
POV FERI
Aku Terduduk lesu di tepi ranjang hotel setelah bangun dari tidurku, kembali aku hela nafas sesak saat mematikan ponsel, ada beberapa panggilan tak terjawab darii Ina, aku lagi males bicara pada Ina sekarang, mungkin aku harus menjauh dulu dari hidupnya agar dia puas. Aku sudah sangat putus asa sekali sekarang, apa yang harus aku lakukan.
Untuk menyembuhkan Ina segala cara sudah aku tempuh bahkan telah membawa wanita lain ke dalam rumah tangga kami, bergegas aku kekamar mandi dan berkemas, hari ini aku akan temui seseorang yang berpengaruh bagi hidup Ina.Yang selama ini selalu menannyakan kabar Ina dan berharap Ina baik-baik saja, ya itu ningsih ibu kandungnya Ina, aku tidak pernah beri tau Ina kalo aku masih aktif berkomunikasi dengan ibu kandungnya karna memang Ina tidak ingin bertemu dengan ibunya. Setelah selesai berkemas, aku keluar dari hotel dan melaju ke kontrakan mertuaku itu,
Sesampai disana aku mengetuk pintu dengan tertatih dan terbopoh wanita paruh baya itu berusaha membuka pintu, tubuh ringkih yang sudah mulai sakit-sakitan tampak merekahkan senyum melihat aku datang,
“Nak Feri masuk nak?”ucapnya membuka lebar pintu itu aku masuk dan memberikan bingkisan yang sempat aku beli tadi di jalan.
“Sudah lama Sekali nak Feri tidak kesini?”ucap ibuk sembari duduk.
“Ya buk, akhir-akhir ini, Feri sangat sibuk.’’timpalku, mertuaku itu tersenyum.
“Ya ibuk paham, Ina bagaimana kabarnya’’tanyanya aku sejenak diam dan menghela nafas.
“Baik buk’singkatku, matanya berkaca dan bibirnya gemetar, buk nigsih tak bisa membendung air matanya dan menangis tersedu-sedu,
“Aku ibu yang jahat, aku membuang anakku demi suamiku, ini karma. Suamiku menikah lagi dengan wanita kaya dan aku di benci anakku seumur hidup. mungkin aku akan mati sendirian”ujarnya, aku berdengus pelan dan berkata,
“Jangan begitu buk, kan ada Feri. Maaf buk, saya belum bisa pertemukan ibuk dengan Ina, moodnya tidak stabil. 5 tahun belakangan dia harus terapi extra menghilangkan traumanya, aku takut Ina makin down aku pertemukan kalian”jelasku,
“Taka pa nak, kamu dah mau mengunjungi ibuk saja, ibuk sudah sangat senang”sahutnya.
“Ina sudah bersama keluarga yang tepat, mama Rania yakni tanteku dia menyyangi Ina melebihi dari apapun''jelasku. Kembali ibuk nigsih tersedu,
“Syukurlah, semoga Ina selalu bahagia, demi ibuk tolong jaga Ina dengan baik Fer, ibuk yakin kamu pasti pria yang sangat baik, hanya kamu yang bisa bahagiakan Ina,”ujarnya aku mengangguk dan mengelus bahu mertuaku itu lembut,
“Feri balik dulu ya buk, jaga diri ibuk baik-baik,’’
“Baik nak”lirihnya.
POV RARA.
Siang ini aku dan mba Ina menyisir jalanan kota dan hampir setiap hotel dan tempat penginapan kami datangi mencari mas Feri, mba Ina terus saja menggerutu sembari menyetir.
“Kok bisa kamu tidak bisa mencegatnya Rara, harusnya panggil aku.’’geramnya aku masih bungkam membayangkan kejadian semalam. Apa aku salah telah mengatakan itu sama mas Feri, apa aku salah meminta mas Feri nikahin aku, mungkin kalau aku nurut saja dia tidak akan pergi seperti ini, tapi apa aku semuraah itu? Aku bukan jalang.
“Rara kamu denger aku gak sih?”teriak mba Ina membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
“Aku sudah berusaha hentikan mba, mas Feri kayaknya dah putus asa banget”ketusku. Mba Ina berdesih dan berkata dengan tak habis pikir.
“Apa yang membuat mas Feri begitu putus asa, bukannya diaa sudah menemukan solusi untuk masalahnya. Apa lagi sih”gerutunya.
