FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
BAHAGIA


__ADS_3

POV INA


Beberapa hari berlalu Mas Feri sudah semakin pulih dan hari ini kami mau kembali pulang kerumah, mas Feri tampak menyapu setiap sudut ruangan dengan nanar, saat kami sudah berada dirumah


“Mas, kamu istirahat ya, aku akan siapkan teh untukmu.”ujarku mas Feri mengangguk dan memilih duduk di sofa, bergegas aku ke dapur menyiapkan sesuatu untuknya, namun aku teringat sesuatu saat terdengar mas Feri menyalakan TV, secepat kilat aku kembali keluar dan menemui mas Feri lagi,


“Sayang, kamu istirahat di kamar aja ya, gak baik untuk nonton Tv sekarang,”ujarku reflek mematikan Tvnya, aku mendekat dengan segelas teh hangat.


“Ayo kamu minum dlu.”ucapku mendekat mas Feri tersenyum menyeruput teh hijau itu sembari melirikku,


“Makasih ya sayang, “ucapnya aku mengangguk dengan tersenyum hangat, mas Feri melirik perutku dan menyentuhnya,


“Gimana? Apa anak kita merepotkanmu?”tanyanya. Aku sedikit manyun dan berkata.


“Umm, ya begitulah.”ucapku dengan senyum mas Feri terkekeh.


“Kok gitu sih wajahnya?”ucapnya, aku tersenyum.


“Gak apa-apa sayang. Anak kita itu sama bandelnya kayak kamu ya wajar aja sih ngeselin.”ujarku mas Feri melihatku dengan menautkan alis.


“Kok aku bandel , masa sih?”ucapnya,


“Iya, kamu gak tau aja sih.’’ujarku manyun, mas Feri berkata dengan sedikit menggaruk tengkuknya,


“Mas lupain semuanya, hingga kelakuan mas juga sama kamu? Emang seberapa ngeselin sih?’’ujarnya aku sedikit memainkan wajahku.


“Huummm.., banget.’’bisikku mas Feri sedikit manyun, 


“Segitu kah?”tanyanya serius reflek dan mencubit hidungnya.


“Gak donk sayang, kamu itu suami terbaik yang pernah ada.”ujarku, mas Feri tersenyum dan sedikit mengelus pipiku.


“Aku ingin mengingat semua itu lagi,”ujarnya, sontak wajahku berubah,


“Aku ingin mengingat malam pertama kita, dan ingin tau kita berbulan madu kemana? pkoknya semuanya tentang kamu dan aku.’’ucapnya, sejenak aku memandang wajahnya lekat.


“Kita sangat bahagia sayang, kita berbulan madu ke thailland, kamu sendiri yang mendesign kamar dan memesan hotelnya,”ucapku pelan, mas Feri tersenyum, walau bulan madu itu dua tahun setelah pernikahan kami dan itupun saat Rara masih ada dalam kehidupan kami.


“Terdengarnya menyenangkkan.”singkatnya, aku tersenyum.


“Iya mas, itu memang sangat menyenangkan, hari itu aku merasa akulah wanita yang paling bahagia di dunia ini dan kamu adalah suami terbaik yang pernah ada.”ujarku, mas Feri meletakkan teh itu di meja dan merebaah di pahaku. Aku reflek memainkan rambut dan mengelus wajahnya. Dia tersenyum hangat dan berkata pelan.


“mungkin"


“Bersyukur aku masih bisa mengingat kamu”ujarnya lirih, aku mengangguk dengan sedikit terkekeh,


“Mas Feri mungkin melupakan Ina.’’tegasku, mas Feri terkekeh.


“Dan kamu tau mas, kamu di nyatakan meniinggal sebelumnya, hanya aku yang tidak mempercayai kalo kamu benar-benar sudah pergi, aku terus saja memanggil berharap kamu akan dengar dan kembali,”ujarku,


“Dan benar saja, kamu mendengar tangisan Ina.’’ucapku.


“Waktu itu mas bisa mendengar suara Ina, karna memang mas gak pernah mau mendengar Ina menangis.”ujarnya.


 


“Apapun itu tuhan baik pada Ina, karna memang Ina tak pernah sanggup kehilangan mas, “ujarku mas Feri berigsut duduk dan memandangi wajahku lekat, perlahan dia mendekatkan bibirnya dan mengecupnya hangat,bisa aku melihat manik matanya menatap dalam bola mataku.


