
POV FERI
Hari sudah mulai malam, namun aku belum juga melihat mobil Ina memasuki gerbang, aku cemas dan sangat mengkhawatirkannya. Jujur aku bingung kenapa setiap keputusan yang aku ambil selalu menjeratku hingga aku tak bisa berkutik seperti ini.
“Mas,”rengek Rara, datang mendekat padaku aku menoleh dan menghela nafas sedikit berat.
“Kamu belum tidur.”ucapku, Rara menggeleng dan mendekat padaku dengan wajah manyun gadis itu merebahkan wajahnya kedadaku yang duduk bersandar di sofa, aku hanya bisa mengelus-ngelus lembut rambutnya. Sempat terfifkir dia kenapa belum tidur juga, apa dia belum minum susu, yang aku bikin barusan.
“Sayang, kamu dah minum susunya belom?’’tanyaku sedikit melihat wajahnya, dia manyun dan coba meggeleng.
“Ya abis kamu belum nyamperin aku kekamar?”ujarnya
“Mas kamu nunggu mba Ina ya?”tanyanya lagi
“Ya iyalah aku nungguin, khawatir aja Ra dia gak biasa pergi-pergi begini. Ini dah jam berapa.”ujarku. Rara sedikit berdengus dan beranjak pergi kekamar. Setelah itu Dia kembali dengan membawa berkas perceraian dan memberikannya padaku.
“Mas, mba Ina mau kamu menanda tangani ini, dahlah kita pergi aja dari sini, aku mau kita pergi jauh-jauh dari mba Ina mas. Aku mau kita punya rumah sendiri dan hidup bahagia, kamu maukan kayak gitu?”rengeknya aku menghela nafas berat dan coba berkata padanya.
“Aku tidak bisa berdiri sendiri Ra, kamu tau kan aku sangat butuh Ina.”
“trus kita akan jadi congornya Ina setiap hari kayak begini mas?”aku gak ngerti ya sama kamu mas. Jujur aku tidak butuh semua ini, kita pasti punya cara lain untuk bisa berdiri sendiri,”ujarnya lagi, aku diam tak mau melihat wajahnya. Kembali Rara berkata dengan geram,
“Aku tau kamu mencintai mba Ina, tapi aku juga butuh kamu mas, apa aku salah? Aku hanya mintak hakku sebagai istri,”aku masih bungkam. Dia tertunduk dan sesegukan menangis. Aku menghela nafas berat dan membuangnya pelan. Segera aku gapai pundaknya untuk aku rangkul.
“Kamu, juga jangan seperti ini, Ina tidak pernah membenci Rara seperti ini kamu tau bahkan saat kita menikahpun dia tidak menggugat kita atau dia bisa lakukan apa saja, jadi tolong bersikaplah dengan baik mas pusing Ra, bisa gak kamu coba tau diri aja deh
“Lagi kan mas? Kamu selalu memuji mba Ina. Kamu gak usah ingetin aku terus tentang kebaikan istri pertmamu itu.”sungutnya, kami berdua diam-diaman hingga tampaknya Rara meredam amarahnya dan kembali merebah dibadanku, aku diam sembari sedikit geleng-geleng,
“Ya udah sana, kamu kekamar trus minum susunya ya, mas mau disini dulu nunggu Ina.”ujarku, ia terdengar merengek mengelus dadaku lembut.
“Rara mau tidur, mas antar Rara kekamar.”pintanya memaksa, dengan berat hati aku beringsut berdiri dan membawanya kekamar.
“Kamu tidur ya, mas masih gak enak badan, jadi gak mood ngapain-ngapain sekarang.’’ujarku saat merebahkannya di atas kasur, kembali Rara beringsut dan memelukku,
“Tapi mas, Rara kangeen..”rengeknya. aku melirik gelas susu di atas nakas yang belum diminum.
