FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
SURAT


__ADS_3

POV FERI


 Saat aku terjebak dalam kesunyian malam seperti ini aku tak bisa kembali memejamkan mata saat Masih bisa aku dengar tangisan Rara menghentikanku waktu itu , aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya tapi kenapa Ina istriku seakan membantuku untuk mengingat semua ini, mendengar kabar dari pria itu kemarin membuat aku jadi goyah, aku memang sangat merasa bersalah, tapi hatiku ingin kabur dari semua kenyataan ini, kenyataan bahwa akulah penjahat yang telah berani menggantung perasaan seseorang dan mempermainkannya dengan sesuka hati.


Aku coba masa bodoh dengan ini. Tapi apalah dayaku, aku tak bisa hapuskan Rara dari ingatanku, dia sama sekali tak salah dalam hal ini, dia hanya korban dari tingkahku, andai waktu itu aku tak mengajaknya kepuncak hingga menyentuhnya diatas ranjang, hati gadis itu tidak akan terluka parah seperti ini, tak mudah memang bagi Rara untuk melewati ini, tapi aku juga tak bisa mengecewakan dan mengkhianati Ina, Aku ingin sekali membalut lukanya itu, andai aku tau cara bagaimana mengobati Rara agar dia tidak rapuh tanpa menyakiti Ina sedikitpun. Andai aku punya jalan lain yang membuat tak akan membawa perubahan apapun bagi hati dan pikiranku, mungkin aku akan lakukan, aku berdesih dan sedikit mengusap wajahku, disampingku duduk kini Ina yang tengah tidur itupun beringsut saat menyadari aku terbangun, perlahan dia kucek matanya dan ikut juga duduk.


“Mas? Kamu kenapa?”tanyanya, sedikit aku hela nafas dan berkata.


“Gak ada apa-apa sayang, kamu tidur lagi. Mas Cuma kepikiran ada berkas yang belum selesai, jadi mas cek dulu,”ucapku beranjak mengambil Laptop Ina mengangguk dan kembali merebah.


“Mas, jangan begadang ya? Kan masih bisa di kerjakan esok hari?”pintanya aku mengangguk dan tersenyum.


“Kamu tenang saja sayang, yaudah kamu tidur gih,”titahku Ina mengangguk dan tersenyum coba memperbaiki posisi tidurnya.


Kembali kehampaan menjelma diruang batinku, sedikit aku aku hela naafas dan mengusap batang hidungku karna pusing, apa yang membuatku bisa serapuh ini, bahkan aku tidak bisa tenang rasanya, aku tak bisa terus-terusan seperti ini. Kesal aku sambar ponsel di nakas dan coba kembali melihat kapan Rara aktif, nafasku tersengal dia sudah tak aktif satu bulan yang lalu, mungkin aku akan datangi dia besok bersama Ina, agar hatiku bisa tenang dan tak terlalu merasa bersalah, jujur aku sangat mengkhawatirkannya juga,


Pagi berkunjung, setelah selesai sarapan aku mendatangi Ina.


“Mas. Pulang dari kantor kita ketempat mama ya, Ina kangen siituasi dirumah mama.”ujarnya.


“Ya, baiklahh tapi nanti, kamu ikut aku ya? Kita temui Rara.”singkatku memasang wajah biasa sedikit Ina melihatku dengan datar,


“Semalam katanya kamu mau ketemu Rara, mas dapat kabar dari saudaranya kalo dia lagi sakit, jadi ini mungkin waktu yang tepat.”jelasku, Ina mengangguk.


"Oh, tadinya Ina fikir mas gak suka. kalau Ina tanya-tanya Rara?''tanyanya dengan memperhatikan wajahku


"Bukannya gak suka, lagian mas lagi banyak kepikiran semalam gak jawab. "

__ADS_1


“Rara, sakit mas? Sakit apa?”singkatnya tampak cemas,


“Aku juga tidak tau, itu makanya kita cari tau nanti.’’ujarku, Bergegas Ina mengambil blazer dan tasnya dan kembali padaku,


“Jadi hari ini, kita kebandung kah mas?”tanyanya, aku kikuk dan coba menjawab dengan terbata,,


“Gak sayang, dia disini kok, dia bukan orang bandung.”ujarku, tampak Ina nanar sembari mengangguk aku seret lengannya ke mobil pelan.


Sesampai disana aku dan Ina turun, Ina melihat pria yang tengah berpamitan dengan orang tuanya Rara dengan seksama.


“Mas, itu Aldo pacarnya Rara,”singkat istriku, segera aku alihkan fokusku pada mesin mobil dan menoleh pada pria itu, pria yang sama saat menemuiku waktu itu.


“Kamu tau dari mana kalau dia pacarnya Rara?”tanyaku sembari tetap melihat pria itu hendak pergi dengan motornya.