“Kenapa sayang?”tanyaku.


“Aku merasa ini ciuman untuk pertama kalinya,’’lirihnya, sontak aku terkekeh dengan tertawa renyah.


“Sayang, lihat anakmu akan segera lahir. Ini bahkan ciuman untuk keseribu kalinya,’’guyonku mas FEri melihatku dalam dan manggut-manggut.


“Oh iya yakin gak lebih?”tanyanya aku memutar otak untuk coba menghitung.


“mungkin lebih sering”timpalku dengan senyum hangat. Kembali priaku itu mengecup bibirku lembut. Aku hanyut akan sentuhan lembut dan dekapannya, sejenak dia menatap mataku dan berkata, sedikit aku teguk manis itu dan memandangi manik matanya dengan tanda tanya.


“Aku mau malam ini kita mengulang malam pertama kita?”bisiknya, aku tersenyum simpul dan berkata dengan sedikit melirik perutku.


“Dengan perut bunting begini?”tanyaku mas Feri terkekeh.


“Ya…”singkatnnya, aku hanya bisa tertawa renyah.


“Ya udah sayang kamu istirahat di kamar, aku mau kedapur dulu jangan disini kamu harus istrihat gak boleh nonton TV dulu ya, kan kepalanya masih pusing, ayok.”ucapku mengajaknya berdiri.


“Ya baiklah cintaku, terserah kamu aja deh.”ucapnya manyun,


Sesampai dikamar aku merebahkan mas Feri di atas kasur dan menyelimutinya


“Kamu istirahat ya,”singkatku kembali berdiri. Mas feri mencengkram lenganku dan berkata pelan.


 


“cepatlah kembali.”lirihnya, aku tersenyum .


 


“Iya sayang, Ina cuman mau cek didapur, itu si mbok belum kesini. Jadi Ina bikinkan sesuatu buat mas dulu”


“Tapi sayang, mas gak butuh apapun selain kamu sayang, kamu disini aja gak usah kemana-mana.’ucapnya sedikit merengek.


“Bentar doank sayang?”ujarku berdiri, mas Feri hanya bisa manyun berdengus bersandar di sofa, aku hanya bisa tersenyum sembari geleng-geleng melihat sikap manjanya padaku. Gegas aku turun kebawah dan berjalan kedapur, namun langkahku terhenti saat mendengar bunyi bel bergema, aku urung sedikit langkahku kedapur dan melihat siapa yang datang.


Trakt,


Aku membuka knop pintu, mataku membulat saat melihat ibuk berdiri di pintu, lama aku tertegun melihat wajahnya yang sedih dan gundah itu.


“Buat apa ibuk kesini?”tanyaku, ibuk tampak mendegup dan berkata,


“Ina, ibuk datang, karna baru saja ibuk mendengar kabar bahwa Feri kecelakaan. Ibuk tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuinya.”lirihnya, aku mengerutkan kening dan tetap masih bungkam melihatnya.


“Nak, tolong maafkan ibuk. Mungkin kamu benar dengan keputusanmu bahwa kamu akan membenci ibuk selamanya."ucapnya memandangiku miris. dia kembali menggetarkan bibirnya,


“Ayahmu, dia mengalami depresi sebelumya saat kehilangan saudara laki-lakimu mereka jatuh saat kecelakaan dalam satu motor , dan semenjak kamu lahir hingga kamu besar ayahmu semakin tak terkendali benturan hebat di kepalanya membuat dia tidak bisa berfikir dengan jernih seperti sebelumnya,  ibuk selalu berusaha menyembuhkannya setiap hari dengan bekerja untuk menembus obat ayahmu yang mahal, tapi  ibuk tidak sadar  ternyata ada putri ibuk yang harus menerima pengalaman hidup yang buruk seperti itu, maafkan ibuk yang memilih untuk mengasingkan kamu ke panti.”ujarnya, aku masih tetap bungkam.