“Tunggu sayang, kamu minum susu dulu ya? Biar kuat lagi.”ujarku Rara tersenyum saat aku ambilkan dan berikan padanya, aku merasa lega saat tu anak teguk habis air susu itu, kembali dia menoleh padaku dengan senyum, aku memandangi datar, berharap obat itu cepat bereaksi, dia mendorong tubuhku sedikit kuat dan terhempas di kasur, Rara mendatangiku sesuka hatinya, sandiwara dan jebakan yang aku buat sendiri tak bisa aku nafikkan kenikmatanya, tak butuh waktu lama Rara tertidur di pelukanku, aku lega dan duduk membalikkan badanya keatas kasur kucoba menidurkanya di atas kasur menyelimutinya dengan Rapi dan beranjak keluar kamar, aku makin kesal melihat jam didinding sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, geram aku otak atik ponselku dan menghubungi Ina.
__ADS_1
Tuuuuuut Tuuuuut Tuuuut
Panggilan itu tersambung, namun Ina tak mau mengangkatnya berkali-kali aku coba hubungi dia selalu meriject,
“Sial, apa yang dia lakukan di luar sana? Dia dimana dan sedang apa?”batinku dengan mata berkaca-kaca. Aku makin kesal dan memilih beranjak ke balkon kamar kami untuuk bisa memantau mobil Ina dari jauh.
POV INA.
Setelah melewati aktifitas yang cukup padat hari ini, dari tempat futsal siang ini, hingga ke studio, untuk rehat sejenak, dan sore harinya kami menyantap makanan lezat di restoran, aku happy dengan tingkah Aldo segala sikap kocak dan humblenya membuat aku nyaman dan lebih terassa bersemangat, dia berbeda dan sangat pandai membuat taktik agar aku tidak merasa takut padanya hingga aku sama sekali tidak merasa takut padanya. Dia menyenangkan, asyik. Dan pastinya kelihatan tulus, mala mini sesuai janjinya dia mengaja aku ketempat aku biasa melampiaskan amarahku di tepi jalan bertebing itu, Aldo benar, tempat itu lebih indah saat malam hari, rumah pemuikiman warga yang ramai dibawah sana tampak hindah bercahaya dari lampu-lampu yang bertebaran, sementara itu langit menampakan tanda bersahabat dengan hamparan bintang yang berkerlap kerlip dan rembulan yang begitu terang benderang.
“Kamu benar Al, tempat Ini sangat bagus sekali malam hari.”ujarku, Menoleh padanya Aldo tersenyum dan coba menunjuk satu bintang.
“Lihat bintang itu.”ucapnya pelan, aku menoleh pada salah satu bintang yang sangat terang namun dia terpencil.
“Ya, ada apa dengan bintang itu,
“Bintang itu aku beri nama Ina.”lirih Aldo, aku menatap dalam manik matanya dan berkata,
“Karna dia Indah dan dia tidak menyadari keindahannya”ucapnya. Aku manyun dan coba mencari arti kata dari katanya, kembali Aldo menggetarkan bibirnya dan berkata,
“Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri, tanpa kamu sadar ada seseorang yang mengorbankan dunianya untukmu.”ujarnya aku menatap wajah Aldo dala, setelah semua yang kami lewati munafik memang jika aku tidak terpesona dengan usahanya, dia lakukan apa saja supaya aku tersenyum, sedangkan terlalu sibuk memikirkan seseorang yang hanya bisa memberi duka dan luka, aku mendegup liurku dan coba menggetar bibirku memandang Aldo dengan penuh tanda Tanya.
“Aku tidak mudah percaya akan cinta Al, aku sulit mengartikan cinta, yang aku tau sekarang aku hanya ingin bahagia.”ujarku lirih, sedikit pria muda nan tampan itu megangkat telapak tangannya dan mengelus pipi hingga menyibak rambutku yang terurai.
“Apa lagi yang kamu inginkan selain kebahagiaan?”Tanyanya, aku berfikir sejenak dan berkata.
