagi di kantor, tanpa aku was-was apa saja yang terjadi di kantor, hingga siang ini sepertinya aku harus tariik ulur dulu kebahagian yang datang baru-baru ini, aku tersintak dan terkejut hebat saat menonton berita, bahwa skandal besar direkture Al company terungkap, aku makin tak habis pikir dengan jalan pikiran Aldo, bisa-bisanya dia pansos begini di media mencoreng nama baiknya sendiri, aku gemetar, dan tertunduk menagis,


“Tuhan… apa lagi ini.”bisikku sesegukan, melihat itu Lastri datang.


“Non, nona kenapa?’’ucapnya.


“Media mengendus pembisnis sekaligus direkture muda yang cukup popular ini tengah tersandung skandal dengan wanita cantik berkeluarga-“sigap aku pencet remote Tv untuk mematikannya, kembali aku menangis sesegukan, yang aku tangisi bukan nasibku yang di cap buruk oleh semua orang, tapi harga diri mas Feri, sudah cukup aku torehkan luka hatinya, aku tidakk mau mencoreng wajahnya didepan orang banyak begini.


“Hiks… mas Feri, tolong maafkan Ina..’’tangisku tertunduk mengelus dadaku yang terasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2