FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL

FRIGID GIRL VS OBSESSIONED GIRL
KESETIAAN


__ADS_3

POV RARA


Tiga Hari berlalu, aku sudah sangat bosan dengan keadaan rumah yang selalu ribut, mama dan ayah tiriku selalu saja cekcok tentang keuangan yang semakin menipis salah sendiri dia memilih pria miskin setelah selama ini mama tak pernah inginpunya suuami kere mungkin karna mama merasa dia sudah kaya hingga membiyai hidup parasit itu, dalam lamunanku di kamar, mama datang meghampiriku,


TRAKT


Bunyi pintu kamar terbuka


“Rara, kamu punya taabungan gak? Mama pinjam donk, mama dah setres ini, keuangan kita makin menipis”gerutu mama saat menemuiku, aku reflek geleng-geleng dengan sedikit terkekeh mendengar itu.


“Ma, aku dah gak pulang sampai sebulanan, tapi pas aku pulang bukannya bertanya aku kemana aja? Aku gak punya uang mah, aku bekerja untuk diriku sendiri, lagian saat Rara butuh mama dimana?”tanyaku meliriknya mondar- mandir didepanku. Dia memijit sedikit dahinya dan berkata.


“Mama tak habis pikir kenapa bisa mama seapes ini”gerutuynya, aku menghela nafas dan berkata.


“Ya cerai lagi mah, kan gampang. Kenapa mama begitu tertunduk pada Arya, toh selama ini suami mama, yang kaya-kaya betingkah dikit aja mama gugat,’’gerutuku. Sejenak mama terdiam.


“Masak iya mama menikah lagi?”tanyanya. aku mengagguk dan berkata,


‘’Bukannya dah biasa ya?”lirihku, mama menghela nafas sesak dan berlalu pergi,


“Lama-lama aku bisa setres dirumah ini’lirihku berdiiri aku gundah sembari melangkah pelan ke balkon kamar. Aku ingin putuskan kembali hari ini kerumah mas Feri, tapi apa aku siap dengan konsekuensinya, bagaimanan jika mba Ina yang temukan suratku aku menyibak belahan rambut dan terfikir sesuatu, malam itu saat di mobil, aku bertanya pada mas Feri tentang dia mencintaiku atau tidak, namun dia hanya diam. Aku bisa rasakan dan lihat bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama,


 


“Aku harus kembali,’’bisikku kembali masuk kekamar dan bersiap hendak pergi.


 


Sesampai disana


TING NONG

__ADS_1


Gemetar aku coba pencet bel. Darahku berdesir saat melihat mas Feri yang bukakan pintu. Dia memandangiku datar hingga Aku menarik nafas dan coba berkata.


“Aku kembali”singkatku, mas Feri tampak mengusap wajahnya, dan tak bisa berkata apa-apa. Dari dalam tampak mba Ina datang menyambut,


“Rara. Kok kamu gak telpon kami dulu, kita bisa aja menjemput kamu di bandara ya kan mas?”ujarnya sedikit aku hela nafas bahwa sepertinya bukan mba Ina yang menemukan surat itu hingga kucoba menarik ujung bibirku untuk tersenyum dan berkata.


“Gak usah mba, takut repotin”sahutku.


“KoK gitu sih, ya sudah ayo kita masuk, kebetulan kamu pulang aku ada perlu di kantor mama Rania menyuruhku datang sendiri, jadi aku titip mas Feri ya?”ujarnya dengan senyum saat kami beranjak kedalam, aku mengangguk dengan sedikit melirik mas Feri.


“Kenapa mas Feri tidak ikut?atau kami berdua bisa saja ikut?”tanyaku. mba Ina tersenyum.


“Gak usah, kalian dirumah aja, aku gak suka nanti mama menghina kamu. Kamu istirahat aja ya, kan baru datang?”ujarnya lagi aku mengangguk, mba Ina menyambar tasnya di meja dan izin pada kami.


“Aku pergi dulu ya?”ucapnya, mas Feri tampak mngantar istrinya itu keluar, mas Feri melirikku dengan tatapan datar dan beranjak pergi, aku membalik melihat langkahya mengikuti mba Ina


“Hati-hati ya sayang.”lirih mas Feri  tak lupa menciumi kening istrinya saat mereka sudah diteras.


TUT..


Bunyi klakson mobil mba Ina meninggalkan gerbang rumah. Perlahan pria itu melangkah kerumah dan menghampiriku. Bibirnya masih terjahit saat bola matanya sudah bisa melihat manik mataku, aku menatap dalam wajah tampan itu sembari bibirku sulit sekali tergetarkan, tanpa kata aku langsung memeluknya, membenamkan wajahku dalam dada keras pria itu, untuk sejenak dia diam, aku nyaman mendengar alunan detak jantungnya, kucoba eratkan pelukan dan memejamkan mata akan rasa yang terlalu nyaman ini. Sedikit mas Feri meremas bahuku dan mendorongnya pelan,, aku kembali menatap wajahnya. Dia coba berkata dengan geram.


“Aku tdak Inginkan kamu kembali Rara.’’ujarnya, aku nanar melihat manik matanya dan berkata.