“Ayahmu sebelumnya suami yang baik Ina, kita sama-sama berjuang untuk bisa menikah sebelumnya, hingga ibuk harus bekerja keluar negri jadi TKI. Namun disana ibuk tidak diperlakukan dengan baik, dia menebus ibu dengan menjual semua harta keluarganya, semenjak hari itu ibuk berjanji akan tetap menjaga dia selamanya, karna dia tidak punya lagi siapa-siapa, keluarganya begitu membenci ayahmu.’’jelasnya, sedikit aku hela nafas dan bingung mau bicara apa. Sedikit aku menggetarkan bibirku dan berkata,


“Baiklah, anggap saja aku sudah memahami semuanya, mugkin dulu aku masih terlalu kecil dan tak bisa memahami semua itu, aku sudah dewasa sekarang, aku juga punya suami. Dan aku sangat mencintainya tapi aku berjanji seberapapun aku mencintai suamiku, aku tidak akan mengorbankan perasaan anakku sendiri.”ucapku pelan, ibukku tertunduk dengan sesegukan menangis. Aku coba hela nafas untuk tidak ikutan sedih, tapi aku tidak bisa, isak tangis ibuk itu membuat aku luluh.


 


“Tolong maafkan ibu Ina, ibuk bisa dengar setiap malam anak ibuk merintih. Percayalah ibu juga tersiksa saat berjauhan darimu. Tapi yang ibu rasa itu jalan terbaiknya nak.”ujarnya aku menghela nafas dan merintikkan air mata juga, hatiku tidak bisa menahan lagi untuk bisa memeluk ibu kandungku itu.


“Tolong maafkan ibuk”rintihnya menangis aku hanya bisa masuk kedalam pelukannya.

__ADS_1


“Sudah, perlahan Ina akan hapuskan kepedihan itu.”ujarku. dari dalam tampak mas Feri menghampiri kok bisanya dia gak sabaran menungguku hingga menyusul lagi kebawah.


“Ina… mas senang sekali melihat pemandangan ini.”ujarnya, aku tersenyum dan membawa ibuk masuk.


“Ya mas, ibuk datang buat jenguk kamu.”ucapku, ibuk tampak mendekat dan merangkul mas Feri.


“Putraku.. ibu sangat cemas saat mengetahui kabarmu dari satpam perusahaan, kemarin ibu datang untuk mengantarkan makan siangmu kekantor,”ujarnya, mas Feri hanya tersenyum.


“Makasih ya buk,ayo ibuk duduk dulu.”pinta mas Feri, aku juga ikut menghenyak dan ikut duduk. Meliihat pemandangan hangat itu.


 


POV ALDO.


Media memburuku sekarang setelah mendengar ungkapan Feri waktu itu, bahwa foto itu bukan istrinya, aku juga bingung memberiikan klarifikasi seperti apa, yang ada aku semakin terpojokkan disini jika aku berikan keterangan yang sebenarnya, padahal misi pertamaku hanyalah agar mba Ina datang menemuiku tapi aku salah dia tidak peduli dan Feri sepertinya sangat mengerti keadaan ini, terdengar sangat so sweet sekali, apalah dayaku yang hanya bisa Iri. Terakhir kali aku mendengar dia akan memperkarakan ini tapi kenapa belum juga ada panggilan.   Aku menarik berita ini dari media bukan karna aku takut padanya melainkan aku takut sama papa yang namanya media walau beritanya tetap aja memojokkan aku tetap di minta untuk klarifikasi akhir, demi menjawab rasa penasaran orang-orang, padahal beritanya sudah redam dan di hapus , jika papa tau ini masih berlarut-larut bisa-bisa aku di lempar keamerika untuk meneruskan pendidikan bisnis tapi sepertiinya aku harus pergi jika di perlukan.


“Duta.. coba deh kamu cari tau kenapa Feri, juga tampak mendiamkan masalah ini,bukannya sebelumnya dia mengancamku,”ucapku pada asistenku itu.


“Tunggu tuan, saya akan coba hubungi asistennya dulu’’sahutnya aku hanya diam.


“Hallo bapak bambang , saya asistenya Tuan muda Aldo, saya bisa bicara dengan Feri?”tanyanya.


“Bapak Feri dia mengalami kecelakaan sekitar sebulan yang lalu.”ujarnyaa, matak sedikit terbuka mendengarnya dari ponsel yang di speakers.


“Oh begitu.’’