"Dia memang butuh ****, tapi hatinya juga tak bisa dipaksakan, mba bisa bukak mata dan sadar gak sih, mas Feri itu sangat mencintai mba?”ucapku sedikit tinggi dengan tak habis pikir. mba Ina hanya diam sembari tetap fokus pada stir dan situasi di luar.
“Selamanya dia tidak akan bisa mencintaiku, harusnya melihat suami seperti itu mba harus bisa usir phobia itu, dan jadi istri yang sempurna, rumah tangga kalian sudah sangat indah, mba sangat beruntung memiliki mas Feri,”gerutuku, untuk sejenak mba Ina tarik nafas. Lalu coba berkata.
“Tapi kenapa kamu tidak bisa, membuat dia mencintaimu”ucapnya melirik sebentar dan kembali fokus menyetir, aku melihatnya dengan mata sedikit terbuka dan mulut ternganga. Kesal aja mendengarnya aku menarik nafas dan berkata dengan sedikit lantang.
“Bisa aja mba. Tapi apa mba mau? mas Feri lebih mempriotaskan aku dan tak pedulikan mba, mungkin saja dia tidak ingin menyakiti aku dan mencampakan mba dari kehidupannya,atau aku bisa saja membawa mas Feri pergi karna aku tidak mau berbagi?’’ucapku bicara dengan kesal. Seketika mba Ina injak rem. Dan menoleh padaku dengan tatapan tajam.
“Apa kamu punya niat akan membawa mas Feri pergi?”lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Aku menghela nafas dan berkata.
‘Ya. Karna memang begitu seharusnya perempuan! sejatinya wanita itu cemburuan dan tidak akan pernah ingin berbagi!”ujarku mba Ina tampak terhanyuh dan kembali bersandar dia megusap wajahnya dan merintikkaan air mata.
“Percayalah, aku juga tidak ingin berbagi, aku juga sakit saat mas Feri mendatangimu, aku lakukan ini demi mas Feri, tolong kasihani wanita malang ini, aku tidak bisa berpisah dengan suamiku hiks.”lirihnya menangis terisak, reflek aku terkejut dengan reaksinya. Perlahan aku menggapai bahunya dan berkata
“Mba Rara bilangkan itu seandainya, lagian Rara gak akan bisa membawa mas Feri pergi karna dia sangat mencintai mba”jelasku, mba Ina terisak dengan menutup wajahnya, kucoba merangkul dan memeluk mba Ina wanita itu hanya bisa menangis sesegukan. Dia keluar dari pelukan dan berkata sembari menghidupkn mesin mobil lagi.
“Kita harus lapor polisi?”ujarnya
“Habis dia tidak pernah begini sebelumnya,”ucapnya dengan cemas.
“Mungkin lebih baik kita biarkan saja mas Feri sendiri mba, nanti dia akan kembali dia pria yang bertnggung jawab, mas Feri pasti paham. Kalau mba Ina itu sangat butuhin dia.”jelasku.
“Baiklah, kita kembali pulang, padahalkan rencananya kita mau piknik”lirih mba Ina, aku tersenyum dan coba mengelus pundaknya.
“Itu bisa lain waktu,”singkatku, Mba Ina hanya mengangguk. Dan kembali menyetir mobilnya.
Sore berkunjung karna bosan di kamar, aku datangi mba Ina di kamarnya yang sedang duduk di balkon kamar sembari menatap langit biru yang sudah mulai berbaur jingga.
“Mba..”sapaku. sontak mba Ina menoleh
“Ya Ra,”sahutya menyunggingkan senyum.
“Gimana kalo kita keluar, apa mba gak bosan dirumah,”ujarku, aku hanya ingin berusaha menghiburnya.
“Aku tidak suka keramaian Ra, aku lebih nyaman menyendiri.”timpalnya aku sedikit memanyunkan bibirku,
__ADS_1
“Mba, kalo seperti ini terus, mba gak akan sembuh, mana tau saat mba terbuka pada dunia mba bisa perlahan pulih, di luar sana, banyak sekali hal baru yang akan mba ketahui’’ujarku, mba Ina tampak berfikir sejenak.
“Baiklah,”ucapnya aku tersenyum dan beranjak kebawah bersiap.
