
POV RARA
“Dok, besok antarin Rara kekantor polisi.”ucapku saat kami sudah berada dalam mobil untuk sejenak Dokter Bagas diam,
“Tapi Ra, kamu belum sembuh. Polisi tidak akan menangani kasus ini jika kamu bel-“ucapanya aku cegat.
“Belum apa dok?”singkatku menoleh pada Dokter Bagas.
“Kamu belum pulih itu saja. Lagian Ina dan Feri tidak memperkarakan ini lagi, kamu bisa aman dengan keterangan dariku pada polisi.”ucapnya aku berdesih.
“Lebih baik aku mendekam di penjara dari pada di anggap gila dok, aku akan lebih tenang dengan cinta ini dalam kesendiiriaan tanpa harus menyakiti siapapun.”ujarku, Dokter Bagas terdengar berdesih dan berkata.
“Aku tidak akan menganggapmu sembuh sebelum kamu bisa menghapus cintamu untuk Feri.”ujarnya, aku terdiam dan tertunduk, mataku sedikit terasa basah, entah kenapa aku tidak yakin jika dokter Bagas memintaku untuk menghapuskan cinta ini, aku tidak punya kenangan apa-apa dalam hiduppku yang begitu indah selain kenangan dan cinta dari mas Feri, aku ingin hidup dan bahagia dengan cinta sendiri ini selamanya.
“Bisa kita kembali?”tanya dokter Bagas, aku mengangguk pelan.
Sesampai di klinik Dokter Bagas, dia tampak di tunggui perawat karna pasien yang sudah ngantri.
“Dok, Dokter Indra tidak masuk sif sore kami bingung dengan pasien yang dirawat sama pasien baru yg ngantrii,”ujarnya, Dokter Bagas tampak menoleh pada antrian di loby,
“Kenapa kalian tak hubungiku, terus coba hubungi Indra kenapa dia tidak masuk.’’ucapnya mengambil lagi jas Dokternya di mobil aku masih diam melihat mereka beranjak, namun langkah Dokter bagas terhenti saat menoleh padaku.
“Rara.. kamu bisa istirahat dirumah. Nanti malam kita akan bicara lagi.’’ujarnya, aku hanya tersenyum dan mengangguk. Selalu saja begitu. Kalau Dokter Bagas tugas hingga larut malam dia pasti nyuruh aku untuk menunggu dirumah. Aku melangkah masuk kekediaman dokter Bagas yang tak jauh dari klinik,
Aku memencet bel dan tak tak butuh waktu lama asisten dokter Bagas membukakan pintu.
“Ayo silahkan masuk neng,”ujarnya aku mengangguk.
“Dokter, akan sibuk hingga malam lagi. Aku mau kekamar jangan ganggu ya.”ujarku, asistennya mengangguk.
“Tapi neng harus makan dulu begitu pak Dokter,’’ujarnya. Reflek aku menggeleng.
“Gak, aku gak laper.”singkatku beranjak keatas. Asih hanya bisa diam melihatku berlalu.
Sesampai dikamar aku menghenyak gundah di atas kasur. Kembali aku merogoh ponselku dan melihat-lihat lagi kenanganku dengan mas Feri di puncak waktu itu, dia terlihat sangat mencintai ku, kami bahagia dengan hubungan yang baru saja terikat tapi dalam sekejaap hubungan itu harus lenyap. Semenjak hari itu perasaanku tak mau di bujuk untuk mencari kejelasan di hati mas Feri, yang kau yakini dia juga sangat mencintaiku begitu dalam. Aku tidak terima pelepasan sepihak saat kau berfikir mas Feri juga tersakiti, tapi aku salah setelah semua ini aku sadar mas Feri hanya mencintai mba Ina saja, hanya Ina dan akan tetap Ina selamanya.
Air mataku merintik saat kembali melihat senyum manis mas Feri saat aku abadikan di ponsel waktu itu, dan masih banyak lagi, kenangan yang tidak terabadikan di ponsel namun abadi di relung hatiku. Semoga ini saja cukup untuk membuatku bahagia kedepannya. Aku merebah di ranjang dan coba memejamkan mataku untuk tidur semog saja, aku bisa mimpi indah malam ini.
Hingga entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun oleh suara knop pintu terbuka, seperti biasa walau aku telah mengunci pintu ini, Dokter pasti bisa membukanya karna dia punya duplikatnya sedikit aku beringsut dan mengucek mataku melihat jam didinding.
__ADS_1
“Dok.. ini sudah sangat malam, dokter bisa langsung tidur aja gak perlu mengunjungi Rara dulu.”ujarku di mendekat dan berkata.
“Aku baru selesai dari klinik, asih bilang kamu tidak makan tadi. Kebetulan aku juga belum makan malam. Ayo sekalian.”ujarnya, aku berdesih dan coba duduk.
“Aku tidak lapar,”singkatku, dokter Bagas kembali berkata.
“Gak apa sihh, kalo kamu gak lapar. Aku mau kamu nemenin aku makan aja.”ujarnya, aku menghela nafas sedikit berat dan berkata.
“Okey baiklah.’’singkatku.
Sesampai di bawah kami berdua duduk didepaan hidangan, aku menghenyak di depan pak dokter yang tampak mengambil makanannya,
“Kamu beneran gak lapar?”tanyanya, aku mengangguk.
