
Drrrrrrt.....
Bunyi ponselku berdering, sedikit aku menoleh dari fokusku itu saat meeting bersama klayen kantor. Gegas aku mengangkat saat aku melihat telpon rumah menghubungi ponselku.
"Ya hallo?"
"Aden, aden dimana. Non Ina,, sepertinya akan melahirkan."ujar Lastri. Sontak aku berdiri dan meninggalkan ruangan meeting itu.
"Permisi saya harus pulang."ucapku setelah itu menghilang dari hadapan mereka semua, tampak Bambang asistenku langsung mengambil alih kerjaanku. Diluar aku berpapasan sama mama.
"Fer, ada apa?"
"Ma, ada kabar dari rumah. Sepertinya Ina melahirkan. Bantu itu ma Meetingnya belum kelar"pintaku.
"Oh ya sudah kamu duluan nanti mama nyusul, semoga baik-baik saja."ujarnya aku memgangguk dan bergegas pergi.
Sesampai dirumah Aku langsung menghampiri Ina dikamar kami. Dia sudah terlihat merintih sakit, dan keringatan. Reflek aku mendekap dan memegangi perut.
"Sayang sakitkah. Ayo kita kerumah sakit."ucapku reflek mengangkat tubuhnya dan membawa kemobil. Aku panik melihat Ina yang gemetar.
"Kamu yang sabar ya sayang, sebentar lagi."ujarku menyalakan mesin mobil.
Drrrrrrt
Kembali mama menelpon, aku mengangkat sembari tetap fokus menyetir.
"Ya mah?"
"Bagaimana kamu dah bawa Ina kerumah sakit?"tanya mama.
__ADS_1
"Iya mah, ini lagi di jalan. Rencana rumah sakit terdekat saja takut kecebak macet."ujarku,
"Ya sudah, nanti mama akan menyusul kamu hati-hati"
"Baik mah. "
"Mas sakit,"rengek Istriku itu memegangi pinggangya. Aku coba mengelus kepalanya sedikit dan kembali menyetir.
"Kamu hati-hati."lirih Ina menoleh ke depan. Aku menghela nafas dan coba fokus meyetir. Karna memang semenjak kecelakaan itu. Aku sedikit bimbang untuk menyetir. Entah kenapa aku coba hilangkan ketakutanku, demi lancarnya lahiran.
Sesampai didepan UGD. Aku membantu Ina turun, para petugas dan perawat ruangan UGD itu juga sigap membantu karna melihat ini darurat. Mereka membantuku untuk membaring Ina keatas tempat tidur.
"Bertahanlah sayang"bisikku mengikuti Perawat mendorong Ina kedalam ruangan bersalin.
"Permisi bapak, bisa lihat riwayat periksa Istrinya, seperti buku imunisasi dan riwayat cek up terakhir."pinta bidan, aku otomatis nanar saat mendengarnya Namun reflek aku lega saat Lastri membopong tas tempat data itu.
"Ini Tuan, mbok sudah siapin dari tadi."ujarnya reflek dadaku terasa lega. Dan mengambilnya lalu memberikam pada bidan itu.
"Sayang masih sakit kah?"tanyaku mengelus perut hingga wajahnya.
"Pinggang,pinggang Ina sakit sekali."ujarnya meringis. Reflek membantu Ina duduk dan mengurut pinggangnya, hatiku serasa teriris saat Ina cengkram lenganku keras tak bayangkan betapa sakit yang ia rasakan saat ini, keringatnya mengucur deras tubuhnya gemetar dan tampak sudah pucat.
"Kamu minum dulu ya.."lirihku memberikan air minum beserta sedotannya. Gemetar Ina meneguk air itu. Sembari air mata merintih.
"Sakit banget ya sayang."bisikku mengapai kedua pipinya, Ina mengangguk dengan air mata merintik. Aku memeluk sembari mengurut pinggang hingga perutnya.
Masih bisa ku lihat nafas Ina naik turun tak beraturan saking menahan sakitnya. Kembali aku peluk Ina dan berkata.
"Kuat ya, demi mas."ujarku dengan mata yag sudah mulau terasa basah. Ina mengangguk sembari menangis sesegukan.
__ADS_1
Hingga empat jam berlalu, Ina berulang kali mengalami kontraksi namun tidak ada tanda tanda melahirkan, Pembukaan rahimnya baru jalan tiga, tapi aku sudah tidak tega melihatnya. Wajahnya sudah pucat dan lemah.
"Sayang, Udah gak apa ya, kita lakukan tindakan operasi aja?"bisikku. Ina sedikit menggeelang.
"Ina mau melahirkan normal mas, doakan saja Ina kuat."ucapnya serak. Aku berdesih. Dan mengelus dahinya.
"Tapi sayang, mas Gak tega melihat kamu begini."ujarku mengelus-ngelus dahinya. Ina tersenyum.
"Semua ibu juga sakit melahirkan, Ina hanya merasakan memperjuangkan mereka"lirihnya, sedikit aku tarik bibirku untuk tersenyum, dengan gundah aku mengecup dahinya.aku cemas dan khawatir sekali melihat kondisinya
"Bantu Ina berdiri mas, Ina mau gerak sedikit lagi mungkin bisa membantu babynya cari jalan"ucapnya beringsut. Aku membantunya berdiri dan menjalani intruksi Dokter tadi dengan gerakan-gerakan ringan aku sangat cemas sekali.
Hingga dua jam berikutnya, Ina drop dan lemah Dokter menyarankan operasi, aku menghela nafas sedikit berat dan menyetujui saran dokter. Aku tau Ina ingin melahirkan secara normal, tapi keadaannya tak memungkinkan.
"Silahkan dok, di mulai operasinya."ucapku saat sudah menanda tandangi berkas dari dokter di ruanganmya Sigap aku kembali pada Ina yang tampak merintih dan lemah sakit terbaring.
"Sayang, Kita operasi ya, tenang saja. Itu sama sekali tidak akan merubah apapun tentang jiwa keibuanmu Ina, kamu tetaplah pahlawan bagi anak-anak kita."lirihku Ina Tampak mengangguk lemes. Aku mengantar istriku itu keruang operasi dan menunggu dengan cemas di luar bersama mama dan ibuk nigsih. Mereka berdua tampak mendoakan harapan terbaik untuk Ina dan kedua anakku.
Satu jam berlalu lampu diruang operasi itu menyala sontak kami semua menoleh ke pintu. Hatiku teranyuh hebat saat mendegar suara bayi menggema dengan lantang.
"Itu tangisan bayinya Feri kah?"ucapku pada mama, dan buk ningsih bergantian mataku terasa berkaca-kaca. Saat melihat mereka mengangguk
Trakt
Pintu ruangan itu terbuka gegas aku menghampiri dokter.
"Selamat ya pak Feri, anaknya sehat dan berjenis kelamin, laki-laki dan perempuan."ujarnya. Sontak air mataku merintik.
"Terima kasih Tuhan, "bisikku mengusap wajahku. Tanpa pikir panjang aku temui Ina didalam. Dia masih belum sadar. Tapi dua bayi mungil ini membuatku sangat terharu, air mataku merintik saat menggendong yang satunya, sementara satu lagi disiapkan bidan. Gemetar aku mengadzani anak laki-lakiku, karna dia laki terserah siapa yang duluan keluar. Laki-laki lebih pantas disebut kakak. Serak suaraku merintih membisikkan lafads tasbih dan tahmid itu dengan air mata mengucur deras.
__ADS_1
Lagi?