“Mba bersiaplah, kita akan pergi kecafe, jalan-jalan atau bahkan ke tempat-tempat hiburan?”ujarku, mba Ina hanya mengangguk lesu,
Satu jam berlalu, kami menikmati sore hingga senja di sebuah Café, tapi mba Ina, tampak tak brsemangat sekali, dia lesu hingga berkali-kali memeriksa telponnya berharap ada pesan dan telpon dari mas Feri. Namun sepertinya dia harus sabar lagi karna belum kabar apa-apa dari suaminya itu.
“Ini bahkan baru beberapa jam tanpa kabar, bagaiama jika berhari-hari”lirihnya aku tampak ikut bersimpati, walau tak bisa aku pungkiri juga bahwa aku kangen banget sama suami mba Ina itu.
“Ya udah, mba yang sabar aja. Aku yakin mas Feri juga kangen sama mbak”ujarku mba Ina hanya manyun, tak jauh dari meja kami, ada sepasang kekasih, sepertinya dia bukan orang lokal mungkin turis yang sedang jalan-jalan, pakaian wanitanya sangat minim dn prianya berkulit puttih seperti orang eropa, hanya saja mungkin ceweknya orang asia yang memiliki kulit eksotis, mereka tampak mesra seperti tak pedulikan orang sekitar, berpelukan bahkan bercumbu, mba Ina yang juga melihat itu reflek bertanya dengan datar,
“Biar apa? Kek gitu?”singkatnya aku terkekeh dan berkata padanya.
“Itu lah cinta mba, Dunia bahkan seperti milik mereka berdua. Banyak cara bagi orang-orang meekpresikan cinta, kadang ada yang lebih suka pribadi bahkan ada yang mengumbar, karna memang jika kita sudah mencintai, apapun kondisi dan situasinya kita bakalan happy”jelaskuu, mba Ina tampak berdesih dan berbisik.
“Itu malah kelihatan seperti kehiangan akal”gerutunya berbisik, aku terawa renyah dan berkata,
“Iya mba, kadang cinta seperti itu, . Bisa membuat orang waras jadi gila, dan orang gila jadi waras,”ucapku terkekeh, mba Ina juga terkekeh. Dan dia sontak terdiam seperti mengingat sesuatu dia gemetar dan matanya berkaca-kaca.
“Aku pernah melihat orang waras begitu gila mencintai, hingga di buang darah dagingnya sendiri demi suaminya,”lirihnya merintikkn air mata reflek aku terdiam,
“Siapa?”tanyaku.
“Orang gila,”Ucapnya berat, aku paham perasaan mba Ina dan tak mau Tanya-tanya lagi takut dia semakin down,
“Ya sudah mba, jangan dipikirkan kalo membebani pikiran, kita bisa pulang?”tanyaku mba Ina menghapus air matanya dan berkata,
“Ayo, mana tau mas Feri sudah ada dirumah’’ujarnya aku mengangguk dengan senyum hangat, tersemat juga harap dihatiku bahwa itu benar, aku juga cemas dan terfikir mas Feri sekarang dimana. Kami beranjak dari situ hingga kami berdua tersentak karna kehadiran pria yang tiba-tiba menyeret lenganku menjauh dari mba Ina,
“Aldo kamu apa-apa’an sih!”hardikku menghempas tanganku kasar, dia pacarku, kami putus satu bulan yang lalu karna dia ketahuan jalan sama cewek lain, aku diamkan dia dan memutuskan sepihak hubungan itu.
“Sayang kamu dengerin aku, kamu salah paham. Dia bukan selingkuhan aku”bisikknya mengelus pipi hingga mencengkram bahuku, aku menggeliat beronta tak mau di bujuk.
“Pergilah..! aku tidak bisa lanjutin hubungan kita”Tegasku, Aldo kesal meremas bahuku dan berkata.
“Tapi kenapa sayang, ini Cuma salah paham. Dan kamu kemana aja selama ini menghilang begitu saja?’’tanyanyanya aku pilih tak menjawab dan bersuha hendak pergi, namun Aldo berusaha mencegatku dan memelukku paksa melihat kejadian itu mba Ina reflek menyeretku dan melayangkan tamparan ke pipi Aldo mataku membulat saat Aldo terdiam mengelus pipinya,
“Tolong jangan kurang ajar!”hardiknya, aku mendegup untuk sejenak aku nanar melihat tindakan mba Ina yang berlebihan menurutku, tapi karna memang mba Ina anti pelecehan, dia mungkin menganggap tindakan Aldo tadi kejahatan.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMENT AND SHARE