“Apa yang membuat kamu terus saja menolakku?”tanyaku tak habis pikir, dia berdesih dan menoleh ke lain arah.  Melihat dia gundah begitu Aku reflek mendekat dan meremas kemejanya.


“Kenapa aku tidak kamu perbolehkan masuk kedalam hatimu mas, aku punya banyak ruang disana di jiwamu bahkan dirumah ini, istrimu sangat menyukaiku lalu apa lagi?”rengekku, entah kenapa air mataku menetes.


“Aku tidak mencintaimu’’singkatnya, hatiku teranyuh mendengarnya, aku tau itu hanya bohong.


“Mas aku tau kamu bohong, tolong jangan bohongi perasaan kita, cintaku juga berhak tumbuh, apalah dayaku, yang terlanjur mencintaimu.’’lirihku sedikit menjauh dengannya dengan langkah surut, tampak mas Feri mendegup dan berkata lagi dengan pasti,

__ADS_1


“Tolong hapus perasaan itu, dan pergi dari sini, aku ingin kamu segera sadar betapa aku mencintai Ina, jikalah inginkan wanita lain,, aku bisa dapatkan wanita yang lebih darimu. Aku percaya kamu tidak akan menyakiti istriku. Makanya aku bawa kamu kesini,Kamu terlihat berkelas dan professional, ternyata aku salah, aku memintamu bukan untuk ini.”Jelasnya, aku nanar. Melihat pria itu menaiki tangga dengan lugas, dan tak peduli padaku. Aku mengusap air mataku dan terhenyak di sofa. Aku gemetar membayanngkan betapa murahannya aku sekarang, aku begitu yakin akan cinta yang ada di hati mas Feri, hingga aku lupa sesuatu. Dia pria sejati, dia begitu menghargai wanita dan tentunya sangat setia, sungguh aku ingin sekali menjadi seorang Ina kemanalah aku cari pria semacam ini, saat dia punya banyak kesempatan untuk bisa berkhianat, malah dia memilih setia, memang sebuah prinsip hidup yang luar biasa, ia dewakann kata cinta dengan kesetiaan, sekarang bagaimana apakah aku harus tau diri dan mundur dari sini?


Sore berkunjung aku berdiam diri dikamar begitu juga mas Feri, dari luar terdengar mobil memasuki rumah dan berhenti di garasi, aku bisa lihat dari jendela mba Ina turun, gegas aku keluar dari pintu. Namun mataku sedikit terbuka melihat mas Feri juga menyusul, alhasil aku memilih menghantikan langkahku.


“Sore mas,”Sapa Ina.


“Sore sayang, Ina mana. Aku mau kasih sesuatu.”ujarnya mendengar itu aku sedikit nervous dan kembali masuk kekamar menyibukkan diri,


“Ada, mungkin dia di kamar”balas mas Feri mba Ina melangkah pasti kekamarku sembari membuntuti istrinya namun ketika mba Ina masuk dia hanya berdiri di pintu,


“Rara’’ sapa mba Ina, aku menoleh dengan sedikit menyunggingkan senyumku.


“Ini aku bawakan sesuatu untukmu,’’ujarnya menyodorkan bingkisan, aku senyum saat menyambar kotak pizza itu ditangannya, mba Ina menghenyak di kasur tepat didepanku sembari mengeluarkan sesuatu yang lain, dia buka kotak perhiasan berwarna merah itu dan memasangkan liontin di leherku, aku nanar menerima perlakuan itu sembari ,melirik mas Feri di pintu.


“Mba ini apa?’’lirihku pelan saat melihat kalung yang sama di leher mba Ina. Dia tersenyum sembari mengelu-ngelus liontin itu di leherku,


“Ini hadiah untukmu, waktu kami menikah, mas Feri belikan aku kalung ini di hari resepsinya. Maaf kemaren aku sempet kefikiran mas udah beliin kamu apa sebagai mahar, jadi aku mau kasih yang sama seperti yang dia berikan padaku,’’jelasnya, mba Ina melirik jari manisku yang dihiasi cincin emas dengan corak sederhana, dia sedikit manyun menoleh pada mas Feri.


“Nikahan kalian semendadak itu hingga kamu tidak bisa belikan yang lebih bagus mas?’’tanyanya, mas Feri hanya mencibir mataku berkaca-kaca melihat raut wajah mba Ina, ini bukan cincin pernikahan melainkan pembelian papa sebelum meninggal.


“Pakai kalungnya, anggap itu mahar pernikahanmu,”lirihnya sedikit mengelus pipiku.


“Mba t-terima kasih.’’ucapku serak, tertunduk.


“Akuu, berharap kamu Nyaman disini, aku tau. Ini bukan kehidupan yang wajar, tapi aku butuh kamu Rara. Semoga kamu akan tetap menjadi Rara yang selama ini aku kenal,’’jelasnya aku mengangguk pasti sembari memeluk mba Ina, melihat drama itu mas Feri memilih pergi.


MAAP YA PENDEK BANGET... TUNGGU NANTI KITA LANJUT LAGI...


 


 

__ADS_1


__ADS_2