“Ya sudah, aku makan sendiri aja kalo begitu,”ucapnya menyondok makanan, aku mendegup dan melirik piring didekatnya,
“Ini enak banget tau.”ujarnya, aku manyun sembari melihat semua hidangan yang tampak lezat sekali, jujur aku laper banget karna gak makan dari siang.
“Tak taulah, kenapa kamu gak lapar lihat makanan ini, taka pa jika kenangan Feri selalu membuatmu kenyang”gerutunya dengan tetap melahap makanan dengan lezat, aku sedikit garuk-garuk tengkuk dan kembali berkata.
“Cepetan Dok, aku mau kembali tidur.’sungutku Dokter itu terkekeh dan berkata.
“Ayo makan..”titahnya menyodorkan suapan makanan disendok, aku terdiam melihat wajahnya dengan senyum.
“Ayooook…”ujarnya menyodorkan lebih dekat ke bibirku, akupun terpaksa membuka mulut,
“Makasih dok,’singkatku dia tersenyum kembali menyendokkan makanan ke mulutku.
“Dokter gak makan?’’tanyaku dia menggeleng dengan senyum.
“Aku udah kok tadi, ayo makan lagi.’’ujarnya aku kembali membuka mulut. Dia hanya bisa tersenyum melihat aku bengong,
“Kenapa?’’tanyanya sedikit terkekeh mengacak rambutku.
“Dokter Cuma mau ngajak Rara makan?’’tanyaku dia mengangguk.
“Kamu harus makan. Gak lucu aja, nanti ada pasienku yang mati kelaparan dirumah ini”ujarnya.
“Kenapa pasien yang satu ini ada dirumah?”tanyaku dengan tetap mengunyah makanan, untuk sejenak Dokter Bagas diam.
__ADS_1
“Karna cara penyembuhan berbeda.”singkatnya, aku hanya manggut-manggut, kembali Dokter menyuapiku makanan itu, dan aku reflek mengambil piringnya.
“Sini dok, biar Rara sendiri saja.”ujarku, Dokter itu hanya tersenyum dan berkata.
“Makan yang banyak,”singkatnya, aku hanya mengangguk dengan senyum menyantap makanan itu dengan lahap karna memang aku sangat lapar.
POV INA
Walau aku tak pernah lagi kekantor aku tau sedikit kabar, bahwa project itu tidak berjalan dengan lancar, aku tak habis pikir saja mas Feri pasti sangat memusingkan ini, terlebih dia sudah tidak nyaman dengan Aldo ini pasti sulit baginya tetap bertahan dalam kerja sama ini. Aku bingun bagaimana caranya menyelesaiakan masalah ini,
Trakt..
Bunyi pintu kamar terbuka aku menoleh pada mas Feri yang memasuki kamar dengan wajah gundah, sedikit ia menghempas tas kerjanya dan duduk memijiti pelipis, aku mendekat dan coba iingin tau.
“Mas, ada apa?”tanyaku.
“Al company, mengambil lagi sahamnya dan juga ganti rugi.”ucapnya, sontak darahku berdesir,
“Sekarang apa yang harus kita lakukan.’’ucap mas feri teerdengar lirih, aku masih bungkam dan gemetar. Melihat itu mas Feri reflek menoleh dan meremas bahuku.
“Maaf sayang, aku tidak mau kamu ikut memikirkan ini jangan terbebani kita akan tetap bisa bertahan walau sudah seperti ini sayang, jadi jangan takut.”ujarnya, aku menggeleng dan mengelus pipinya,
“Iya mas, Ina tau sama sekali Ina tidak takut, selama bersamamu Ina tidak takut apapun mas.”ucapku, Mas Feri merangkul dan memelukku erat,
“Mas bingung gimana cara ngomongnya sama mama, doakan saja kita bisa dapatkan solusi sebelum Aldo menarik semua saham dan menuntut ganti rugi,”ujarnya, aku mendegup dan menangis di pelukan suamiku itu. Aldo kenapa dia sangat ingin menghancurkan kami, kenapa tiba-tiba dia meminta saham itu kembali saat semua penginvestor lain belum ada.
“Kamu, gak usah khawatir sayang, mas akan coba berusaha.”ucapnya aku mengangguk pelan sedangkan setelah itu, mas Feri tampak sibuk didepan latop untuk mengirimi email semua perusahaan besar yang mungkin saja mau membantu,
Setelah beberapa jam saat aku selesai menyiapkan semuanya didapur, mas Feri masih terlihat sibuk didepan laptopnya.
“Sayang sudah, kita turun dulu ya, kamu juga harus istirahat dan makan. Semenjak pulang kantor tadi siang kamu belum istirahat”ujarku, mas Feri terdengar sedikit berdengus dan berkata
“Baiklah..’lirihnya, beranja turun, aku coba membereskan laptop mas Feri di atas tempat tidur hingga fokusku buyaar saat ada panggilan dari Aldo, aku coba abaikan karna gak mau bicara padanya, tak lama setelahnya, aku mendengar notif pesan, gegas aku membukanya dan mataku membulat saat melihat isi pesan itu.
“Kamu tau, aku bisa lakukan apa aja kan, datang dan tanda tangani berkasnya besok.”ujarnya, aku bingung apa isi pesan ini, sepertinya tidak ada yang baik-baik saja, apa yang tengah dibicarakan Aldo apakah dia telah mengancam mas Feri selama ini?
“Aku harus cari tau ini.’’bisikku sendiri
__ADS_1