FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
INA


__ADS_3

POV FERI


Entah berapa lama aku tertidur diatas sofa ini, saat aku bangun, kudapati Ina sedang tertidur didadaku, sedikit aku elus pipinya dan beringsut duduk.


“Sayang, ini sudah sore,kamu ikutan tidur juga disini. Gimana makananya”lirihku mengelus pipinya, Ina terbangun dan sedikit beriyak melihat wajahku dengan senyum.


“Abis kamu tidurnya nyenyak banget sih mas, aku gak tega banguninya,”rengeknya dengan sedikit mannyun, aku menggeleng dengan mencubit pipinya,


“Eh kok bisa gitu? Keburu dingin donk makanannya”geramku, Ina terkekeh,


“Ya udah di panasin lagi ayok.”titahnya, menarik lenganku, aku mengikuti langkahnya kemeja makan.  Dan menunggu Ina memanaskan sebentar makanannya, kami mulai menyantap hidangan itu dengan riang hati hingga, aku gagal fokus sama cincin di tangan Ina.


“Kamu masih pake cincinya?”tanyaku, sejenak Ina diam dan melirik jemarinya. Ia menghela nafas berat dan sontak melepas cincin itu.


“Gak tau juga mau di apain, mas kasih lagi aja, itu mahal lo harganya.”ujarnya aku mendegup dan coba melihat cincin itu.


“Ya udah, kamu aja yang kasih, Masak mas sih?””ucapku pelan kembali menyuap makananya kesaal tiba-tiba aku jadi badmood. Ina manyun kembali mengambil cincin itu.


“Ina, gak tau bicarakan apa mas pada Aldo, atau kita buang aja?”tanyanya , aku menoleh datar dan berkata.


“Ya jangan juga, ya udah sini biar mas yang kasih.”ujarku, Ina tampak garuk-garuk tengkuk dn berkata.


“Mas yakin?”


“ Ya tinggal kasih doank kan?”ujarku.


“Trus mas bilang apa ke dia?”tanyanya dengan nanar,


“Bilang mau kembaliin gitu kan?”


“Terus masnya marah gak?”tanyanya lagi. dengan datar, nafasku tersengal melihat wajah iistriku itu


“Pengen nonjok!! tau gak!”ucapku spontan, mata Ina membulat.


“Ya lagian, berani-beraniny dia lamar istri orang.”gerutuku Ina tertunduk, dan berkata.


“Ya udah deh, Ina yang kasih.”ucapnya pelan, mengambil cincin itu lagi, Aku hanya diam saat Ina mengambil Cincin itu lagi, jujur aku belum segentle itu jika menghadapi Aldo buat bahas yang beginian, ini terasa tabu saja bagiku.


“Mas ngizinin, kalo Ina menemui Aldo untuk memberikan cincin ini?”tanyanya, Aku menghentikan gerakan mulutku sedang mengunyah dan mengangguk pelan.


“Ya udah kasih aja”singkatku dengan berat hati, Ina tampak berfikir sejenak dan kembali melihatku, dia tersenyum dan menggengam telapak tanganku erat.


 


“Ina, gak akan temui Aldo, biar Ina ekspedisi’in aja.”ujarnya , aku menautkan alis dan reflek terkekeh pelan.


“Emangnya mau kirim paket?, ya udah deh terserah kamu gimana cara ngasihnya. Kalau bisa sih gak usah ketemu, mas gak suka.”sungutku , Ina tampak mengangguk.


“Baik.. mas”ucapnya


Keesokan harinya di kantor, aku sangat sibuk dengan project besar ini bersama perusahaan terbesar amerika ini, aku harus benar-benar bisa mengendalikan ini agar kontrak ini menguntungkan banyak, sekarang aku harus lebih giatlagi agar bisa mengakhiri kerja sama denga Al company dan mengembalikan uang yang di investnya setelah itu barulah hidupku terasa tenang, aku beranjak keluar untuk menemui Aldo di ruangan metting, namun aku melihat dia tidak datang hanya ada asisten dan sekretarisnya,

__ADS_1


"Kemana Direkture,?"tanyaku pada asistennya


"Tuan muda, dia tidak bisa datang, karna ada urusan pribadi, jadi untuk metting hari ini aku akan menghandlenya bersama sekretaris.''ujarnya, aku mengangguk lega setidaknya sekarang, aku tidak melihat wajah Aldo lagi yang membuat moodku bisa berubah.


“Oh iya baiklah,kita bisa mulai sekarang?”ujarku, kami pun beranjak keruangan metting


 


Hingga sorepun datang aku melajukan mobilku untuk pulang kerumah, walau kadang fikiranku masih terbebankan akan cincin yang di pakai Ina dijari manisnya, sempat terfikir apa jadinya saat Ina tidak hamil waktu itu dan hubungan mereka terlanjur begitu jauh,


 


Sesampai dirumah aku langsung mencari istriku itu di kamarnya, namun aku bingung aku tidak melihat dia dimanapun fikiranku mulai mencerna macam-macam karna tadi di kantor Aldo gak datang, dan semalam juga Ina berencana mau mengembalikan cincinnyam aku kesal, fikiran burukpun sudah berdatangan bergegasku keluarkan ponsel dan coba Menghubunginya


Tuuuut…. Tuuuut..


Butuh beberapa kali untuknya bisa mengangkat, Aku makin Resah kenapa bisa dia abaikan panggilanku


“Hallo mas?”


“Kamu dimana?”hardikku, dari sana terdiam,


 "Mas kamu kenaapa?"


"Jawab aja Ina, kamu dimana?"


