
POV INA
Cukup lama bagiku, menatap layar ponselku ini aku tidak habis pikir dengan apa yang aku baca dan aku lihat dari pesan Aldo. Aku hanya bisa terkekeh Ringan tak habis pikir dengan tingkah anak itu aku coba abaikan karna memang aku kalud, banyak sekal yang memadati otakku sekaraang hingga mengabaikan pesan itu.
“Aku sedang tidak mood bercanda sekarang. “bisikku.
“Ina..”panggil mas Feri berdiri di pintu, aku menghela nafas berat dan enggan menoleh. Dia mendekat dan berkata.
“Maafkan mas, atas sikap tadi. Ayo turun mas sudah masakkan nasi goreng.”ujarnya. aku tak bergeming dan juga tak menoleh padanya. Namun tanda Tanya yang menyerubungi jiwaku tak bisa aku diamkan.
“Mas, sebenarnya untuk apa lagi, kamu bertahan dirumah ini? Kamu mau apa? Aku akan cukupi kebutuhan istrimu itu, asal kamu pergi. Aku tersiksa mas. Aku gak bisa seperti ini terus. Tolong pahami aku.”ujarkuu bicara dengan gundah, mas Feri mendegup dan berkata,
“Kamu beneran gak apa-apa tanpa mas?”ucapnya untuk sejenak aku nanar melihat matanya. Namun dia kembali berkata lagi.
“Kamu benar-benar dah lupain semua cinta itu?”ujarnya, aku menautkan alis dan sangat bingung sekali dengan pertanyaan itu. Reflek aku menutup telingaku dan berkata dengan tangis merintih,
“Kamu, ngomong apa sih mas. Enak sekali kamu bicara tentang cinta tapi kamu sendiri,..”ucapanku terhenti aku menelan tangis itu sembari menggumam.
“Kaamu datangi, wanita lain dengan cinta yang katamu itu. Sedanngkan disini aku tidak ingin membaginya hiks,, aku tidak ingin membagi cintaku mas iitu saja. Tapi kamu sudah menghancurkan semuanya.”rintiihku, mas Feri mencoba memegangi bahuku aku kesal menggerakkan bahuku tak ingin disentuh.
“Ina.. mas Gak bisa liat kamu seperti ini, tolong sayang, jangan menangis lagi.”lirihnya aku semakin kejer dan sama sekali tidak paham dengan jalan pikirannya.
“Kenapa kamu mintak aku diam mas? Tutup saja telingamu.”rintihku merebah dikasur sembari pandanganku nanar dengan air mata bergucuran, mas Feri hanya memilih bungkam.
Dua jam kemudian, aku sudah bisa tenang dengan rasa sakit itu, tiba-tiba bunyi bel bergema seiring dengan suara wanita itu, aku sedikit tersintak dan melihat mas Feri yang tidur di sofa, aku pilih abaikan seolah tak mendengar.
“Mas, mas Feri?”teriaknya lantang, ku coba mengepal jemariku kesal mendengar teriakan itu, hingga mas Feri terbangun dan bergegas turun, aku pun beringsut berjalan ke balkon untuk melihat mereka di teras.
__ADS_1
“Mas, aku dah nunggu kamu dari sore, kenapa kamu gak datang-datang. Kamu jangan kebiasaan kek gini donk mas, aku juga butuh kamu.”rengeknya. terlihat mas Feri memegangi sesuatu yang ditangan Rara, hingga sepertinya wanita itu berbisik, dan beronta hingga mas Feri tiba-tiba. Menciumi bibirnya dan wanita itu tenang, aku mendegup senadaa dengan rintikan air mataku lagi dan lagi menghujan, perlahan aku mundur dan tak ingin melihat itu, lebih lanjut lagi.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan surat diletakkan diatas sofa. Walau aku tau, aku belum tidur saat mas Feri pergi semalam.
“Ina, maafkan mas, mas harus ketempat Rara.”tulisya, aku remas. Gemetar kertas itu dan membntingnya ke dinding.
“Ini terlalu sakit mas, aku tidak bisa,”lirihku, kali ini aku tak ingin merintikan air mata lagi. Aku benci. Aku tidak akan mengharapkan mas Feri kembali lagi. Ini rumahku. Dia tidak berhak seenaknya padaku. Sungguh aku depresi. Aku kalud aku ingin konsultasi dulu pada psikiater, aku bahkan terfikir untuk mengakhiri saja nyawaku atau membunuh Rara dan mas Feri, aku gak boleh seperti ini, mama Rania sangat menyanyangi putrinya, dia sudah cukup banyak mengrbankan harta bendanya hanya unutuk kesembuhanku, dan aku gak mau lemah sekarang hanya karna aku stress mas Feri menikah lagi.
Tuuuuut…
Aku coba menghubungi Bagas, dokter sekaligus psikolog kepercayaanku tak butuh waktu lama dia mengangkat.