“Ya pak, pak Ferisempat kritis dan koma juga sebelumnya jadi tidak akan bisa kekantor dalam waktu dekat.”ujarnya, mendengarnya sedikit aku menghela nafas,


“Pantes…”bisikku. Aku terfikir akan Ina.. agar sadar kenapa dia tidak peduli ini dengan semua kekacauan yang aku bikin, dan ternyata dia lebih punya masalah yang lebih menguras pikirannya, apa aku menyerah saja? Sudah cukup saja yakini bahwa anak dalam kandungan Ina itu anakku, jujur aku sangat ingin memiliki mba Ina, aku kesal kenapa dia tidak tertarik sama sekali dengan semua asset yang aku punya,


“gua harus bagaimana duta? Apa gua ikut papa aja ke amerika?”tanyaku, asistenku itu tampak mencibir dengan sedikit menganggkat bahunya dan mencibir,


“Punya asisten resek banget sih,”gerutuku . kembali aku bersandar  ke atas sofa, sedikit aku hela nafas berat, Rara sekarang sudah tak bisa di hubungi semenjak bersama dokter Bagas aku tidak bisa menemuinya lebih sering. Dan tampaknya dokter itu tampak lebih protective pada Rara hingga aku tidak bisa leluasa bicara dengannya,  dan mba Inapun dia lebih memilih memperbaiki rumah tanggannya. Aku sepertinya akan berkhir menyedihkan, mungkin aku bisa pergi jauh saja, dan fokus jadi apa yang papa impikan, tapi sebelum itu mungkin aku ingin temui mba Ina untuk terakhir kalinya.


Ting nong


Aku nervous memencet tombol rumah Feri dan Ina, tak butuh waktu lama, asistennya membukakan pintu,


“Siang..”tanyaku, wanita paruh baya itu tampak mengangguk dan berkata.


“Aden cari siapa?”tanyanya, aku menghela nafas dan berkata.


“Saya mau ketemu Ina, mba Inanya ada?’’tanyaaku,


“Ada den, di taman belakang sama mas Feri.”ujarnya mempersilahkan masuk, aku beranjak mengikuti asisten mereka kebelakaang, aku terus saja mencari pintu taman belakang, bisa aku lihat mereka tampak menikmati kebersamaan mereka yang mesra.


“Permisi..”sapaku , kedua pasang mata itu tampak menoleh. Mata mba Ina tampak membulat dan mendegup. Namun aku bingung melihat raut wajah Feri yang seolah biasa aja.


“Aku mungkin akan pergi ke amerika, dan aku ingin minta maaf akan segala sikapku selama ini, aku sangat meresahkan hingga-’’ujarku, ucapanku dicegat sama mba Ina sembari tersenyum dan berkata.


“Oh selamat ya Al, semangat ya kuliahnya,’’ujarnya Ina menoleh pada Feri dan berkata.


“Mas ini anaknya, mitra kita, sebelumnya kita bekerja sama dengan Al company, kamu sangat akrab dengannya lo sebelumnya,”ucap mba Ina membuat aku bingung,


“Owh, selamat ya, semoga sukses.”ucap Feri, aku melirik pada mba Ina seperti tak habis pikir,


“Ayo Al, aku akan mengantarmu keluar,”ujarnya membawaku keluar meninggalkan Feri ditaman.


“Tolong pergilah Al. aku sudah memaafknmu.’’ujarnya, aku kembal menoleh pad Feri dan bertanya.


“Apa yang terjadi pada Feri.’’Tanyaku.


“Mba aku akan pergi ke amerika dan mungkin untuk waktu yang lama, aku hanya ingin mba tau, aku pergi untuk mba, aku tidak suka dengan perasaan ini, maafkan aku yang mempercayai kandungan itu darahku, jangan pernah benci Aldo ya mbak.’’ucapku, mba Ina tampak mengangguk.


“Pergilah.. aku sudah memaafkanmu, aku tak suka kamu bahas-bahas itu lagi Al, memang lebih baik kamu pergi menjauh,”ujarnya aku mendegup.


“Aku harap aku tidak akan merindukan mba lagi.’’bisikku,, Mba Ina tampak memandangiku datar,


“Sudah pergilahh.’’


“Aku masih berharap suatu saat nanti, aku juga bisa jatuh cinta sama seseorang tanpa senyum dan mulut manisnya, aku cukup terkesan melihat kepolosannya saat tidur, saat mba tertidur di kantor waktu itu dan aku menggendong mbak ke sofa, dari situ bocah ini tidak tau diri bangga dengan perasaannya, aku mencintai kesederhanaan mba Ina, pintaku hanya satu mba jangan lupakan aku, biarkan kenangan tetap hidup didiri mba, begitupun aku.’’jelasku , mba Ina tampak berdengus dan mengerutkan keningnya.