“Kesetiaaan?”bisikku. Aldo tersenyum dan berkata,
“Dan itu semua butuh waktu, tetaplah bersamaku. Maka aku akan membuktikannya?”ujarnya, aku tersenyum sembari tertunduk Aldo menyibak belahan rambutku dan mengangkat sedikit daguku, untuk bisa melihat matanya entah kenapa darahku berdesir hebat, aku gemetar saat tau Aldo akan mencumbuiku, melihat aku berkeringat gemetar memejamkan mata, Aldo berhenti melihatku dengan wajah tak habis pikir.
“Maaf sayang, aku tak bermaksud membuatmu takut,”lirihnya aku menghela nafas dan perlahan membuka mata.
“Aku tidak biasa lebih intim, suamiku saja butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menyentuhku, aku bukan munafik tapi aku benar-benar tak sanggup, aku sangat ingin membalas mas Feri dengan rasa itu juga, sungguh aku sangat ingin dia tau kaloaku juga sudah membagi rasa itu, tapi sialnya aku tidak bisa’’gerutuku kesal, Aldo hanya bisa manggut-manggut dan coba merangkul dan mendekapku.
__ADS_1
“Tak apa sayang, semua butuh waktu”lirihnya membawaku kedalam pelukan dan mengelus-ngelus rambutku. Aku memang tidak bisa untuk bergerak lebih jauh dengan Aldo, tapi aku sangat nyaman dalam pelukannya.
Merasa malam sudah semakin larut kami beranjak pulang, diatas mobil Aldo membahas perceraianku dengan mas Feri.
“Bagaimana dengan surat perceraianya?”tanyanyaa
“Semoga saja mas Feri, sudah tanda tangan.”singkatku.
“Apa alasannya hingga hari ini, mengulur-ngulur waktu seperti itu.”ujaar Aldo. Aku juga tak habis pikir dengan ini semua.
“Aku juga tidak tau Al, kamu tenang aja, tekadku sudah bulat untuk bercerai.”lirihku, tak terasa air mataku merintik. Aldo hanya diam dan melajukan mobilnya pasti kekediamanku, sesampai disana, Aldo keluar mobil membukakan pintu untukkku.
“Terima kasih,”ucapku turun dari mobil.
“Besok, supir akan mengantar mobiilmu kesini, untuk sehari esok, istirahatlah, ada banyak hari, yang akan kita lalui kedepannya, dan mungkin itu akan sangat melelahkan.’’ujarnya, aku tersenyum Aldo merangkul dan memelukku,
“Sampai bertemu besok lagi sayang,”lirihnya aku mengangguk dalam dekapan dan membenam wajahku didada pemuda itu, hingga kami berdua terkejut, saat tiba-tiba mas Feri datang menarik Aldo dan menghunuskan kepalan tinjunya berkali, sontak saja aku syock dan berteriak.
“Mas.. hentikan.”ujarku, Berusaha aku hentikan tindakan yang keterlaluan itu, Aldo coba berdiri dan membalas mas Feri, namun aku cegat.
“Aldo aku mohon sudah.”rengekku menahan dadanya aku miris melihat pipinya berdarah.
“Ya ampun, kamu terluka”lirihku sangat cemas mengelus pipi Aldo, melihat aku begitu peduli pada Aldo, mas Feri makin tersulut amarah dan menarikku menjauh dari Aldo aku kesal beronta dan reflek menampar wajahnya,
PLAK…
Tamparan tangan melayang sekeras mungkin ke pipinya, tatapan mataku terasa berkaca-kaca dan sangat kesal sekali padanya, dia menghakimi kami seolah dia yang paling suci saja, mas Feri bungkam melihat wajah kesal yang tertoreh diwajahku.
“Apa hakmu menghakimiku seperti ini?”lirihku dengan air mata merintik.
__ADS_1
BERSAMBUNG,