
Sesampai dirumah aku lega ternyata mas Feri belum sampai dirumah, bergegas aku merapikan diri dan menyiapkan makanan didapur. Tak butuh waktu lama mas Feri datang, aku sangat lega saat semuanya sudah selesai, bergegas aku sambut mas Feri yang tampak capek sekali pulang kerja,
“Mas kok telat pulangnya?”ujarku dia tampak lesu berjalan kerumah hingga aku buntuti. Sesampai didalam dia menghenyak di atas sofa dengan sedikit menghela nafas,
“Kamu capek banget ya, mau mandi dulu, atau makan dulu?”tanyaku sedikit mas Feri memijit batang hidungnya dan berkata.
“Aku mau mandi, dan pengen langsung istirahat, bantu siapin air hangat,”ujarnya, aku mengangguk dan beranjak kekamar mandi.
“Ini mas,udah.”teriakku dari kamar, mas Feri beranjak menaiki anak tangga selesai mandi dia langsung tidur, aku yang sudah cukup lama menunggu dia di meja makan itupun naik keatas untuk menemuinya, melihat suamiku itu merebah diatas kasur itupun aku mendekat.
“Mas kamu gak makan dulu?”ucapku, mas Feri tampak sudah tidur lelap. Sedikit terfikir kenapa dia seperti ini, tadi pagi sebelum berangkat kerja mas Feri ceria aja, kenapa sekarang dia tampak bête dan gak semangat,
“Mas?”panggilku lagi, aku tau mas Feri pasti belum makan karna dia tidak biasa makan di luar,
“Kamu dah makan?’’tanyaku lagi. Mas Feri sedikit bergerak memperbaiki selimutnya
“Udah Ina.. kamu makan sendiri aja deh mas gak laper,”ujarnya, aku menautkan alis dan coba memperhatikan glegatnya yang memunggungi sedikit aku hela nafas semoga saja semuanya baik-baik saja, mungkin mas Feri hanya beneran capek, ini tidak ada hubungan sama kejadian sore hari tadi saat aku menemui Aldo. Aku berdiri dan kembali turun kebawah untuk makan sendiri.
POV FERI
Malam ini aku terbangun sangat larut dimalam hari aku duduk dengan pikiran kalud dan sedikit melirik kenakas, bisa aku lihat Ina telah menyiapkan makan malamku dengan segelas teh dan air putih, aku berdesih dan kembali menoleh pada Ina yang sedang terlelap tidur, tak sengaja aku ikuti dia tadi sore pergi ketempatnya Aldo. Aku tau kedatanganya itu hanya mengembalikan cincinnya tapi tetap aja aku kecewa bahwa Ina bilang dia tidak mau bertemu dengan Aldo lagi namun saat aku melihat mereka bersama tadi, aku sadar bahwa dua insan ini tengah di mabuk cinta, ada yang tak mau lepas satu sama lain. Entah apa yang membuat hati mereka sama-sama tertaut, hatiku miris kenapa bisa sekarang aku meragukan Ina, dan kenapa juga hingga detik ini aku masih yakin bahwa Ina masih tetap mencintaiku seperti dulu, aku beranjak kebalkon untuk sekedar menghirup udara segar berharap meringankan beban didadaku yang terasa sesak, aku memandangi langit malam dengan ribuan bintang di langit, aku lelah dan ingin mengadu pada malam bahwa aku tak boleh lemah, ternyata cemburu itu sangat menyakitkan, aku serasa menjadi pecundang sekarang, istriku dia begitu nyaman dengan pria lain bahkan aku tak tau apakah dia masih mencintaiku, atau malah merindukan pria itu.
__ADS_1
Dari tempatku berdiri sekarang aku bisa lihat seseorang berdiri digerbang dengan sebotol minuman ditangannya, cukup lama aku memperhatikan glegatnya hingga meneguk habis isi botol itu dan menghempas kuat kejalanan, aku tau body badan pria itu hingga dia kembali menaiki motorya melangkah dengan oleng, aku kesal apa yang membuat dia menguntit rumah tanggaku bersama Ina, aku kesal dan bergegas turun untuk mengejar motornya dengan mobilku, aku tidak mau untuk kedepanyan dia lebih lancang lagi mengusik rumah tanggaku,
Mobilku melaju mengikuti motor Aldo, aku tidak peduli dia atasan atau apa, yang jelas aku tidak terima jika dia berani-beraninya ikut campur terlalu dalam pada urusan pribadiku, aku memperhatikan laju motornya yang ugal-ugalan mungkin dia mabuk, karna bisa aku lihat dia minum banyak tadi digerbang rumah.
Tut Tut….
Aku membunyikan klakson mobil, dia tak peduli hingga motornya lebih kencang melaju, akupun tancap gas tidak mau kehilangan jejak, hingga tampak dia terkejud dengan pembatas jalan dan memilih ngerem mendadak hingga terpental jatuh, melihat itu aku terkejut dia berusaha berdiri denga sedikit luka di sikunya, namun pria itu tampak sangat parah karna dia sedang mabuk berat, aku keluar dari mobil dan melihat keadaannya lebi dekat,
“Syits,, sial!”kesalnya berdiri mengambil motornya dan kembali sesegukan duduk di pembatas jala membuka helm, dia melirik kearahku dan berkata.