“Aku di tempat mama mas.”singkatnya, aku menghela nafas sedikit lega tapi masih belum bisa percaya sepenuhnya.


“Oh benarkah, ya sudah. Mas akan kesana”ujarku.


“Sekarang, kamu gak bisa diam dirumah aja, apa salahnya tunggu mas pulang dulu kalau mau kemana-mana,”gerutuku.


“Ya maap mas, abis Ina kangen mama.”ujarnya,


“Ya sudah mas akan kesana,”singkatku,


“Iya mas, Ina tunggu.”ujarnya, aku tanpa pikir panjang aku menemui Ina kerumah tante Rania,


Sesampai disana Ina menyambut dengan senang hati sedangkan aku masih kesal karna tiba-tiba Ina tidak ada dirumah tadi, entah kenapa sekarang aku gampang curigaan padanya


“Mas, kamu marah ya sama aku.”ucapnya, aku manyun dan coba mengabaikannya . berjalan masuk.


“Akhir ini kamu suka jalaan sendiri kayaknya, “ketusku menghenyak di sofa.


“Ya maaf mas, kok bête gitu sih wajahnya,”ucap Ina duduk di pangkuanku, aku menghela nafas dalam dan coba mengusir kesalku tadi, karna memang rasa was-wasku akan Ina sekarang semakin besar,


“Kamu jangan kebiasaan, mulai besok. Kalau mau pergi-pergi itu bareng aku lagi kayak dulu “ujarku Ina mengangguk.


“Baik mas.”rengeknya memainkan pipiku dengan kedua telapak tangannya, aku tetap saja cemburut


"Udah donk, jangan bete lagi wajahnya"ucapnya pelan

__ADS_1


Dari belakang mama Rania datang, Ina tersintak dan langsug berdiri dari pangkuanku sembari nyengir sama Tante Rania hanya bisa tersenyum hangat


“Eh Feri kamu datang juga nyusul Ina.”ujar mama, aku tersenyum


“Iya mah, abis kesel Inanya sekarang sering ninggalin aku sendirian.”sungutku Ina terkekeh.


 


“Mas Feri berlebihan sekarang mah.’timpalnya, aku memandang wajahnya lekat dan berkata,


“ih siapa yang berlebihan, aku cemas gak biasanya kamu kek gini kan..”lirihku Ina tersenyum hangat dan berkata.


“Aku udah mulai terbiasa kali mas, okey Aku gak akan kemana-mana aku disini?”ucapnya aku merangkul istriku itu dan mengecup keningnya,


“Ya sudah, ayo mama dah masak, sama itu, kalian malam mini nginap disini ya,   masih kangen banget mama sama Ina.”ujar tanteku,


“Siap mah.”ucap kami serentaak,


Hari berlalu Rumah tanggaku diselimuti akan kebahagiaan setiap hari hanya ada madu cinta, walau terkadang fikiranku di ganggu oleh masalah yang telah tertorehh akhir-akhir ini, tapi aku coba hapuskan itu dan fokus untuk kebahagiaan rumah tanggaku kedapannya, sungguh aku ingin sekali Ina kembali hamil, tak sabar rasanya jika kebahagian ini berlipat ganda,


Cupp…


Kecupan lembuut mendarat dii pipiku saat aku terdiam memandaangi langit fajar di pagi hari ini terasa tangan Ina melingkari pinggangku dari belakang, aku menoleh menyunggingkan senyumku padanya,


“Humm,,, tidak ada teh  hangat, yang ada kecupan hangat, bolehlah?”ucapku meledek, Ina terkekeh,


“Hummm, lagi gak mood bikinn teh”rengeknya menopangkan dagunya kebahuku,


“Kok bisa gitu, trus moodnya apa?’tanyaku,


“Bobok lagi aja aku mau di peluk kamu.”bisiknya, aku tersenyum dan membalik melihat wajahnya.


“Hummm, emang dasar ya kamu mentang-mentang hari minggu, libur juga kerja rumah,”ujarku mencubit pipinya, Ina terkekeh,


“Ya, gak mau. Maunya bobok aja.”rengeknnya, aku gemes dan menariknya kedalam lagi, Ina tertawa renyah melihat aksiku itu.


“Emang dasar ya kamu mas ,”singkatnya, aku memandangnya datar dan berkata.


“Lah katanya mau bobok?, ya udah. Kita bobok aja seharian.”ucapku menarik dan mendorong pelan Ina keatas ranjang, dia beronta sambil ketawa dan bilang.


“Iiih, gak ada aku Cuma becanda yaudah aku bikin sarapan dulu kebawah ya.”ucapnya duduk kembali aku mendorong bahunya hingga istriku kembali merebah, matanya hangat melihat manik mataku,


“Gak mau teh maunya pelukan hangat”bisikku mengecup bibirnya, Ina tersenyum dan kembali membalas kecupan itu,


“Bahagia itu saat aku bisa melihat tatapan cinta ini di matamu begitu dekat seperti ini mas”bisiknya.  Aku menciumi kening hingga kedua matanya, bisa aku lihat binar mata istriku itu basah dan berkaca-kaca, perlahan dia elus lembut setiap sisi wajahku dan berkata,


“Aku mencintaimu mas..”lirihnya dengan air mata merintik. Dia beringsut memelukku erat dan menangis dalam dadaku terisak-isak.


“Aku mencintaimu mas, hiks…”tangisnya aku membalas dekapan itu erat, tak tau kenapa Ina bisa menangis seharu itu, namun aku hanya bisa mengelus lembut bahunya dan berkata,


“Ya sayang mas tau itu, mas juga cinta pada Ina.”bisikku.

__ADS_1


 


 .............


__ADS_2