"waktu itu, dia pernah temui berdua waktu jalan sama Rara"ujarnya


“Mas, kenapa harus bohongin rumah Rara  bandung, sih kalo ternyata Rara masih tinggal dijakarta,”gerutu Ina saat keluar dari mobil. Aku sedikit menoleh dan berkata.


“Namanya juga bohong.”ujarku Ina mengambil Nafas dan coba menggenggam tanganku untuk masuk,


Sesampai disana, orang tua Rara tampak menyambut, kami yang tadinya masih di pintu,


“Siang buk, saya Ina dan ini suami saya, kami berdua mau menemui Rara, Raranya ada”Tanya Ina untuk sejenak tante itu melihat kami secara bergantian sebelum dia berkata.


“Ada.. dia lagi sakit, ayo silahkaan masuk!”


Kami pun membuntuti wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu Kedalam. Sesampainya dikamar aku bisa lihat Rara terbaring kaku. Dengan diam tak bergeming,

__ADS_1


“Sudah satu bulan lamanya, Rara seperti ini, tubuhnya lemah. Dia tidak mau bicara dan selalu menangis, aku bingung bagaimana cara menyembuhkannya.’’jelas ibunya, aku mendengar sembari melirik ke atas ranjang, Ina yang tidak sabar ingin bicara dengan Rara itupun datang menghampiri.


“Ra, Ini aku Ina, ada apa denganmu Ra?”tanyanya lirih menghenyak disamping Rara terbaring, aku berjalan mendekat pada mereka berdua. Bisa aku lihat Rara sanggup menggeraakkan lehernya sedikit melihatku saat sebelumnya tak mampu menjawab pertanyaan Ina.


“M-mmas..”lirihnya serak dengan tatatapan mata berkaca-kaca, aku mendegup mris melihat keadaannya seperti itu. Melihat air mata gundah Rara, dan tanganya coba menggapaiku membuat Ina nanar dan coba menghindar membiarkanku mendekat wanita itu gemetar menangis dan coba mengenggm lenganku kuat, merasa ada yang aneh Ina mendekat.


“Mas, kenapa reaksi Rara seperti ini melihatmu?”Tanyanya tak habis fikir, akupun bingung bagaimana cara menjelaskannnya, dalam isak tangis Rara itu, ibunya datang menghampiri.


“Maaf, mungkin Rara belum bisa ditemui. Dia mengalami depresi hebat selama dua bulan ini, kami sangat sulit berkomunikasi dengannya, saya mohon kalian bisa berkunjung lain waktu, ujarnya, aku mendegup dan coba berdiri menjauh darinya, Ina yang tampak bingung itu juga coba menyeret lenganku, aku bisa lihat mata Rara seolah ingin bicara denganku namun aku memilih bungkam mendegup serek kerongkonganku.


“Mas, Ayo…”lirih Ina menyeret tanganku keluar.


Sesampai di mobil aku masih nanar membayangkan betapa mirisnya yang diderita Rara tadi, aku tak bisa fokus hingga ternyata Ina tak ada bersamaku di dalam mobil, kembali aku menoleh keluar jendela mobilku itu dan bisa aku lihat ibunya Rara berbicara pada  Ina hingga memberikan sesuatu padanya, aku pensaran dan coba beranjak keluar lagi menyusul, Ina yang datang menghhampiriku dengan panik melihat glegatku itu itu sontak Ina menyapa.


“Mas ada apa? Ayo kita pulang sekarang, Rara belum bisa di temui sekarang.”ujarnya aku melirik kertas di tangan Ina dan coba menannyakannya.


“Sayang itu apa?”tanyaku. Aku melirik kertas itu dan terus berjalan.


“Kata mamanya Rara, dia sempat menulis surat ini sebelum Down.”ujarnya aku mendegup dan coba menyambar.


“Mas, ini suratnya buat aku,”singkat Ina mengelakkan kertas itu dari jangkauan sesampainya di mobil, aku membukakan pintu untuk Ina dan Ikut juga masuk. menghenyak di kursi kemudi Keringat dinginku mengucur deras saat melihat surat yang digenggam Ina, aku berfikir, mungkin itu curahan ati Rara, bagaimana jika dia katakan betapa dia merindukanku atau semacam lainnya yang pastinya menyudutkan aku. Perlahan Ina coba membuka isi surat itu, aku dagdigdug menanti reaksi Ina, namun setlah beberapa menit bisa aku lihat, Ina teranyuh dan merintikkan air mata, aku bingung ingin tau banget apa isi dari surat itu. Ina menoleh padaku dengan tatapan sendu membuat ribuan pertaanyaan menjalar di otakku.


“Mas, kita harus bawa Rara.. kembali”lirihnya aku menautkan alisku tak habis pikir. Lama aku pandang lekat wajah istriku namun aku tak bisa temukan jawaban apa-apa. Apa yang tengah ada dalam fikirannya, sadarkah dia tentang apa yang dia katakan.


KABOOOOORRRR AHH...


TAKUUT DILABRAK.....

__ADS_1


__ADS_2