“Ya Hallo Ina?”
“Bagas? Kamu ada diklinik. Aku mau konsul.”ujarku
“Ya seharian saya di klinik, ada apa Ina? Apa Rara kembali?’tanyanya, aku berdesih dan berkata..
“Maksudnya?’
“Aku mau konsultasi.”singkatku.
“Oh, begitu ya udah. Aku di klinik. Sekarang senggang karna sore nanti aku akan keluar kota.’’timpalnya.
“Baiklah aku akan datang,”ujarku.
Sesampai disana aku langsung disambut dan dipersilahkan masuk olehnya.
__ADS_1
“Aku sedikit terkejut karna tadi, Kamu bilang. Kamu yang konsultasi.”ucapnnya Bagas, saat kami dalam ruangan terapinya Bagas, aku menghela nafas berat dan berkata dengan terbata.
“Aku tidak bisa berhenti menangis, dadaku terasa sakit. Aku bahkan ingin mengakhiri nyawaku sendiri, kadang terbesit ingin membunuh mas Feri dan Rara.”ucapku berat lagi tertekan. Sejenak Bagas melihat mimik wajahku dan bertanya.
“Apa alasanya kamu seperti ini? Bukankah kamu dan Rara baik-baik saja? Aku tau betul kamu sangat peduli padanya.”ujarnya, aku mendegup dan mengatur nafasku.
“Mereka benar-benar menikah”ucapku berat. Terlihat Bagas menghela nafas dan manggut-manggut.
“Oh begitu, aku rasa itu normal. Karna wajar jika kamu bersikap seperti ini, itu tidak perlu ditakutkan sebenarnya.’ucap Bagas, aku mengerutkan keningku denga air mata merintik.
“wajar gimananya, aku merasa sakit dan sesak didadaku, bahkan aku tidak bisa menghibur diriku sendiri. Aku bahkan sangat ini ingin mati saja, hanya saja aku memikirkan mama Rania, makanya aku tidak lakukan itu, bahkaan aku terbesit untuk membunuh mas Feri dan Rara. Apa itu wajar?”tanyaku sembari megusap wajahku gundah dengan air mata mengucur,
“Itu semua wajar, karna memang kamu belum pernah merasakan sakit sebelumnya,”ucap Bagas, aku terdiam dan melihat wajah bagas dalam.
“Ya, beberapa tahun belakangan kamu sangat di manjakan suamimu, begitu juga mama Rania. Mereka begitu menjaga hatimu agar kamu tidak mengenal apa yang namanya Rasa sakit, hingga rasa sakit itu datang, seolah kamu tidak bisa terima.”ujar Bagas, aku mendegup dan coba menggetarkan bibirku.
“Kalo begitu aku tidak ingin normal, aku ingin kembali seperti dulu lagi, dimana semua orang begitu, memikirkan perasaanku.”ucapku merintih, Bagas, coba mengatakan hal lain yang mungkin membuatku sedikit tenang,
“Normal, bukan kemungkinan untuk bahagia tapi normal itu adalah kesiaapan untuk menjalani keehidupan.”ujarnya aku mendegup.
“Jika kamu bisa dan sanggup menghadapi ini semua berarti kamu sudah siap dengan normalnya kehidupan, akan ada banyak hal baru ataupun pengalaman yang bisa kamu petik hikmahnya”jelasnya.
“Bagaimana, harusnya aku menanggpi ini? ‘’ucapku dengan mata berkaca-kaca.
“ada banyak saran sebenarnya, tapi untuk Ina. Aku haanya bisa tekankan. Cukup cintai saja dirimu, saat kamu sendiri tidak ingin kamu hancur, kamu tidak akan goyah hanya karna masalah hati.”jelasnya, hatiku teranyuh dan kembali merintikkan air mata.
“Tt-terima kasih bagas.”lirihku menghapus air mata dan menghela nafas panjang sembari menghembuskannya
“Mulai hari ini, aku tidak ingin mencintai apapun, selain diriku sendiri.”ucapku dengn mantap. Bagas tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.
“Mantep..’’sahutnya merekahkan senyum semangat, sedikit hatiku lega, aku usir sakit yang begitu menganggu di jiwaku. Aku tidak ingin sakit itu menguasai seisi hidupku, ada seseorang yang sangat menginginkan senyumku dan hidupku, yakni mama, dia bisa mengadopsi anak yang normal tapi dia memilihku, aku tidak boleh egois, aku harus tetap berdiri tegar untuk mama. Kembali aku tersenyum simpul dan berkata.
__ADS_1
“Aku akan mencintai mama dan diriku sendiri.”bisikku, beranjak,
“Aku pergi dulu bagas, terima kasih?”ucapku, dia tersenyum dan mengangguk melepasku pergi.