“Permintaanmu tak bisa aku jalani, aku akan berusaha melupakan semua itu maaf. Pergilah, temui bahagiamu, hanya satu pesanku. Jadilah yang terbaik kamu harapan keluargamu kamu anak baik Aldo, hanya saja pergaulanmu yang salah, berubahlah.”jelasnya aku mendegup dan mengangguk pasti,


“Terima kasih mbak. Aku pasti melaksanakannya”ujarku, mba Ina tampak menarik bibirnya sedikit untuk tersenyum.


“Pergilah hati-hati di jalan.’’ujarnya, akupun beranjak dengan berat hati.


Dan sore hari ini, aku sudah di atas pesawat hendak terbang ke amerika. Ada yang tertinggal disini yang sangat menyulitkan hatiku, yaitu cintaku untuk mba Ina, aku tidak akan kembali lagi demi dia.


“Selamat tinggal Indonesia, selamat tinggal perasaan cintaku yang begitu besar atas istri orang itu.’’aku tertunduk, sembari menatap layar ponselku yang wallpapernya foto aku dan mba Ina disuatu hari saat kami ditempat futsal. Aku tersintak saat ada pengumuman bahwa pesawat akan terbang, segera aku aktifkan mode pesawat ponsel dan bersandar dengan sedikit menghela nafas berat, aku menatap nanar kabin pesawat sembari berbisik


“Aku akan mulai hari baru dan mencoba lebih baik lagi, sesuai pesannya mba Ina.”


 


POV RARA


Aku tidak bisa terima kenyataan bahwa  mas Feri tak ada lagi di dunia ini, aku ingin pergi jauh saja dari sini, aku tak ingin merasakan sakit ini berlarut-larut, aku bergerak bangkit dari tidurku dan mengemasi semua barang-barangku, melihat aku berkemas sperti dokter Bagas reflek bertanya,


 


“Kamu mau kemana Ra?”tanyanya, aku coba mengabaikanya dan tetap berkemas.


 


“Aku akan pergi kesuatu tempat, agar luka ini. Tak bisa lagi aku rasakan.” Ujarku, Dokter melangkah dan masuk kekamar itu.


 


“Sendiri?” tayanya aku mengangguk.


 


“Terima kasih untuk tumpangannya dan kebaikan dokter,”ujarku, dokter itu tampak menggeleng.


 


“Gak, kamu gak boleh pergi.”ujarnya, aku menoleh dengan menatapnya dalam.


 


“Kenapa dokter sangat peduli sama Rara?”tanyaku dengan menatap wajahnya lekat. Dia mendegup dan coba menggetarkan bibirnya. Namun aku tidak bisa mendengar dia mengatakan apapun.


 

__ADS_1


“Siapa aku? Yang begitu dokter priotitaskan? Aku sudah sangat merepotkan dokter selama ini.”ujarku tak habis pikir, dia sedikit tertunduk dan coba menghela nafas berat.


 


“Kalau aku bilang aku mencintaimu? Bagaimana? Apa kamu terima?”tanyanya, aku menautkan alis dan mendegup.


 


“Aku mencintai mas Feri.”singkatku. Terdengar Dokter Bagas berdengus.


 


“Aku harap kamu bisa melupakan itu,’ujarnya dan beranjak berjalan kelemari mengambil sesuatu. Dia membawa kotak merah kecil padaku.


“Kamu lihat dan bacalah surat yang ada dalam kotak  ini.’’ujarnya meletakkan di tempat tidur.


“Apa ini..”bisikku duduk.


Rara…


Kamu masih ingatkan suatu hari kita merindukan pelukan mama, kamu bilang Rara tidak butuh kasih sayang mama melainkan pelukan mbak aja, maafkan mbak yang memilih pergi, kamu yang sabar ya, mbak akan kembali menjemputmu, semoga saja mama bisa berubah dan lebih peduli pada kita, selama itu belum datang tunggu mba menjemputmu..


Bisikku membacaa salah satu surat yang begitu banyak dalam kotak merah itu,,  air mataku merintik,


“Mbak, setiap hari Rara menunggu mba datang untuk menjemput Rara.’’lirihku gemetar. Dengan menangis sesegukan.