“Lo ngapain ngikutin gua”ujarnya kembali sibuk meniup siku-sikunya hingga menghubungi asistennya.
Tuuuut…
“Hallo tuan..”
“Apa kecelakan!!”teriaknya, Aldo menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Gue belum mati, lebai banget sih lu pakai teriak-teriak.”ujarnya mematikan ponselnya, kembali dia memegangi kepala karna pusing. Aku masih dia, sedikit pria itu melirik dan berkata.
“Lo ngikutin gue, karna gak suka gue ribut memcahkan botol minuman di halaman rumah lo,,’’ujarnya sesegukan karna kekenyangan minum, tu orang entah sudah menghambiskan beberapa botol hingga dia teller begitu,
“Gue gak suka, lo lancang menguntit kehidupan rumah tangga gue bersama Ina,”ucapku datar pria itu melepas jacketnya sembari tertawa renyah.
“Lo itu munafik tau gak!, naïf banget sih lu, bahwa lu betingkah dann istri lo bakalan setia dan akan tetap cinta gitu sama lo ha,”ucapnya aku mendegup dan berkata.
__ADS_1
“lo yang udah memanfaat keadaan ini, terobsesi sekali pada Ina, kasiian sekalin.”desisku, pria itu terkekeh,
“Lo ngejar gue buat apa ha? Apa yang ingin lo katakan.”
“Gue gak suka lo lancang menguntit kekediamanku tadi, aku tau kamu bukan orang sembarangan, tapi Ina dia istriku, aku punya hak penuh atasnya, jangan pernah temui ataupun berharap lagi padanya,”desisku geram, beranjak dari situ, aku mengayunkan langkah hendak pergi namun langkahku terhenti saat pria itu tersenyum kecut dengan sedikit terkekeh.
“Kamu begitu percaya diri sekali Feri? Istrimu itu lebih nyaman bersamaku.”ucapnya menoleh, pria itu menghela nafas panjang dengan sedikit menyibak rambutnya ke atas, aku menautkan alis dan bertanya,
“Kedengarnya itu kebalik, aku kenal Ina bukan satu atau dua hari, dan kamu terdengar songkak sekali bicara seperti itu”gerutuku, Aldo berdiri dengan tertawa geli, dia mendekat dengan sedikit menimpuk pundakku, mata pria ini sayu, karna sedang mabuk,
“Ayolah Fer, bangun dari mimpi!”ujarnya, aku makin menautkan alis, Aldo terkekeh dan berkata.
“Gak mudah, usaha lo sebelumnya untuk menjinakkan Ina’kan?”bisiknya, mataku membulat dengan sedikit gemetar, pria itu tampak oleng berdiri.
“Gue bisa meniduri istri lo, hanya satu kali kencan.’’tandasnya lagi aku menyiapkan kepalan tinjuku untuk menimpuknya, pria itu terhuyung jatuh, sedikit ia coba bangkit dengan meninju jalanan itu sedikit kuat,
“Sial… dah lah, lu emang lebih kuat dari gua, tapi tetap aja lu kalah,,,”?ujarnya terkekeh, darahku serasa mendidih mencengkram erat krah bajunya dan menatap tajam bola mata pria itu.
“Lo pasti bohongkan! Lo cuman pria yang tidak waras, yang terobsesi pada Ina”teriakku, Aldo tertawa geli dan berkata,
“Istri lo itu cantik men, gue beneran tergila-gila padanya, tawanya, tangisnya dan bahkan sentuhanya. bener-bener buat gue mabuk”lirihya terdengar menjijikan, kembali aku menghunuskan tinju yang membuat dia terjatuh, amarahku semakin tersulut mendengar dia terkekeh, namun gerakku terhenti saat asisten dan ajudannya datang mencegatku,
“Lepas!’teriakku beronta,
“Apa yang kamu lakukan pada Tuan muda,”teriaknya, mereka membantu Aldo berdiri dan menoleh padaku, Aldo menatapku datar, aku gemetar membiarkan mereka pergi sedangkan aku tertinggal dengan amarah dan rasa sakit yang menghujam, aku coba mengatur nafas untuk tidak terasa sesak, tapi aku tidak bisa tegar lagi, pertahananku rapuh, hatiku lemah dan gemetar perlahan aku brsimpuh dengan air mata merintik sembari teriak melepaskan semua sakit yang mendadak menyesakkan ini.
__ADS_1
“Arrrrrrrrgggghhh’’
Teriakku di malam sunyi tanpa bintang, suaraku yang lantang menggema keudara itu, disambut dengan suara gemuruh hingga perlahan rintik hujan turun semakin deras membasahi badanku, namun begitu tak bisa memaadamkan api amarah yang tengah menggebu-gebu di hatiku. Harapanku seakan semuanya tlah habis tak bersisa