 


“Adelia, memintaku untuk mencari dan menjagamu sebelum dia pergi, walau kalian sudah berkomunikasi lewat telfon dia tidak bisa menemuimu karna  dia sakit waktu itu dan mejalani pengobatan di luar negri, dia sangat menyesal karna kalian sudah terpisah sangat lama, namun sebelum kalian  bertemu dia harus pergi’’jelas Dokter Bagas, mataku merintik mendengar nama kakakku itu disebut, aku sangat bahagia waktu itu dia mengabariku setelah belasan tahun namun hanya dua bulan komunikasi, mbak adelia dikabarkan meninggal,


“Jadi istri Dokter, yang dokter bilang meninggal karna leukemia itu mbak adel?’’ucapku dengan air mata merintik, dokter Bagas mengangguk, gegas aku berlari mengambil frame fotonya di ruang tamu yang ada di bawah gemetar aku genggam dan melihat foto pernikahan itu dengan seksama. Terakhir aku melihatnya sebagai gadis remaja yang sederhana, mbak adel dalam foto itu tampak sangat cantik dan berkelas


“Mba… mba beda banget sekarang, mba sangat cantik sekali jadi pengantin.”lirihku merintikkan air mata, kita korban dari keluarga berantakan dan mbak memilih minggat  dari rumah dan sekarang Rara sangat bangga mba jadi wanita sukses seperti ini Rara bangga pada mbak. kenapa mbak harus pergi’’lirihku bicara dengan frame foto itu. Aku menghapus air mataku, Dokter Bagas mendekat dan aku menoleh padanya.


“Dokter?’’lirihku.


“Bolehkah aku memintamu untuk tetap disini?”ujarnya aku diam melihat manik matanya.


“Aku hanya ingin merasa bahwa istriku masih hidup,”ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca,


"Saat aku kunjungi kamu kerumah dan melihat mamamu waktu itu, aku sangat senang sekali bisa menemukanmu, sebelumya, nomormu yang ada dalam ponsel Adelia itu tak bisa di hubungi, aku mendegup saat mengingat aku sendiri yang patahkan simcard karna kecewa sama mba Ina dan mas Feri waktu itu,


“Dunia ini sempit Rara, kamu tau . suami mamamu yang terakhir adalah bapak kandung Ina, aku tau betul karna aku pernah mengobti Ina, dia sangat membenci ayah dan ibunya, aku melihat mereka berdua membesukmu waktu it dirumah sakit, dan ya. Mama  bukannya gak peduli, aku yang meminta izin untuk menjaga dan dan mengobatimu hingga membawamu kesini,”ujarnya, aku tertunduk.


“Makasih Dok.”lirihku mendekat melihat matanya, Dokter Bagas tampak tersenyum, aku tau dia menunggu pertanyaannya tadi kembali ia getarkan bibirnya dan berkata


“Maukah kamu tetap disini?”tanyanya aku tertunduk dengan menghela nafas.


“Tapi aku tidak akan bisa menjadi mbak Adel.’’ucapku, Reflek Dokter Bagas mendekapku. Aku memang belum yakin dengan hatiku, tapi jujur Dokter Bagas sudah cukup membuat aku nyaman selama ini semoga saja aku bisa melupakan mas Feri.


“Aku sudah lama mencarimu Rara..’’bisiknya mengelus bahuku, aku hanya diam membenamkan wajahku didadanya.


 


POV FERI


Seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai merasa pulih, dan perlahan aku sudah bisa mengingat semuanya, disore hari ini di taman, aku dan Ina menikmati kebersama’an kami, kandungannya sudah semakin membesar karna tinggal menunggu hari lahiran.


Ping..,


 


Bunyi ponsel hape Ina berbunyi, dia tiba-tiba tersenyum melihat isi pesan itu,


“Ada apa sayang?’’tanyaku.


“Ini mas, Bagas udah melepass dudanya, dia akan menikah esok,”ujarnya, aku juga tersenyum


“Dengan siapa?”tanyaku, Ina diam sejenak dan berkata.


“Gak tau mas, mungkin teman sesama dokternya,”ujarnya,aku hanya manggut-manggut.


"Berarti besok kita kondangan donk?"tanyaku reflek Ina menggeleng, aku melirik ponsel Ina yang jelas foto prewading mereka itu Rara,


"Gak, Ina gak bisa pigi-pigi lagi mas, kan mau lahiran"


“Mas..?”lirihh Ina memandangku lekat.


“Apa hari ini kamu belum ingat apa-apa? Hari dimana mungkin yang sudah kita lewatkan.”ujarnya, aku tersenyum.


“Gak sayang, mas Cuma ingat saat terakhir kali kiita menikah, dan keesokan paginya mas terbangun dirumah sakit.”ujarku, dengan sedikit senyum, Ina tampak mengangguk pelan. Lebih baik aku pura-pura tidak ingat saja daripada istriku tidak tenang dengan rasa bersalahnya.


“Coba kamu ceritakan? Apa saja masa indah kita di tahun pertama?’’pintaku, Ina terdiam sejenak.


“Huum kita bahagia mas, aku dan kamu setiap hari berbulan madu, hanya ada cinta dan kasih sayang,”ucapnya dengan senyum aku menautkan alisku dan manggut-manggut


“Bagaimana dengan malam pertama kita, lancar? Atau ada penolakan?’’tanyaku, Ina tampak mencari ide untuk bicara.


“Hmm, lancar sih kk-amu sangat pp-ndai membahagiakan dimalam indah kita.”ujarnya dengan sedikit berkedip reflek aku mengembungkan pipiku menahan tawa.


“Kenapa mas?’’singkatnya.


“Gak sih lucu aja, bahagia banget pastinya kamu?’’ucapkun dengan nyegir aku tau betul tidak seperti keadaannya, malah buat malam pertamaan aja susahnya minta ampun sampai Ina berteriak histeris gak mau di setubuhi, mengingatnya aku jadi terkekeh sendiri.


“Pintar banget boongnya..’batinku di hati, tapi apapun itu, aku hanya ingin menjalani hidupku dengan normal lagi, Ina tidak akan tenang jika dia masih berfikir kalo aku meragukannya, akan lebih baik jika dia menganggap aku tetap lupa ingatan, dengan begitu aku akan bisa melihat senyumnya setiap hari tanpa rasa bersalah


“Kamu bahagia sayang?”tanyaku, dia tersenyum.


“Tentu sayang..”singkatnya mencubit pipiku.


“Itu babynya kapan lahir sih? Bilangin papa dah gak sabar main bareng mereka,’’ujarku Ina tersenyum dan sedekit manyun,


“Iya nih.. mama juga udah gak sabar,’’ucapnya manyun mengelus perutnya beringsut dudu dari rebahannya dari tadi, aku jail merangkulnya mendekat.


“Ya udah mainnya sama mama aja dulu.’’bisiikku, Ina tersenyum dan berkata.


“Mau main apa? Sayang?’’lirihnya merengek, aku mendekatkan wajahnya kehadapanku. Ina tersenyum tipis dan berkata


“Lagi? Gak ada bosan apa mas?”ucapnya menggerutu dengan sedikit memundurkan lehernya kembali aku bawa mendekat dan berkata dengan gemes.


“Bagaimana ceritanya aku bisa bosan sama kamu sayang?”lirihku coba menggigit bibirnya, Ina terkekeh dan berkata.


“Oh begitu kah? Yakin gak akan pernah bosen?”ledeknya.


“Yakinlah, emangnys kamu raguin aku. Cintaa?”bisikku mengendus lehernya, Ina mendorongku pelan dan berkata dengan manik mataku dalam.

__ADS_1


“Aku gak akan pernah raguin kamu, cinta kita sejati sayang. aku percaya sama kamu seratus persen”ujarnya, aku tersenyum menngelus pipi hingga menyibak sedikit rambut dan menyelipkannya di telinga, Ina tampak tersipu, saat aku mendekatkan bibirku pada bibir mungilnya yang seksi, perlahan dia mengalir membalas saat aku tuntun pada kecupan yang mesra lagi lembut, aku mencintai, menyentuh dan mendatanginya adalah ketenangan, hatiku hangat bak mekar saat aku hisap dan manisnya madu cinta, jujur aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku tidak bisa tanpa Ina, aku harap kedepannya akan tetap seperti ini, melebur bersama rasa cinta yang paling nikmat ini dengan kekasih yang sangat  aku cintai.


 


__ADS_2